Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 80 (Red Karpet)


__ADS_3

"Ya udah, lagian kita juga buru-buru," ucapnya.


Setelah aku ganti baju, dan memoles sedikit wajahku dengan maskara dan lip tint strawberry.


Ku kenakan kerudungku, kemudian ku ambil high heels warna peachku.


"Udah Mas?" tanyaku pada Naufal yang ada di ruang ganti baju.


"Udah Sayang," jawab Naufal keluar dari ruang ganti baju.


Naufal terpaku menatapku.


Deg....deg....deg.


"Subhanallah Gia," ucap Naufal dalam hatinya sambil menelan salivanya.


"Mas, kenapa? Ada yang salah sama aku?" tanyaku heran.


"Eeemmhh.....enggak Sayang, kamu udah siap?" tanyanya balik sambil salah tingkah mengambil kunci mobilnya.


"Sudah Mas," jawabku.


"Ya udah kita berangkat sekarang," ajaknya langsung menggenggam tanganku.


Kami mengunci kamar lalu turun ke bawah.


"Aduh duh duh, Masya'Allah, mau kemana pasangan ini Gusti," ucap Bi Sarah sambil membawa 2 gelas kopi.


"Ini Bi, mau ke acara temu kangen temennnya Mas Naufal," jawabku.


"Dimana Mbak?" tanyanya.


"Di Hotel deket sini Bi, sekalian sama acara tunangan teman saya," sahut Naufal.


"Oowww monggo Mas Mbak, jangan lupa hati-hati, hehehe," goda Bi Sarah.


"Bibi mau berbincang dulu sama Pak Rusdi dan Pak Joko di depan," kata Bi Sarah.


"Oh iya monggo Bi," ucap Naufal sok-sok an pake bahasa jawa yang membuat Bi Sarah gemas padanya.


"Ehehehehe Mas Naufal bisa aja menirukan Bibi," kata Bi Sarah.


"Hehehe ya udah Naufal sama Gia berangkat ya Bi," pamit Naufal.


"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Kami langsung masuk ke dalam mobil, dan Naufal menancap gas mobilnya dengan kencang.


"Di hotel mana Mas?" tanyaku dalam mobil.


"Bentar lagi kamu tau Sayang," jawbanya.


Tiba-tiba ponsel Naufal berdering.


Naufal segera menerima telepon dari temannya.


"Fal, Lo dimana?"


"Ini di jalan, udah otw kok, bentar lagi nyampek," jawab Naufal.


"Udah pada ngumpul nih Fal, nungguin Lo doang," ucap temannya.


"Iya bentar lagi, suwer, Bastian kemana? Udah dateng belum?" tanya Naufal.


"Udah disini Fal, tinggal Lo doang," ucap temannya.


"Iya bentar lagi, tungguin Gue," kata Naufal.


"Ya udah, hati-hati Lo," ucap temannya.


Naufal menutup teleponnya.


"Siapa Mas?" tanyaku.


"Temen aku Sayang," jawabnya.


Naufal menancap gas mobilnya lebih kencang lagi.


"Kenapa Mas? Kenceng banget? Buru-buru banget ya?" tebakku.


"Iya Sayang udah di tunggu mereka," jawabnya.


"Aduuuh pake lampu merah segala lagi," gerutu Naufal.


"Sabar Mas," kataku sambil mengelus lengannya.


Setelah lampu merah berkahir, Naufal kembali menancap gas mobilnya dengan kecepatan sangat cepat.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, akhirnya kita sampai di hotel mewah itu.


Naufal segera memasukkan mobilnya lalu memarkirkannya.


Dan ponselku ganti yang berdering. Ternyata Susi yang meneleponku.


"Assalamu'alaikum Si, ada apa?" tanyaku.


"Wa'alaikumsalam Gi, Gi aku butuh bantuan kamu banget," jawab Susi.


"Sayang, ayo turun," ajak Naufal dengan lirih.


"Bentar Mas, Susi butuh bantuan aku," jawabku dengan lirih sambil menjauhkan ponselku dari mulutku.


"Hallo Gi, kamu sibuk?" tanya Susi.


"Ee...enggak Si, butuh bantuan apa?" tanyaku.


"Ini aku mau input data tapi susah banget, barangkali kamu bisa," kata Susi.


