Call Me Queen

Call Me Queen
Chip?


__ADS_3

Mereka mulai meninggalkan area tersebut dengan mobil masing-masing. Chiara bersama Pandu dengan mobil yang Levy kendarai diawal. Chacha bersama dengan Levy mengendarai mobil yang Chacha bawa. Lainnya dengan mobil yang mereka bawa. Karena hanya Fany, Karin dan Elang saja lainnya sepakat berjaga di sana karena mereka merasa ada yang tidak beres.


Di dalam mobil yang dikendarai Chacha. Levy tak henti-hentinya mencium telapak tangannya sambil menyunggingkan senyumnya. Chacha hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Levy. Suaminya. Kedengarannya aneh namun itu kenyataannya, dirinya tak menyangka bahwa akan menjadi istri dalam waktu dekat. Dengan cara yang luar biasa bahkan tak pernah hinggap dipikirannya. Chacha hanya menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil.


"Kenapa? " tanya Chacha pada Levy yang sejak tadi tak melunturkan senyumnya.


"Gak papa seneng aja" Chacha hanya tersenyum geli melihat tingkah Levy.


"Kesialan membawa berkah" kekeh Levy jika mengingat apa yang terjadi beberapa puluh menit yang lalu.


"Sekarang cerita kenapa baju aku robek sana sini, Lev"


"Ck, sama suami sendiri gak ada romantis-romantisnya"


"Ya udah mau dipanggil apa, hmm" Chacha serasa menghadapi balita kali ini. Lucu sekali melihat ekspresi Levy yang tengah merajuk.


"Apa aja lah, yang penting romantis"


"Ya udah nanti dipikirin lagi ya" Levy hanya mengangguk. "Sekarang cerita kenapa baju aku bisa robek sana sini"


"Di robek sama orang-orang sialan itu, tadi. Terus Pandu tadi juga dihajar sampai babak belur sama mereka, kalo luka di pelipisnya gak tau karena apa, tapi yang pasti Pandu pingsan sebelum aku hajar mereka"


"Kamu lepasin gitu aja mereka? "


"Nggak lah, anak buah aku udah ikutin mereka, Yang"


"Yang? "


"Kan sayang"


"Iya iya" Chacha hanya terkekeh melihat ekspresi Levy.


"Sekarang jelaskan kenapa bisa pingsan. Kamu ceroboh? "


"Dibokong, tengkuk aku dipukul keras banget. Gak tau dipukul pakai apa tapi sesaat setelah itu baru aku pingsan"


"Masih sakit? " Levy melepas pegangan tangannya, beralih pada tengkuk Chacha.


"Ngilu dikit doang kok, By"


"By? "


"Kan baby" Levy tersenyum lebar saat mendengar nama panggilan dari Chacha untuknya.


"Ini berlaku ketika kita hanya berdua" Levy mengangguk mendengar ucapan Chacha.


"Ada yang lain? "


"Apanya? "

__ADS_1


"Yang sakit sayang"


"Gak ada kok, By. Cuma ini aja. Hubungi yang lain kita ke rumah Umi dulu mobil boxnya udah sampek kayaknya"


"Aku anter pulang, istirahat"


"By, aku harus cek. Chiara bahkan meninggalkan lainnya untuk berjaga-jaga"


"Bisa besok kan, Yang"


"By"


"Oke-oke kita langsung ke rumah Umi"


"Makasih" Chacha memeluk Levy dari samping. Membuat Levy tersenyum senang, perlahan tangannya terulur untuk mengelus lembut kepala istrinya.


"Kenapa pake diiket segala sih, Yang"


"Kalo gak diiket aku takut kena jambak pas baku hantam tadi, By"


"Tanda di leher itu, udah ketemu apa sebabnya? "


"Udah kok, By. Nanti kamu juga tau sendiri kalau sudah waktunya" Levy hanya mengangguk dirinya tak akan mengorek lebih dalam jika Chacha sudah berkata seperti itu.


"Dari sekarang jangan diiket tinggi lagi rambutnya"


"Iya. Sekarang lebih banyak digerai rambut buat nutupin itu tanda" Chacha menunduk, memperhatikan jari manisnya. "By"


"Ini cincin siapa yang kamu jadikan mahar? "


"Harus jujur ini? "


"Kamu mau bohong? Bahkan kita baru memulai" Levy terkekeh melihat nada Chacha yang akan merajuk.


"Itu cincin udah aku siapin lama, sebelum bertunangan dengan Angel. Itu cincin emang khusus buat ngelamar kamu" Chacha tersenyum tipis dalam pelukan Levy.


