Call Me Queen

Call Me Queen
Sahabat 3


__ADS_3

"Eh Cha mata lo kok biru. Pake softlens lo ya?" tanya Elang yang sedari tadi memperhatikan dua sejoli itu.


"Emang biru Elang. Selama ini gue pake softlens buat nutupin warna aslinya"


"Lah gue kira lo pake soflents lo Cha" tambah Putra.


"Kagak lah. Warna rambut asli gue coklat sama kek almarhum nenek Izhaka kalo warna lensa mata gue biru sama kayak bunda" jelas Chacha.


"Iya sih ya. Mata bunda warnanya biru kok baru ngeh gue ya" timpal Karin.


"Lo gak ada mirip-miripnya sama keluarga Effendy Cha?" tanya Nena.


"Ada hidung ini mungil kek nenek gue" sambil memajukan wajahnya.


"Itu doang?" tanya Karin.


"Kagak tau gue kalian liat aja gimana" jawabnya


"Gak usah diwarna lagi rambutnya biarin coklat kayak gini ya" seru Levy lembut sambil mengusap rambut Chacha dengan lembut. Chacha hanya mengangguk menjawabnya.


"Bosen gini mulu Cha" keluh Zeze.


"Tar lagi waktunya makan siang ntaran pindah ke taman belakang atau sekalian mau makan disana?"


"Ide bagus tuh" seru Putra.


"Ya udah ayok ke taman belakang dulu" ajak Chacha pada sahabatnya.


Chacha memimpin jalan membawa sahabatnya ke taman belakang mansionnya.


"Gila ini mah. Taman kota ini namanya" seru Karin.


"Sialan lo, taman gue dibilang taman kota" ucap Chacha mendelik ke arah Karin sedangkan Karin hanya cengengesan.


"Nyonya Izhaka style" tambah Levy.


"Yaps. Karena ini tanah milik nenek jadi biar inget terus" jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Gih duduk di pendopo gue tinggal masak dulu" titahnya.


"Princess barbar yang biasa pegang samsak emang bisa masak" goda Levy. Chacha hanya tersipu malu lalu berlari meninggalkan mereka.


"Kok lo kalo bareng Chacha beda sih Lev?" tanya Kinos saat mereka memulai perjalanannya menuju pendopo yang terdapat ditengah-tengah taman tersebut.


"Dia separuh nyawa gue" jawabnya santai.


"Gayamu" kompak para gadis membuat lainnya terkekeh.


"Bisa dibilang kita saling mendukung kehidupan satu sama lain" langsung mendudukkan dirinya saat sampai di pendopo.


"Maksud lo?" tanya Fany.


"Dia pernah donorin ginjalnya buat gue waktu kita masih diluar negeri" jawabnya menerawang.


"Kok bisa?"


"Gue pernah nolong dia entah kejadian apa itu sengaja dihapus dari ingatan kita, yang pasti salah satu ginjal gue rusak satunya lagi bermasalah. Chacha dengan berani mendonorkan ginjalnya buat gue" jawabnya sambil tersenyum.


"Lalu"


"Siapapun yang menjadi pendampingnya kelak gue harap dia mampu menerima kekurangannya" tambahnya.


"Perasaan lo sendiri sama dia gimana sih?" tanya Zeze.


"Perasaan gue sama dia. Ada rasa ingin memiliki tapi entahlah gue gak tau"


"Lo sayang gak sama dia?" tanya Nena.


"Gue gak tau apa itu cinta apa itu sayang. Intinya dia wanita paling berharga buat gue setelah mama gue"


"Sweet banget sih lo, Lev" tambah Fany, Levy hanya menanggapinya dengan senyumnya.


"Dia gadis kuat tumbuh dengan satu ginjal mampu menjadi yang terbaik diantara yang terbaik"


"Gue setuju sama pemikiran lo" sambung Elang.

__ADS_1


"Dia bahkan mampu menguasai hampir semua ilmu bela diri berlatih tanpa kelelahan"


"Serius lo?" tanya Karin.


"Diluar negeri kita latihan bertiga King, gue, sama princess, gue udah kelelahan Chacha masih terus dia seperti memiliki ambisi untuk menjadi kuat"


"King?" tanya mereka kompak.


"King Izhaka. Direktur pengganti princess sebelum dia menjadi Queen Izhaka seutuhnya"


"Kakaknya Chacha berarti dong" simpul Nena.


"Belum saatnya kalian tau ini" jawab Levy santai. Lainnya hanya mengangguk menanggapi jawaban Levy.


"Bahas apaan sih?" seru Chacha tiba-tiba setelah cukup lama mereka terdiam.


"Kaget gue ya Tuhan" timpal Karin dengan lebaynya.


"Lebay" seru mereka kompak. Sedangkan Karin hanya mengerucutkan bibirnya.


"Sudah selesai?" tanya Levy.


Chacha hanya mengangguk. "Tar lagi dibawa kesini sama Mbak Ida masakan gue. Khusus buat kalian gue rela tempur di dapur setelah sekian lama"


"Ngerepotin kita nih ya?"


"Kagak lah. Sekalian gue kirim buat Abang gue di kantor"


Tak lama kemudian beberapa pelayan mansion mengantarkan berbagai menu hidangan.


"Banyak banget sih Cha?" tanya Karin.


"Banyak apaan dikit ini"


"Segini lo bilang dikit" timpal Fany tak percaya melihat 10 piring berbeda hidangan didepan matanya.


"Sudah ayo makan ntar keburu dingin"

__ADS_1


Mereka memulai acara makan siang di pendopo belakang mansion Chacha dengan suasana yang hangat penuh canda tawa merek.


__ADS_2