
Terlihat Dokter Irene berjalan menghampiri ke meja kami.
Di belakangnya di ikuti oleh Naufal.
“Itu Dokter Irene Dok,” kata suster.
“Kan belakangnya ada siapa itu Dok,” ejek Suster.
“Hehehe, Ya Allah Suster,” kataku.
Memanglah menghadapi anak berumur yang jauh lebih muda darikuu harus mengikuti alur mereka.
“Tuh kan Dok, banyak yang nyapa Dokter Naufal,” ucap Suster.
“Hehem, iya Sus, saya baru tau, beneran,” kataku.
Dokter Irene pun bergabung dengan kami, dan sepertinya
Naufal tidak mengetahui jika disini ada aku.
“Maaf ya jadi ngrepotin,” kata Dokter Irene yang duduk di
sebelahku.
“Nggak papa Dok,” sahutku dan Suster.
“Ayo makan,” ucap Dokter Irene.
Kami pun menikmati makan siang di kantin.
Separuh makananku sudah hampi habis, aku tidak melihat
Naufal lagi kantin.
“Loh, Mas Naufal mana ya,” gerutuku dalam hati.
“Apa tadi dia cuman lewat aja,” kataku.
Aku menoleh ke setiap sudut kantin, namun aku tak kunjung
menemukan Naufal.
“Nyari siapa Dok?” tanya Dokter Irene.
“Eemm…enggak Dok, nggak nyari siapa-siapa,” alasanku.
“Mau nambah makanan lagi Dok?” tanya Suster.
“Enggak Sus,” jawabku sambil tersenyum dengan kecut.
Kami melanjutkan kembali makan siang kami hingga habis.
.
.
.
.
“Alhamdulillah, kenyang,” kata suster.
Aku melihat jarum jam di jam tanganku.
“Kita balik ya, 10 menit lagi udah habis waktunya,” kataku.
“Iya Dok,” jawab mereka.
Aku berjalan kembali ke ruangan masing-masing, namun Si
suster tetap mengikutiku.
“Dokter tadi nyariin Dokter Naufal ya,” tebak suster.
“Emm…enggak Sus, enggak,” alasanku.
“Hehehm kirain Dok,” ucapnya.
Aku kembali melaksanakan pekerjaan siang hingga sore ini,
menangani pasien demi pasien.
.
.
.
.
.
Sore hari…..
Matahari sudah berada di ujung barat.
Untung saja pekerjaanku sudah beres semua, tinggal ku
bersihkan saja meja ini.
Tok…tok….tok…
“Silahkan masuk,” kataku sambil membawa tumpukan buku yang akan ku tat kembali di dalam rak.
Tiba-tiba, pandanganku kembali buram dan kepalaku sangat
pusing, aku hampir terjatuh, untung saja Naufal dengan cekatan menangkapku.
“Sayang,” panggilnya dengan panik.
Buku buku yang ku bawa hampir saja terjatuh.
“Aduh, pusing banget kepalaku Mas,” keluhku.
Naufal mengambil bukunya dariku, lalu menatanya di dalam
rak.
“Kamu dudukdulu Sayang, duduk,” tutur Naufal.
Aku duduk kembali di kursi putarku. Mengedipkan mataku berharap agar pandanganku terlihat jelas kembali.
“Kamu sakit Sayang?” tanya Naufal.
“Enggak Mas, cuman pusing aja,” jawabku.
“Dari kemaren loh kamu Sayang,” kata Naufal yang duduk
jongkok di depanku.
“Mungkin kurang darah Mas, kan aku lagi haid,” jawabku.
“Jadi udah biasa Mas kayak gini,” sambungku.
“Sayang….sayang,” ucapnya sambil meraih pipi kiriku.
“Udah Mas, ayo pulang,” ajakku.
“Kamu beneran udah nggak papa?” tanya Naufal.
“Nggak papa Mas, ya gini Mas aku,” tepisku.
“Ya udah ayo pulang, jangan lupa ke salon Mama,” kata
Naufal.
“Iya iya Mas,” jawabku.
Aku dan Naufal berjalan menuju parkiran.
***(Di Parkiran)
Aku langsung masuk ke dalam mobil Naufal, namun Naufal
berdiri di samping pintu mobil.
“Oh iya Mas, kenapa aku masuk mobil kamu, kan aku bawa mobil sendiri,” kataku.
“Nggak, kamu pulangnya harus samaaku, jadi kita pulang pake
mobil kamu, nanti biar mobil aku di bawa Bastian soalnya dia nggak bawa mobil,” kata Naufal.
