
"Cha lo yakin? " tanya Elang.
"Yakin. Ini terakhir kan, kalau misal gue kalah disini kalian boleh bertindak apapun, jika niat menolong gue" jawab Chacha santai, yang lain hanya menatap Chacha dengan tatapan sendu.
Mereka kini berkumpul di rumah Levy, hari ini adalah hari terakhir Chacha berkumpul dengan mereka, sebelum dirinya maju untuk memperebutkan lencana kekuasaan. Pemimpin mafia tertinggi. Chacha harus mendapatkan lencana itu, bukan serakah atau apa, namun demi keluarganya dia rela menantang bahaya.
"Besok gue tunggu kalian di bandara"
"Lo gak pake landasan lo sendiri? " tanya Fany.
"Jemput nenek gue dulu, kalian kawal sampai mansion Izhaka, kalian siap? " tanya Chacha.
"Kita selalu siap nerima tugas"
"Oke jadi gini. Elang besok yang bakal jadi supir nenek" Chacha menatap Elang yang mengangguk padanya.
"Fany dan Zeze lo di depan, lindungi mobil yang dibawa Elang dari depan. Karena gue yakin berita kembalinya nenek pasti bocor. Meskipun nenek sudah dinyatakan meninggal, namun beberapa lainnya masih terus mencari jejaknya sampai sekarang"
"Siap" jawab si kembar serempak.
"Bawa beberapa anggota kalian, bawa mobil masing-masing" mereka mengangguk serempak.
"Nena, lo jaga belakang. Lo tau apa yang harus lo lakuin kan? "
"Emmm, membuat mereka merapat dan menjebaknya"
"Good, suruh anak buah lo bawa mobil dibelakang mobil Elang nanti. Lo bisa pakai motor gue"
"Siap"
"Karin, hubungi Kak Ardan minta ciri-ciri Black Rose karena lo belum tau mereka"
"Oke"
"Rin, lo bakal ngawasi dari atas. Tetap di helikopter apapun yang terjadi di bawah, fokus lo cuma ngelindungi nenek gue sama Elang. Jika terjadi pertarungan usahakan buka jalan biar Elang lolos"
"Lalu bagaimana dengan mereka? " tanya Karin.
"Anggap aja ini ujian dari gue buat tes kalian selama lima tahun gue tinggal"
Glek...
Mereka tak menyangka bahwa ujian dari Chacha adalah langsung menghadapi kematian.
"Chiara besok lo ada di gedung tertinggi di kota ini"
"Perusahaan lo, tapi bukannya besok kita akan berangkat"
"Lo bisa berangkat setelah mendapat instruksi dari gue, senjata terbaru lo nanti malam tiba. Ambil dan cobalah"
"Siap"
Sedangkan Putra dan Kinos yang mendengar Chacha memberi perintah pada lainnya hanya bisa melongo tak percaya. Bagaimana dirinya memerintah dengan aura kepemimpinan yang kental, namun posisinya sangat santai. Ya, Chacha sedang rebahan dengan berbantalkan paha Levy.
"Mau aku bantu pengawalan? "
"No, aku sudah mengatur anggota Black Rose"
"Kamu besok berangkat jam berapa? "
"Agak siangan kali"
"Kok ragu? "
"Abang belum kirim jadwal terbaru di Manhattan"
"Terus kalo King gak kirim jadwal lo emang masih tetep berangkat? " tanya Elang.
"Berangkat lah, gue ketemu baba dulu"
"Baba? "
"Ayah angkat Queen" bukan Chacha melainkan Chiara.
"Berapa lama kamu disana? " Levy seakan tak rela melepaskan istrinya saat ini.
"Tak pasti, yang pasti sekitar empat sampai lima bulan. Kalau aku gak salah prediksi kali ini lebih banyak dari tahun lalu, jadi persaingan cukup ketat"
"Lo berjuang dari babak awal lagi? "
"Iya Elang"
__ADS_1
"Bukannya lo nunggu di lima belas besar paling nggak"
"Gue harus merangkak dari bawah, lo tau gue cuma berkembang disini, sedangkan di sana gue bukan apa-apa"
"Lo terlalu merendah"
"Queen... " Chiara ragu untuk mengucapkan apa yang ada dipikirannya.
"Tenanglah Chiara Pandu yang akan kawal gue"
"Syukurlah" Chiara menghembuskan napas lega.
