Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 101 (Happy Engagement Susi 2)


__ADS_3

Aku menggandeng Susi bersama Mama Susi.


Semua pandangan menatap pada kami yang sedang membawa Susi.


Aku fokus melihat suamiku yang tengah duduk di belakang Pak Bastian.


Susi duduk di antara Mama dan Papanya, aku dan Mamaku duduk di di belakang Susi.


Meskipun ini adalah acara Susi, tapi hatiku ikut deg deg an, seperti aku saja yang sedang melaksanakan pertunangan ini.


Apalagi dengan hati Susi yang sekarang duduk bertatap di depan Pak Bastian.


.


.


.


.


Awal acara telah dimulai.


Seorang MC menanyakan maksud dan tujuan rombongan dari pihak pria kemari.


Dengan berbagai pertanyaan yang di cetuskan oleh Sang MC.


Calon mempelai wanita(Susi) juga menjawabnya.


Mereka saling malu-malu.


Aku tersenyum-senyum sendiri dengan lontaran pertanyaan dari MC.


Naufal terus menatapku.


Aku merasa ada yang melihatku sedari tadi, spontan aku melihat ke arah Naufal.


Naufal memberi kode padaku untuk membuka ponselku.


Segera ku buka ponsel dan membaca pesan WA dari Naufal.


"Deg deg an campur seneng ya, peluk sini," Naufal.


Deg....deg....deg.


"Naufal apa-apaan sih, masih sempatnya di momen kayak gini gombalin aku," gumamku dalam hati yangs sebenarnya sangat senang di perlakukan Naufal seperti ini.


Aku tersenyum-senyum sendiri membawa isi pesan Naufal.


"Nak kenapa? Koks senyum-senyum sendiri?" tanya Mamaku dengan lirih.


"Eehhmm.....eng...enggak Ma, nggak papa, kebayang Gia sekarang ada di posisi Susi," jawabku.


Naufal melihatku yang sedang ngobrol dengan Mama.


Ponselku kembali bergetar. Ku baca pesan WA dari Naufal kembali.


"Ketauan Mama ya Sayang😁✌️, sorry," Naufal.


"Dasar Naufal nakal banget sih," kataku dalam hati.


Ku balas pesan WA dari Naufal.


"Awas ya Mas kamu nanti," Gia.


Ku tutup ponselku, Naufal tersenyum mengejek padaku.


"Memang ya Naufal ini, gak bisa nggak romantis," gerutuku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


Akhirnya tiba di pertengahan acara penyerahan seserahan dan bertukar cincin.


Susi berdiri di tengah dekorasi yang telah terpajang indah disana.


Mama dari Pak Bastian, berdiri di samping Susi dan akan memakai kan cincin di jari manis Susi.


Setelah cincin terpasang di jari manis Susi, semua tamu bertepuk tangan bahagia untuk mereka.


"Ya Allah Susi, aku senengggggg banget, rasa bahagiaku gak bisa di ungkapin Si, yah meskipun......kadang ada sedikit saja rasa tidak ikhlas jika kamu di khitbah oleh seorang pria, meskipun pria itu sangat lah baik, aku sebagai sahabatku, sedikit sangat merasa kehilangan, karena nanti kamu sudah sepenuhnya miliknya," kataku dalam hati sambil mataku berkaca-kaca.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, akhirnya tiba di akhir acara.


Seperti layaknya acara pertunangan pada umumnya, di penghujung acara terpanjat doa untuk sang mempelai dan juga tamu yang hadir disini.


Dilanjutkan dengan acara foto-foto dan juga makan-makan.


Naufal mengajakku untuk foto dengan Susi dan Pak Bastian.


"Weehh, udah tunangan nih," ejek Naufal pada Pak Bastian.


"Ciyee Susi," kataku sambil memeluknya.


"Cepetan Bas acara nikahannya jangan lama-lama," kata Naufal.


Susi tersenyum dan tersipu malu.


"Ya udah foto yuk," ajakku.


Kami foro berempat, aku di samping Susi dan Naufal di samping Pak Bastian.


"Gimana Bas? Deg-deg an gak," bisik Naufal lirih di telinga Pak Bastian.


"Ya iyalah, sumpah deg deg an nggak karuan Fal," bisik Pak Bastian di telinga Naufal.