“Nah sekarang Pak Bastiannya kemana Mas?” tanyaku.
“Bentar aku telfon Bastian, tadi katanya nunggu disini tapi kok nggak ada,” ucap Naufal.
Tak lama kemudian, setelah Naufal menelepon Pak Bastian, Pak Bastian pun langsung menemui kami.
“Lo dari mana Bas?” tanya Naufal.
“Dari ruangan Pak Anton bentar,” jawab Pak Bastian.
“Ya udah ini Lo bawa mobil Gue, Gue pake mobilnya Gia,” kata
Naufal sambil menyerahkan kunci mobil pada Pak Bastian.
“Nanti Gue balikin jam berapa Fal?” tanya Pak Bastian.
“Terserah Lo Bas, sesempatnya Lo, udah santai aja,” jawab
Naufal.
“Gue pulang duluan ya,” pamit Naufal.
“Mari Pak,” kataku.
Aku dan Naufal berjalan menuju tempat dimana mobilku
terparkir.
Mobil melaju untuk menjemput Abay.
“Mas, nanti ke salon Mama, akum au ngajakin Bibi,” kataku.
“Iya boleh Sayang, boleh banget,” ucapnya.
“Kenapa nggak dari dulu aja ya Sayang kalo kita ke salon
Mama ngajakin Bibi, kan Bibi nggak pernah ke tempat kayak gitu,” kata Naufal.
“Belum kepikiran Mas, takutnya Bibi nggak mau juga,” ucapku.
“Dari pada kamu sendirian kan Sayang,” kata Naufal.
“Berarti ini kamu minta yang berdua ya Sayang, aku telfon lagi kalo gitu,” ucap Naufal.
“Iya Mas,” jawabku.
Naufal menelepon karyawan di salon Mamanya.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sekolah Abay.
Abay yang melihat mobil kami berhenti, langsung berlari
masuk.
“Assalamu’alaikum Pa, MA,” kata Abay.
“Wa’alaikumsalam,” jawab kami.
“Gimana sekolahnya hari ini Nak?” tanya Naufal.
“Beres Pa, heheheh,” jawab Abay.
“Alhamdulillah,” ucap Naufal.
“Nak, habis ini Papa sama Mama ke salon Eyang, Abay mau
ikut?” tanyaku.
“Enggak Pa, Abay di rumah aja sama Bibi,” jawabnya.
“Bibi juga ikut Nak,” sahut Naufal.
“Ya udah Abay di rumah sama Pak Rusdi aja nggak papa,” jawab Abay.
__ADS_1
“Beneran Nak?” tanya Naufal lagi.
“Iya Pa, kan nanti Abay juga ngaji, terus malamnya harus
les,” ucapnya.
.
.
.
.
.
.
Sampainya di Rumah, Mobil berhenti di depan Rumah.
“Abay, kalo Abay turun nanti, Mama minta tolong panggilkan
Bibi ya Nak, Mama tunggu di mobil,” kataku.
“Iya Ma,” jawab Abay dan dia turun dari mobil.
Tak lama kemudian, Bi Sarah datang dan langsung masuk ke
dalam mobil.
“Bibi udah mandi ini??” tanyaku.
“Udah Mbak,” jawab Bi Sarah.
“Tapi Mbak, Dek Abay di rumah sendiri nggak papa,” kata Bi
Sarah.
“Nggak papa Bi, Abay sendiri malah yang bilang mau di rumah
aja sama Pak Rusdi,” kataku.
“Oh ya sudah Mbak kalo begitu,” ucap Bi Sarah.
Naufal kembali menancap gas mobilnya keluar Rumah.
Tin….tin….
Suara klakson dari mobil Naufal untuk Pak Joko.
“Mau ke salon Mama dulu ya Pak,” pamit Naufal.
“Iya Pak, monggo hati-hati,” jawab Pak Joko.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
“Sayang berkat doa kamu tadi, Alhamdulillah operasinya
lancar,” kata Naufal.
“Hehem, istri mana Mas yang tidak mendoakan suaminya, pasti
aku doain kamu,” kataku.
"Istriku romantis banget hari ini," goda Naufal.
Aku lupa jika dalam mobil ada Bi Sarah, dan aku bari ingat.
“Ooo Oow aku lupa ada Bi Sarah disini, aduh aku malu,”
gerutuku dalam hati.
“Haduh Mbak Bibi nanti takut bakalan diapain ya,” ucap Bi
Sarah.
“Nggak di apa-apain kok Bi, heheh tenang aja, cuman di pijat-pijat aja, pasti nanti badan Bibi jadi enak banget,” kataku.