Naufal terlihat resah, berkali-kali dia melihat jam tangannya, dan membalas pesan demi pesan dari temannya.


"Mas, kamu turun aja dulu, kamu masuk aja dulu gak papa," tuturku.


"Tapi kamu Sayang? Aku gak mau, emang kamu berani masuk sendiri,?" tanya Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Udah Mas, aku berani kok, kamu masuk aja dulu gak papa, cepetan keburu teman kamu nunggu, aku nyusul nanti, tapi aku mau bantu Susi dulu, ya?" tuturku lagi.


"Tapi Sa...," kata Naufal terpotong olehku.


"Udah Mas, gak usah tapi-tapian, gih," ucapku.


"Ya udah aku masuk duluan ya Sayang," ucap Naufal dengan terburu-buru.

__ADS_1


Naufal keluar dari mobil dan segera masuk.


"Hallo Si, maaf, gimana Si?" tanyaku pada Susi.


"Ini Gi input data, dari tadi aku gak bisa jadi delete berkali-kali, kami bantuin aku ya, pliiisss ini buat presentasi besok Gi," kata Susi.


"Mending kamu video call aku biar aku bisa lihatin laptop kamu Si," ucapku.


Dengan segera Susi video call padaku.


"Loh Gi, kamu di mobil?" tanya Susi.


"Iya ini tadi aku ke acara temu kangen sama tunangan temennya Mas Naufal, tapi gak papa kok, tadi Mas Naufal udah mausk duluan," jawabku.


"Kenapa kamu nggak bilang Giiii, tau gitu aku gak minta bantuan kamu," kata Susi.


"Gak papa Si, iiiih udah ah gak papa, kayak sama siapa aja kamu ini, udah mana datanya," kataku mengalihkan pembicaraan.


"Giaa... beneran gak papa? Aku gak enak sama kamu, aku ganggu waktu kamu," kata Susi yang merasa sungkan.


"Gak papa Susi, Astaghfirullahaladzim," kataku sambil tersenyum padanya.


Susi menunjukkan data-datanya pada ku lewat layar ponsel, aku membantu memasukkan data tersebut.


Beberapa menit aku telah membantu Susi menyelesaikan tugasnya.


Lalu aku keluar dari mobil, sebenarnya aku tidak berani tapi bagaimana lagi, aku mencoba menelepon Naufal, tapi Naufal tak kunjung mengangkat telepon dariku.


Aku berjalan mengendap-endap menuju Hall Hotel.


***(Hall Hotel)


Disana ada 2 orang satpam yang tengah berjaga-jaga.


"Pak mau tanya? Ini acara reuni ya?" tanyaku pada satpam itu.


"Iya Mbak, silahkan masuk," jawab kedua satpam itu sambil membukakan pintu hall untukku.


Aku merasa terasing saat memasuki Hall Hotel itu.


Semua pandangan mata baik pria ataupun wanita menatap ke arahku, apakah ada yang salah dari diriku? Ataukah karena aku datang dengan mengenakan kerudung, kebetulan disana yang memakai kerudung bisa di hitung dengan hitungan jari tangan


Tapi??? Tidak mungkin.


Sampai aku malu untuk melangkahkan kakiku, aku hanya menunduk.


Satu pria yang tak ku kenal berjalan mendekatiku.


"Hai Nona, anda ingin mencari siapa?" panggil pria itu padaku dengan ramah dan santun.


Aku takut, tanganku gemetar, meskipun dia sangat santun padaku.


"Eemm maaf, saya....saya mencari Naufal," jawabku.


"Mari saya antar, saya teman Naufal," ucapnya sambil mempersilahkan ku berjalan mendahuluinya.


Aku berjalan sangat pelan, semua berbalik untuk hanya sekedar melihatku yang sedang berjalan dengan pria yang tak ku kenal.


Tiba-tiba suasana hening tak seramai tadi, penghuni di dalam Hall menatapku dan terdiam.


Tetapi pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa arogan pada teman-temannya.


Sedangkan Naufal dan Bastian yang lagi asik berbincang dengan temannya, penasaran dengan keramaian temannya berbalik ke belakang, padahal semula mereka menyaksikan temannya yang sedang tunangan.


"Fal apa itu rame-rame? Kok pada hadap sana," ucap Bastian.


