Call Me Queen

Call Me Queen
Mati Gue


__ADS_3

"Tumben gak ada adegan berdarah-darah? " Tanya Levy pada Chacha yang duduk di sebelahnya.


"Sebisa mungkin kita hindari adegan berdarah-darah, Mas. Kita sekarang udah punya anak. Gak mau kan kalau anak kita jadi pelampiasan mereka, musuh-musuh kita? "


"Iya Mas baru kepikiran, tapi sebisa mungkin ketika mereka beranjak dewasa nanti, setidaknya mereka sudah mahir dalam beladiri"


"Itu harus, Mas. Menjadi keturunan tiga keluarga besar membuat mereka mau tidak mau harus berasa diujung maut kapan saja dan dimana saja. Tapi demi keamanan mereka, aku mau mereka menyembunyikan identitas mereka agar terhindar dari bahaya"


"Tapi itu juga tak baik, cinta. Biarkan mereka menjadi kuat karena tantangan menjadi bagian dari tiga keluarga besar. Karena mau tidak mau mereka harus meneruskan bisnis yang sudah kita bangun ini"


"Mas, kalau perusahaan Effendy aku serahkan ke Abang sepenuhnya kamu keberatan nggak? "


"Itu hak kamu, sayang. Mas gak ada hak buat ikut campur masalah itu. Mas cuma mengingatkan jika kamu salah jalan. Menurut Mas ide kamu bagus, tapi semuanya harus di diskusikan terlebih dahulu sama yang lain. Bukannya penyerahan belum diumumkan siapa yang akan menduduki kursi pemimpin? "


"Iya sih, aku udah berhasil dapetin hak Audy di perusahaan. Selanjutnya kita akan mendapatkan milik Mahavir terlebih dahulu"


"Kenapa gak kelar-kelar sih sidangnya? " Tanya Levy, dia cukup kesal saat tahu sidang perceraian kakak iparnya terkesan lamban dan alot.


"Ya mau gimana, awalnya Kevin menghadirkan banyak bukti tentang masa lalu Audy yang dia angkat sebagai opini saat Audy bersamanya, dan sekarang lebih parahnya dia seolah menjadi suami yang baik dengan mengatakan akan bertanggung jawab pada Audy. Singkat kata, dia tak mau bercerai " Chacha cukup muak sebenarnya dengan sandiwara keluarga Pandey yang terkesan menghambat jalannya sidang. Namun, bukan Chacha jika tidak bisa menebak maksud dari terulurnya sidang tersebut.


"Mau tak hancurkan perusahaan Pandey, itu haknya Mahavir. Haish, bingung sendiri"


"Urusan keluarga Pandey biar jadi bagian aku aja, Mas. Kamu fokus sama kerjaan kamu aja. Kata Papa ada proyek baru? "


"Hmmm, tinggal atur jadwal buat tanda tangan kontrak, sayang"


Chacha hanya manggut-manggut mendengar jawaban suaminya itu. Bisa dipastikan jika Levy akan cukup sibuk ke depannya. Karena kebiasaan Levy adalah terjun langsung untuk meninjau proyek yang sedang dia kerjakan. Bukan tak mempercayai asisten dan karyawan lainnya, hanya Levy merasa kurang puas jika tidak melihatnya secara langsung.

__ADS_1


"Akhirnya sampai. Turun sini aja, Mas. Biar Mang Jajang yang masukkan mobilnya ke garasi" Ucap Chacha setelah mobil sepenuhnya berhenti.


"Kamu turun aja dulu, biar Mas yang bawa ke garasi. Lihat anak-anak dulu, takutnya mereka belum tidur" Jawab Levy menimpali perkataan istrinya.


Chacha hanya mengangguk dan turun dari mobilnya. Melangkahkan kakinya memasuki teras luas depan rumahnya itu. Chacha sebenarnya ingin merutuki kebodohannya, bisa-bisanya dia membuat rumah begitu luas seperti ini. Membuat dirinya kelelahan saja. Ingin rasanya dia kembali ke rumah sederhananya, tapi itu tak memungkinkan.


Chacha tampak masuk kedalam kamar anak-anak nya. Samar-samar dia mendengar celotehan putri kecilnya itu. Chacha hanya menghembuskan napas pelan, lalu senyuman manis terukir diwajahnya. Si montok ini memang penuh kejutan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, nampaknya balita mungil berisi tidur masih asik dengan celotehan tak jelasnya.


