Call Me Queen

Call Me Queen
Meminta Maaf?


__ADS_3

"Kayaknya udah gak usah diperiksa lagi deh tuh orang, udah nangisin Queen berarti udah inget kan? " Ucap Charles saat baru saja memasuki ruangan Chacha bersama Pandu.


Semuanya menoleh ke arah Charles yang masih berdiri diambang pintu. Charles hanya diam menatap Levy yang masih menangis sambil memeluk sang ratu.


"Gue ke ruangan dulu, kalau ada apa-apa lo telfon gue aja. Levy masih butuh waktu buat ungkapin semuanya, biarkan dia dulu. Kalian tak usah khawatir Levy baik-baik saja, karena obat yang selama ini dia konsumsi adalah buatan Queen langsung"


Setelah berpamitan, Charles langsung berlalu dari ruangan itu. Begitupun dengan Pandu yang menyusul Fany duduk dilantai dengan yang lain. Sedangkan seluruh keluarga dari keduanya duduk di atas sofa. Bu Ratu dan Lena tak henti-hentinya mengusap air matanya yang terus menetes saat melihat kondisi anak dan menantunya itu.


Para sahabat Chacha hanya bisa menunduk. Apalagi mereka menyaksikan secara langsung bagaimana sosok yang mereka anggap kuat itu menampakkan sisi rapuhnya pada Chiara. Selama ini mereka sudah sekuat tenaga untuk mensupport Chacha dalam keadaan apapun. Tapi, yang namanya Chacha selalu pintar menyembunyikan masalah pelik yang menimpa dirinya.


"Lev, tenangin diri lo dulu" Elang menepuk punggung Levy pelan.


Siapa yang akan menyangka, jika Elang yang paling terlihat kesal dengan sikap dan tingkah laku selama ini, adalah orang yang paling peduli akan Levy, apalagi jika itu menyangkut soal sepupunya. Elang akan menjadi orang pertama yang akan bertindak untuk hubungan keduanya.


Levy hanya menggeleng pelan, masih dalam posisinya. Levy enggan bangkit, dia merindukan istri mungilnya ini.


"Setidaknya lo pikirin juga kondisi lo, Lev. Lo baru juga sadar"


"Gue baik-baik aja, Lang" Jawab Levy dengan suara seraknya.


Elang menyerah membujuk salah satu kepala batu ini. Selain Chacha, rupanya Levy sama keras kepalanya sang istri.


Dua puluh menit berlalu, Levy masih dalam posisinya dan tak berubah. Kata maaf terus terlontar lirih dibalik telinga sang istri. Kepalanya pun masih dirinya tenggelamkan di ceruk leher sang istri. Para sahabat dan anggota keluarganya hanya bisa menghela napas mereka. Sepenuhnya mereka sadar jika Levy dihantui rasa bersalah yang begitu besar saat mengetahui jika dirinya amnesia, itu sudah mereka prediksikan dari awal.


"Eungh.. Engap loh Mas"


Keadaan hening seketika. Mereka menatap satu titik yang sama. Bahkan Levy sampai mengangkat pandangannya.


Pandangan Levy bertubrukan dengan netra biru yang menatapnya teduh, tatapan yang selalu sama yang Levy rindukan. Tatapan yang tak akan pernah Levy temukan dalam diri wanita lain. Chacha tak pernah menatapnya dengan tatapan memuja, itu yang Levy tahu. Namun, Chacha selalu menatapnya dengan tatapan lembut dan teduh miliknya. Karena menurut Chacha sebuah cinta tak harus menunjukkan tatapan memuja, kagum akan pasangan mu boleh saja. Tapi jangan memujanya, karena takdir tak akan pernah tah, hanya antisipasi agar tidak menabung rasa sakit di masa depan.


Ketika kamu mencintai seseorang dan selalu menatapnya dengan tatapan memuja karena kekaguman mu, maka jika kalian berpisah kamu lah yang paling tersakiti. Cintai seseorang sewajarnya saja, sayangi mereka dengan porsi yang cukup. Karena yang berlebihan itu tidak baik.


