Call Me Queen

Call Me Queen
Michelle Andrea 2


__ADS_3

"Nona Michelle Andrea ada yang ingin kau jelaskan? "


"Ma... Maksud kamu apa? " Tanya Michelle terbata.


"No thing "


Chacha duduk berhadapan dengan teman-teman Levy, dibelakangnya terdapat televisi yang menampilkan panggilan video.


"Bagaimana nona Michelle Andrea Davidson? " Tanya Chacha lagi.


"Davidson" Lirih Alexsa hampir limbung, namun ditangkap oleh kedua temannya.


"Ada apa, Al? " Alexsa hanya menggelengkan kepalanya saat teman-temannya bertanya.


"Halo Davidson" Sapa Chacha yang membelakangi layar.


"Ketua"


"Mau ku apakan putri cantik mu ini? "


"Putri? Maksudnya apa Ketua? "


"Bukankah kau mengirim putrimu untuk mendampingi nona Scott? " Michelle terbelalak kaget, wajahnya berubah pucat pasi saat ini.


"Tidak Ketua"


"Lalu atas perintah siapa dia ada di samping nona Scott dan mengacau di tempat ku? "


"Hah? " Orang yang dipanggil Davidson tadi menampilkan ekspresi kaget diwajahnya.


"Putri mu mengacau di tempat ku, Davidson. Apa kau percaya jika aku bisa membalik keadaan saat ini juga"


"Ampun Ketua, maafkan putri ku. Aku juga tak tau bagaimana dia bisa sampai ke tempat anda"


"Benar bukan kau yang menyuruhnya? "


"Nyawaku jaminannya Ketua"


"No dad, kau jangan menjaminkan nyawamu" Teriak Michelle panik.


Davidson tak menjawab teriakan putrinya, karena dirinya masih berusaha menyelamatkan kedudukannya. Banyak orang yang bergantung pada nya, jika pemimpin mafia tertinggi ini membalik keadaan, tak hanya dirinya yang akan jatuh miskin. Tapi ribuan karyawannya juga akan terkena dampaknya.


"Aku meminta persetujuan mu untuk membuka seluruh akses tentang Michelle"


"Baiklah Ketua"


"Terimakasih"


Davidson tercengang ditempatnya. Orang sekelas pemimpinnya ini berterimakasih kepada bawahannya, dirinya tak sedang salah mendengar bukan.


"Masih ada yang ingin kau bicarakan?"

__ADS_1


"Kenapa Ketua meminta izin padaku untuk membuka akses Michelle. Bukankah dengan menjadi bawahan mu berarti kita harus tunduk dan patuh dibawah perintah mu? "


"Itu gaya kepemimpinan yang lama, aku tak suka. Bagaimanapun kalian lebih tua dariku, tapi ingat jangan melampaui batas kesabaran ku. Aku bisa saja membalik keadaan tanpa belas kasihan" Jawab Chacha dengan malas.


"Baiklah Ketua"


"Keamanan keluarga Scott aku serahkan padamu Davidson"


"Bukankah mereka bisa melindungi diri sendiri Ketua? "


"Jika bukan karena putri mu mereka tak akan pernah ada dalam bahaya. Bahkan putri mu dengan berani menyeret ku ke dalamnya" Chacha terkekeh saat mengatakan itu.


Di negara lain, Davidson pucat pasi mendengar apa yang dikatakan Chacha barusan. Apa yang sudah diperbuat putrinya itu sampai pemimpin tertinggi yang menegurnya langsung.


"Selama kau dan anak buah mu belum bisa menjamin jika keluarga Scott aman dari segi apapun, maka selama itu pula Michelle dan lainnya akan ada di tanganku"


"Tapi Ketua"


"Tak ada tapi Davidson. Caesar sudah berangkat, dia yang akan memberi instruksi apa yang harus kau dan anak buah mu lakukan"


Davidson bernapas lega, dirinya kira akan di lepas begitu saja saat dirinya bahkan tak mengenali siapa musuh yang akan ia hadapi nanti. Rupanya Ketua masih berbaik hati mengirimkan orang kepercayaannya untuk membantu.


"Ingat Davidson, orang yang akan kamu hadapi bisa jadi calon menantu mu dan juga masih bawahan ku sama seperti dirimu dan lainnya"


Michelle yang sejak tadi terdiam dengan wajah pucat kini sudah semakin pucat. Melihat kemarahan ayahnya yang terpancar dari tatapan matanya. Meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer jarak, tapi Michelle dapat merasakan amarah ayahnya kini.


Chacha menikmati wajah ketakutan Michelle, ini yang dirinya mau. Michelle adalah gadis baik, dirinya juga kenal meskipun hanya sekilas. Karena Chacha sering mengunjungi Davidson saat di luar negeri dulu, Chacha bisa melihat bagaimana cerianya Michelle, memang sedikit ceroboh dan bodoh disaat tertentu. Namun dapat disimpulkan jika Michelle gadis polos yang mudah dipengaruhi.


"Jangan lupa untuk menjemput Caesar" Setelah mengatakan itu Chacha langsung mengakhiri panggilannya.


Michelle masih terdiam.


Plak...


Alexsa maju dan langsung mendaratkan tangannya di pipi Michelle. Tampaknya emosi bergulung dimatanya, siap menghantam apa saja didepannya.


"Jadi kau anak dari Davidson? " Tanya Alexsa berusaha menekan amarahnya kali ini.


"Jawab Michelle" Teriak Alexsa.


Lainnya hanya diam, berniat menghentikan namu Chacha memberi kode untuk diam dan saksikan. Mereka tak berani bergerak saat tuan rumah tak mengizinkan.


