
Ketika Levy sampai di ruangan Chacha dirinya mendapati semua orang sedang beristirahat.
Mungkin mereka kelelahan akibat syok kali ya. Batinnya.
Levy tersenyum ketika dirinya melangkah ke arah dimana Chacha terbaring. Masih menggunakan topeng khusus keturunan Izhaka, Chacha tampak damai dalam tidurnya. Levy hanya menggelengkan kepalanya mana kala dirinya menyadari bahwa Chacha menggunakan piyama doraemon bukan pakaian pasien. Dirinya terkekeh geli melihat Chacha yang tak ada ubahnya sejak dulu.
Levy mendudukkan dirinya di kursi sebelah brankar Chacha terbaring. Mengelus lembut kepala Chacha.
"Aku sudah memilih jalanku. Aku terima tantangan kakek untuk terus berada di sisimu meskipun kelak bukan aku yang kau pilih menjadi pendamping mu"
"Kuatlah princess masih banyak pekerjaan yang kau belum selesaikan bukan?"
"Jangan sampai kondisi lemah mu mengalahkan mu. Aku rindu dirimu yang begitu barbar ketika menasehati ku seperti dulu" tambah Levy dengan kekehan kecil saat mengenang masa kecilnya bersama Chacha.
"Kau tau princess bahkan bunda dan ayah mu tak mampu berbuat apa-apa karena terlalu syok. Sahabatmu menangis terus sejak kau didalam ruang operasi. Kuatlah"
"Fantastic Five akan kehilangan leadernya jika kau tak bangun. Harusnya kau sudah terbangun apa kau begitu betah dengan mimpi indah mu"
__ADS_1
"Harusnya kau terbangun 30 menit yang lalu princess. Kenapa kau belum bangun" Levy menelungkup kan wajahnya pada brankar Chacha.
Tak terasa air matanya mengalir. Dia tau jika Chacha tak bangun dalam waktu yang ditentukan maka kemungkinannya adalah Chacha koma.
Dia dan King sengaja tak memberitahu pada siapapun karena tak ingin membuat cemas.
Levy menggenggam tangan Chacha dengan lembut. "Bangunlah".
Tepat pukul 04:00 Chacha mulai membuka matanya secara perlahan. Mengerjap perlahan melihat sekeliling memastikan dirinya ada dimana. Saat ingin meraih gelas berisi air Chacha merasa berat sebelah tangannya. Menoleh pada samping kanannya membuat dirinya tersenyum.
Perlahan dia mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus kepala Levy. Ia tak menyangka Levy akan menungguinya.
"Kau sadar sweety" tanya sambil mengelus kepala Chacha dengan lembut. Chacha memejamkan mata menikmati usapan lembut di kepalanya.
"Kau mau minum?" tanya Levy karena dirinya yakin Chacha terbangun karena kehausan.
Chacha hanya mengangguk lemah dirinya benar-benar tak memiliki tenaga saat ini. Levy membantunya untuk minum dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Thank you" ucap Chacha lemah.
"Tak ada kata terima kasih calon ratuku. Ini sudah tugasku" jawab Levy seraya membantu Chacha untuk duduk.
Ucapan Levy membuat pipinya merona. Dirinya menunduk menahan malu.
"Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa dirimu lebih lanjut" ucapnya.
Setelah selesai menghubungi dokter Levy kembali ke sisi Chacha lagi. "Kau lapar?"
Chacha hanya menggeleng lemah. Ngilu di bahunya masih terasa membuat dirinya tak selera untuk makan.
Tak selang berapa lama Shiro dan beberapa dokter lainnya masuk kedalam ruangan Chacha dengan tergesa-gesa. Hingga membuat suara yang mengganggu tidur nyenyak lainnya.
"Chacha" teriak Karin yang terbangun akibat suara yang dihasilkan para dokter.
Levy hanya menepuk jidat melihat ulah Karin hingga membuat semuanya terbangun karena teriakannya. Bahkan para dokter yang sudah sampai di samping dibuat kaget oleh suara cemprengnya.
__ADS_1
Chacha hanya terkekeh melihat sikap sahabat petakilannya itu.