
Setelah melewati rentetan acara dari pagi sampai siang hari, kini tibalah malam hari yang akan menjadi lautan manusia. Dimana halaman rumah Bu Kades sudah banyak sekali undangan yang hadir. Hilir mudik orang berdatangan untuk hadir di acara resepsi pernikahan anak kepala desa tersebut.
Mutia tampak begitu anggun saat duduk berdampingan dengan seorang pemuda yang beberapa jam lalu sah menjadi suaminya itu. Polesan make-up natural menambah kesan lembut pada Mutia. Senyum selalu menghiasi wajah cantiknya. Malam ini penampilan Mutia benar-benar mencuri perhatian.
Tak kalah mencuri perhatian lagi kala melihat Chacha dan lainnya. Mereka tampak begitu mempesona dengan balutan dress selutut. Hanya Chacha seorang yang mengenakan batik.
Karin bahkan sudah terlihat kelelahan. Karena sejak tadi melayani beberapa orang yang meminta foto dengannya, padahal yang menjadi ratunya malam ini adalah Mutia. Dirinya sampai tak enak hati pada Mutia. Namun, Mutia malah terlihat cekikikan melihat Karin yang kalang kabut meladeni semua fansnya.
Lainnya duduk menikmati apa saja yang ada di meja mereka. Hanya memperhatikan beberapa tamu, atau bahkan berkomentar tentang apa saja. Bisa dibilang mereka sedang gabut karena tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Hanya duduk dan makan saja kerjaan mereka sejak tadi.
Tiba-tiba suasana menjadi riuh ketika penyanyi daerah yang terkenal di daerah itu turun dari panggung bergabung dengan tamu lain. Terlihat beberapa orang nampak berjoget dengan penyanyi tersebut.
Apalagi saat Pak Kades juga ikut berjoget dan menyawer penyanyi tersebut, membuat warga bersorak. Suasana lebih hidup kali ini. Chacha dan lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah orang tua angkat Levy itu. Hingga ide jahil muncul di otak cantiknya.
"Masa kalah sama Abah kalian"
"Maksudnya? "
"Sana joget ke tengah, sawer juga tuh penyanyi"
"Malu atuh, Cha"
"Dih sok malu, jangan cuma joget di lantai dansa doang dong"
"Mereka disawer lima puluh ribu aja udah seneng, gak harus ngerogoh kocek dalem-dalem"
"Udah sana kalian para jantan duluan, nanti setelah itu disusul kita-kita" usul Zeze.
"Boleh tuh" tambah Chiara.
__ADS_1
Keempat laki-laki itu hanya bisa pasrah dengan apa yang diinginkan para wanita. Elang, Kinos, Putra dan Pandu hanya bisa menghela napas, namun tak urung mereka melakukannya juga.
Melihat keempat sahabat anaknya masuk untuk memeriahkan acara, Pak Kades memberi ruang, bahkan beberapa tamu juga menyingkir. Membiarkan empat pemuda tampan itu mengerumuni penyanyi tersebut. Beberapa warga bahkan heboh sejak tadi melihat keempatnya. Apalagi saat mereka mengeluarkan uang pecahan senilai lima puluh ribu dan seratus ribu, para warga yang menonton lebih heboh lagi bersoraknya. Memang kadang sebagai penyanyi daerah mereka hanya disawer sekitar dua ribu, lima ribu, sepulu ribu, dua puluh ribu. Untuk lima puluh dan seratus ribu mungkin dapat namun tak sering.
Selesai dengan para pria kini giliran para wanita yang masuk, para warga kembali heboh. Apalagi kal ini para penyanyi turun semua dari panggung yang disediakan. Total ada tiga penyanyi. Angel memilih maju paling awal bersama keempat sahabat Chacha. Dirinya ingin membuktikan bahwa tak ada yang lebih baik dari dirinya. Bahkan Angel mengeluarkan uang seratus ribuan senilai satu juta untuk menyawer kali ini. Melihat itu Chacha hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Keempat sahabat Chacha hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Angel. Dirinya masih ingin bersaing dengan Chacha. Bahkan terlihat Angel tersenyum sinis pada Chacha.
Chacha yang melihat Angel tersenyum sinis padanya, hanya mampu mengulum senyumnya. Chiara bahkan sudah cekikian melihat ulahnya. Chacha akan maju tapi nanti.