"Tau Bas, biarin aja, kayak nggak tau temen-temen kita aja Lo," kata Naufal.


Bastian menarik Naufal, membelah kepadatan temannya, dan Naufal terpaku melihatku yang sedang berjalan dengan temannya.


"Gia Fal," ucap Bastian panik.


Naufal melihat ponselnya, dia tau sedari tadi aku sedang menelepon nya tapi tidak ada jawaban.


Sepertinya dia terbakar api cemburu, karena melihatku yang sedang berjalan dan disaksikan teman-temannya.


Aku benar-benar sangat malu.


Naufal segera menghampiriku.


"Sayang," ucapnya sambil langsung menggenggam tanganku.


"Ini istrimu Fal?" tanya teman Naufal yang mengantarkanku.


"Iya, Makasih ya udah Lo antar," kata Naufal yang sebenarnya kesal dengan temannya itu.


Semua berbisik setelah mengetahui bahwa aku adalah istri Naufal.


Naufal melingkarkan tangannya pada pinggangku, lalu membawaku di Hall paling depan.


Dia memperkenalkan ku pada teman-temannya.


"Sejak kapan Fal Lo nikah?" tanya teman Naufal.


"Udah lama, tapi resepsinya cuma sama keluarga aja Bro," jawab Naufal.


"Diem-diem nikahnya Lo Bro, takut di tikung ya, wkwkwk," ceplos teman Naufal yang lain.


Aku hanya tersenyum pada mereka.


"Mas, tadi aku malu di lihatin teman-teman kamu," bisik ku di telinganya.


"Maaf Sayang, aku nggak tau kalo tadi kamu telfon aku, tadi lupa aku silent," jawabnya.


"Aku malu tau tadi di anterin temen kamu, tapi dia baik ya, sopan banget sama wanita meskipun belum mengenal," ucapku sambil tersenyum menyeringai padanya.


"Hm yah," jawab Naufal yang sepertinya cemburu.


Bastian menahan tawa dengan membulatkan kedua pipinya karena tau sepertinya temannya sedang cemburu buta.


Aku sebenarnya juga tau kalo Naufal cemburu, tapi aku malu untuk merayunya di depan teman-temannya.


Penghujung acara akan di mulai, semua tamu merapat, dan memperhatikan sepasang insan yang sedang bahagia.


Aku jadi teringat saat dulu aku di khitbah oleh Naufal.


.


.


.


.


.


.


Setelah menyaksikan acara tukar cincin, tiba di akhir acara yaitu makan-makan.


Naufal mengajakku untuk duduk di salah satu meja yang bertulis namaku dan namanya, disana juga ada Bastian.


Setiap aku melangkah, entah apa yang membuat teman-teman Naufal selalu melihat ke arahku.

__ADS_1


Aku bingung sebenarnya.


Kami duduk sambil menikmati jamuan makan malam.


Naufal menyuapiku sambil menyenderkan tangannya di pundakku.


"Naufal romantis banget," gumamku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, acara selesai, aku dan Naufal berjalan keluar Hall Hotel.


Di atas red karpet, Naufal terus melingkarkan tangannya di pinggangku, karena dia tau sesekali teman-teman nya telah melirikku.


"Langgeng Bro," ucap pria yang tadi mengantarkanku sambil menepuk pundak Naufal.


"Oh pasti," kata Naufal sambil menunjukkan ibu jarinya.


Kami berjalan menuju parkiran mobil, segera kami masuk ke dalam mobil dari sisi pintu yang berbeda.


Naufal segera menancap gas mobilnya dengan kencang.


"Mas......Kok kenceng banget, kan kita pulang, jadi santai aja, lagian ini juga udah malam," ucapku dengan halus.


"Aku nggak suka lihat kamu tadi di anterin Beno," ucap Naufal singkat.


"Beno? Beno yang tadi nepuk kamu ya?" tanyaku pada Naufal.


"Iya Sayanggg......Aku itu cemburu banget, apa lagi kamu tadi di lihatin kan sama temen-temen aku, aku nggak terima," rengeknya.


"Hehehe, Ya Allah Mas, tadi kan cuman nganterin, tujuan dia kan baik Mas, apa salahnya? Coba aja tadi aku nggak dia anterin dia, gak bakal ketemu aku kan kamu," jawabku.