Chacha tak langsung menghampiri putrinya yang sedang terbaring dilantai yang dialasi karpet tebal. Tampak bayi cantik itu sedang berceloteh dengan ketiga pengasuhnya. Tak jarang suara tawa akan terdengar dari balik bibir mungilnya.


Hingga netranya menangkap keberadaan sang mama. Membuat tubuh montoknya bergerak heboh, dan berusaha bangkit untuk merangkak ke arahnya. Chacha tertawa pelan saat melihat putrinya yang kesulitan menggerakkan tubuh montoknya.


"Come to Mama" Chacha berjongkok di jarak yang tidak terlalu jauh. Agar Baby Al merangkak ke arah mamanya.


Hap...


"Kenapa belum tidur anak mama ini, hmm? " Tampak Baby Al langsung menempel di bahu Chacha, pandangan matanya berubah sayu.


"Ah anak cantik ini nungguin Mama dan Papa pulang ya? " Baby Al hanya menggerakkan kepalanya tak beraturan.


"Mbak susunya Al habis kah? " Tanya Chacha pada pengasuh anaknya, sebab sebelum berangkat tadi Chacha tidak lupa untuk memompa asinya terlebih dahulu. Karena si montok terkadang sering menyusu lebih banyak daripada kedua saudara kembarnya. Jadi tak heran jika si montok berubah layaknya balon udara.


"Masih ada nyonya"


"Diambilkan dulu, sayang kalau itu dibuang kan"


"Kenapa, Ma? " Levy tiba-tiba masuk dengan pakaian yang sudah berganti. Celana selutut dengan kaos polos diatasnya.

__ADS_1


Mendengar suara sang Papa, Baby Al langsung mendongakkan wajahnya dengan mata setengah terpejam nya. Bahkan kepalanya tampak celingak-celinguk tidak jelas. Chacha hanya terkekeh melihat kelakuan putrinya.


"Loh, putri Papa belum tidur? Sini sama Papa, Mama ganti baju aja dulu" Levy langsung mengambil alih si montok dari gendongan sang mama.


"Mau mandi gerah" Jawab Chacha, dia langsung melesat ke arah dua putranya yang sudah terlelap. Mencium kening keduanya pelan agar tak mengganggu tidur dua jagoannya itu. Dua jagoannya itu termasuk dua bocah disiplin. Jam tidur mereka tak pernah berubah, selalu tetap. Berbeda dengan si montok, dia memiliki jam tidur yang tidak menentu. Contohnya seperti malam ini, dia tidur cukup larut untuk seukuran balita sepertinya.


"Mandi pakai air hangat, Ma. Nanti Mama bisa demam kalau mandi air dingin" Peringat Levy pada istrinya itu. "Mbak ini susunya mana? " Tanya Levy pada pengasuh bayinya.


Tampak pengasuh itu menyerahkan satu botol penuh asi milik Chacha.


"Kalian istirahat disini saja, saya dan istri saya akan istirahat di kamar kami malam ini" Ucap Levy pada pengasuh anak-anaknya.


Di sudut ruangan anak-anak nya memang ada kasur ukuran cukup besar untuk ditiduri tiga orang. Itu hanya diletakkan jika Levy ataupun Chacha tidak bisa menemani anak-anaknya tidur. Misalnya seperti mereka berdua bekerja lembur karena urusan perusahaan.


Di dalam kamar Chacha tampak merendam tubuhnya sebentar. Dia merasa cukup penat akhir-akhir ini. Berniat menyelesaikan semuanya dengan cepat membuat otaknya bekerja lebih cepat dari biasanya. Chacha memejamkan matanya sebentar, keheningan adalah teman terbaik menurut nya. Keheningan membuat otaknya bekerja dengan baik.


Sepuluh menit kemudian Chacha tampak berjalan ke arah shower untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, Chacha langsung melilit tubuhnya dengan handuk dan berjalan keluar menuju walk in closet.


"Mana sih daster gue" Gerutu Chacha saat tal kunjung menemukan daster yang dia inginkan.


"Seingat gue, ada disini deh" Chacha terus mencari daster yang dia inginkan di dalam lemari khusus pakaian dinas malamnya itu.


"Ya ampun ini mah pendek banget daster nya, bisa diterkam papanya anak-anak gue" Ketika menemukan daster yang dia inginkan malah ukurannya yang membuat dirinya ciut seketika. Karena Chacha mencari daster khusus busui, sialnya lagi dia hanya memiliki beberapa potong saja.


Grep...


Mati gue. Batinnya berteriak.

__ADS_1


__ADS_2