Setelah selesai mereka kembali duduk di kursi yang tadi mereka tinggalkan. Mereka saling melemparkan ejekan satu sama lain tentang bagaimana mereka menyawer tadi.
"Gila, gue berasa aneh joget koplo gini" ucap Nena sambil tertawa.
"Ya aneh lah, lo biasanya joget di club malah nyasar kesini" timpal Zeze yang cekikikan.
"Yang penting lo seneng, anggap aja dunia milik lo. Orang lain ngontrak sama lo" mereka terus melemparkan candaan diselingi dengan ejekan di dalamnya. Membuat suasana benar-benar hidup.
"Yang ngakunya orang kaya. Kok gak turun buat nyawer" entah Angel sedang menyindir Chacha atau Chiara, karena hanya tinggal mereka berdua yang belum mengeluarkan uang mereka.
"Lo nyindir gue? " tanya Chacha.
"Lo ngerasa? "
"Karena disini tinggal gue sama Chiara yang belum gerak" Chacha menggenggam tangan Chiara. Dirinya takut Chiara lepas kendali lagi.
"Bagus dong kalo lo ngerasa, gak usah sok kaya di hadapan gue. Kaya dari hasil ngeja***g kok bangga"
"Wah mulut nih anak minta dikasih pelajaran" kesal Nena yang mulai terpancing emosinya
__ADS_1
"Gak usah emosi, Na. Dia kan gak tau siapa gue, jadi wajarlah"
"Takutnya pas tau siapa lo sebenarnya, dia malah nangis minta ampun sama lo, Cha" ejek Zeze.
"Kalo lo udah ngerasa bangga dengan ngeluarin duit segitu, liat baik-baik siapa yang lo anggap miskin disini" Chacha berdiri menarik Chiara.
Melihat Chacha ke tengah, para sahabatnya juga ikut namun mereka hanya menyaksikan dari samping. Bahkan Mutia berseru heboh dari atas pelaminan. Chacha dan Chiara berjoget mengikuti irama. Chiara mengeluarkan uangnya terlebih dahulu. Melihat Chiara yang mengeluarkan segepok uang dengan begitu mudahnya membuat para warga berteriak lebih heboh.
Mereka berpikir ini acara pernikahan paling meriah. Bagaimana tidak, selain dekorasi dan penataan tempat Chacha yang mengatur dengan sedemikian rupa, membuat tempat itu seperti acara nikahan anak pejabat saja. Apa yang tak bisa dilakukan dengan tangan Chacha. Apalagi para sahabatnya yang selalu siap membantu nya kapan saja. Jadi memudahkan pekerjaannya.
Chiara tak hanya memberikan uangnya pada ketiga penyanyi tersebut. Namun, warga yang disekitar tempat dirinya berjoget juga kebagian lembaran yang Chiara sodorkan. Mereka semakin antusias mendekati tempat dimana Chacha dan Chiara bersenang-senang.
Angel melotot horor pada Chiara yang dengan mudahnya mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak. Bahkan tanpa berpikir dua kali dia memberikan begitu saja. Dirinya yang mengeluarkan satu juta saja berpikir-pikir dulu. Jika bukan karena gengsi dirinya enggan mengeluarkan uangnya untuk acara tak penting ini.
Kejutan belum berakhir, karena Chacha belum mengeluarkan uangnya. Semua menunggu giliran Chacha saat uang ditangan Chiara sudah menipis. Dan ketika Chacha mengeluarkan uangnya, mereka melotot tak percaya. Bahkan sahabatnya sampai berteriak.
"Gila, Chacha nyawer pake dollar"
"Gak main-main tuh anak"
"Kita ngeluarin aja mikir. Lah ni anak malah ngeluarin dollar"
"Mana bukan selembar dua lembar lagi"
"Segepok man segepok"
Ya, Chacha mengeluarkan uang dollarnya. Bukan karena ingin sombong, salahkan dirinya yang salah mengambil dompet. Bukannya berisi mata uang rupiah malah mengambil dompet yang isinya dollar semua. Alhasil saat ini dirinya menyawer menggunakan dollar. Jika ditanya menyesal? Jawabannya tidak, hitung-hitung berbagi. Itu pikirnya.
Levy yang sejak tadi melihat kelakuan sahabat hingga istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala. Istrinya memang jago jika membuat orang shock melihat kelakuannya. Mengingat tentang uang, Levy merasa melupakan sesuatu pada Chacha.
__ADS_1