Bukan apa-apa Chiara begitu mengkhawatirkan Chacha jika dirinya berangkat sendirian. Pernah dirinya berangkat sendiri saat di luar negeri, awalnya tak ada yang terjadi, hingga tanpa ada yang tahu dirinya terkena tembakan oleh sniper professional. Untungnya Chacha memiliki kepekaan yang tinggi, jadi tembakan itu meleset mengenai lengannya. Bukan jantung, seperti yang sniper itu incar.
"Cha lo kenapa? "
"Lang, selama gue gak ada. Kakek pernah ngomong apa gitu tentang gue? "
"Nggak ada. Cuma nanya perkembangan lo aja. Emang kenapa? "
"Gue ngerasa aneh selama lima tahun terakhir. Gue merasa selalu ada perhatiin gue dari jauh, tapi ketika gue buka identitas gue mereka perlahan mundur"
"Maksud lo? "
"Tanyain kakek siapa gue sebenarnya"
"Maksud lo? "
"Kalo emang gue hanya sekedar Queen Izhaka, gue rasa masih wajar. Gue sudah tau semua musuh keluarga kita dari jaman kakek sama nenek. Tapi ini seperti menuntut identitas lain dari gue"
"Tapi siapa? "
"Minta salinan akta kelahiran gue, selama gue hidup gue gak pernah lihat salinan akta kelahiran gue"
"Serius lo? " Chacha mengangguk mantap.
"Gue rasa ini masih masalah nama gue, pas gue periksa secara keseluruhan gue gak sengaja liat. Di balik ukiran tempat penentuan pewaris Izhaka selanjutnya, tertulis nama Danisha"
"Danisha? "
"Ya, gue curiga nama ini yang sebenarnya jadi permasalahan. Mereka mencari seseorang dengan nama ini"
"Gue gak tau, satu yang pasti dia gak mau semua harta Izhaka jatuh sama ini orang"
"Kenapa lo bisa berpikir begitu? "
"Lo gak tau seberapa kaya keluarga kita Elang, selama ini kakek dan nenek selalu menyembunyikan kekayaannya yang sesungguhnya"
"Lupakan itu dulu, sekarang masalahnya Danisha ini siapa di keluarga kita? "
"Itu kenapa gue minta lo cari akta kelahiran gue, biar semuanya jelas"
"Maksud lo, kalo misal lo yang namanya Danisha, target mereka adalah lo" Chacha mengangguk. "Kalo misal lo bukan Danisha? "
"Gue bakal cari penerus asli keluarga Izhaka"
"Tapi Cha"
"Gak ada kata tapi, cari akta kelahiran gue. Itu penentu harus kembali apa tidaknya gue, Elang" mohon Chacha
"Kamu harus kembali" tekan Levy yang sejak tadi menyimak percakapan Elang dan Chacha. Meskipun Levy tak yakin siapa Elang bagi Chacha.
(Levy belum tahu ya kalau Elang itu sepupu Chacha. Kan pas ultah Chacha dia gak ada)
Mereka tak menyangka bahwa permasalahan yang Chacha hadapi saat ini lebih rumit dari yang mereka pikirkan. Takdir mempermainkan dirinya, ayah bundanya membencinya, dirinya hanya bisa melihat kedua orang tuanya dari jarak jauh. Belum lagi dia harus mempertaruhkan hidup matinya untuk kedamaian keluarga besarnya. Entah mereka harus kagum atau prihatin pada sahabat yang satu ini.
"Gue balik sekarang, kalian tunggu disini"
"Elang ikut" Karin merengek pada Elang membuat yang lain heran. Karena sejak kembalinya dari desa, kedua orang ini begitu lengket sekali.
"Ayo, gak ada jadwal hari ini? " mereka membelalakkan mata mereka tak percaya. Elang berbicara dengan lembut pada gadis petakilan ini.
"Gak ada. Yuk ah" Karin langsung menggandeng lengan Elang untuk menjauh dari mereka.
"Itu anak dua, ada hubungan apa? " tanya Nena penasaran.
"Gue juga gak tau, cuma yang gue tau mereka sering jalan bareng. Atau saling mengunjungi satu sama lain" terang Kinos.
"Kok lo tau, Nos? "
"Lo inget gak, Put"
__ADS_1
"Gak inget"
"Belom kampret" Kinos langsung menepuk dahi Kinos karena kesal.
"Sorry" cengirnya.
"Pas kita ke mall yang ketemu sepupu lo itu... "
"Ah iya, gue inget. Kita gak sengaja ketemu mereka lagi jalan berdua. Mana mesra pula" potong Putra.