Naufal menahan tawanya, aku dan Susi hanya memperhatikan sikap dua sahabat itu.


"Ya udah Fal, makan makan sana," ucap Pak Bastian.


"Si aku kesana dulu ya," kataku.


"Iya Gi," jawabku.


Aku dan Naufal duduk di tempat makan.


Naufal menyenggol halus lenganku.


"Tadi ngebaganyin kalo itu kamu ya yang lagi tunangan," bisik Naufal.


"Iiiiih apa sih, enggak, enggak kok," bantahku padahals sebenarnya iya.


"Aaah yang bohong Sayang? Udah ngaku aja, tadi aja kamu senyam senyum senyam senyum," kata Naufal dengan lirih.


"Iiiih enggak kok, pokoknya enggak Mas," kataku.


Saat Naufal akan berbisik di telingaku kembali, tiba-tiba Mamaku datang dan duduk di sampingku.


"Ayo Fal, dimakan kuenya," ucap Mamaku.


"Iya Ma," jawab Naufal.


"Fal, sekarang kamu jagain Gia harus lebih ekstra dong," ucap Mamaku.


"Hehemm, iya Ma, pasti," jawab Naufal setelah meneguk segelas minuman yang tersaji disana.


"Ya meskipun Gia anaknya manja, rewel, harus ini harus itu, tapi nurut banget anaknya," kata Mamaku.


"Ah Mama," rengekku.


"Hehehem, enggak Ma, Gia menurut kok setiap apa kata Naufal," ujar Naufal.


"Mama nggak sabar, kalo Gia lahiran," kata Mamaku sambil mengelus perutku.


"Iya Ma, Naufal juga," kata Naufal.


.


.


.


Kami berbincang-bincang bertiga hingga akhirnya aku dan Naufal berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


"Ma, Gia sama Mas Naufal pulang ya, ini udah jam 9 malam, belum nanti macetnya Ma," kataku.


"Iya Nak, pamitan dulu sama Mamanya Susi sama Susi juga loh," tutur Mamaku.


"Iya Ma," jawabku.


Aku dan Naufal beranjak dari kursi itu untuk menghampiri Susi dan Bastian yang sedang berbicara asik dengan Mama Susi.


Kami berjalan menghampiri mereka dan di dampingi oleh Mamaku.


"Tante, Gia pamit pulang," pamitku.


"Loh, kok pulang sih Gi," kata Susi.


"Udah malem Si," kataku.


"Pulang bareng rombongan Bastian aja Gi," tutur Mama Susi.


"Hehhee, soalnya besok Mas Naufal ada tugas pagi banget Tante," kataku.


"Oowwh gitu ya," ucap Mama Susi.


"Gia pamita ya Si, Tante, Pak," kataku sambil menyalami mereka dan tak lupa memeluk Susi dan Mamanya.


"Si jangan lupa pamit juga ke Papa kamu ya," kataku.


"Iya Gi, beliau masih nemenin tamunya," ucap Susi.


"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.


Aku, Naufal dan Mama berjalan keluar dari tenda.


Tepat di samping mobil, kami ganti berpamitan dengan Mama.


Aku memeluk Mamaku erat, meskipun air mata yang sebenarnya sudah memenuhi pelupuk mata karena sangat rindu sama Mama.


"Ma, Gia pulang ya," pamitku.


"Iya Nak, kamu sehat ya, Naufal juga, Mama minta tolong bener-bener jagain Gia," tutur Mamaku pada Naufal dengan nada merengek seperti orang yang ingin menangis.


"Hati hati juga, jangan ngebut Nak," tutur Mamaku lagi.


"Iya Ma, kalo gitu Naufal sama Gia pulang ya Ma, Assalamu'alaikum," salam kami.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mamaku.


Kami berjalan masuk ke dalam mobil, ku buka jendela kaca mobil, Naufal menyalakan mesin mobil.


"Daaaa Ma," kataku sambil melambaikan tangan pada Mama.


"Daaaa Nak," balas Mama sambil tersenyum pada kita.


Mobil kami melaju untuk pulang.


"Kamu tidur aja Sayang, pasti ngantuk," tutur Naufal.


"Enggak kok Mas," kataku.


