Call Me Queen

Call Me Queen
Aku Pacarnya Levy


__ADS_3

"Lo kenapa? " Tanya Chacha pada Audy.


Kali ini mereka sedang duduk berdua di taman belakang. Sesuai arahan Chacha, Audy akan tinggal disini sementara waktu hingga Chacha berhasil menguak siapa dalang dibalik ini semua.


"Bunda" Ucap Audy.


Chacha langsung paham apa yang dirasakan Audy ketika kata 'bunda keluar dari mulutnya. Bahkan Chacha dapat merasakan kesedihan Audy. Audy bahkan mempercepat kepulangannya dari bulan madu karena memikirkan bundanya.


"Gue tahu, lo takut bunda gak nerima lo kan? " Audy hanya mengangguk lemah.


"Mau ketemu bunda? " Audy menggeleng.


"Kenapa? "


"Gue takut ketemu bunda, gue belum siap lihat kebencian di mata bunda buat gue"


"Audy, setiap anak tak bisa memilih akan lahir dari rahim yang mana. Setiap anak juga tak bisa memilih takdir apa yang akan menjadi jalan hidupnya"


"Gue tau lo belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan ini, bahwa lo bukan anak kandung bunda yang selama ini lo kenal dengan ibu kandung lo"


"Tapi Audy bunda gue juga gak tahu kalo lo anak dari simpanan ayah, bukankah selama ini dia baik sama lo. Bahkan sejak kecil dia selalu memperhatikan lo daripada gue anaknya. Meskipun gue akui bunda cuma bisa liat perkembangan gue jarak jauh tanpa sepengetahuan kalian. Karena apa Audy? Dia gak mau lo ngerasa gak disayangi karena jadinya gue"


"Bunda itu berhati malaikat Audy. Gue rasa gak ada alasan lo buat takut ketemu bunda"


Audy hanya menunduk, sungguh dirinya takut untuk bertemu wanita yang selama ini membesarkan dirinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang berlimpah itu.


"Gue yakin bunda gak akan salahin lo akan masalah ini. Karena apa? " Audy menatap Chacha ketika dirinya menjeda ucapannya.


"Lo gak salah Audy, bukankah bunda ngerawat lo dari bayi. Bunda hanya kecewa dengan ayah. Bunda tak ingin sikapnya melukai anak-anaknya, dia memilih menyendiri untuk memenangkan hati dan pikirannya"


"Bertemu lah dengan bunda, agar apa yang lo rasain bisa berkurang sedikit setidaknya. Ingat lo sekarang seorang istri, jangan karena masalah ini, lo lupa tugas lo sebagai istri"


"Ingat satu hal Audy, bunda gak pernah marah ataupun benci lo. Jika lo siap ketemu bunda. Hubungi gue"


Chacha meninggalkan Audy begitu saja di taman belakang. Nampaknya Audy sedang mencerna apa yang diucapkan Chacha sejak tadi.


Chacha melangkahkan kakinya menuju dapur, dirinya haus sekali setelah berceramah panjang lebar untuk Audy tadi. Langsung saja dirinya membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin. Lalu beralih ke meja di samping kulkas untuk mengambil gelas dan mulai menuangkan airnya ke dalam gelas. Namun belum juga gelas terisi setengahnya, dirinya dikejutkan dengan tangan kokoh yang melingkar di perutnya. Awalnya Chacha kaget, namun aroma parfum yang begitu ia sukai menyapa indera penciumannya. Membuat dirinya tersenyum.


Setelah meneguk airnya hingga tandas, Chacha tak langsung berbalik melainkan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik seseorang yang tengah memeluknya saat ini. Sebentar saja dirinya ingin merasakan ketenangan ini.


"Kok udah balik? "


"Cuma ada satu jadwal meeting. Di kantor gak asik, gak ada kamu"


"Kok manis banget sih"


Chacha memutar tubuhnya menghadap laki-laki yang tengah menatapnya intens dengan tangan yang setia melingkar di pinggangnya kali ini. Entah siapa yang memulai duluan kini bibir mereka bertautan sempurna. Bahkan mereka melupakan jika saat ini mereka sedang ada di dapur. Hingga seseorang menghentikan aksi mereka berdua.


"Masih cukup siang ini untuk kalian bergulat "


"Ah nenek" Chacha langsung menunduk malu ketika kepergok neneknya.


"Ingat ini dapur untuk memasak bukan kamar untuk bercinta" Goda neneknya.


