Call Me Queen

Call Me Queen
She is my wife


__ADS_3

Entah sengaja atau bagaimana. Levy malah melupakan teman-temannya yang sedang memandang mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan.


Levy malah asik melingkarkan kedua lengannya di perut Chacha setelah selesai mengikat rambutnya tadi. Chacha yang susah bergerak karena Levy terus memeluknya hanya bisa menghela napas berat.


"Mas, ih"


"Apa sayang? "


"Lepas dulu, susah gerak ini"


"Kan biar romantis, Yang"


"Banyak temen kamu, lagian ini aku lagi siapin malam siang buat kita semua. Ayo sana dulu biar cepet selesai ih"


"Eh iya, lupa kalau aku ada tamu"


"Kamu mah kebiasaan, cukup anak FF aja yang sering kamu lupain keberadaannya, mereka jangan. Mereka jauh-jauh dari LA main kesini" Chacha memulai omelannya pada suaminya itu.


Cup...


Levy dengan cepat mengecup bibir istrinya, lalu setelahnya kabur sebelum melihat kemurkaan yang akan meluap dari istrinya itu.


"Mas" Teriak Chacha di dapur.


Levy hanya tertawa terbahak-bahak saat melihat raut kesal di wajah istrinya.


Teman-teman Levy lebih kaget dari apa yang Levy lakukan. Mereka yang kenal dengan Levy yang bersikap dingin dan acuh gak acuh, kini bisa hangat bahkan hingga bersikap usil pada gadis cantik setengah bule ini.


Memang dengan rambut coklat dan mata birunya, Chacha lebih terlihat seperti bule daripada terlihat seperti gadis Asia. Apalagi kulit putih nya yang mendukung penampilan, jika baru pertama kali bertemu dengan Chacha pasti akan mengira jika gadis ini adalah bule.


"Abang, jangan akal, kakak tantik nanti malah" Seru Leon yang sejak tadi duduk anteng di meja makan sambil memperhatikan Chacha.


"Nggak bakal, percaya sama Abang. Kakak cantik gak bakalan marah"


Alexsa yang melihat semua kejadian di depan matanya, hanya bisa tersenyum kecut. Haruskah dirinya kundur kali ini? Tapi ia sudah sejauh ini melangkah. Bahkan dirinya rela menentang ayahnya agar tetap berada di rumahnya.


"Lev? "


"Eh, Al. Ada apa? "


"Apa yang dikatakan wanita itu benar? " Tanya Alexsa memastikan.


"Kata-kata yang mana? " Jika berbicara selain dengan Chacha atau para sahabatnya, Levy akan kembali menjadi pria es.


"Jika dia istrimu? "


"Ya, she is my wife"


Alexsa langsung lemas seketika, dirinya benar-benar kalah telak sekarang. Tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi akan mendapatkan Levy, rupanya hanya akan menjadi angan-angan saja. Mungkin bisa saja Alexsa berniat merebut Levy dari istrinya, namun konsekuensi yang diterimanya tak akan sebanding. Selain mendapat kebencian dari Levy, Alexsa juga tak bisa membayangkan bagaimana jika ayahnya akan bertindak nanti. Membayangkan itu saja dirinya ngeri, bagaimana jika sampai terjadi. Jadi menurutnya adalah, jika tak bisa menjadi pendampingnya, menjadi temannya sudah cukup bagi Alexsa. Dia yakin hatinya akan sembuh seiring berjalannya waktu. Kini dirinya malah kebingungan bagaimana caranya minta maaf pada wanita tadi, istri dari Levy. Chacha.


"Mama dimana, Mas? " Tanya Chacha setelah selesai menata hasil masakannya di atas meja.


"Di kamar mungkin"


"Aku akan panggil biar sekalian makan siang bareng kita"

__ADS_1


"Baiklah aku akan menunggu"


"Makanlah duluan jika kalian lapar, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu" Chacha hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Levy.


"Makan dulu setelah itu baru mandi. Tadi pagi kamu gak sarapan"


"Mandi dulu ya, gerah ini loh. Bau dapur juga" Bujuknya.


"Makan dulu, sayang"


"Mas" Chacha malah merengek pada Levy.


"Makan"


"Mandi"


"Makan"


"Mandi"


Mereka berdua terus saja berdebat antara makan dan mandi. Teman-teman Levy dengan setia menunggu suami istri menyelesaikan perdebatannya. Hingga suara Lena menghentikan keduanya.


"Kalian ini kenapa sih? "


"Ini ma, aku mau mandi tak gak dibolehin" Chacha menunjuk tangannya yang digenggam erat oleh Levy. "Padahal Chacha udah gerah banget ini loh ma"


"Tapi kamu belum sarapan dari pagi, sayang. Makan dulu setelah itu baru mandi"


"Mandi dulu, Mas. Janji deh gak lama. Gerah ini loh Mas" Chacha masih saja merengek pada Levy. Sungguh yang lain hanya bisa gemas melihat tingkah Chacha ini.


Ucapan Lena seakan menarik kesadaran keduanya hingga menoleh pada teman-teman Levy yang sedang menatapnya.


