
Karin dengan lincah nya mengarahkan Mutia untuk berpose ini dan itu, layaknya model profesional Mutia mengikuti setiap arahan Karin hingga menghasilkan foto yang apik. Bukan tanpa alasan Chacha menyuruh Mutia untuk mengambil gambar terlebih dahulu, dirinya hanya ingin Mutia lebih rileks. Karena kebanyakan pengantin akan gemetar dan gelisah saat detik-detik menjelang pengucapan kata sah.
"Angkat sedikit dagunya Mutia, oke satu dua tiga... " Karin terus mengarahkan Mutia dengan beberapa gaya elegan. Angel juga sesekali menyumbangkan ide untuk cara berpose Mutia. Karin hanya memandang sinis pada Angel, tapi tak urung dirinya juga membiarkan Angel ikut mengarahkan Mutia. Mau bagaimanapun Angel adalah kakak ipar Mutia dan menantu rumah ini, jika dirinya berulah bukankah dirinya sendiri yang akan malu.
Disaat Karin sedang asik mengarahkan Mutia untuk berpose dengan gaya selanjutnya, tiba-tiba Pandu datang dengan wajah paniknya. Membuat yang lain heran.
"Queen mana? "
"Lo kenapa sih, Pan?"
"Gue tanya Queen mana? "
"Atur nafas dulu, Pan. Kalo gini ceritanya lo bisa buat keributan, kita bisa ditampol sama Chacha"
"Gue tanya sekali lagi, Queen mana? "
"Tidur dikamar Mutia, kenapa? "
"Gitu kek dari tadi"
"Lo nya aja yang ngeselin, nanya Chacha doang udah kayak orang mau nagih hutang"
"Gue panik, dapet kabar kalo Queen terluka"
"Terluka apaan, tuh anak asik tidur di dalam"
"Anak buah gue kasih laporan kalo Chacha luka, bahkan belum ngobatin lukanya" mereka melotot horor pada Pandu.
"Gue serius makanya gue nanya ke kalian"
"Kita gak tau kalau Chacha luka, kita taunya cuma luka disudut bibirnya pas kena hantam Chiara semalem"
"Mutia kami lihat ada luka pada Chacha gak? Secara mulai tadi kamu berinteraksi dengan Chacha"
"Gak ada sih, Kak. Cuma tangan kiri Mbak Chacha kayak diikat kain gitu"
"Tangan kiri? "
"Telapak tangan lebih tepatnya"
Mereka langsung meninggalkan Mutia bersama Angel. Langsung masuk guna memeriksa keadaan Chacha. Benar saja kain yang Mutia maksud tadi sudah berwarna kemerahan, yang berarti itu darah. Saat Fany hendak menyentuh tangan kiri Chacha, dirinya dibuat terkejut karena Chacha langsung menarik tangannya.
"Gue gak papa, ini ke gores dikit doang, gue ngantuk" ucap Chacha membuat yang lain hanya tersenyum kecut. Chacha memang tak bisa diganggu ketika berkata ingin tidur.
__ADS_1
Tapi Pandu tak kehabisan akal, dirinya langsung keluar dan mencari keberadaan Levy. Dirinya yakin jika Levy bisa mengobati Chacha. Pandu menemukan Levy di depan, bersama beberapa orang yang sedang berkumpul menunggu penghulu dan mempelai pria datang.
"Lev? "
"Ya? " Pandu memberi kode untuk menjauh sedikit dari kerumunan. Levy hanya mengangguk.
"Ada apa? "
"Bisa obati Chacha dulu"
"Apa? Kenapa? Apa dia terluka? " panik Levy.
"Tenang dulu. Kalo lo panik kayak gini, percuma lo mau bilang backstreet sama Queen"
"Gimana gue bisa tenang kalo lo bilang suruh obati bini gue, berarti terjadi apa-apa sama dia. Sekarang dimana Chacha? "
"Tenang dulu, gue tabok lo lama-lama. Queen ada di kamar Mutia, lagi istirahat orangnya, dia bilang ngantuk"
"Gue ke sana sekarang"
"Apa? " tanya Levy ketika Pandu meraih lengannya.
"Jangan lupa bawa P3K lo mau obatin dia pake apa emang" Levy hanya mengangguk mendengar ucapan Pandu.
Levy langsung masuk ke kamar yang selama ini ia tempati ketika pulang ke rumah ini. Mengambil kotak obat di kamarnya, lalu bergegas masuk ke kamar Mutia untuk mengecek keadaan istrinya. Setelah sampai disana Levy cukup kaget melihat suasana kamar yang cukup ramai. Keempat sahabat Chacha, Angel, Mutia dan karyawan butik milik istrinya juga ada. Mereka semua tampak diam menatap satu objek yang sama. Chacha.
