
Levy tersadar dari pingsannya, namun masih enggan membuka matanya. Dirinya merasa jika istrinya saat ini tengah memeluknya, jadi dirinya memilih untuk terus bermimpi asal bersama istrinya.
Namun, saat ada pergerakan di sebelahnya membuat Levy mau tidak mau membuka matanya. Menoleh ke arah samping, tepat pada wajah yang beberapa hari terakhir ini dirinya rindukan. Wajah teduh yang selalu membayangi malamnya dengan rasa bersalah. Kini sedang tertidur dengan pulasnya dalam pelukan hangat dirinya.
Levy mengucek matanya lagi, dirinya takut salah melihat. Lalu menampar pipinya sendiri. Sakit. Berarti bukan mimpi.
Levy merengkuh tubuh Chacha untuk semakin menempel padanya, sungguh dirinya begitu merindukan pandai cantiknya ini. Hingga tanpa sadar air matanya menetes.
Chacha yang merasa sesak terpaksa membuka matanya. Mendongak melihat suaminya meneteskan air matanya membuat dirinya langsung duduk dengan wajah khawatirnya.
"Kenapa? Mananya yang sakit, sini kasih tau? " Chacha kalang kabut sendiri memeriksa Levy yang masih terdiam.
"Mas jawab dong apanya yang sakit, kenapa nangis gitu? "
"Gak ada yang sakit sayang"
"Kenapa nangis? "
"Kangen kamu aja"
Chacha langsung masuk lagi ke dalam pelukan suaminya, tak hanya Levy, dirinya juga begitu merindukan suaminya ini. Ditambah kondisinya yang sedang berbadan dua membuat rindunya semakin besar. Namun kembali lagi, sikapnya yang bahkan dirinya sendiri tak bisa menebak. Mungkin hormon kehamilan.
"Maafin aku" isaknya dalam pelukan Levy.
"Kenapa minta maaf, hmm? " tanya Levy dengan lembut mengelus rambut Chacha.
"Pergi gak bilang-bilang, pasti kamu marah"
"Kalau untuk marah, nggak sayang. Cuma lebih ke khawatir aja, kamu pergi gak bilang, kondisi kamu juga belum fit total. Bukannya sudah janji, kalau ada masalah kita akan bicarakan, kenapa sekarang main kabur-kaburan? "
"Aku kayak anak kecil ya, Mas? " tanyanya dengan tatapan sendu.
"Aku tau, mungkin ini hormon kehamilan kamu. Mas minta maaf ya, Mas udah cuekin kamu. Mas cemburu, cinta. Kamu lebih pentingin Pandu daripada Mas"
"Mas kan tau aku sama Pandu gak ada hubungan apa-apa"
"Iya Mas tau, maaf ya" Chacha hanya mengangguk saja. "Soal Angel, Mas juga minta maaf. Mas... "
"Gak usah dibahas, aku tau Angel sendiri yang kegatelan sama kamu. Nanti aku urus dia"
"Jadi gak marah sama aku gara-gara Angel? "
"Marah lah. Enak aja, istri mana yang betah lihat suaminya di gandeng wanita lain" Sungut Chacha membuat Levy terkekeh.
"Maaf ya"
"Udah ih Mas, jangan minta maaf terus, aku yang harusnya minta maaf"
"Sekarang Mas tanya, kenapa pergi gitu aja gak pamit? "
"Gak tau juga, pengen aja gitu. Dedek kali yang ngajak pergi"
"Mana bisa begitu sih sayang"
"Tapi beneran. Sampek sini tuh aku bingung, ngapain aku kesini suami aku aja gak disini. Tapi mah balik males banget"
"Absurd banget sih istri aku ini" Levy mencium gemas pipi istrinya.
__ADS_1
"Sekarang jelasin, kenapa ini muka lebam sama luka ini. Aku tau luka ini bukan jatuh atau ditonjok orang, kamu kecelakaan? " Levy mengangguk saja, membuat Chacha melotot lalu menangis.
"Hei, kenapa nangis? "
"Pasti kamu kecelakaan gara-gara aku? "
Levy menghembuskan nafas pelan, lalu menjelaskan bagaimana dirinya sampai mendapat luka itu. Membuat tangis Chacha sedikit mereda.
"Kalo lebam itu? "
"Gak usah tau ya sayang"
"Kamu habis berantem sama siapa? Kamu bukan orang yang gampang kena tonjok, Mas" Chacha menatap suaminya penuh selidik.
"Janji gak marah ya? " Chacha hanya mengangguk, Levy sebenarnya enggan bercerita tentang ini.
"Dihajar Abang"
"Bang Nial? " Levy mengangguk. "Gara-gara aku ilang? " Levy mengangguk lagi.
"Udah janji gak marah loh, sayang"
"Aku gak marah. Anggap aja itu balasan buat kamu udah gandeng wanita lain selain istri kamu" Levy melongo tak percaya mendengar perkataan istrinya.
