Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 114 (Tamu Riana)


__ADS_3

"Gi, Dokter Naufal ngapain kesini?" bisik Riana.


Aku hanya diam padanya.


Riana dengan lantang menghampiri Naufal dan menyapanya.


"Dokter Naufal lama tidak bertemu," sapa Riana yang berdiri di hadapan Naufal.


Krik krik krik.


Naufal bingung dengan tingkah Riana ini.


"Agheem," Naufal hanya berdehem saja mendengar ucapan Riana.


Aku menghampiri mereka.


"Dokter Naufal ke....kenapa ke rumah teman saya, Gi...a? Ada perlu apa ya? At...atau ada janji sama Gia," tanya Riana yang sangat berani tetapi sedikit terbata-bata sambil melirikku.


"Say..," jawaban Naufal langsung terpotong olehku.


"Dokter Naufal suamiku Na," jawabku sambil menunduk di hadapannya.


Deggggg.


Riana serasa mendapat tamparan terhebat secara tidak langsung.


"Apa??!!" ucap Riana spontan sambil menutup mulutnya, menaikkan alisnya dengan kedua matanya melotot melihatku.


"Iii.....iya Na, suamiku yang kamu tanyakan adalah......adalah Dokter Naufal," ucapku lagi.


Riana setengah tidak percaya padaku, tapi memang begitulah kenyataannya.


"Serius Gi??!!" tanyanya lirih.


Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.


"Kok kamu gak bilang sih Gi, aku tengsin banget Gi, mati berdiri aku," ucapnya lirih.


"Aagheemm," Naufal kembali berdehem.


"Aku ke atas dulu ya Sayang," kata Naufal yang semakin membuat iri Riana.


"Sayang??!!!" ucap Riana sambil menoleh ke arahku dan Naufal.


"Iya....Mas," jawabku.


"Mas???!!" ucap Riana lagi.


Naufals sesekali tersenyum pada Riana dan dia berjalan menaiki anak tangga.


"Puyeng aku Gi," keluh Riana yang tiba-tiba merasa lemas di sekujur tubuhnya.


"Balik duduk dulu Na, sini Na," ajakku.


Kami kembali duduk seperti semula.


"Gi, kamu harus jelasin sama aku, sumpah, ini gimana sih Gi??!! Gimana caranya??! Kok bisa??!!! Oh My God........Mas??!!! Sayang??!! Haduuuuhhhh aku meleleh Gi," kata Riana.


"Jadi selama ini suami misterius kamu itu Dokter Naufal Gi??!!" tanya Riana.


"Iya Na," jawabku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Astagaah, ini aku nggak mimpi kan Gi??!!" tanyanya lagi.


Aku mencoba mencubit kedua pipinya.


"Aawwww," keluhnya.


"Tuh kan sakit, artinya kamu nggak mimpi," kataku.


"Oke, sekarang aku butuh penjelasan sama kamu, kamu harus ceritain dari awal sampe akhir sama aku," ucapnya.


"Naaa, kan kamu udah tau, jadi aku gak perlu cerita sama kamu," bantahku.


"Iiih enak aja, nggak aku nggak mau, aku loh Gi yang terpesona sama Dokter Naufal, bahkan kamua aja dulu sama sekali nggak meliriknya, eeeh malah kamu yang nikah sama orangnya," ejek Riana.


"Hehehem, namanya juga takdir Na," jawabku.


"Takdir dari mananya?? Pasti waktu selesai koas kalian pacaran ya," tebak Riana.


"Apaan sih Na? Enggak lah," kataku.


"Ya terus?? Kok bisa??! Sumpah loh Gi aku nggak nyangka, secara ya seorang Gia Azimaika yang pendiem dan malas ngomong ini bisa nikah sama seorang Dokter Naufal yang jiwa sosial tinggi Gi, kan beda banget sama kamu," kata Riana.


"Hehehe, jangan gitu lah Na, semua ini karena Allah, aku di jodohin sama beliau," ucapku.


"Whattt??!! Di jodohin sama beliau, ke...kenal dari mana Gi??!!" tanya Riana lagi.


"Jadi, dulu waktu kita libur koas, kan aku cerita sama kamu tuh kalo aku dapet hadiah dari Papa aku, terus aku pulang kan, di rumah aku di bilangin sama Mama sama Papaku kalo hadiahnyaa adalah seorang pria yang dijodohin sama aku, terus Dokter Naufal ini anaknya temen Papa aku, aku juga baru tau loh Na kalo Dokter Naufal anaknya temen Papa aku, eh waktu keluarga Dokter Naufal ke rumahku, mereka ngaku kalo emang sengaja nempatin aku koas disini biar lebih deket," kataku.


