Call Me Queen

Call Me Queen
Sisi Lain Chacha


__ADS_3

Chacha kaget saat seseorang mencekal tangannya ketika dirinya hendak pergi dari situ. Saat tau siapa pelakunya dirinya hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Bisa duduk, sebentar aja? " pintanya.


"Buat? "


"Duduk aja, gue mohon" Chacha duduk mengikuti perintahnya


"Ada apa? "


"Gue minta maaf"


"Buat? "


"Semuanya"


"Lo emang punya salah apa sama gue, Lev? "


"Gue... "


"Bentar Mutia manggil" Chacha langsung meninggalkan Levy karena Mutia terlihat melambaikan tangannya pada Chacha. Levy hanya bisa menghela napas. Sesusah ini meminta maaf pada Chacha.


"Ada apa? "


"Gak ada kangen Mbak Chacha aja" Mutia langsung memeluk Chacha.


"Ini kenapa pada murung semua juga? " Chacha heran melihat raut yang berbeda dari semua orang. Terlebih lagi Mutia terlihat seperti kecewa.


"Teo"


"Ya Mbak? "


"Jujur sama Mbak, ini ada apa? "


"Loh kok pada murung, kenapa? " Levy yang baru bergabung juga heran.


"Itu loh Kak, penata rias buat nikahan dia kecelakaan. Dan dia gak ada yang bisa ngerias lagi. Soalnya kecelakaan bareng asistennya"


"Tia gak papa kok kalo cuma akad aja, Bah" Mutia melapangkan hatinya.


"Undangan udah disebar, Tia"


"Tia ijin telfon calon suami Tia dulu, mau kabarin masalah ini" Tia masih berusaha tegar tanpa menjatuhkan air matanya.


"Gak ada lagi tukang ria disini, Mi? "


"Ada Cha, tapi yang itu yang terbaik disini. Tia juga udah lama konfirmasi sama tukang rias nya" Umi hampir menangis melihat Tia yang berusaha menjelaskan pada calon suaminya, bahkan sekarang dirinya terisak. Membuat Chacha menghela napas ringan.


"Itu sama dekornya ya, Mi? "


"Iya Cha"


"Bisa minta dekornya aja dipasang disini"


"Tapi, Cha"


"Biaya Chacha yang tanggung, masalah baju dan lainnya gak usah bingung Chacha yang urus"


"Mau diurus gimana maksud lo, ini H-2 emang bisa. Jangan kasih harapan palsu dong" Chacha hanya menatap Angel sinis.


"Tia kesini" panggil Chacha pada Mutia.


"Apa ukuran baju calon suami kamu? "


"Maksud Mbak Chacha? "


"Suruh kesini aja deh, Mbak ukur sekarang"


"Maksudnya? "


"Suruh kesini aja Tia"


"Tapi Tia gak boleh ketemu dulu" cela Bu kades.


"Tia nanti dikamar, Chacha ukur diluar. Udah telfon sekarang waktu kita gak banyak" Tia hanya mengangguk walaupun dirinya bingung.


Terlihat Chacha agak menjauh dari mereka yang sedang berkumpul. Mengutak-atik ponselnya seperti menunggu jawaban dari seberang sana.

__ADS_1


"Halo"


" ... "


"Saya mau disiapkan kebaya, gaun tiga lengkap dengan aksesorisnya"


" ... "


" Gaunnya buat nikahan ya"


" ... "


"Nanti dikirim pakai mobil box aja. Nanti anak buah saya langsung ngawal kalian"


" ... "


"Untuk pakaian prianya saya ukur dulu disini. Nanti kalian cocok kan sama yang sudah ada. Kalo kebesaran atau kekecilan tolong diatasi dulu secepat mungkin"


" ... "


"Bagus. Bonus kalian nanti saya transfer saat selesai acara disini ya. Kalau sudah siap jangan lupa hubungi saya"


" ... "


"Jangan lupa juga alat tempur di ruangan saya bawakan"


" ... "


"Oke, selamat bekerja. Semangat guys"


"Masalah baju sama lainnya udah selesai. Ada lagi? " lainnya hanya melongo melihat Chacha.


"Emang nutut Nduk? "


"Nutut Umi percaya sama Chacha. Udah gak usah nangis lagi, tetep berjalan sebagaimana mestinya kok acaranya" Chacha merangkul Mutia dengan sayang.


"Makasih Mbak"


"Iya sama-sama. Calon suami kamu udah disuruh kesini? " Tia hanya mengangguk.