Merasa pegangan Levy sedikit melonggar, Chacha dengan cepat menarik tangannya lalu berlari dari sana. Levy yang sadar langsung melihat Chacha yang sudah kabur dari sisinya. Langsung saja berlari mengejar istri nakalnya itu.


Lena hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya itu.


"Kalian bisa makan duluan, jangan menunggu dua orang itu"


"Tak apa tante, kita bisa menunggu" Jawab Alexsa dengan canggung.


"Terserah kalian, tapi lebih baik makan selagi hangat. Leon ayo sini sama mama" Lena langsung mengajak Leon pergi dari meja makan. Karena Lena yakin teman-teman Chacha akan canggung jika dirinya bergabung di sana.


Tak lama setelah kepergian Lena, terlihat Levy kembali duduk ditempatnya.


"Wah pantes aja lo gak tertarik sama cewek di sana. Ternyata sudah ada yang jaga" Goda salah satu temannya.


"Mana cantik pula"


"Dia bule ya, Lev? "


"Campuran" Levy hanya menjawab seadanya. Teman-temannya juga sudah terbiasa dengan sikap Levy yang seperti ini.


Mereka masih diam tak ada yang menyentuh makanan sedikitpun, alasannya simple. Tuan rumah tak mempersilakan mereka makan.


Masalahnya Levy lupa mempersilahkan tamunya makan, karena asik menunggu Chacha.

__ADS_1


Hingga Chacha turun dengan menggunakan baju santai yang ia beli miliki di rumah ini. Levy memang menyediakan baju untuk Chacha di kamarnya setelah mereka resmi menikah. Awalnya untuk jaga-jaga saja.


"Loh kok pada belum makan? " Tanya Chacha dengan heran, mereka hanya tersenyum canggung.


"Kamu gak nyuruh mereka makan, Mas? " Tanya Chacha penuh selidik ke arah suaminya.


Levy yang ditembak begitu saja langsung kaget. Benar dirinya lupa. Levy hanya tersenyum tanpa dosa pada Chacha.


"Ya sudah ayo dimakan, keburu dingin nanti. Maaf hanya ini yang bisa aku sajikan untuk kalian" Ucap Chacha.


Chacha bukanlah gadis yang banyak bicara pada orang asing, namun demi menjaga citra baik suaminya dia rela beramah tamah dengan teman Levy, meskipun dia juga tau ada beberapa yang mesti dirinya selidiki nanti.


"Karena kalian sedang di Indonesia jadi aku sengaja sajikan beberapa makanan Indonesia" Lanjutnya.


Melihat mereka yang masih diam, Chacha berinisiatif mengambil lebih dulu.


"Kamu mau yang mana, Mas? "


Chacha lebih dulu melayani suaminya itu. Mengambilkan nasi sesuai porsi yang dimakan suaminya.


"Tumis kangkung sama udang krispi aja deh"


"Gak yang lain lagi? "


"Itu aja udah cukup"


"Baiklah" Chacha lalu memberikan piring yang sudah ia isi dengan apa yang diinginkan suaminya.


Benar saja setelah Chacha mengambil makanan untuk Levy, mereka mulai mengambil bagiannya satu per satu. Mereka makan dalam keadaan hening. Setelah makan mereka berkumpul kembali diruang tengah.


"Makanan buatan mu enak sekali" Puji salah satu wanita cantik yang ada di sana.


"Ya, bahkan aku sampai menambah tadi" Tambah satunya.


"Syukurlah jika kalian suka. Aku sedang proses belajar memasak" Ucap Chacha merendah.


Mendengar itu Alexsa hanya bisa melotot tak percaya. Jika dia bilang belajar dengan hasil makanan senikmat tadi, lalu apa dengan Alexsa yang kursus hampir satu tahun hanya bisa menghasilkan makanan yang biasa saja menurutnya. Awalnya Alexsa pikir makanannya akan luar biasa, tapi saat mencicipi makanan dari istri Levy ini, hasil masakannya bukanlah apa-apa. Untung saja tadi dirinya tak berebut untuk siapa yang akan memasak, dirinya bisa malu setengah mati saat ini.


"Sayang sekali Levy sudah menikah. Pasti banyak yang patah hati jika tahu kabar ini" Ucap salah satunya.


"Biasa aja" Sanggah Levy dengan singkat.


"Lihat saja Alexsa, Lev. Mukanya sampai ditekuk seperti itu saat tahu kamu sudah menikah"


"Apaan sih kalian" Alexsa malu karena tak bisa mengendalikan dirinya.


"Gimana kalau kalian berdua tanding aja, sebagai bahan taruhannya. Jika istri Levy kalah, dia akan biarkan Alexsa kencan satu hari penuh dengan Levy. Anggap saja ini kenangan terakhirnya. Jika istri Levy yang menang, terserah meminta apa saja" Usul gila salah satunya.


"Kalian pikir pernikahan gue mainan" Levy menekan nada bicaranya agar tetap tenang. Padahal emosi mulai mengambil alih akan sehatnya.


"Tanding apa? " Tantang Chacha. Dirinya tak Terima jika hubungannya dianggap bahan mainan oleh teman-teman Levy.


"Balapan"


"Deal"

__ADS_1


Mereka kaget saat Chacha malah menyetujui dengan cepat.


__ADS_2