"Ooowww gitu, Ya Allah Gi, sumpah aku masih ragu buat percaya loh Gi, dunia sempit banget ya," ucap Riana.


"Terus terus Gi, berarti setelah libur itu kamu udah kenal deket dong sama Dokter Naufal?" tanya Riana.


"Iya Na," jawabku.


"Terus berarti cincin yang pernah kamu pake, yang waktu itu aku tanya kamu, itu dari Dokter Naufal Gi??" tanyanya lagi.


"Iya Na, maaf ya aku bohong sama kamu," kataku mengaku.


"Waduh waduh, hebat banget kamu Gi sama Dokter Naufal, bisa-bisanya kalo ketemu kayak orang yang gak kenal terus gak saling tertarik, eehh malah akhirnya nikah," ucap Riana.


"Jangan gitu lah Na," ucapku agak sedikit malu.


"Nikah kamu kapan Gi sama Dokter Naufal?" tanya Riana lagi.


"Setelah aku lulus koas Na," jawabku.


"Huumm tuh kan Gi aku bilang apa, Dokter Naufal itu cocok sama kamu, gitu dulu kamu nolak terus kalo aku bilang kayak gitu, padahal malah dijodohin," ejek Riana.


"Maka nya Gi, semenjak habis liburan Dokter Naufal tuh jadi kayak gimana gitu, apalagi waktu aku lihat kamu pingsan terus dengan cekatan beliau gendong kamu, so sweet banget Giiiii," kata Riana.


"Maaf ya Gi, kalo dulu aku buat kamu sakit hati gara-gara celotehku tiap ada Dokter Naufal, hehehe, kan aku nggak tau Gi kalo beliau di jodohin sama kamu, kamu juga gitu ketutup," kata Riana.


"Namanya juga di jodohin Na, takutnya nanti gimana-gimana, apalagi kamu tau sendiri kan Dokter Naufal kalo di rumah sakit kek gimana," kataku.


"Waaah, terus gimana itu Gi fans nya Dokter Naufal nikah sama murid koasnya," ucap Riana.


"Heemm, ya gitu Na," kataku.


"Na, dimakan loh jamuannya," kataku mengalihkan pembicaraan.


"Bentar Gi kita lama loh nggak cerita-cerita, eh sekalinya cerita aku syok banget tau ada pangeran di negeri dongeng dateng kesini, bahaha," ejek Riana lagi sambil menertawakan ku.


"Iiih Nana, apa sih," ucapku.

__ADS_1


"Untung ya Gi, aku bisa move on sama Dokter Naufal, kalo belum, sakit hati udah aku Gi, nggak-nggak becanda, hehehe," candaan Riana.


"Terus sekarang kamu gimana Na? Udah Nikah? Atau gimana?" tanyaku.


"Aku udah nikah lah Gi, malah udah punya anak 1, tapi nggak aku ajak kesini," jawabnya.


"Beneran Na? Ya Allah, suami kamu siapa? Rama nggak sih?" tebakku.


"Kok kamu tau Gi?" tanya Riana.


"Ya elah Na, aku udah tau dari dulu kali, kamu nya aja nggak peka," kataku.


"Aku kaget banget Gi waktu dia nyatain cinta sama aku, masih mikir-mikir ini beneran gak sih, kayak gitu tuh muka aku Gi, sumpah," ucap Riana dengan ekspresi terkejutnya.


Dan aku menertawakan nya.


"Akhirnya temenku nikah juga, sahabat jadi cinta nih ceritanya, xixixi," ejekku.


"Yeee kamu tuh Gi, Dokter koas jadi imam, weekk," ejek Riana ganti.


"Dulu aja ya Gi, aku selalu kesemsem sama Dokter Naufal, hampir tiap hari aku gini, Dokter Naufal..... Dokter Naufal, gitu kan kalo lagi ngrengek ke kamu," kata Riana.


Tiba-tiba Riana melihat Naufal yang sedang turun dari anak tangga.


"Uppss, ada orangnya Gi," ucap Riana lirih.


"Bentar ya Na, Mas Naufal kayaknya mau makan," kataku.


Aku berdiri menghampiri Naufal, aku berbicara sebentar dengannya.


Riana hanya bisa melihatku dari jauh, pasti Riana sedang bergetar hatinya saat Naufal mengelus dan tersenyum manis padaku.


Naufal berjalan ke arah Dapur dan aku kembali menghampiri Riana.


"Astagaaah, tau sikon Giiii, ada aku disiniiiiii," kata Riana dengan histeris.


"Hehehe kamu tetep aja Na kaya dulu gak ada yang berubah, alay nya tetep, hehehe nggak-nggak," kataku.


