Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 10 (Penjelasan Pak Kevin)


__ADS_3

***(Di Parkiran Kampus)


Gia memarkirkan mobilnya di sebelah pojok kanan, Susi melihat Pak Kevin juga tengah memarkirkan mobilnya. Susi mencegah agar Gia tidak keluar dari mobilnya terlebih dahulu agar Gia tidak mengetahui adanya Pak Kevin, karena jika Gia tau pasti mood Gia akan berubah dan tidak konsentrasi ujian.


"Yuk Si," ajak Gia sambil mengambil tasnya di kursi belakang.


"Eemm..bentar Gi bentar," jawab Susi dengan wajah bingung ingin memberi alasan apa pada Gia.


"Kamu kenapa? kok tiba-tiba gitu," tanya Gia heran.


"Emmm...nggak papa sih Gi, disini aja dulu Gi, di kelas rame males ah," rayu Susi ingin meyakinkan Gia sambil menggaruk-garuk kerudungnya.


"Kok tumben banget sih kamu," ucap Gia sangat heran melihat Susi yang tengah kebingungan.


"Udah ah ayo ngapain juga kita disini," ucap Gia sambil membuka pintu mobilnya dan tangan kirinya membawa tasnya.


Susi pun mengikuti Gia dari arah belakang, di tengah-tengah tempat parkiran Pak Kevin yang juga tidak tau akan adanya Gia yang tengah berjalan berhadapan dengannya, tiba-tiba langkah mereka berhenti dan saling menatap, dengan posisi Gia yang menggantungkan tasnya pada pundaknya sebelah kiri dan tangan kanannya memegang ponselnya, sedangkan Pak Kevin yang berkemeja merah dan tangan kiri dimasukkan ke saku celana tangan kanan menekan tombol kunci mobilnya.


Mereka saling tatap. Sebenarnya Pak Kevin ingin menjelaskan pada Gia pada saat itu. Tapi ini area kampus, jadi Pak Kevin mengurungkan niatnya.


"Gi ayok," ucap Susi sambil menepuk pundak Gia.


"Oh iya Si," jawab Gia yang menundukkan pandangannya.


Mereka berjalan menuju ruang ujian, Susi sengaja tidak membahas hal yang telah terjadi di parkiran. Gia juga sama seperti Susi, tidak ingin membahas tentang Pak Kevin lagi.


***(Ruang Ujian)


Dalam ruang ujian Gia duduk di sebelah Susi. Dan Mely melihat wajah Gia yang sedari tadi di tekuk mulai depan LR sampai duduk di sampingnya penasaran dan menanyakan pada Gia.


"Gi, kenapa tuh wajah ditekuk mulu," ucap Mely sambil mendekatkan kursinya ke kursi Gia.


"Kayak nggak tau Gia aja kamu Mel," jawab Susi dengan membuka tasnya untuk mengambil papan ujian.


Gia hanya tersenyum pada Mely, ya begitulah Gia.


Penjaga ujian memasuki ruangan pertanda ujian akan dimulai. Mely segera menggeser kursinya, semua soal dibagikan pada masing-masing mahasiswa.


"Ujian bisa dimulai, harap berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing," ucap penjaga ujian.


Beberapa jam telah berlalu, ujian selesai. Gia dan Susi menuju ke parkiran dan Pras menyapa mereka.


"Gimana Gi, bisa?" tanya Pras sambil berjalan di samping Gia.


"Alhamdulillah," jawab Gia singkat.


"Kepo banget sih lu Pras," sahut Susi.


Rupanya pacar Pras mengetahui perbincangan mereka di sepanjang lorong LR.


"Udah sana Lu, pacarmu tuh udah melotot kesini," ucap Susi ketus.


"Sensi banget sih Lu, lagi dapet ya Lu," goda Pras yang melangkah menjauh dari mereka.


"Udah bibirnya nggausa di monyong-monyong in gitu juga kali Si," ucap Gia sambil ketawa.


"Iiih Gia," jawab Susi.


Mereka mendapati mobilnya yang ada di pojok.


"Si kamu yang nyetir ya, pliss," rengek Gia.


"Ya udah iya mana kuncinya, dasar anak kecil," ucap Susi dengan mengejek Gia.

