Call Me Queen

Call Me Queen
Merona Merah


__ADS_3

Chacha melirik ke arah orang-orang yang tengah memperhatikan dirinya dan Audy. Mendapat lirikan dari Chacha mereka langsung berpura-pura bodoh dengan membuang pandangan.


"Lepas"


"Kagak"


"Gue engap Audy. Lo bisa digantung Bang Nial kalo gue pingsan" sontak Audy langsung melepaskan pelukannya. Mendengar nama King disebut dirinya merinding dengan sendirinya.


"Mandi sana, lo udah kayak badut tau nggak. Jelek banget sih kalo lagi nangis"


"Adek sialan" umpat Audy.


"Hahahaha" tawa Chacha menggelegar didalam sana.


Chacha keluar dari kamar yang akan ditempati Audy beberapa waktu ke depan. Saat sampai di luar kamar, dirinya langsung mengedarkan pandangannya.


"Mas, bisa ikut aku sebentar? " Levy hanya mengangguk dan berdiri menghampiri Chacha.


"Kakak ipar, kita butuh bicara. Ayo"


Chacha memimpin jalan menuju taman belakang. Di sampingnya ada Levy yang menggandeng tangannya. Kevin berjalan di belakang mereka berdua.


"Gue tau lo kecewa sama kakak gue" Chacha langsung mengutarakan maksudnya memanggil Kevin setelah sampai di taman belakang.


Kevin hanya diam, menatap ke arah langit.


"Dalam hal ini kakak gue emang salah. Tapi lo juga salah"


"Maksudnya? "


"Kalian berdua memang pasangan serasi sama-sama brengsek, namun lain halnya kakak gue. Dia terpaksa"


"Gue gak ngerti maksud lo"


"Kalian sama-sama melakukan s*x before marriage, tapi ada perbedaan. Kakak gue terpaksa melakukan itu, dengan tebusan mentalnya akan sedikit terganggu. Tapi gue yakin dia bisa melewati itu, buktinya dia baik-baik saja bukan? Kalo lo? Bermain dengan ja*ang cuma buat melampiaskan sifat bejat lo. Kalo lo pikir gue polos lo salah, sejak kita memiliki hubungan dulu, gue sudah tau semua kebusukan yang lo tutup serapi mungkin"


Kevin tertegun dengan apa yang diucapkan adik iparnya itu. Dirinya tak menyangka jika kelakuan minusnya diketahui, padahal selama ini dirinya mampu menutupi segalanya.


"Jadi gue harap lo bisa terima kakak gue apa adanya. Karena apa? Kalian juga sama-sama mengkhianati hubungan kalian dengan kelakuan kalian. Jadi impas bukan, Audy salah lo juga salah"


"Tapi status dia? "


"Jika status dia memberatkan lo dan keluarga lo, karena takut mencoreng nama baik. Lo bisa ceraikan dia, gue gak butuh lelaki sampah di keluarga gue. Cukup Ayah gue yang sampah jangan ada lagi. Lagipula gak ada wartawan yang tau kebenaran malam ini bukan? "


"Tapi tadi lo juga bilang di depan wartawan, itu bisa saja jadi bahan buat menjatuhkan Audy. Saham perusahaan juga akan merosot nantinya"

__ADS_1


"Besok pagi hanya akan ada berita tentang pernikahan kalian, tak kan ada berita yang lain lagi"


"Bagaimana lo yakin? "


"Itu karena gue yang ngomong. Kalo lo yang ngomong baru gue ragu" Chacha berbicara secara sinis kali ini.


"Gue harap lo bisa pikirin ini baik-baik. Lanjut dengan kakak gue atau mundur itu terserah lo. Tapi jangan permainkan dia, lo belum tau sekejam apa gue kalo lo ngusik keluarga gue" Chacha memberi peringatan dengan tatapan tajamnya.


"Masuk sana, ambil keputusan lo. Lo seorang kepala keluarga sekarang, lo harus bisa mengambil keputusan sendiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua lo"


Kevin mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Pikirannya masih sibuk memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil.


"Mas"


"Hmmm"


"Maas" rengek Chacha sambil mengayunkan lengan Levy yang sedang asik dengan ponselnya.


"Apa Sayang? " tanyanya lembut dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Chacha langsung memeluk Levy dengan erat. Levy hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Lelah? " Chacha mengangguk dalam pelukan Levy.


"Lega? " Chacha mengangguk lagi, kali ini mendongakkan kepalanya, bertatapan langsung dengan netra Levy.


