
Pagi-pagi sekali Chacha sudah sampai di rumah bu kades, dengan menggunakan hotpants dan hoodie dirinya memasuki rumah itu. Tatapan matanya melembut kala melihat para sahabatnya tertidur di sana. Hanya beralaskan tikar yang ada diruang tamu rumah bu kades. Karena kursi diruang tamu tersebut telah dipindahkan.
Chacha terus melangkahkan kakinya menuju kamar Mutia, guna mengecek hasil kerja karyawannya yang menyulap kamar Mutia menjadi kamar pengantin. Chacha cukup puas dengan hasil karyawannya.
Chacha langsung menyiapkan perlengkapan apa saja yang akan ia pakai untuk menyulap Mutia menjadi ratu sehari kali ini. Dibantu para karyawannya Chacha memulai aktivitasnya.
"Untuk akad nikahnya saya sendiri yang akan merias Mutia. Untuk acara selanjutnya biar sahabat saya yang merias, kalian cukup menuruti apa yang dia mau saja"
"Baik Nona"
"Kebayanya dan lainnya disiapkan ya, saya bangunkan pengantinnya dulu"
Chacha meninggalkan kamar itu menuju kamar yang Mutia tempati kali ini. Namun sebelum mengetuk pintu, Mutia muncul terlebih dahulu dengan wajah segarnya.
"Sudah mandi? " Mutia hanya mengangguk.
"Ayo Mbak mulai riasannya, biar cepet selesai"
Mutia berjalan mengikuti Chacha menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya Mutia dibuat terpesona oleh dekorasi kamarnya.
Chacha mendudukkan Mutia di kursi tunggal yang ada di meja rias. Chacha memulai aktivitasnya di wajah Mutia. Siapa yang akan menyangka, gadis yang biasanya bergelut dengan senjata api dan darah ini juga pandai bermain dengan alat make-up. Gadis yang terkesan tomboy tak tau bermake-up itu tampak lincah memoles wajah Mutia.
Sedangkan di ruang tamu mereka mulai menggeliat, menarik kesadarannya dari alam mimpi. Semalam sebenarnya mereka sudah kembali ke rumah Chacha, khawatir karena Chacha tak kembali ke rumah. Mereka memilih kembali ke rumah bu kades. Karena mereka yakin jika Chacha akan kembali ke rumah itu lagi.
"Chacha udah disini apa belom ya? " tanya Karin setelah semuanya berhasil sadar dari alam mimpi.
"Coba cek deh, kalo ada kita balik dulu buat mandi sama ganti baju" Karin mengangguk dan langsung mencari Chacha.
Setelah menemukan Chacha yang sedang serius merias wajah Mutia, Karin langsung mengabari lainnya jika Chacha ada di rumah ini. Mereka dengan sigap langsung meninggalkan rumah bu kades.
Tak terasa Chacha sudah selesai merias wajah Mutia. Chacha langsung menyuruh karyawannya untuk membantu Mutia mengganti bajunya dengan kebaya. Setelah selesai Chacha langsung menata rambut Mutia sedemikian rupa hingga terkesan cocok dengan riasan dan kebaya yang sedang digunakan. Bahkan Mutia sendiri kelihatan bengong didepan cermin, karena sedari tadi dirias Mutia tak menatap cermin sama sekali.
"Ini beneran Tia kan, Mbak? "
"Emang Mbak lagi ngerias siapa kalo bukan kamu Tia"
"Cantik ya Mbak"
"Kamu emang cantik Tia, tapi itu tertutupi karena kamu selalu cuek soal penampilan" Mutia hanya tersipu malu mendengar penuturan yang Chacha lontarkan.
__ADS_1
"Tia gak tau pake make-up, Mbak"
"Merawat diri gak harus bermake-up, Tia. Mulai sekarang kamu harus merawat diri kamu, paham"
"Tapi kenapa harus? "
"Kamu mau suami kamu ngelirik wanita lain? "
"Ya nggak mau lah, Mbak"
"Makanya percantik diri kamu, biar suami betah di rumah selain kerja"
"Tapi gimana caranya Mbak, kan Tia gak tau make-up"
"Ya ampun. Sekarang tutorial cara bermake-up itu banyak Tia. Buat apa kamu punya ponsel canggih kalo begini aja masih pusing"
"Hehehe lupa, Mbak" cengirnya.