__ADS_1


"Iiiih Susi, ini," jawab Gia sambil memberikan kuncinya pada Susi.


"Bercanda Gi hehehe," kata Gia sambil menutup mulutnya.


Gia dan Susi menaiki mobil, dan mereka langsung menuju ke Mall, jarak Mall dari kampus lumayan dekat, karena kebetulan kampus Gia dan Susi berada di pusat kota. Ponsel Susi berderinh berkali-kali.


***(Jalan Raya)


"Si, ponsel kamu berdering terus, coba lihat dulu," kata Gia yang memainkan ponselnya.


"Ah gak penting Gi," jawab Susi yang mengetahui bahwa itu pesan dari Pak Kevin, karena Susi takut jika rencananya diketahui oleh Gia.


"Beneran gak penting, siapa tau orang tua kamu," ucap Gia yang terus mendesak Susi.


"Bukan Gi jam segini mereka kerja lah," jawab Susi sesekali melihat ponselnya.


"Jangan-jangan pacar kamu Si," rayu Gia.


"Apa sih pacar dari mana, orang kita jomblo," kata Susi yang membuat mereka tertawa bersama dalam mobil.


***(Mall)


Sampai di parkiran Mall, Gia keluar dari mobil tetapi Susi masih berada dalam mobil berusaha agar bisa membalas pesan Pak Kevin. Gia penasaran dan ingin mengintip pesan dari siapa di ponsel Susi itu, namun Gia malah mengagetkan Susi.


"Eh ayo kita keluar, nunggu apa?" tanya Gia yang sebenarnya sudah mengetahui gerak canggung Gia.


"Oh emm iya Gi, hehehehe," ucap Susi yang gelisah karena disisi lain Susi tidak enak dengan Gia karena rencananya tersebut.


Gia menggandeng tangan Susi, Gia menarik tangan Susi menuju ke toko kerudung, mereka membeli kerudung yang sama berwarna cokelat susu, dan Gia menariknya lagi ke toko buku.


"Ini lucu ya Si," ucap Gia dengan mengarahkan bolpoin minion ke arah Susi.


"Lucu untuk mu itu Gi," jawab Susi yang juga memilih-milih bolpoin.


"Beli bolpoin kaya gini nih Gi," kata Susi dengan menyodorkan bolpoin pilihannya pada Gia.


"Bagus an yang itu tadi Si," Gia sambil mengambil bolpoin minion kembali.


"Dasar bocah," ejek Susi.


Gia hanya tersenyum manis dengan menyandingkan bolpoin minionnya ke pipinya dan menghadap Susi.


"Iiiih miris banget sih kamu Gi," ejek Susi lagi.


"Aaaah Susi," jawab Gia yang mengernyitkan kedua alisnya.


Setelah memilih barang- barang yang mereka beli dan menuju ke kasir, rupanya Gia mengajak Susi untuk langsung pulang karena toko yang Gia ingin datangi ternyata tutup.


Mereka berjalan menuju parkiran, dan Susi terpaksa membohongi Gia untuk ke toilet menghubungi Pak Kevin.


"Gi, kamu masuk mobil dulu ya, aku ke toilet bentar," ucap Susi dengan ekspresi kebelet p**.


"Kok gak dari tadi Si, aku kan gak berani ke mobil sendiri," rengek Gia.


"Haduh Gi, mobil mobil kamu, masak iya kamu gak berani," rayu Susi yang semakin meremas perutnya.


"Eemm yauda iya berani aku," jawab Gia yang sebenarnya ragu untuk berjalan sendiri ke mobil.


Mereka berpisah di tengah jalan parkiran, Gia berjalan menuju mobilnya, sedangkan Susi masuk ke toilet untuk memberikan aba-aba pada Pak Kevin.


DM Susi dan Pak Kevin.


"Udah dimana?" Pak Kevin.

__ADS_1


"Parkiran Pak, Bapak dimana?" Susi.


"Ini saya sudah di parkiran juga, Gia dimana?" Pak Kevin.


"Gia udah di dalam mobil pak, tadi dia saya suruh duluan" Susi.


"Yauda berarti saya langsung kesana ini" Pak Kevin.


"Iya Pak, tapi Bapak tau kan mobil Gia" Susi.


"Tau" Pak Kevin.


"Yauda saya ke mobil Gia langsung ini" Pak Kevin.


