
Setelah selesai urusannya dengan keluarga Rahardian, kini Chacha langsung tancap gas menuju kediaman Effendy. Dirinya mengkhawatirkan keadaan Audy. Bahkan saat itu dia sedang mati-matian menahan diri agar tidak mengeluarkan sumpah serapah nya.
"Kenapa sayang? " tanya Levy uang masih sibuk dengan kemudi nya, namun sesekali matanya melirik istrinya yang berulang kali menghembuskan napas panjang.
"Diem deh, Mas"
"Kenapa dulu? "
"Lagi kesel ini loh"
"Ya udah lanjutin, ntar kalo udah selesai kasih tau ya" ucap Levy santai.
"Tau ah" Levy terkekeh saat melihat wajah cemberut istrinya.
"Gemoy banget, istri siapa sih ini" ucap Levy sambil menarik sebelah pipi chubby milik Chacha.
"Sakit Mas"
Plak...
"Ish, sakit, Yang" pekik Levy saat Chacha menepuk keras tangannya.
"Biar sama-sama sakit"
"Iya iya, lagi ya Yang"
"Ku tampol purun, cinta? " Levy hanya nyengir sambil menggelengkan kepalanya.
Begitulah kebersamaan mereka. Jarang sekali hal romantis terjadi diantara mereka. Pertengkaran kecil, teriakan dan candaan yang biasa mewarnai kehidupan rumah tangga mereka.
Sepuluh menit kemudian mobil yang Levy kemudikan memasuki halaman luas kediaman Effendy. Kediaman yang membentuk karakter keras istrinya.
Chacha tampak turun terlebih dahulu, namun dirinya tak langsung masuk. Karena menunggu Levy yang memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Setelahnya Chacha menggandeng lengan suaminya mesra saat memasuki kediaman Effendy. Tampak di sana sudah berkumpul Ayah dan Bundanya, Kakek dan Nenek Effendy. Jangan lupakan balok es yang sedang duduk santai memainkan ponsel. Siapa lagi kalau bukan, Danial, yang lebih akrab di sapa King oleh kalangan pebisnis.
Mereka semua tersenyum melihat kedatangan princess satu-satunya di keluarga mereka. Bukan melupakan Audy, tapi memang sejak dulu hanya Chacha yang mendapat gelar princess di keluarga Effendy maupun Izhaka.
"Kemarilah" Bu Ratu merentangkan tangannya, kode agar putrinya masuk ke dalam pelukannya.
Chacha dengan senang hati langsung melepas belitan tangannya di lengan suaminya dan langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan sang bunda.
"Bunda rindu"
"Chacha juga, Bunda kenapa gak ke rumah lagi? " tanya Chacha sambil meregangkan sedikit pelukannya.
__ADS_1
"Rencananya siang ini, tapi bunda malah dapat kejutan dengan kedatangan Audy"
"Ah, iya Audy. Dimana anak itu? "
"Di kamarnya, masih ditemani oleh pengawalnya. Apa yang sebenarnya terjadi, nak? Kenapa keadaan Audy seperti itu? "
"Apa yang terjadi? " Chacha melepaskan pelukannya dan menatap sang bunda penuh tanya.
"Dia berteriak histeris saat sadar tadi, bahkan dia juga berteriak saat melihat ayah. Dia hanya benar-benar tenang saat pengawalnya memeluknya"
Chacha tampak menghela napas pelan.
"Chacha ke kamar Audy dulu Bunda" Chacha langsung berlalu meninggalkan semuanya ke dalam kamar Audy.
Kini atensi teralihkan seluruhnya pada Levy, Levy yang ditatap penuh tanya hanya memasang wajah polos tanpa dosa, seakan-akan tak tau apa-apa.
King yang melihat hal itu langsung memukul pelan kepala adik iparnya itu. Membuat yang lainnya melotot tak percaya.
"Danial" peringat Bu Ratu.
"Jangan berlagak sok polos"
"Ampun deh, Bang"
"Jadi apa yang terjadi, nak? " tanya Bu Ratu.
"Aku sebagai perwakilan dari seluruh keluarga Rahardian meminta maaf atas nama Tiara, Bunda" Bu Ratu tak menjawab perkataan Levy, dirinya terisak dalam pelukan suaminya.
"Bunda dan lainnya tak usah khawatir Tiara akan berulah lagi, karena mulai saat ini Tiara ada dalam pengawasan istri ku langsung" sambung Levy.
"Bagaimana kejadian itu bisa terjadi? " tanya Gunadya Effendy.