"Ya ampun nenek" Chacha menutup wajahnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menarik tangan yang sejak tadi setia menggenggamnya.


Setelah kepergian Chacha, nyonya besar Izhaka langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah cucunya yang memerah menahan malu itu.


"Kami beneran udah gak ada jadwal, Mas?" Tanya Chacha pada suaminya setelah mereka sampai di kamar.


"Gak ada sayang. Tadi cuma rapat bulanan aja"


"Emm" Chacha hanya menganggukkan kepalanya.


"Mau berangkat sekarang? " Chacha tak langsung menjawab melainkan melirik jam yang menempel di dinding.


"Boleh, ini sudah cukup siang. Pasti mama ada di rumah"


"Ya udah ayo. Kita omongin nanti kalo papa udah pulang kerja gak papa kan? "


"Gak papa dong, sekalian aku main disana ya"


"Apa sih yang nggak buat kamu"


"Mas? "


"Apa sayang? "


"Kok manis sih? "

__ADS_1


"Mau aku mode flat? "


"Jangan ih, tega banget kamu namanya kalo gitu" Jawab Chacha cemberut.


"Nggak lah sayang, mana mungkin aku bisa flat sama kamu"


"Makasih sudah membedakan sikap ketika diluar dan ketika denganku" Chacha langsung melesak masuk kedalam pelukan Levy.


"Itu pasti sayang. Karena apa? "


"Apa? "


"Kamu spesial" Chacha merona mendengar jawaban Levy.


Lagi, mereka mengulangi apa yang mereka lakukan di dapur tadi. Entahlah Chacha begitu candu untuk Levy. Bahkan jika boleh dirinya akan mengurung istri kecilnya di dalam kamar. Tapi sungguh itu pemikiran yang sangat konyol, jangan kamar penjara bisa dengan mudah dia bobol.


"Cha, kamu mau makan siang disini atau... " Ucapan nyonya besar Izhaka terhenti ketika melihat apa yang sedang di lakukan oleh cucu kecilnya itu.


Chacha yang kaget langsung melepas pagutan mereka. Sungguh dirinya malu sekali sekarang, jika boleh dirinya ingin menghilang saat itu juga.


"Nenek kenapa gak ketuk dulu sih? " Tanya Chacha seraya menahan malu.


"Salah siapa gak ditutup rapat"


"Nenek mah ada aja alasannya. Jadi kenapa nenek susulin Chacha ke kamar? "


"Mau makan siang disini apa gimana? "


"Nggak nek, kita mau ke rumah aku. Mau ketemu mama papa" Kali ini Levy yang menjawab.


"Oh ya udah, nenek keluar dulu cuma mau tanya itu saja"


Setelah kepergian neneknya, wajah Chacha langsung tertekuk sempurna.


"Kenapa sayang? "


"Malu. Dua kali kepergok nenek" Levy hanya bisa terkekeh mendengar penuturannya istrinya itu. Tak menampik, dirinya juga merasa malu sebenarnya namun masih bisa mengatasinya.


"Berangkat aja yuk, ntar malah kejebak macet"


"Bentar aku ambil tas dulu"


Chacha langsung menyambar tas yang ada di kasur. Lalu menggandeng lengan Levy keluar dari kamarnya. Tak lupa pula dirinya berpamitan pada tuan rumah jika akan pergi.


"Kok sepi, Mas? " Tanya Chacha ketika mereka sampai di mansion Levy.


"Mama paling jemput Leon, kemarin Leon ikut tante nginep di rumah oma"


"Oh, oke. Aku ke kamar kamu ya, ngantuk banget ini. Nanti kalau mama dateng jangan lupa bangunin"


"Aku lupa ngomong sama kamu, temen aku mau main kesini loh, Yang"


"Temen yang mana? "


"Temen kuliah, kebetulan mereka lagi liburan bareng. Gak papa kan? "


"Ini rumah kamu bukan rumah aku, Mas. Kenapa pula minta ijin aku? "


"Soalnya ada yang beda jenis kelamin, bukan semuanya cowok. Kalau kamu gak nyaman aku bilang gak usah sama mereka"


"Gak papa kok, Mas. Mereka cuma temen kan? "


"Iya sayang, cuma temen kok. Nanti deh aku kenalin kamu"


"Ya udah aku istirahat bentar, ngantuk banget ini" Levy hanya mengangguk dan mengantarkan Chacha ke kamarnya. Sekalian dirinya ingin mengganti bajunya dengan pakaian santai.