"Maaf ya, cinta janji nggak gitu lagi. Jangan kabur-kaburan lagi ya" Chacha hanya mengangguk, melesakkan dirinya ke pelukan Levy yang kian erat.
"Kangen" Chacha kembali terisak di pelukan suaminya.
"Sama sayang. Anak papa apa kabar disini? " tanya Levy sambil mengelus perut istrinya setelah pelukannya sedikit longgar.
"Gak nyusahin mama kan selama papa gak ada? "
"Aku anak baik papa"
"Gak mual kan sayang? "
"Nggak kok, Mas. Cuma ya kalo makan gak semuanya masuk, kemarin aja cuma makan rujak"
"Asam lambung kamu nanti naik kalo rujak aja sayang"
"Maunya dedek gitu, Mas"
"Iya-iya, lain kali makan nasi dulu walau sedikit ya" Chacha mengangguk patuh. Kini Levy kembali hangat pada dirinya, prianya telah kembali.
"Kamu kenapa kurusan gini, Mas? Kamu gak teratur makannya ya? "
"Gimana mau makan sayang, kalau kamu aja gak ada kabar"
"Maaf ya"
"Udah kok minta maaf mulu sih, aku gak papa"
"Aku ambil makanan dulu ya, kamu makan. Habis itu mandi bersihin itu bulu-buku di wajah kamu. Kan kamu paling yang tau aku gak suka kalau kamu jelek kayak gitu"
"Sendiko dawuh diajeng"
"Gak cocok ih" Levy tergelak melihat ekspresi geli di wajah istrinya.
__ADS_1
"Aku bukan turunan orang Jawa"
"Ya udah aku ambil makanan dulu ya"
"Makan kamu aja boleh? " Levy mengedipkan satu matanya nakal.
"Itu beda cerita, sekarang isi tenaga dulu" Chacha membalas dengan mengedipkan sebelah matanya juga. Lalu keluar dari kamar tamu.
Levy hanya tergelak melihat tingkah istrinya yang menggodanya. Sungguh Levy gak menyangka jika istrinya ada disini. Pantas saja Umi nya begitu ngotot untuk datang ke sini.
Malamnya mereka berkumpul di ruang tamu Mutia dengan posisi lesehan. Levy yang rebahan dengan berbantalkan paha istrinya sesekali menjawab saat Mutia atau yang lainnya bertanya pada dirinya.
"Jadi kamu hamil, nduk? " tanya Bu Kades saat mengetahui bahwa Chacha hamil.
"Iya, Umi. Itupun baru tahu setelah pingsan di acara perusahaan"
"Ya ampun kamu gimana sih, kamu itu loh dokter"
"Hehehe, ya gimana, sibuk sih. Jadi lupa cek tanggal bulanan"
"Pantes kamu lebih berisi sekarang, Umi kira kamu lagi gendutan"
"Banyak kok yang ngomong berisi, cuma Chacha gak gubris Umi. Wajar lah Chacha jarang olahraga beberapa bulan terakhir"
"Iyalah jarang olahraga, diajak olahraga ranjang mulu sama Mas Levy" celetuk Mutia.
"Ya ampun Bumil yang satu ini gak ada filternya" gumam Chacha yang lainnya hanya tertawa mendengar celetukan Mutia.
Ketika tawa mereka berhenti, mereka semua menatap heran pada Levy yang diam tak bergerak. Memang posisi Levy membelakangi mereka, karena menghadap ke arah perut istrinya.
"Tidur, Mi" ucap Chacha setelah memeriksa Levy.
"Bangunkan suruh pindah ke kamar aja, nduk"
"Nggih, Bah"
"Mas" Chacha menepuk pelan pipi Levy.
"Hmm" Levy hanya berdeham menjawab panggilan istrinya.
"Pindah ke kamar aja yuk. Badan kamu nanti pegel loh kalo tiduran di lantai gini"
Levy hanya mengangguk, lalu bangkit dan duduk. Setelahnya bangkit dan langsung melangkah ke kamar yang tadi ia tempati. Chacha juga mengikuti dibelakangnya.
Sesampainya di kamar Levy langsung berbaring, namun tak langsung memejamkan mata, meskipun kantuk sudah hingga di matanya.
"Kenapa, tidur aja lagi Mas" Chacha heran melihat suaminya yang masih berusaha membuka mata.
"Sini, pengen peluk kamu. Takut kamu ilang lagi ditinggal tidur" Chacha hanya tersenyum, lalu naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam pelukan Levy.
"Aku gak kemana-mana loh, Mas"
"Iya, cuma takut aja. Udah sini istirahat aja, besok banyak kegiatan. Kamu jangan capek-capek kasian dedek"
"Iya sayang iya"
"Sleep tight, love" Levy mengecup kening istrinya singkat dan langsung memejamkan matanya.
__ADS_1