"Dulu aja cuman bisa diem-diem an sama beliau, sekarang aja udah bisa romantis-romantisan kayak gitu," ejek Riana lagi.


"Oiya Na, kamu kesini naik mobil sendiri?" tanyaku.


"Iya lah Gi," jawabnya.


"Kamu disini mau kemana Na sebenarnya?" tanyaku lagi.


"Aku kesini sebenarnya silaturahmi sama Ibu Kos ku dulu, Rama aku tinggal disana, aku kesini sendirian begitu tau alamat kamu disini," jawab Riana.


"Kenapa kamu nggak ngajak Rama kesini sekalian Na?" tanyaku.


"Kapan-kapan aja Gi, soalnya tadi itu baru aja sampe, aku mau ninggalin Ibu Kos kan nggak enak Gi, jadi Rama udah terlanjur dalem ngobrolnya sama Bapak Kos, hehehe," jawabnya.


"Harus di ajak kesini loh Na Rama, ya udah sekarang kita makan ayo Na," ajakku.


"Kita?? Makan Gi?? Sama?? Sama suami kamu?" tanya Riana.


Aku mengangguk an kepalaku padanya.


"Serius Gi kamu?" tanyanya lagi.


"Iya Na, emangnya kenapa? Kamu nggak mau?" tanyaku.


"Mau Gi mau, yaelah kapan lagi makan sama Dokter Naufal, hehehe," jawab Naufal.


"Gi, aku kayak gini kamu jangan cemburu loh, tenang aja cinta sama sayang aku itu cuma buat Rama seorang, hehehe," ucap Riana.


"Enggak lah Na, aku tau kamu kok kan dari dulu gini anaknya," kataku.


"Tau-tau kalo kamu milik Rama seorang," ejekku.


Riana tersenyum geli padaku.


***(Di Ruang Makan)


Riana bertingkah sangat anggun, aku ingin tertawa melihat kelakuannya.


Naufa duduk di sampingku dan Riana duduk di depanku.


Berbagai menu makanan disajikan oleh Bi Sarah di meja makan.


Riana sesekali tersenyum pada Naufal agar tidak terlihat kaku.


Aku mengambilkan nasi untuk Naufal.


"Sayang, aku mau sosis teriyaki nya," kata Naufal.


Segera ku ambilkan apa yang diinginkan oleh Naufal.


Riana hanya memperhatikan ku saja sedari tadi dia duduk.


"Na, dimakan," tuturku.


"Eeemmm....iii....iya Gi," jawabnya sungkan-sungkan.


"Udah nggak usah sungkan-sungkan," sahut Naufal sambil tersenyum pada Riana.


"Iya Na, kan ini rumah temen kamu sendiri," kataku.


Riana menyenggol kakiku dari bawah meja.


Naufal bersikap sangat romantis padaku.


"Ayo Na, makan," kataku.


Kami menikmati makan bersama sore itu.


Setelah selesai makan, Naufal pamit untuk ke atas dulu.


"Aku ke atas dulu ya," kata Naufal padaku.


"Iya Mas," jawabku.


"Saya ke atas dulu ya, silahkan di nikmati," canda Naufal.


Riana hanya menundukkan kepalanya saja.


Naufal berjalan pergi meninggalkan kami, saat sosok Naufal sudah menjauh dari kami, Riana langsung berpindah tempat duduk untuk duduk di sampingku.


"Gi, sumpah gilaaaaa paraaaah ini Gi!!!! Seriusan aku," ucap Riana dengan penuh ekspresi.


"Apa lagi Na?" tanyaku.


"Sumpah Gi beda banget sama di Rumah Sakit dulu, ini ramah banget beneran," ucapnya.


"Memang gitu Na Mas Naufal, sebenarnya orangnya ramah, cuman kan waktu itu ngajar kita, jadi ya harus pasang wajah serius, soalnya kalo masalah gituan pasti Mas Naufal gitu Na, serius-serius gitu," kataku.

__ADS_1


"Aduuuh, emang rejeki banget hari ini Gi," ucapnya.


"Aku bilangin Rama loh kamu, hehehe," ancamku dengan bercanda.


"Tetep dong, Rama seorang di hati aku," tepisnya.


Sudah lama kami berbincang-bincang, akhirnya adzan magrib pun berkumandang.


"Udah adzan Na, sholat disini sekalian ya," ajakku.


"Enggak Gi, aku sholat di kos an ku dulu aja, habis adzan ini aku pulang, nggak enak aku Gi," ucapnya.


"Ya Allah Na, nggak enak kenapa?? Kan ibadah, kewajiban, udah gak papa kita sholat sama-sama aja, sama Mas Naufal loh yang jadi imam," rayuku.