"Jadi lo yang bunuh mommy gue, hah? "


Yang lain tersentak mendengar pertanyaan Alexsa. Lagi-lagi hanya Chacha yang masih santai mendengar setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir Alexsa.


"Jawab gue Michelle. Jadi lo yang bunuh mommy gue, hah? " Michelle hanya menggelengkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Setelah bunuh mommy gue, lo deketin gue maksud lo apa hah? Belum puas lo bikin gue menderita tanpa mommy gue. Belum puas lo liat keluarga gue berantakan karena kehilangan mommy gue hah? " Alexsa tampak meluapkan seluruh emosinya.


"Apa lo deketin gue dengan sengaja, agar gue dan keluarga gue jatuh se jatuhnya. Jawab gue Michelle" Lagi, Michelle hanya menggelengkan kepalanya. Kini disertai dengan isakan kecil.

__ADS_1


"Apa salah keluarga gue sama lo dan keluarga lo Michelle, sampai lo dan keluarga lo tega buat keluarga gue hancur berantakan, kenapa?" Alexsa sulit mengendalikan dirinya.


Yang lain panik saat melihat Alexsa mulai lepas kendali. Namun Chacha masih menggelengkan kepala tanda untuk tak bergerak. Mereka khawatir Alexsa takut mencelakai Michelle. Mereka tak membenci Michelle, karena memang tak tahu menahu tentang apa yang terjadi diantara dua keluarga itu. Yang mereka tahu hanya mommy Alexsa terbunuh oleh keluarga Davidson.


Michelle maju dan langsung memeluk Alexsa erat. Membiarkan Alexsa meronta, namun Michelle tetap tak melepaskan pelukannya.


"Bukan gue Al, bukan gue. Mommy lo memang terbunuh tapi bukan gue dan keluarga gue yang bunuh"


"Lo mau membela diri, jelas-jelas lo yang pegang pistol saat itu" Teriak Alexsa.


"Bukan gue Al, lo gak tau cerita lengkapnya. Gue di samping lo karena gue tahu bahaya apa yang udah gue buat untuk keluarga lo"


"Maksud lo" Alexsa melunak.


"Gue bakal jadi tameng keluarga lo. Gue bakal lakuin apapun agar lo bisa seneng, Al. Termasuk memprovokasi Queen. Gue tahu konsekuensi apa yang akan gue terima jika gue memprovokasi dia. Gue minta maaf Al, gue minta maaf" Air mata Michelle mengalir deras mengiringi kalimat maaf yang terus ia ucapkan pada Alexsa.


"Oke cukup. Alexsa, Michelle dengarkan ini baik-baik. Sebelum duduklah dulu dengan benar. Kalian bisa istirahat, pilihlah kamar sesuka kalian"


Teman-teman levy langsung membubarkan diri, kecuali Alexsa dan Michelle.


"Al, dalam hal ini Michelle juga korban. Dia gadis polos yang baru mengenal apa itu cinta dimanfaatkan oleh kekasihnya. Kau tau siapa kekasihnya? " Alexsa menggeleng.


"Anak dari kekasih ibumu, karena tak terima ibumu berulang kali menolak ayahnya untuk kembali menjalin kasih, hingga ayahnya frustasi dan koma. Dirinya gelap mata membunuh ibumu, Al. Dia bahkan meminjam tangan Michelle untuk menutup kejahatannya. Michelle yang polos hanya dengan patuh mengikuti apa maunya"


Alexsa tersentak kaget mendengar ucapan Chacha, sontak saja dirinya menoleh kearah Michelle yang menunduk.


"Dia masih memiliki dendam pada keluarga mu, Al. Karena menurutnya gara-gara ayahmu, ibu mu tak mau kembali pada ayahnya. Sampai sekarang dia masih mengintai keluarga mu lewat Michelle. Tapi, Michelle dengan baik menjalankan dua peran sekaligus. Dia memberi tahu sekaligus menggagalkan apa rencananya. Kau tak akan tahu siksaan apa yang dia dapatkan untuk melindungi mu, Al"


"Michelle bisa saja mengadu pada ayahnya, tapi itu tak mungkin. Karena bisa saja kau dan keluarga mu dalam bahaya. Atas dasar rasa bersalah itu Michelle mengorbankan dirinya untuk menjadi tameng mu. Hingga tanpa sadar dia akan memberimu apa saja yang kamu inginkan, termasuk merebut Levy dari ku"


"Semata-mata hanya ingin kau bahagia, Al"


Alexsa shock mendengar kabar yang Chacha sampaikan.


"Maafin gue, Al" Lirih Michelle.


Alexsa langsung memeluk Michelle. Dia masih tak menyangka apa yang Michelle perbuat untuk keluarganya. Bahkan Chacha juga mengirim Davidson untuk melindungi keluarganya.


"Untuk mu, Michelle. Setelah ini berpikirlah terlebih dahulu untuk mengambil keputusan. Kedepankan logika dan nalar mu, baru ikutkan hatimu dalam mengambil keputusan"


"Sekarang tergantung kamu, Michelle. Kau masih akan bungkam tanpa memberi tahu apa rencana kekasih mu itu dan melihat ayahmu bertukar timah panas dengannya. Atau kau akan mencegah ayah mu atau kau punya pilihan lain silahkan. Tapi ingat satu hal. Aku mengetahui semuanya"


Chacha berdiri dari tempat duduknya.


"Semua keputusan ada ditangan mu, Michelle. Jika kau berubah pikiran, kau bisa berbicara dengan Fany"


"Berpikirlah waktu mu tak banyak"


Chacha langsung meninggalkan yang lainnya diikuti Levy dibelakangnya.


...****************...

__ADS_1


jangan lupa mampir di janda kembang author ya sayang ku 💕


untuk info update atau tidak bisa dilihat di grup chat author ya


__ADS_2