"Iya Pak" Susi.


"Mobil Gia di tengah Pak pokoknya" Susi.


"Iya dari mobil saya udah kelihatan" Pak Kevin.


Susi sangat dilema di dalam toilet, sedangkan Gia yang hanya memainkan ponselnya terkejut akan kedatangan Pak Kevin di sampingnya, Gia kira Susi yang masuk mobil dan ternyata.


"Gi, Gia," ucap Pak Kevin yang menghadapkan tubuhnya ke arah Gia.


"Bapak ngapain disini, bapak jangan macam-macam ya," kata Gia yang kaget dan menggerakkan badannya mundur sampai tidak ada jarak antara pintu mobil dan Gia.


"Gi dengerin saya dulu," kata Pak Kevin yang berusaha meyakinkan Gia.


Gia berusaha untuk keluar mobil, tetapi dengan cepat pak Kevin sudah menguncinya, karena Pak Kevin yang berada di kursi sopir.


"Gi, plisss kamu jangan takut sama saya, saya hanya ingin menjelaskan pada kamu" ucap Pak Kevin sambil membanting-banting tangannya.


Gia mencoba untuk tenang dan tidak berontak, Gia kembali duduk dengan rilex dan mendengarkan penjelasan Pak Kevin.


"Gi saya tau kamu pasti marah sama saya, tapi plisss kamu lihat saya dong Gi," rayu Pak Kevin dengan nada agak meninggi dan mengernyitkan kedua alis tebalnya.


"Gia, saya tau saya salah, tapi kan kita bisa omongin baik-baik Gi, nggak tiba-tiba kamu cuekin saya kayak gini," ucap Lak Kevin.


Gia tetap tidak melihat Pak Kevin dan tetap memperhatikan depan mobil dengan matanya yang berkaca-kaca, tetapi Gia sebenarnya mendengarkan penjelasan Pak Kevin.


"Terus apa hubungannya sama saya Pak, itu kan masalah bapak kenapa nyangkut sama saya, saya santai-santai aja," ucap Gia sesekali mengusap air mata di pipinya.


"Kalo kamu santai-santai aja, bodoh amat sama saya, kamu gak akan nangis kayak gini Gi, terus ngapain kamu pake acara nggak bales pesan saya lah, buang muka sama saya lah, itu tanda nya kamu juga punya rasa Gi sama saya, kamu peduli sama saya," suara Pak Kevin semakin meninggi menahan amarahnya.


Gia menghadapkan tubuhnya pada Pa Kevin.


"Pak, disini saya yang jadi korban ya, saya tidak pernah sekalipun jatuh cinta pada Bapak, dan tidak pernah sekalipun merasa kecewa, tetapi kemaren dengan melihat foto Bapak dengan kekasih Bapak saya bisa merasakan kekecewaan yang sangat luar biasa, itu bukti yang katanya Bapak cinta sama saya, yang tidak akan menyakiti saya dan menjaga saya, itu Pak?! Benar?!" Ucap Gia dengan gugup karena menangis dan sangat tegas.


Pak Kevin hanya bisa memandangi Gia yang menangis terisak-isak, Pak Kevin merasa tak tega pada Gia. Sebenarnya Pak Kevin ingin memeluk Gia dan ingin mengusap air matanya, tapi Pak Kevin tidak berani karena tau bagaimana latar belakang Gia dan keluarganya.


"Gi saya bisa jelasin ke kamu," ucap Pak Kevin dengan nada halus.


"Kamu dengerin saya ya Gi, dia itu memang benar pacar saya, tapi saya sudah nggak cinta Gi sama dia, karena dia sudah meninggalkan saya tanpa kabar apapun selama 2 tahun, dan dia kembali disaat saya sudah mencintai kamu Gi," kata Pak Kevin.


Gia hanya menundukkan kepalanya.


"Gi plisss maafin saya, saya mohon sama kamu buat kasih saya satu kesempatan lagi," kata Pak Kevin dengan sangat sangat memohon pada Gia.


Gia memikirkan kata-kata Pak Kevin, dan mempertimbangkan untuk mengambil keputusan yang tepat.


Bersambung.....


Terimakasih buat kakak yang sudah membaca novel ini🖤

__ADS_1


__ADS_2