"Tapi kan kamu sama dia nggak harus di lihatin gitu, sampe-sampe mereka pada diem lihatin kamu sama dia," ucapnya datar.


"Ya Maaf Mas, kan tadi aku juga nelfon kamu, maafin ya," rayuku.


Naufal hanya diam, aku mengerti perasaan dia.


"Mas.....aku tau kamu cemburu, meskipun saat tadi disana, aku tau betul perasaan kamu, ya maaf Mas, kamu jangan gini dong," kataku merayunya.


"Tau ah, kamu gitu sama suami sendiri," kata Naufal.


"Mas maafin aku ya, ya ya ya?" rayuku lagi.


"Aku mau maafin kamu, asalkan ada dua syarat nya," kata Naufal yang sedang fokus menyetir.


"Kok pake syarat-syarat segala sih Mas, kamu nggak ikhlas ya," kataku.


"Ya udah Sayang, kalo gak mau ya gak papa," ucap Naufal yang sangat jual mahal.


"Ya udah, Apa?" tanyaku.


"Tapi kamu janji harus memenuhi kedua syarat ini," ucap Naufal.


"Yaa.......Ya aku harus tau dulu syaratnya apa?" kataku dengan ragu sambil menggulung-gulungkan helai kerudungku.


"Ya udah kalo gitu aku gak mau ngasih tau kamu syarat-syarat nya, wekkkk," kata Naufal.


"Hahahhai, aku kerjain kamu lagi Sayang," gumam dalam hati Naufal sambil tersenyum sendiri.


"Ya udah iya, apa?" tanyaku dengan polos.


"Agak kesini dong," kata Naufal yang semakin brutal.


Aku menuruti setiap katanya.


"Ini," ucap Naufal sambil menepuk halus dua kali pipi kirinya.


"Aaaarrrggghhh, kamu mah selalu gitu Mas, dasar," rengekku.


"Loh, bukannya kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin Sayang, bukan begitu Ibu Gia?" candanya yang semakin membuatku gemas.


"Ya ya ya, Huuuufftt mencari kesempatan dalam kesempitan kamu mah," ejekku.


"Mau nggak?" goda Naufal.


"Ya udah iya," jawabku singkat.


Lalu aku mencium pipinya.


"Kok gitu? Aku gak mau, itu kamu kayak nggak ikhlas banget," ucap Naufal.


"Astagfirullah, padahal tadi ikhlas banget loh, kamu ngaco," kataku.


"Nggak, itu tadi nggak ikhlas. Aku maunya kamu ulangin lagi," perintah Naufal.


"Kamu mintanya gimana sih Mas? Ha?" tanyaku yang kesal dengannya.


"Gini loh Sayang, kalo mau nyium itu yang ikhlas lahir batin, senyum dulu jangan cemberut gitu, ayo dong senyum," kata Naufal.


Aku tersenyum padanya.


"Baik Bapak Naufal yang sangat sangat terhormat," kataku sedikit menekan.


Lalu aku mencium pipi Naufal.


"Yang lama," ujar Naufal.


"Eh apaan? Gak gak gak, gak mau," kataku dengan kesal.


"Kamu ngerjain aku ya Mas," tebakku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Loh loh, enggak lah Sayang, kan udah konsekuensinya kamu udah buat aku cemburu, jadi kamu harus membayarnya untuk memperbaiki mood aku," kata Naufal.


"Kan kamu udah senyum-senyum tadi, ya berarti udah," kataku membela diri.


"Huusst husst, ingat loh Sayang, itu tadi masih syarat pertama, yang kedua belum loh," kata Naufal dengan nada seolah-olah dia yang menang.


"Apa lagi syarat keduanya?" tanyaku.


"Emmmm......apa ya? Ada deh, lihat saja nanti," ucap Naufal yang semakin membuatku ingin menerkamnya.


"Mas, gak usah pake gitu-gituan lah, harus sportif dong," kataku.


"Kan aku udah sportif Sayang, kita kan udah sama-sama sportif emang," ujar Naufal.


"Terus syarat keduanya apa kalo emang kamu sportif," ucapku.


"Eemmmm......Jangan sekarang deh Sayang," ucapnya.


"Tau ah terserah kamu," kataku pasrah.


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2