Setelah mengganti pakaiannya dan memastikan istrinya tertidur lelap, Levy kembali ke ruang tengah guna memunggu teman-temannya.


Tak selang berapa lama, Levy mendengar keriuhan diluar. Rupanya mereka semua sudah datang.


"Lama tak jumpa bro" Ucap salah satu dari mereka sambil memeluk Levy sekilas.


Mereka bisa menggunakan bahasa Indonesia, namun tak selancar orang Indonesia. Salahkan mereka yang terlalu kepo ketika Levy berbicara dengan bahasa Indonesia. Alhasil, Levy menjadi mahasiswa merangkap guru bahasa Indonesia saat di LA dulu.


"Bos besar makin tampan dan berkarisma eh" Goda salah satunya.


"Bisa aja kalian, ayo masuk"


Diantara mereka, ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh cinta, dan tatap rindu. Dia hanya bisa bersikap malu-malu saat berhadapan dengan Levy. Entah jika dibelakangnya.

__ADS_1


"Mau minum apa? "


"Kita tamu yang baik, jadi terserah tuan rumah lah"


"Gue kasih tau ART dulu ya" Levy langsung meninggalkan mereka diruang tamu.


Setelah kembali dirinya dikagetkan dengan adanya Lena, sang mama.


"Mama udah pulang? "


"Udah, nak"


"Leon mana? "


"Ganti baju sama Sinta" Levy hanya mengangguk menanggapi jawaban mamanya.


"Ini Alexsa ya? " Tanya Lena pada perempuan cantik yang duduk disebelahnya.


"Ah iya tante"


"Kamu tambah cantik ya" Alexsa hanya tersipu malu mendengar pujian Lena. "Gimana Lev? "


"Gimana apanya, Ma? "


"Kan udah tuh sama si Angel. Gimana kalau sama Alexsa aja? "


"Bisa mama biarin aku pilih sendiri kali ini. Gak perjodohan konyol lagi"


"Tapi Lev"


"I am sorry, mom"


"Bisa dimutilasi gue sama Chacha" Batin Levy.


Keadaan langsung hening, bahkan Alexsa menundukkan kepalanya. Entahlah antara malu dan kecewa. Levy sudah jelas menolaknya, padahal selama ini dirinya sudah berusaha keras untuk dekat dengan pria tampan berdarah campuran ini.


"Kakak tantik" Keheningan itu pecah saat Leon berteriak memanggil seseorang.


Tampak seorang gadis menuruni tangga dengan mata setengah terpejam. Bahkan kepalanya masih terasa berdenyut. Tapi dirinya sadar siapa yang sedang memanggilnya. Balita tampan yang sering ia rindukan sejak pertemuan pertamanya.


Chacha berjongkok menyamakan tingginya dengan tubuh kecil Leon. Dirinya masih berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya.


"Halo tampan apa kabar? "


"I am fine" Chacha langsung menarik Leon ke dalam gendongannya setelah seluruh nyawanya terkumpul.


"Mau kakak buatkan sesuatu? " Chacha melupakan jika Levy sedang menerima tamu bahkan sekarang menatap intens kearahnya.


"Es kim? "


"Oke, kita cari diluar nanti. Lainnya? "


"Mau buah"


"Okay, let's go" Chacha langsung membawa Leon menuju dapur.


Sedangkan di ruang tamu mereka dikagetkan dengan Levy yang tersenyum hangat saat menatap gadis yang bersama dengan adiknya.


"Udah hampir makan siang, aku boleh pinjam dapur nya tante buat masak? "


"Wah kamu bisa masak? " Alexsa mengangguk malu. "Ah baiklah-baiklah, silahkan tante jadi tak sabar untuk mencicipi masakan kamu" Alexsa langsung menuju kearah dapur dengan ditemani pelayan.


"Beruntung lo, man"


"Kenapa? "


"Alexsa sengaja ikut kelas memasak cuma buat lo" Levy hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Emmm, katanya biar bisa masakin lo terus"


"Itu kemauan dia buka gue yang minta kan"


Sedangkan di dapur Alexsa melihat Chacha yang mengupas buah sambil bercanda dengan Leon. Terbukti dengan tawa Leon yang keras.


"Hai" Sapa Alexsa.


"Oh Hai, maaf aku tak melihatmu"


"Tak apa. Kenalin aku Alexsa"

__ADS_1


"Yeah, aku Queen" Chacha memang akan menggunakan nama Queen untuk orang yang menurutnya asing.


"Aku pacarnya Levy"


__ADS_2