Chacha memberikan senyum manis di wajah pucat nya. Menatap manik mata sang suami yang menatapnya begitu dalam. Chacha bisa melihat ada rasa bersalah yang begitu besar dibalik mata sembab itu. Ada kerinduan tertahan yang Chacha rasakan saat Levy memeluknya. Ada keputusasaan yang Chacha dengar dari setiap kata maaf yang Levy lontarkan sejak tadi.


"Sayang" Entah mengapa, mata Chacha malah mengembun dan siap menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahannya saat melihat sang suami.


Mendengar suara sang istri membuat Levy kembali mendekap nya dengan erat. Masih dengan kata maaf yang terlontar dari mulutnya, Levy terus bergumam di telinga Chacha.


"Maafin Mas cinta, maaf sekali lagi maaf"


"My sugar daddy, meminta maaf? " Mendengar perkataan Chacha, Levy lantas melepas pelukannya dan menatap sang istri dengan penuh selidik. Pikirannya berkelana, benarkah jika dirinya menyebut sang istri sugar baby? Oh tidak, ini awal dari bencana rupanya.


Para sahabatnya langsung tertawa melihat wajah kaget Levy, apalagi saat Chacha menatap suaminya dengan usil. Mereka langsung mengingat kejadian di gym tadi, bagaimana ketika Chacha menggoda Levy dengan terang-terangan yang membuat Levy mematung seketika.


"Cha? " Bu Ratu langsung menghampiri bungsunya itu, begitupun dengan Lena yang langsung menggeser posisi putranya yang berada di salah satu sisi sang menantu.


"Sabar ya, Lev" Ejek Kinos saat melihat Levy duduk di sofa. Sedangkan Chacha mulai dikerubungi oleh anggota keluarganya.

__ADS_1


"Sabar gue, semenjak nikah gue malah berasa jadi menantu di keluarga gue sendiri. Maklum sih, mereka memang mengharapkan Chacha jadi bini gue dari kecil" Levy memijat pelipisnya, rasa sakit kembali menyerangnya. Namun masih dirinya tahan.


"Mau gue panggilin Charles? " Tawar Pandu saat melihat Levy yang memijit pelipisnya.


"Nggak usah, Pan. Bentar lagi juga enakan, ini shock aja otak gue di serang sama ingatan yang mendadak" Jelas Levy.


"Makanya lain kali hati-hati" Peringat Elang.


"Lo kemana pas kita perang, masa kalah sama bini lo yang ada digaris depan? "


"Gue jagain anak-anak di dalem, eh malah kena racun apa itu namanya, Ay? "


"Racun pelumpuh" Jawab Karin cepat.


"Nah itu, gue langsung kagak bisa gerak kayak orang stroke tau nggak" Cerita Elang.


"Pantes lo gak ada nampak, rupanya lo lagi menyamar jadi patung di dalem" Ejek Zeze dengan tawa gelinya.


"Emm, meng cosplay jadi mayat hidup gue" Sinis Elang menanggapi ejekan Zeze.


Mereka berada di sana cukup lama, hingga akhirnya Charles datang dan meminta keduanya untuk istirahat. Terlebih untuk Chacha yang tubuhnya benar-benar drop. Dia harus istirahat total selama beberapa hari untuk memulihkan keadaannya. Dan kini mereka hanya ditinggal dengan para sahabatnya, kecuali Karin dan Elang yang sudah kembali terlebih dahulu. Anggota keluarga besar itu akan kembali nanti setelah menyiapkan seluruh kebutuhan pasangan suami istri yang sedang menyamar menjadi pasien itu.


Mode bucin Levy rupanya langsung on ketika menempel pada istrinya. Lihatlah, dia bahkan meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan ranjang yang muat dua orang. Agar dirinya bisa tidur bersama sang istri, itu alasannya. Para sahabatnya sudah tidak kaget lagi dengan tingkat bucin pak bos yang satu ini.


"Si kembar kemana sih, sayang? Mas kangen loh" Ucap Levy sambil mengelus kepala Chacha yang sedang bersandar di dadanya itu.


Dengan sigap Levy langsung mengambil ponselnya dan mendial nomer salah satu pemimpin mafia itu. Panggilan langsung terangkat menampilkan wajah ketiga bocah kembar beda jenis kelamin dan kepribadian itu.