“Bibi nggak pernah Mbak soalnya, jadi Bibi takut sekali,
maklum Mbak, Bibi dari kampung,” kata Bi sarah.
“Hehem sama saja Bi, orang tua Naufal dulu juga dari
kampung, Mama saya itu dari kampong Bi,” sahut Naufal.
“Terus nikah sama Papa, jadi ikut Papa disini Bi,” ucap
Naufal.
“Loh iya toh Mas? Bibi baru tau, tapi Mamanya Mas Naufal
kayak bukan dari orang desa Mas,” tepis Bi sarah.
“Iya Bi soalnya ketularan sama Papa, hehehm, terus sering di
ajak Papa meeting kemana-mana jadi harus menyesuaikan Bi,” ucap Naufal sambil fokus menyetir.
.
.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian, karena jalanan sama sekali tidak
macet, jadi kami sampai lebih cepat.
Mobil Naufal langsung belok masuk ke halaman salon.
“Mas, itu kan mobil Mamanya Noni,” ucapku.
“Iya Sayang, mungkin mereka kesini,” kata Naufal.
“Kok bisa pas ya Mas,” kataku heran.
“Pasti di dalem ada Mama juga Sayang,” kata NAufal.
“Kok bisa?” tanyaku.
“Iya lah Sayang, kalo ada Mama, pasti disini ada mereka,
Mesin mobil mati, kami turun dari sisi pintu yang berbeda.
“Ayo Bi sini,” ucapku sambil menggandeng tangan Bi Sarah.
Kami berjalan masuk, pintu di bukakan oleh dia karyawann di
salon itu.
“Sore Mas Naufal,” ucap semua karyawan disana.
“Sore,” jawab Naufal.
Lagi-lagi Koko langsung menghampiri Naufal.
“Mas Naufal………….” Panggilnya.
Koko langsung memeluk Naufal.
“Hay Mbak Gia,” ucap Koko.
“Ini satunya lagi siapa Mas?” tanya Koko pada Naufal.
“Ini Bi Sarah yang tinggal sama Naufal Ko,” jawab Naufal.
“Hay Bibi….” Kata Koko dengan luwes.
Bi Sarah bingung dengan sikap Koko yang aneh itu.
“Ini Koko Bi, orang yang di percaya Mama disini,” ucap
Naufal.
“Oh iya Mas, ada Mama, ada Jihan terus ada Mamanya Jihan
juga Mas,” ucap Koko.
“Iya Ko, tadi tau mobilnya di depan,” kata NAufal.
“Ini Mbak Gia sama Bi Sarah mau apa?? Hmm??” tanya Koko.
“Yang biasanya Ko, langsung antar aja kesana,” jawab Naufal.
Koko langsung memanggil salah satu karyawan disana.
“Menik……” panggilnya.
“Antar Mbak Gia di tempat yang di minta Mas Naufal tadi ya,”
kata Koko.
“Iya Ko,” jawab Menik.
“Mama dimana Ko?” tanya Naufal.
“Di belakang Mas, masih di Spa juga, barusan banget,” jawab
Koko.
“Ya udah kalo gitu Naufal nunggu disini aja,” ucap Naufal.
“Mas, jangan disini dong, temenin aku di belakang aja,”
bisikku.
“Ya udah Naufal nggak jadi disini Ko, Naufal ikut ke
belakang aja,” kata Naufal.
“Hehehm, aduuh Mbak Gia sudah sering kesini tapi masih
malu-malu aja, ini punya nya Mama sendiri loh Mbak, nggak usah malu,” ucap Koko.
Aku hanya tersenyum kecut padanya.
“Mari Mas Mbak saya antar,” kata Menik.
Menik membawa kami berjalan ke gedung belakang menuju
ruangan spa, Bi Sarah untuk pertama kalinya kesini sangat heran dan melihat setiap sisi ruangan disana.
“Luas banget ya Mbak ya ternyata yang bagian belakang,” kata Bi Sarah yang kagum dengan luasnya salon milik Mama Naufal.
“Desainnya juga bagus gini Mbak, kayak di Bali, hihihi,”
ucap Bi Sarah.
“Iya Bi, disini enak benget, udah dingin banget, terus
damai,” sahutku.
“Bibi kalo mau ikut terus kesini dua minggu sekali,” ajakku.
“Hehehem,” Bi Sarah hanya tersenyum menyeringai padaku.