"Ah iya"
"Lo mau ngobatin Chacha? " Levy hanya mengangguk.
"Coba aja deh siapa tau lo gak kena semprot sama dia"
Levy maju ke depan. Mendudukkan dirinya di lantai agar dapat leluasa melihat tangan Chacha. Dengan perlahan Levy membuka kain yang mengikat telapak tangan istrinya. Chacha tak bereaksi dia benar-benar terlelap itu yang ada dipikiran mereka semua. Hingga saat Levy menuangkan alkohol untuk membersihkan lukanya, Chacha membuka matanya. Dirinya kaget saat melihat wajah Levy saat pertama kali membuka mata, terlebih Levy sedang mengobati lukanya. Saat hendak berbicara, Levy lebih dulu menghentikan dengan ucapannya.
"Diam, jangan membantah atau protes apapun" Chacha hanya mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa bisa luka? " Chacha diam.
"Kenapa gak di obati? " Chacha tak menjawab.
"Berasa apa gak dibiarin gini, biar kelihatan kuat gitu? " Chacha masih diam.
"Jangan kebiasaan dibiarin gini, kalau infeksi gimana? Siapa yang repot? " Chacha masuk asik dalam diamnya sambil menatap Levy yang mengobati tangannya.
__ADS_1
"Aku nanya itu dijawab bukan diem" Chacha masih diam. Levy yang dibuat kesal dengan bungkamnya Chacha memilih mendongak menatap langsung manik mata Chacha yang sedang menatapnya intens.
"Jawab" satu kata Levy ucapkan dengan tegas. Bukannya takut, Chacha malah mengerucutkan bibirnya karena sebal.
"Kamu sendiri yang nyuruh diam. Aku diam kamu malah ngomel-ngomel"
"Ya aku kan nanya, dijawab atuh" Levy hampir saja keceplosan akan memanggil Chacha dengan sebutan sayang.
"Mau dijawab apa? " Levy menghembuskan nafasnya kasar.
"Tinggalin kita berdua dulu" ucap Levy pada para penonton yang ada disana.
"Kakak mau apa, nyuruh kita keluar? " tanya Angel penuh selidik.
"Gue gak nyuruh lo bertanya Angel. Cukup turuti saja"
"Tapi kan... " Angel tak menyelesaikan ucapannya karena lengannya ditarik dengan keras oleh Mutia. Mutia tak tau apa yang sebenarnya terjadi antara Levy dan Chacha, namun melihat Chacha yang enggan menjawab membuat Mutia menyimpulkan bahwa bahasan mereka merupakan hal penting.
"Sekarang cuma tinggal kita berdua, Yang. Aku mau kamu jawab jujur"
"Iya udah aku jawab, coba tanya lagi"
"Kenapa bisa luka? "
"Pisau tajam aku genggam"
"Ceritakan dengan lengkap, sayang"
"Oke. Pas habis ngehajar Chiara aku gak tau mau kemana. Yang pasti aku harus hilangin emosi aku sendiri dulu, kalo enggak aku bisa lukain orang lain. Aku melajukan mobil tanpa arah, hanya mengikuti kata hati saja. Hingga aku dapat kabar bahwa ada yang sedang mengincar Karin, awalnya biasa aja, karena aku sudah tau kalau beberapa minggu terakhir ada yang terus memperhatikan gerak gerik Karin. Entah dia sadar atau enggak" Levy dengan sabar mendengarkan cerita Chacha sambil mengobati luka di telapak tangan istrinya itu.
"Hingga akhirnya aku menangkap sesuatu yang janggal disini. Orang yang memata-matai Karin memiliki tanda yang sama dengan dua orang yang aku tangkap"
"Maksud kamu mereka dari kelompok yang sama" Chacha mengangguk.
"Mungkin persaingan karier sih kalo menurutku, By"
"Bisa jadi sih, Yang"
"Tapi mereka kelewatan kalo sampai berniat membunuh Karin. Makanya aku langsung gerak saat anak buah ku mengirim kabar kalau ada yang mengincar Karin. Maka dari itu aku langsung nyergap mereka sendiri"
"Kamu bisa hubungi aku, Yang"
"Gak ada waktu, By"
__ADS_1
"Mulai sekarang usahakan kalau ada apa-apa hubungi aku, Yang. Aku ini suami kamu, status kita bukan pajangan"
"Iya iya maaf gak diulangi lagi deh" janji Chacha, Levy hanya menghela napas menghadapi sikap keras kepala istrinya