"Papa Mama" Teriak ketiganya heboh saat melihat wajah kedua orang tuanya.


"Kalian lagi apa, nak? " Tanya Chacha menampilkan senyumnya, meskipun wajahnya masih pucat.


"Nothing, mom" Jawab si sulung yang memang lebih lancar berbicara dan memiliki kosa kata yang cukup banyak ketimbang kedua saudaranya.


"Kalau kakak sedang apa? "


"Main game, ma" Rupanya anak keduanya sedang sibuk dengan ponsel di depannya.


"Athaya? " Levy memanggil putra keduanya dengan nada yang tegas. Bisa dilihat jika Athaya langsung meletakkan ponselnya dan menatap ke arah kamera.


"Maap, Pa"


"Jangan diulangi lagi ya, kalau Papa dan Mama sedang bicara tolong lihat lawan bicara kamu" Nasehat Levy pada sang putra.


"Iya, Pa"


"Kalau cantiknya Mama lagi apa? " Tanya Chacha melihat Aleta yang menunggu gilirannya ditanya dengan gaya imutnya.

__ADS_1


"Tadi Al main boneka, papa tepon jadi Al cini" Diantara ketiganya, Aleta yang paling belepotan ketika berbicara.


"Ah, maaf jika Mama dan Papa mengganggu waktu kalian bermain. Aunty Chiara sedang perjalanan menuju ke sana untuk menjemput kalian" Chacha bisa melihat gurat sedih di mata anak-anaknya ketika mendengar akan dijemput.


"Kenapa? Kalian tak rindu Papa? "


"Lindu"


"Lalu? "


"Macih mau dicini, cama glandpa tampan" Chacha melirik ke arah suaminya saat mendengar penuturan anak gadisnya itu.


"Tapi Papa rindu kalian" Ujar Levy sendu, begitupun dengan anak-anaknya yang menunduk dengan serempak.


"Baiklah, satu minggu lagi kalian boleh pulang. Bermainlah dengan puas bersama grandpa, aunty Chiara akan menemani kalian di sana" Putus Chacha.


"Betul, ma? " Tanya Athaya dengan mata berbinar. Chacha hanya mengangguk, tampak ketiga anaknya itu berjingkrak kegirangan.


"Jangan lupa pulang bawa oleh-oleh" Goda Levy yang harus menahan rasa rindunya karena si kembar masih betah di negeri orang.


"Nanti kita minta belanja sama grandpa" Ucap si sulung cepat.


"Hahaha Papa bercanda, kalian cepat pulang. Papa rindu"


"Kami juga rindu Papa"


"Jangan nakal di sana ya, nak. Mama tutup panggilannya"


"We love you, Pa, Ma" Mereka langsung mematikan panggilannya, bahkan orang tuanya belum membalas pesan cinta mereka.


Levy kembali mengeratkan pelukannya setelah meletakkan kembali ponselnya.


"Terimakasih telah berjuang sampai dititik ini" Ucap Levy dengan mencium pucuk kepala sang istri.


"Bukankah itu tugas istri menemani suaminya dalam keadaan apapun"


"Kamu anugrah indah yang Tuhan titipkan" Chacha tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. "I love you, love. I love you so bad" Chacha semakin menempelkan tubuhnya pada sang suami, Chacha memang jarang sekali membalas ucapan cinta pada suaminya. Tanpa kata, Levy tahu sebesar apa Chacha mencintai dirinya itu.


"Jangan terlalu bergerak cinta, apa sayang ku ini lupa. Jika suamimu ini sangat sensitif jika kamu bergerak tak beraturan" Chacha langsung diam mematung di tempatnya.


"Ah bayi baik, seperti itu lebih baik. Kamu tak mungkin kan memberikan siaran langsung pada sahabat kita bagaimana cara kita bertempur di atas ranjang, bukan? "


"Jangan menggoda ku, Mas sendiri yang kalang kabut nantinya. Ingat, istrimu ini harus istirahat total"


"Beristirahat lah semau mu sayang, karena setelah itu jam istirahat dicabut. Dinas malam akan segera di mulai"


"Mesum"

__ADS_1


__ADS_2