“Iya Bi, kalo Gia kesini Bibi ikut aja nggak papa, Gia malah
seneng loh Bi ada yang diajak bicara di dalam,” sahut Naufal.
“Bibi nggak enak sama Mas Naufal sama Mbak Gia, hehehe,”
kata Bi Sarah.
“Nggak usah ngerasa nggak enak Bi, Bibi itu sudah Naufal
anggap seperti keluarga sendiri Bi, jadi Bibi biasa aja kalo sama Naufal sama Gia,” tutur Naufal.
Bi Sarah tetap saja malu padaku dan Naufal.
Akhirnya sampailah kita di gedung tempat biasanya aku
melakukan Spa.
“Sayang, aku ke tempat biasanya ya,” ucap Naufal.
“Iya Mas,” jawabku.
Naufal pun melangkah meninggalkanku, aku dan Bi Sarah
melangkah masuk.
__ADS_1
“Loh Mbak, Mas Naufal mau kemana tadi Mbak?” tanya Bi Sarah.
“Di ruangan sebelah Bi,” jawabku.
“Oh nggak ikut masuk Mbak,” ucap Bi Sarah dengan polos.
“Enggak lah Bi, hehem,” jawabku.
Mbak Menik memberikan kimono dan juga kemben pada kami.
“Ini ya Mbak, silahkan ganti dulu,” tuturnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, akhirnya aku selesai Spa dengan Bi
Sarah.
“Uuugghhmmm, enak banget ya Mbak, badan Bibi rasanya enteng banget Mbak,” ucap Bi Sarah.
“Masak sih Bi?” tanyaku.
“Iya Mbak, waduh enak banget kalo ini Mbak,”kata Bi Sarah
lagi yang memang baru pertama kali melakukan Spa seperti ini karena Bi Sarah terbiasa dengan pijat tradisional yang di andalkan dari kampungnya.
“Maka nya nanti kalo Gia ajak Bibi lagi, mau ya??” rayuku.
“Enggeh Mbak, enggeh,” jawab Bi Sarah dengan malu-malu.
Saat aku masuk ke ruangan yang biasanya di gunakan Naufal
untung menungguku, disana aku sudah melihat Mama, Noni dan Mamanya Noni.
“Aduh menantuku,” ucap Mama yang langsung memelukku dan ku
salami tangannya.
“Ya gini Gi, sering-sering ke salon Mama,” kata Mama.
“Gitu Ma, kalo Mama yang bilang pasti mau,” sahut Naufal
yang duduk di belakang Naufal.
“Hehehm, iya Ma,” jawabku sambil tersenyum pada Mama.
“Ayo sini Nak duduk dulu,” tutur Mama sambil membawaku dan
Bi Sarah untuk duduk di sebelahnya.
“Hai Gi,” sapa Mama Jihan.
“Iya Mbak,” jawabku.
“Kebetulan banget kumpul disini, padahal nggak janjian loh,”
ucap Mama.
“Tadi Mama ajak Noni sama Mamanya kesini Fal, buat
refreshing,” kata Mama.
Kami berbincang-bincang lumayan lama disana.
.
.
.
.
.
.
Hari juga sudah malam, setelah Naufal dan yang lainnya
sholat magrib bersama, kami pun pulang ke Rumah.
Mobil Mama Jihan melaju terlebih dahulu di banding dengan
mobil Naufal.
“Bibi kalo ngantuk tidur aja nggak papa Bi,” ucap Naufal
yang melihat mata Bi Sarah yang sudah merah.
Benar kata Naufal, di tengah perjalanan, Bi Sarah tertidur.
“Sayang, tadi Mama bilang sama aku kalo Noni sama Mamanya
habis berantem lagi,” kata Naufal.
“Maka nya Mama tadi ngajak mereka eh kebetulan ketemu kita, Mama tadi bilang katany Noni mau ajak main aku, tapi kan Mama tau Sayang nggak mau terlalu ngrepotin rumah tangga kita, jadi ya Mama yang ngajak mereka,” kata
Naufal.
“Ya nggak papa lah Mas kalo memang Noni pengen, kasihan
juga aku lihatnya,” jawabku.
“Iya Sayang, tapi kan Mama juga ngertiin kita banget,” tepis
Naufal.
“Tapi Mas,kan kita jadi ngrepotin Mama,” ujarku.
“Enggak Sayang, Mama kan memang udah niatnya kayak gitu,” kata Naufal.
“Mama itu nggak mau mereka ganggu aku sama kamu, ya Mama kasihan juga sebenarnya sama Noni dan Mamanya,” ucap Naufal.
