
"Berangkat bareng Chacha yok" ajak Zeze pada kembarannya.
"Boleh. Coba telfon dia dulu" Zeze langsung menelfon Chacha seperti yang dikatakan Fany. Fany terus memperhatikan ekspresi Zeze ketika menelpon Chacha. Hingga senyumnya tercetak diwajahnya.
"Gimana? "
"Yok berangkat ke mansion nya. Fany beresin aja ini, Zeze izin papa mama dulu" setelah diangguki oleh Fany, Zeze keluar dari kamarnya mencari kedua orang tuanya.
Kini para sahabatnya mampu membangun rumah impian mereka sendiri. Dengan kerja keras mereka ditambah orang tuanya mulai bangkit setelah memegang perusahaan yang Chacha percayakan. Mereka kembali ke kehidupan mewahnya.
"Nena sama Karin kabarin, Ze" titah Fany pada kembarannya. Karena dirinya sedang menyetir. Setelah mendapat izin mereka langsung meluncur ke mansion milik Chacha.
Mereka membelah jalanan sore ini cukup lama karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Ditambah lagi jarak rumah mereka dan mansion Chacha cukup jauh, jadi mereka harus ekstra sabar kali ini.
"Chacha ada Mbak? " tanya Zeze pada kepala pelayan yang menyambut mereka setelah mereka sampai.
"Di kamarnya non. Langsung naik saja" jawab pelayan tersebut.
"Baiklah. Makasih" mereka berdua langsung menaiki tangga menuju kamar Chacha.
Cklek...
Yang punya kamar menoleh kearah pintu yang terbuka, menampakkan dua gadis seumuran dengannya. Lalu keduanya menghempaskan tubuh mereka masing-masing di kasur king size milik Chacha.
"Gaun kalian mana? " tanya Chacha.
"Ada di mobil" jawab Zeze cepat.
"Karin sama Nena otw kesini" beritahu Fany. Chacha hanya mengangguk mengiyakan.
"Bawa kado kita ini? " tanya Zeze.
"Telat kalo lo nanya sekarang, Ze"
"Lah iya ya. Tapi gak usah deh mereka kan udah kaya jadi gak perlu kado lagi" tambah Zeze sambil tertawa.
"Gue tidur bentar ya, ntar kalian mandi duluan setelah itu baru bangunin gue" tanpa menunggu respon keduanya Chacha langsung memeluk gulingnya dan memejamkan matanya.
Zeze dan Fany beranjak dari kasur menuju sofa. Tak ingin menganggu istirahat Chacha. Sambil menunggu Karin dan Nena datang mereka rebahan santai sambil bermain game.
"Heran deh Chacha makin dingin sekarang ya, Fan"
"Mungkin masih berkaitan sama lima tahun lalu kali"
"Bisa jadi"
"Lo tau sendiri, dia dipermalukan didepan banyak orang" Zeze mengangguk.
"Apalagi beritanya bukan makin surut malah tambah menjadi-jadi dari tahun ke tahun"
__ADS_1
"Tapi itu anak santainya kelewat banget tau"
"Bisa jadi dia udah siapin serangan balik"tambah Fany.
"Heran sama si pelaku, ada dendam apa sih sama Chacha"
"Mana gue tau kalo lo nanya ke gue Zefana Adhlino Gavin" Zeze mengerucutkan bibirnya.
"Pengen gue getok kepala lo tau nggak. Untung sodara serahim lu"
"Atau jangan-jangan... " Zeze menggantungkan kalimatnya.
"Apa. Jangan aneh-aneh gue getok beneran ntar"
"Gara-gara Levy tunangan. Tau sendiri dia udah kayak orang pacaran sama Levy"
"Masuk akal juga sih. Tapi nih ya Chacha kan bukan tipe orang bucin"
"Ya juga ya"
"Mungkin lima tahun buat dia berubah kali. Asal gak berubah sama kita-kita aman kok"
Mereka berdua terus melanjutkan obrolan hingga Karin dan Nena datang. Apalagi kalau bukan bergosip sang sahabat yang mereka jaga layaknya berlian. Queen Izhaka.
"Cha, bangun yuk. Mandi ini udah jam enam loh" Nena mencoba membangunkan Chacha
"Itu namanya belum bangun, Chacha" suara cempreng Karin memenuhi pendengaran Chacha.
"Iya iya ini gue bangun" Chacha bangun dan turun dari ranjangnya lalu menuju kamar mandi untuk bersiap pada acara orang tua Levy.