"Gue gak mau mikir macem-macem sama mereka berdua. Kalau memang ada hubungan gue dukung, asal mereka suka sama suka"
"Gue juga"
"Gak nyangka aja sih"
"Gak nyangka kenapa, Nos? "
"Gak nyangka aja kalo gadis petakilan kayak Karin bisa ngebuat Elang luluh. Banyak gadis yang deketin dia dari berbagai sikap dan kelakuannya kan"
"Ya. Menurut gue Karin itu unik"
"Berhenti bahas mereka berdua dulu. Ini Chacha sama Levy kemana kok tiba-tiba ilang? " tanya Zeze heran.
"Lah iya, aiih pusing gue. Udah ah gak usah pikirin mereka, udah gede juga kan"
"Kita tunggu aja disini"
Sedangkan tersangka yang mendadak hilang kini sudah beralih pada kamar pribadi milik tuan rumah, siapa lagi kalau bukan Levy.
"Kenapa, By? " Chacha awalnya kaget saat Levy menariknya tiba-tiba, apalagi dengan muka kusutnya.
"Kalau kamu gak balik aku gak izinin kamu pergi"
"Tapi, By? "
"Aku suami kamu, aku juga berhak atas kamu" Levy tak sengaja meninggikan suaranya karena kalut. Chacha yang kaget langsung terdiam. Dia sudah biasa dibentak, diteriaki, dicaci oleh musuhnya. Namun, saat melihat Levy yang melakukannya entah kenapa dirinya merasa sudut hatinya begitu sakit. Chacha hanya bisa menunduk.
"Ya kamu suami aku, aku minta maaf" lirih nya. Percayalah Chacha bisa menjatuhkan air matanya kapan saja.
Levy yang tersadar dari emosinya sendiri hanya bisa mengerang frustasi. Takut akan kehilangan Chacha membuat dirinya tak mampu mengontrol diri. Levy menarik Chacha kedalam pelukannya, melabuhkan kecupan dalam pada puncak kepala gadisnya ini.
"Maaf, Yang. Aku gak ada maksud bentak kamu. Aku cuma takut" lirih Levy di telinga Chacha saat menyadari Chacha kaos yang dikenakannya basah. Apalagi jika bukan istrinya menangis
"Aku juga salah, harusnya aku izin sama kamu"
"Ini sudah kamu agendakan sebelum menikah denganku. Jadi disini aku yang salah karena tak mengerti kamu"
"Tapi aku juga tak memberitahu mu, harusnya aku tetap memberitahu mu. Tanpa izin mu aku tak bisa pergi, By"
Ingin sekali Levy berkata bahwa dirinya tak mengijinkan Chacha untuk pergi. Tapi, mungkin itu akan membuat istri kecilnya kecewa, dan itu yang Levy hindari.
"Aku izinkan, dengan satu syarat"
"Emmm? " Chacha mendongak menatap lurus manik mata yang menatapnya teduh.
"Apapun yang terjadi, tolong kembali demi diriku, demi suamimu ini" Chacha melihat pancaran keputusasaan di mata suaminya.
"Aku akan kembali" ucap Chacha pasti. Menenggelamkan lagi kepalanya dalam dada bidang suaminya itu.
"Nanti tidur di apartemen ya" Chacha hanya mengangguk mengiyakan permintaan suaminya itu.
Meskipun hanya tidur berdua tanpa melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya, itu sudah cukup bagi Levy. Karena dirinya paham bahwa Chacha masih kaget dengan pernikahan mendadak ini. Satu hal yang membuat Levy terkejut saat dirinya meminta haknya pada Chacha. Chacha memarahinya bahkan mereka sampai bertengkar. Jika diingat Levy geli sendiri. Namun sejauh ini Chacha cukup membuatnya mandi air dingin jika mereka sedang bersama.
Chacha bukannya tak ingin memberi haknya pada Levy, namun menurut artikel yang dia baca katanya malam pertama itu sakit. Memikirkan itu saja sudah membuat bulu kuduk Chacha merinding sendiri. Apalagi melakukannya. Untuk saat ini dirinya tak siap. Untungnya lagi Levy mampu memahaminya. Bahkan Chacha pernah berpikir bahwa dia lebih baik masuk markas lawan seorang diri daripada melakukan hubungan intim. Sungguh pemikiran yang konyol.
...****************...
Author comeback sayang
Makasih yang masih setia sama author yang absurd nya gak ketulungan ini. Terimakasih buat kalian yang terus kasih semangat buat author.
Maafkan author yang gak rajin up, selain kendala pada kuota terkadang author juga drop mendadak.
Demi kalian author tetap paksa buat nulis kok.
Jangan lupa like, comen and vote sayang.
Jangan jadi ghost readers ya.
See you next chapter all ❤
__ADS_1