"Kenapa gak dipake buat tunangan sama Angel, By"


"Gak rela aku Yang kalo cincin itu harus sama Angel. Dia lebih cocok ada dijari kamu" Chacha makin melebarkan senyumnya, Levy memang tau betul seleranya.


Chacha kaget saat ditanya apa yang akan jadi mahar pernikahannya tadi. Tanpa keraguan Levy langsung membuka kalung yang selama ini menjuntai di lehernya. Terdapat sebuah cincin bertahtakan berlian yang menjadi liontin kalungnya. Yang membuat Chacha kaget cincin itu sangat pas di jarinya.


"Kok bisa pas gini ya, By"


"Feeling aja sih waktu itu pas minta buatkan"


"Hah? "


"Rekan kerja aku desainer perhiasan sayang. Waktu itu dia lagi longgar jadi aku pesen"

__ADS_1


"Cincinnya cuma satu, berarti kamu gak pakai cincin nikah kita dong"


"Kata siapa, ini" Levy menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Itu cincin tunangan kamu" lirih Chacha.


"Bukan sayang. Aku selama ini gak pernah pakai cincin tunangan. Ini itu pasangan dari cincin yang kamu pakai"


"Beneran? "


"Bener sayang. Yuk turun udah sampek" Levy mengecup kening Chacha sekilas. Chacha hanya diam. "Kenapa? "


"Gak papa, ngumpulin tenaga dulu. Mulai tadi lemes makanya nyender sama kamu"


"Kamu belum makan? " Chacha hanya menggeleng.


"Kebiasaan banget sih, kamu itu punya penyakit lambung, Yang"


"Jangan ngomel, By. Mending sekarang kita turun, kamu cariin apa gitu buat ganjel perut aku dulu" Levy mengangguk, mencium cepat bibir ranum Chacha langsung berlari keluar. Chacha yang kaget hendak berteriak, namun sadar jika Levy sudah menjadi suaminya. Tiba-tiba pipinya memerah.


Chacha turun setelah menenangkan jantungnya yang berpacu cepat akibat kecupan singkat Levy. Dirinya bisa melihat banyak orang yang berkumpul menunggu kedatangannya. Beberapa juga mengerubungi Pandu yang terlihat sedang diobati, mereka sampai lebih dulu.


"Kamu gak papa kan, Nduk? " Umi meneliti seluruh tubuh Chacha.


"Chacha gak papa, Umi"


"Umi khawatir banget" Chacha tersenyum hangat saat wanita paruh baya yang biasa dipanggil bu kades itu terlihat pucat karena mengkhawatirkan dirinya.


"Kenapa banyak tetangga yang belum pulang, Mi. ini udah masuk tengah malam? "


"Mereka juga cemas sama keadaan kamu. Mana Levy juga gak bisa dihubungi, kalian gak papa kan? "


"Gak papa Umi, cuma ada masalah sedikit saja"


"Syukurlah" Chacha langsung memeluk bu kades untuk membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Orang-orang butik aku dimana, Umi? "


"Didalam, mereka sudah disuruh istirahat sama abah" Chacha mengangguk setelah memastikan orang-orangnya aman.


"Kalian berempat dan Chiara kemari" Chacha memanggil bukan sebagai sahabat kali ini namun sebagai pemimpin mereka. Dengan patuh mereka mengikuti Chacha mendekati mobil box yang sejak tadi menjadi incaran.


"Jelaskan kenapa kalian bisa telat menyusul"


"Begini Queen, dari alamat yang Pandu kirim banyak jalan yang menuju kesana. Kita berpencar mencari jalan yang paling cepat , namun kita dihadang dengan orang-orang yang tak kami kenal" jelas Fany.


"Chia"


"Begini Queen, menurutku mereka memang sengaja mengincar mobil ini ntah apa yang menarik. Mobil ini tadi juga sempat dicegat, untung saya datang tepat waktu. Hingga kita berhasil lolos dan bertemu dititik ini. Dari yang saya lihat mereka merupakan berbagai kelompok dari beberapa mafia, Queen" Chacha mengernyit heran. Apa yang spesial dari mobil box butik nya ini. Chacha meminta pelipisnya sebentar.

__ADS_1


Chacha mulai memindai mobil box nya ini dengan teliti. Bahkan beberapa warga yang masih di sana juga melihat aksi Chacha ini. Chacha tak memperdulikan mereka, fokusnya kali ini hanya menemukan masalahnya. Atau gencatan senjata tak bisa dihindari. Chacha terus memindai badan mobil box itu. Hingga matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang berkilau terkena cahaya lampu. Mendekat Chacha mengambil benda yang menempel atau lebih tepatnya terselip di pintu mobil itu.


"Chip? "


__ADS_2