"Gak nyangka kenapa? "


"Dibalik sikap barbar istriku ini tersimpan hati yang begitu lembut" Chacha tersenyum cantik mendengar perkataan Levy.


"Aku tau semua penderitaan Audy. Dia hanya sok tegar di depan, tapi dia akan menangis dibelakang"


"Bagaimana kamu tahu? "


"Hehehe, aku memasang kamera kecil di kamar Audy dan menyadap ponselnya"


"Nakal ya istri aku" Levy mencubit pelan ujung hidung Chacha.


"Masalah Audy selesai, kini tinggal melacak siapa yang begitu rapi menata skenario ini"


"Emmm, aku rasa ini orang terdekat. Dalam artian orang itu mengenal keluarga Effendy cukup lama"


"Bisa jadi sih, Mas. Secara dia begitu tau situasi yang terjadi dalam keluarga Effendy"


"Kita bisa selidiki secara perlahan sambil melihat gerak gerik yang mencurigakan" Chacha hanya mengangguk. Menyadarkan kepalanya lagi.

__ADS_1


"Kenapa? "


"Pusing"


"Kamu kebanyakan nangis, Sayang. Sekarang istirahat, aku minta Mbak Ida buatkan minuman hangat sama makanan kamu juga belum makan dari tadi"


"Bakso, Maas"


"Besok sayang, ini udah larut. Bentar lagi juga dini hari. Makan yang ada dulu ya. Besok janji dibeliin" Levy dengan lembut membujuk istrinya.


"Iya iya" Chacha hanya mengerucutkan bibirnya tanda kesal. Padahal sudah sejak tadi dirinya menginginkan makanan berkuah itu.


Cup...


Chacha menganga karena perbuatan Levy. Sesaat kemudian wajahnya merona merah. Levy yang melihat respon Chacha hanya bisa tersenyum geli.


"Kamu udah berapa kali ciuman sama aku sih, Yang. Masa dikecup gini aja udah merah mukanya" bukannya kesal, muka Chacha malah makin memerah karena malu.


Levy tertawa karena ulah istrinya ini. Sungguh gadis ini terlalu banyak kejutan.


"Ayo masuk, makan dulu habis itu langsung istirahat. Lainnya juga masih ada di dalam kan? " Chacha hanya mengangguk. Mengikuti langkah Levy yang menarik tangannya ke dalam.


Saat Chacha masuk semuanya masih dalam formasi yang sama. Seluruh anggota keluarga baik Effendy, Izhaka dan keluarga Pandey duduk diatas sofa. Cuma para sahabat Chacha yang setia guling-guling diatas karpet tebal, meraka pun juga sudah berganti dengan pakaian tidur mereka. Mereka diminta menginap karena terlalu larut jika untuk pulang, khawatir terjadi apa-apa.


Chacha hanya mengabaikan mereka, karena Levy langsung menariknya ke ruang makan. Tapi yang tak mereka sadari, bahwa para perusuh dibelakangnya mengikuti langkah keduanya. Melihat Chacha duduk mereka juga kompak duduk. Levy hanya menaikkan sebelah alisnya melihat kelakuan para sahabatnya itu.


"Mbak Ida? " Levy memanggil kepala pelayan di mansion itu.


"Ya? "


"Tolong siapin makan buat Chacha, jangan lupa buatkan minuman hangat juga"


"Non Kecil mah disiapkan apa? "


"Apa aja deh Mbak, tapi porsi kecil aja ya" Mbak ida hanya mengangguk mendengar permintaan nona kecilnya itu.


Karena Chacha bungsu di keluarga Izhaka maka dirinya tetap di panggil nona kecil, sampai salah satu dari keturunan Izhaka memiliki penerus yang akan meneruskan panggilan nona kecil atau tuan kecil. Dan panggilan Chacha akan berubah menjadi nona muda atau nyonya muda.


"Cha? "


"Gue gak papa. Kalian santai aja, gue cuma butuh istirahat sama refreshing kepala gue pusing"


"Mau kemana? " tanya Levy lembut serata mengusap kepala Chacha, karena memang sejak tadi dirinya masih berdiri disamping istrinya.


"Besok aja mikir kemananya, sekarang mau makan sama istirahat aja" Levy mengangguk saja.

__ADS_1


"Kalian istirahat duluan aja, biar gue yang temenin dia makan"


Mereka langsung membubarkan diri setelah mendengar perkataan Levy. Menuju kamar mereka masing-masing.


__ADS_2