“Tapi untuk sesekali ya nggak papa Mas, ajak main Noni nggak
papa kok,” ucapku.
“Huummm Sayang…..sayang,” gumam Naufal dalam hati.
“Mas, besok kamu kan udah mulai shift malam, aku besok
berangkat sendiri nggak papa kok,” kataku.
“Nggak Sayang, kamu nggak boleh berangkat sendiri,” tolak
Naufal.
“Kan tadi aku juga berangkat sendiri Mas,” tepiku.
“Tadi kan urgent Sayang, beda lah,” kata Naufal.
“Besok, aku tetep nganter kamu sama Abay, pulangnya juga aku yang jemput,” tuturnya.
“Mas nanti kamu kecapek an, mencing gini, yang nganter kamu, nanti yang jemput biar Pak Joko Mas,” kataku.
“Nggak mau Sayang, udah nggak papa, aku jemput kamu pokoknya, kamu nggak boleh sama siapa-siapa kecuali sama aku, titik,” ucap Naufal.
“Huufftt ya deh, aku ngalah,” ucapku.
“Aku gini karena khawatir Sayang, aku kurang percaya jika
kamu bersama dengan orang lain selain aku,” ucap Naufal membela diri.
“Iya Mas, iya aku paham banget dengan maksud baik suamiku
ini,” candaku sambil mengelus-elus tengkuknya.
Naufal meraih tanganku lalu menciumnya.
“Mas, ada Bibi loh,” gertakku.
Naufal menoleh ke belakang untuk melihat Bi Sarah.
“Mana?? Orangnya tidur kok Sayang, jangan coba-coba
mngelabuhi aku loh Sayang,” godanya.
“Emang aku apa Mas mengelabuhi kamu, xxixixixi,” kataku.
“Kalo kamu mengelabuhi aku, aku bisa berbuat lebih dari ini
loh Sayang,” ancam Naufal.
Ku Tarik tangan dari Naufal.
“Ngaco ah kamu Mas,” ucapku.
“Hehehem, takut kan,” ejek NAufal.
Kedua pipiku mulai memerah karena Naufal.
“Hehehm, kamu ini malu-malu Sayang, kayak tadi di salon
Mama, padahal mereka udah kenal kamu semua, kamu juga sering kesana, kok masih malu-malu aja,” ucap Naufal.
“Ya namanya pemalu Mas, udah bawa an dari lahir,” kataku
membela diri.
“Hehehehe, iya iya,” jawab Naufal.
“Besok nggak usah takut kalo tidur sendiri,” goda Naufal.
“Aku besok tidur sama Abay, yeeee,” tepisku.
“Eemmmm gitu ya kalo udah ada yang nemenin,” ucap Naufal.
“Kan aku kurang berani tidur sendiri Mas, dulu aja kalo kamu
tinggal ke luar negeri aku susah tidur, karena aku takut, aku mau ngrengek ke Bibi pasti malu Mas aku,” kataku.
“Kenapa malu?? Dulu aja kalo ngambek tidur di kamar Bibi
tanpa sepengetahuan aku, hehehm,” kata Naufal sambil menertawakanku.
“Aaaaaaa jangan di bahas, itu kan dulu,” ujarku.
“Memang bener kan Sayabf,” ejek Naufal lagi.
“Tau ah kamu, yang penting kan mulai besok aku tidur sama
Abay,” kataku sambil membuang muka keluar jendela.
“Ngambek yaaa,” goda Naufal sambil menyentuh daguku.
“Mas jangan gitu, nanti Bibi bangun, hussstttt,” tuturku.
“Nggak bakal denger Sayang, Bibi ke enakan tadi diSpa jadi
sekarang tidurnya udah mimpi kemana-mana,” kata ANufal.
“Iya ya Mas Bibi kan capek seharian kerja bersihin rumah,”
ucapku.
Tiba-tiba ponsel Naufal bergetar di dashboard mobil.
“Siapa itu Sayang?? Coba kamu lihat,” perintah Naufal.
Ku ambil ponsel Naufal dari dashboard.
“WA dari Pak Bastian Mas,” kataku.
“Kamu buka aja nggak papa, nggak ada yang aku sembunyiin
juga kok dari kamu,” ceplos Naufal.
Ku buka dan ku baca pesan dari Pak Bastian.
“Fal, Gue udah balikin mobil Lo barusan,” kataku membaca
pesan dari Pak Bastian.
“Kamu bales gini aja, iya Bas makasih ya,” ucap Naufal.
__ADS_1
Bersambung…..
Buat nemenin malam minggu nya hehehhehehe....