"Dimana? "


"Di mana-mana hatiku senang"


"Gue serius, Pan"


"Iya iya, lagi di apartemen, kenapa? "


"Kawal barang gue"


"Barang apa, senjata lagi? "


"Bukan. Udah lo ke butik gue nanti pas gue kabari. Kawal barang gue, alamatnya gue kirim ke lo nanti"


"Siap"


"Kalo ada apa-apa langsung hubungi gue"


"Kenapa? "


"Gue minta kalian berangkat hari ini juga, kemungkinan bakal malem dijalan, gue punya firasat gak enak"


"Semuanya akan baik-baik aja"


"Gue harap begitu"


"Ya udah gue siap-siap dulu"


"Ya" Chacha langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Kenapa, Cha? " tanya Fany.


"Gak papa. Nanti malem bakal kemana? "


"Kita gak tau tempat disini, lo harusnya yang ngajakin kita"


"Lupa gue" cengir Chacha yang dihadiahi delikan sinis dari Karin.

__ADS_1


"Nanti malam ada kerjaan apa disini, Mi? "


"Udah kalian kalo mau jalan ya gak papa, disini udah banyak yang bantuin"


"Besok motong sapi kan ya? "


"Iyo Mbak, sapine seng dibeleh gede loh" ucap Teo bangga.


"Sapine sopo? "


"Abah tuku. Mosok iyo sapine Teo"


"Berarti nanti selametan buat itu ya, Mi? "


"Iyo Nduk" Mereka takjub Chacha sedikit banyak tau tradisi desa ini.


"Nanti malem kita disini aja bantu-bantu. Sekalian baju yang mau dipakai Mutia juga harusnya sampek nanti malem. Kalo mereka berangkat hari ini"


"Mbak Chacha serius? " Chacha hanya mengangguk.


"Kalo bajunya gak sama kayak yang kamu harapkan maaf ya, butik Mbak buka butik besar"


"Makanya gak usah sok kaya. Baru punya butik kecil aja udah songong" mereka menatap tak percaya pada Angel. Chacha hanya tersenyum tipis enggan menanggapi.


"See, lo liat. Udah gue bilang jaga tunangan lo jangan sampai berulah, Lev" bisik Elang pada Levy.


"Maksud lo apa? " Karin akhir-akhir ini lebih sering meledak-ledak jika berbicara dengan Angel.


"Ya kan... "


"Bukannya mendingan Chacha ya, berusaha nolong. Daripada diem" sinis Nena langsung memotong ucapan Angel. Membuatnya menggertakkan giginya.


"Itu calon suami Tia , Mbak" Tia yang melihat calon suaminya langsung memberi tahu Chacha. Menghentikan perdebatan yang baru saja dimulai.


"Mbak keluar dulu mau diukur" Chacha menyusul Abah dan Umi yang memang menunggu calon menantunya diluar.


Mereka melihat Chacha dari ruang tamu. Chacha menepati janjinya, tak menyuruh calon suami Mutia masuk. Dirinya menyelesaikan pekerjaannya diluar, setelah selesai pun calon suami Mutia langsung diusir oleh Chacha. Membuat yang lain menganga tak percaya.


"Sudah saya kirim. Langsung cek sekarang dan dikerjakan ya. Kalo saya lihat lagi, semuanya sesuai ukuran. Kalo iya langsung kemas dan berangkat sekarang, anak buah saya nanti akan kesana"


"Pan berangkat sekarang"


Chacha menelfon dengan cepat. Menghitung waktu perjalanan yang cukup memakan waktu. Membuat dirinya harap-harap cemas. Dimana batinnya bergejolak tak tenang. Ada apa lagi?. Dirinya menutup mata menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan dengan tiba-tiba.


"Queen? "


"Apa? "


"Buat rujak yok" Chiara menaik turunkan alisnya.


"Let's Go" Chacha dengan semangat membuat mereka yang ada diruang tamu heran melihat Chacha yang tiba-tiba semangat.


"Kalian tunggu sini bentar ya" pamit Chacha.


"Lo mau kemana? "


"Ke depan doang sih" Chacha terkekeh sendiri meninggalkan mereka.


"Udah ijin sama Umi? " tanya Chacha yang dibalas anggukan oleh Chiara.


Karena penasaran mereka memilih keluar melihat apa yang akan dilakukan dua anak manusia itu. Mata mereka melotot tak percaya ketika melihat apa yang Chacha lakukan. Chacha manjat pohon mangga.


"Gila, itu masih bu bos kan? "


"Iya lah" sedang yang lain masih kaget dengan kelakuan Chacha. Karin langsung berjalan menuju pohon mangga.


"Cha, turun"


"Apa sih, Rin" teriak Chacha dari atas pohon mangga.


"Turun gak? Anak gadis pecicilan banget sih" yang lain tertawa melihat tingkah Karin yang berkacak pinggang. Persis seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.


"Bentar. Mau buat rujak gak? " Chacha paling tau Karin itu si maniak pedas.


"Gue bikin pedes nampol" seru Chacha dari atas pohon.


"Wah mau mau" Karin loncat-loncat dengan mata berbinar. Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Karin.

__ADS_1


__ADS_2