"Belajar dari situ, dunia kerja itu jahat. Apalagi suami kamu kerja kantoran, bukannya menakuti hanya saja lingkungan kerja kantoran itu kadang gak sehat"
"Tia ngerti kok, Mbak"
"Iya Mbak"
"Seorang istri itu harus bisa menjadi air, jika suami mu terbakar amarah nantinya, cobalah dengan lembut memadamkan amarahnya nanti. Jangan kebawa emosi juga. Luaskan juga hatimu untuk kedepannya. Karena dalam setiap rumah tangga pasti ada yang namanya cobaan. Tinggal seberapa erat kerjasama kalian sebagai suami istri menghadapi cobaan tersebut. Setiap ingin mengambil keputusan, usahakan pikirkan dengan kepala yang dingin"
"Injih Mbak"
"Ingat satu hal ini, Tia. Mbak gak mau kamu sakit hati nanti jika melihat suami kamu marah"
"Maksudnya? "
"Dengarkan dulu. Jika nanti suamimu pulang dalam keadaan marah, yang harus kamu lakukan adalah cukup mendengarkan tanpa melawan. Jangan pula memandangnya tepat dimatanya, karena dia bisa berpikir kamu menantangnya. Setelah dirasa dia sudah mengeluarkan semua isi hatinya, tinggalkan dia sendiri beberapa saat. Biarkan dia berpikir apa yang barusan dia ucapkan dan lakukan. Sekitar satu jam, Mbak rasa itu sudah waktu yang cukup untuk seseorang berpikir, beri dia minuman yang bisa membuatnya rileks, ya semacam kopi atau teh. Biasanya para pria tak bisa lepas dari itu. Setelahnya bersikaplah seperti biasa seolah-olah tak terjadi apa-apa"
"Tia paham Mbak"
"Kalau ada apa-apa cerita sama Mbak, jangan sungkan buat telfon, jangan sungkan buat minta bantuan Mbak, Tia"
"Iya Mbak. Makasih udah kasih nasehat buat Tia"
__ADS_1
"Kita sesama wanita Tia, Mbak hanya bisa menasehati apa yang bisa Mbak sampaikan, Tia juga jangan ragu buat negur Mbak, kalo menurut Tia Mbak ada salah, biar Mbak bisa memperbaiki diri kedepannya".
" Iya Mbak. Terima kasih sekali lagi Mbak, Mbak banyak membantu Tia buat acara ini"
"Kamu sudah Mbak anggap seperti adik sendiri, Tia. Jadi jangan sungkan ya" Mutia hanya mengangguk lantas memeluk Chacha erat.
"Jangan nangis Mbak males benerin riasan kamu lagi kalo cemong" goda Chacha membuat Mutia mendengus sebal.
Karyawan Chacha hanya diam ketika Chacha memberikan nasehat-nasehat untuk pengantin wanita yang satu ini. Bahkan mereka juga tak menyadari jika sudah ada beberapa orang yang hadir dalam ruangan itu, guna melihat pengantin wanita yang Chacha sulap menjadi ratu sehari pada hari ini.
"Khusus untuk akad nikah kamu, Mbak sendiri yang ngerias kamu. Untuk resepsi nanti biar sahabat Mbak yang ngerias ya"
"Iya gak papa kok, Mbak. Tia malah seneng Mbak mau ngerias Tia langsung" Chacha hanya tersenyum menanggapi ucapan Mutia. Dirimya berjalan menuju sofa panjang yang ada dikamar itu. Lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja. Matanya terpejam, menandakan bahwa dia benar-benar lelah.
"Gue gak nyangka, sahabat gue yang biasanya cuek minta ampun soal penampilan sekarang malah jago buat orang cantik" ucap Karin.
"Tia cantik banget"
"Iya kelihatan anggun banget, terus terkesan lembut gitu pembawaannya"
"Chacha emang the best"
"Kalian udah mandi? " tanya Chacha dengan mata terpejam.
"Udah kok, lo semalem kemana? "
"Main doang, gak kemana-mana kok"
"Kita panik kampret"
"Sorry, kalo gue bikin kalian panik"
"Kita maafkan, btw lo gak mau mandi"
"Gue capek mau istirahat bentar, lagian acaranya masih satu jam lagi kan? "
"Iya"
"Nah sekarang saatnya Mutia beraksi di depan kamera. Nah Karin arahkan gaya dia dalam berpose. Gue ngantuk mau tidur bentar" Yang lain hanya mengangguk mengiyakan apa yang Chacha ucapkan barusan.
__ADS_1