"Enggak Gi, aku balik aja, imamnya udah nungguin, hehehe," kata Riana.


"Ya udah deh, hehehe," ucapku.


Kami menunggu adzan magrib berkumandang, setelah adzans selesai Riana pamit untuk pulang.


Kami berjalan ke halaman depan rumah.


"Bentar Na, aku panggilin Mas Naufal ya, nggak enak nanti," kataku.


"Iya Gi," jawabnya.


Aku berjalan menaiki anak tangga untuk memanggil Naufal di Kamar.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, aku dan Naufal berjalan menuruni anak tangga.


"Loh kok pulang, nggak sekalian sholat sama-sama disini," kata Naufal.


"Emmmm enggak Dok, eh Pak," jawab Riana dengan terbata-bata.


"Hati-hati loh Na, udah malem gini," kataku.


"Iya Gi, aku pamit ya, Assalamu'alaikum," ucap Riana.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Naufal.


Riana berjalan masuk ke dalam mobilnya.


Tin....tin, suara klakson dari mobil Riana.


Setelah mobil Riana melaju keluar dari halaman Rumah, aku dan Naufal berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar.


***(Di Kamar)


Segera aku dan Naufal mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat magrib berdua.


Tak luma setelah sholat kami menyempatkan untuk mengaji berdua.


.


.


.


.


Selesai mengaji, aku berjalan masuk ke ruang ganti baju, lalu ku ambil koper di dalam almari Naufal.


Aku menyiapkan baju-baju yang akan kami bawa besok, karena Mas Naufal mengambil cuti 2 hari.


Naufal menyusulku merapikan baju.


"Sayang, besok kita berangkat jam 3 pagi aja ya," ucap Naufal yang duduk di sampingku.


"Loh nggak jadi malem ini Mas," ucapku.


"Enggak lah Sayang, kan kamu hamil tua," tutur Naufal.


"Oiya ya Mas, ya udah nanti Bibi aku kasih tau aja," kataku.


"Udah kok, udah aku kasih tau tadi waktu kamu ada tamu," kata Naufal.


"Oh ya udah kalo gitu," jawabku.


"Mas, tadi kamu inget nggak itu siapa?" tanyaku pada Naufal.


"Tadi?? Tamu kamu?" tanya Naufal balik.


"Iya, kamu inget nggak dulu waktu ngajar aku koas," kataku sambil melipat baju lalu ku masukkan dalam koper.


"Inget kok inget, itu kan yangs satu grup sama kamu kan, sama satunya lagi cowok," jawab Naufal.


"Kamu inget banget Mas, padahal udah berapa tau, xixixi," ucapku.


"Gimana nggak inget Gi, baru pertama kali loh murid koas berani nanyain umur sama status ke aku," kata Naufal.


Aku menertawakannya.


"Riana tuh emang gitu Mas anaknya tapia asik banget, kayaknya aku dulu udah pernah cerita sama kamu, kalo dia nge fans banget sama kamu, ya kan," kataku.


"Udah kayaknya Gi," ucap Naufal.


"Dia kan nggak tau kalo aku nikah sama kamu, jadi dia tadi kaget banget, waktu kamu pulang, kan dari tadi dia bahasnya kamu, eh malah kamu beneran dateng, hehehe, jadi dia tambah syok Mas," ucapku sambil tertawa mengingat kejadian tadi.


"Aku juga bingung mau jelasin dari mana dulu sama dia, haduh Nana," kataku.


"Pantesan Gi tadi dia bilang gini ke aku, Dokter Naufal ngapain kesin?? Gitu, wahahaha, kan emang suami kamu," kata Naufal.


"Dia kan belum tau Mas, jadi ketika aku jawab kamu suami aku, makin nggak percaya dia, terus apalagi tadi waktu kita makan, sempet-sempetnya dia bilang gini, kapan lagi makan sama Dokter Naufal, gitu, padahal udah punya suami loh Mas," ucapku.


"Bahahaha, kelihatan Gi dia asik anaknya, terus percaya diri banget, aku juga panik tadi, waktu dia nanya, dalam hati aku gini, kan ini rumah aku, terus kamu istriku, kenapa dia nanya aku ngapain disini, bingung kan aku Gi, wahahaha," ucap Naufal.


Aku dan Naufal saling bercerita tentang Riana, sampai adzan isya' pun berkumandang.


Bersambung......


jangan lupa like, comment, dan vote ya hehehe🖤


makasih untuk semuanya🙏


nantikan terus episode selanjutnya pasti bakalan ada baper-baperan lagi hehehe😁🙏

__ADS_1


__ADS_2