...****************...
Ballroom salah satu hotel mewah tersebut sudah mulai ramai dengan beberapa tamu undangan yang datang. Tampak kedua orang tua Levy juga sibuk menyapa beberapa tamu undangan yang lain. Sedangkan Levy hanya duduk santai sembari menunggu para sahabatnya tiba. Jangan tanyakan kemana Angel, dia sudah lebih dulu berselancar untuk berbicara dengan beberapa tamu undangan. Awalnya Angel bersama dirinya, namun saking asiknya berbicara sang tunangan melupakan keberadaannya. Alhasil disini ia sekarang, duduk sendiri.
"Udah kayak jomblo aja duduk sendiri" Suara tak asing menyapa pendengaran Levy membuatnya menoleh.
"Anggep aja gitu"
"Mana buntut lo, biasanya udah kayak koala nempel mulu sama lo" Levy hanya menunjuk dengan matanya mendengar ocehan Kinos.
"Ye yang dilupain"
"Gak usah ngejek"
"Elang belom sampek? " tanya Putra. Levy hanya menggeleng.
"Elang bareng bokap sama nyokapnya. Kan rekan bisnis, ya gak? " kini Levy mengangguk menanggapi Kinos.
Satu per satu tamu mulai memenuhi ballroom tersebut. Hingga perhatian para tamu tersentak melihat empat gadis muda berjalan ke arah tuan muda pertama keluarga ini.
__ADS_1
"Kalian cuma berempat? " tanya Kinos.
"Berlima"
"Terus satunya lagi mana? " tanya Putra. Levy juga penasaran, karena hanya Chacha yang tak ada disana. Elang juga sudah berbaur dengan yang lainnya. Jangan tanya kenapa Elang tak berkumpul dengan para sahabatnya. Dia terkepung diantara para pebisnis. Hatinya mengumpati jabatannya kali ini.
"Eh.. Chacha mana? " tanya Karin setelah menyadari mereka hanya berempat.
"Lah iya tadi ada kok"
"Kalian bareng gak sih? "
"Bareng kok"
"Ketinggalan dimana tuh anak lagi"
"Gak bakal nyasar kan tuh anak? "
"Chacha bukan lo Nena, yang bakal panik ditempat asing" Nena hanya mendelik.
Para tamu dibuat kagum lagi dengan kehadiran gadis cantik yang satu ini. Dengan menggunakan gaun berwarna baby pink tanpa lengan yang berjalan anggun menuju kerumunan para pemuda pemudi disana. Wajah yang dipoles make up natural terlihat begitu cantik dengan ekspresi datar yang ditampilkan saat ini. Netra birunya seakan membekukan siapa saja yang melihatnya.
"Kemana dulu. Khawatir tau nggak" Cecar Karin setelah Chacha sampai di sana.
"Angkat telfon dulu"
"Kenapa gak kasih tau sih, Cha"
"Gue ngangkat telfon pas di lobby hotel, gue kira kalian tau"
"Kita kagak tau" kompak mereka.
"Ya maap atuh"
"Cha? "
"Apa, Ze? "
"Kok ngeselin sih"
"Tapi lo sayang kan? "
"Iyalah. Lo sahabat rasa sodara tau nggak"
"B aja tuh"
"Tuh kan ngeselin" yang lain hanya tertawa. Seperti itulah Chacha akan menggoda habis-habisan sahabatnya.
Levy menatap Chacha dengan ekspresi yang sulit diartikan. Gadisnya kini tumbuh menjadi wanita cantik, tidak tapi sangat cantik. Wajah penuh kelembutan, hingga senyum manisnya. Levy yang melihat Chacha tersenyum hingga menampilkan lubang kecil di pipinya. Manis. Pikir Levy. Hingga Levy menggelengkan kepalanya, apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Namun tak menampik didalam hatinya dia sangat merindukan kekasih masa kecilnya ini. Hingga matanya tak sengaja melirik kalung yang Chacha pakai. Levy menahan napasnya. Kalung yang ia berikan tepat dihari ia menyatakan perasaannya itu masih menggantung indah di leher gadisnya. Eh, gadisnya? Levy tak yakin. Hatinya kalut saat ini. Pikiran dan hatinya sedang bergelut dengan topik yang sama. Chacha. Nalarnya mengatakan bahwa Chacha sudah bukan yang dulu lagi, tapi hatinya terlalu merindu akan gadis yang satu ini. Haruskah dirinya berbicara empat mata dengan dia?
__ADS_1