"Aku tak tau persis, Kek. Bagaimana Tiara dan Kevin bisa kenal, namun dari gelagatnya mereka menjalin hubungan cukup lama. Kita sudah memperingati keluarga Pandey, namun rupanya tak ada niat mereka mendengarkan peringatan kami atau sekedar meminta maaf. Jadi kita hanya menunggu sampai anak Kak Audy lahir untuk melihat siapa yang benar dan salah"
"Bukankah bisa dilakukan tes DNA tanpa menunggu kelahiran sang bayi? "
"Benar Nek, tapi Chacha sudah memikirkan ini semua. Dia akan tetap melakukan tes DNA setelah bayi Kak Audy lahir. Karena kondisi tubuh Kak Audy tak memungkinkan untuk kita melakukan tes DNA sekarang"
"Nenek mengerti. Jadi sekarang Audy tinggal dimana? "
"Chacha membangunkan rumah tepat di samping rumah kami, Nek"
"Kenapa tak kalian antarkan Audy ke rumah ini saat menjemputnya di rumah suaminya? "
"Bukan tak ingin, Kek. Tapi princess tak mau jika Audy semakin tertekan karena mendapat sikap penolakan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Apalagi kondisinya sedang hamil" jawab Chacha sambil berjalan ke arah anggota keluarganya yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
Chacha menatap Bu Ratu yang masih terisak, lalu menatap suaminya. Tampak anggukan kecil di sana.
"Sikap penolakan? Siapa yang menolaknya? Kakek tak paham"
"Apa kakek tak merasa jika ayah ku berubah dingin bahkan tak peduli pada Audy, bukankah Audy ada karena kesalahannya. Tapi setelah mengetahui perbuatan Audy dirinya malah mengacuhkannya, padahal dia juga tau jika Audy dibawah tekanan dengan nyawa orang terdekatnya jika membantah" jawab Chacha sinis.
Levy mengelus pelan punggung istrinya. Menenangkan bumil yang akan meledak kapan saja.
"Jangan emosi cinta. Ingat anak-anak kita bisa merasakan emosi mu" bisik Levy telat di telinga Chacha.
Chacha mencoba menetralkan emosinya dengan memejamkan matanya dan menggenggam tangan suaminya.
Kakek dan neneknya yang melihat itu hanya mampu tersenyum, cucunya sedikit demi sedikit sudah berubah. Biasanya ketika marah Chacha akan langsung meledak tanpa melihat kanan kiri dan akan mengangkat senjatanya tanpa berpikir dua kali.
Keadaan hening, tak ada yang bersuara. Percuma bersuara kali ini, hanya akan menambah emosi ibu hamil yang satu ini. Mereka lebih memilih diam sambil melihat Levy yang menenangkan istrinya itu. Hingga suara dari arah tangga membuat mereka menoleh bersamaan.
Tampak Audy yang memeluk lengan Ardan sambil memejamkan matanya ketakutan. Kepalanya menggeleng cepat, air matanya gak berhenti menetes.
"Aku mau pulang, Kak"
"Oke oke kita pulang"
Grep...
Semuanya melotot saat King menarik Audy ke dalam pelukannya. Sejak kapan King memiliki kepedulian pada Audy, bahkan dirinya selalu menatap datar Audy. Pernah berbicara saja tidak dengan Audy.
"Abang disini" ucapnya sambil menepuk pelan punggung Audy.
King tak bodoh, kepergian Chacha selama lima tahun membuat celah untuk Audy dekat dengannya. Namun benteng pertahanan nya begitu kokoh, hingga Audy tak dapat menembusnya. Kerap kali King menangkap sorot takut dan gelisah dalam tatapan mata Audy saat menatapnya. Namun dirinya hanya menatap datar ke arah Audy. King benar-benar tak menduga jika kejadian yang begitu memilukan terjadi pada perempuan yang berhati baik seperti Audy, namun sayang itu semua tertutupi dengan perlakuan buruknya demi keselamatan orang terdekatnya. Bahkan wanita yang saat ini dalam dekapan nya rela menahan derita batinnya tanpa berbagi.
"Abang" lirih Audy.
"Abang disini"
"Abang" Audy semakin mengeratkan pelukannya dan King semakin mendekap nya erat. Audy menangis sejadi-jadinya dalam dekapan King. Dengan sabar King mengelus punggung adik tirinya itu.
Mungkin awalnya dia tak mau menerima Audy, namun setelah mendapat seluruh data tentang Audy dari sang adik membuat hati nuraninya tergerak. King memang pria dingin yang terkenal kejam dan sadis, namun bukan berarti tak punya hati. Melihat sosok rapuh Audy membuat nuraninya tergerak. Logikanya masih berjalan baik untuk mengetahui bahwa Audy tak sepenuhnya salah disini.
"Abang ku saja mau menerimanya, meskipun dia juga sadar hadirnya Audy membuat dirinya di lupakan. Lalu apa tanggung jawab mu, Ayah? Anak dari hubungan gelap mu sedang terpuruk dan kau diam saja. Menolak adanya dia sudah sangat terlambat saat sebelumnya kau telah begitu memanjakannya"
Ayah Gun terdiam menatap bungsunya yang berbicara dengan nada sinis nya kembali.
"Kau tau Ayah, seorang anak tak pernah tau dia akan dilahirkan dimana, dengan siapa dan dengan cara apa. Jika boleh memilih, mungkin Audy tak akan memilih untuk menjadi anak mu"
Chacha melihat King yang menggendong Audy kembali ke kamarnya. Dia menangkap isyarat dari King jika Audy tertidur. Chacha hanya mengangguk.
__ADS_1
"Aku pamit ke kamar dulu. Kamu kalau masih mau berbincang disini dulu saja, Mas" Chacha langsung bangkit menuju kamarnya.
Levy segera menyusulnya, dia tahu istrinya sedang dalam mood yang sangat buruk sejak di kediaman keluarganya tadi.