"Hum, gitu kan, Sayanggggg.....Sekarang itu ada nyawa di rahim kamu, udah tidur gih," tuturnya padaku.


"Iya nanti kalo ketiduran aja," ucapku yang tidak ingin membiarkan dia menyetir sendirian.


Naufal mengelus-elus keningku.


Aku memaksakan untuk memejamkan mataku, entah kenapa terlintas dipikiranku tentang berkas tadi pagi.


"Pak Kevin," tiba-tiba ada suara yang berbisik lirih di telingaku.


Mataku terbelalak kembali terbuka lebar.


"Mas, tadi kamu denger?" tanyaku.


"Denger apa?" tanya Naufal padaku.


"Masak tadi kamu nggak denger?" tanyaku agak sedikit menekan.


"Enggak, emang ada apa sih Sayang," ucapnya.


"Eemmm, gak papa sih Mas, tadi kayak ada bisikan suara aja," kataku.


"Kok Naufal nggak denger sih, tadi apa ya?? Apa cuman firasatku aja," gumamku dalam hati.


"Sudah sudah lupain Gi, lupain," kataku dalam hati.


"Aku pengen cerita sama Naufal, tapi kalo dia marah gimana ya?" gerutuku dalam hati.


Mobil Naufal belok ke sebuah mushola.


"Sayang, kita sholat dulu ya," tuturnya.


"He'em," kataku sambil melepas seatbelt lalu turun dari mobil.


Aku berjalan terlebih dahulu ke mushola, sedangkan Naufal masih melepas sepatunya dalam mobil.


Aku berjalan sambil melamun.


"Sakit apa ya kira-kira? Apa aku tanya Suster aja, tapi.....,"


"Nggak ah, dari pada jadi masalah," kataku dalam hati.


Naufal menepuk pundakku dari belakang.


"Kenapa gak masuk-masuk Gi?" tanyanya.


"Eeemmm.....aku...aku nungguin kamu, iya nungguin kamu," jawabku.


Kami berjalan masuk berdua ke mushola.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, seusai melaksanakan sholat, kami kembali ke dalam mobil.


Braakk...


Naufal menutup pintu mobilnya, dan kembali menancap gas mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang.


"Sayang, tadi kamu ngebayangin yaa," ejek Naufal lagi.


"Enggak....enggak, aku biasa aja," tepisku.


"Udahlah Gi, nggak usah ngeles gitu, aku tau kok, sayangnya kita dulu gak pake acara gituan, coba aja pakek acara gituan, pasti kamu deg deg an, ya kan," tebaknya sambil tersenyum meringis padaku.


"Iiiih mungkin kamu juga deg deg an, ya kan?" ejekku balik.


"Enggak, kalo aku mah biasa aja," ujar Naufal.


"Hehem, ya jelas Naufal biasa aja, kan dia gak ada rasa sama sekali sama aku," gumamku dalam hati.


"Hehem, iya aku yang deg deg an kamu enggak Mas," ucapku sambil tersenyum padanya.


"Huuuu, nggak gitu Gi," kata Naufal sambil menerkam wajahku dengan tangannya.


"Hehem," balasku.


.


.


.


.


Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di rumah hampir pukul setengah 1 pagi.


***(Di Rumah)


Karena aku tertidur dan Naufal tak tega membangunkanku, jadi dia menggendongku untuk membawanya masuk ke rumah.


"Assalamu'alaikum," salam Naufal karena melihat Bi Sarah yang masih menonton TV bersama Pak Rusdi.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.


Bi Sarah segera menghampiri Naufal.


"Bi, minta tolong ambil barang-barang di dalam mobil, nanti untuk makanannya Bibi makan aja ya sama Pak Rusdi," tutur Naufal lalu membawaku ke kamar.


"Iya Mas," jawab Bi Sarah yang langsung mengemasi semua barang-barang yang ada di dalam mobil.

__ADS_1


***(Di Kamar)


Naufal merebahkanku di atas ranjang, aku merasakan tubuhku tergeletak di atas ranjang.


Dan aku pun terbangun.


"Uuughhmm," ku buka pelan kedua mataku.


Aku segera menarik tubuhku untuk bangun.


"Hoooaam, Mas, maaf ya jadi kamu gendong aku kesini," kataku sambil mengucek-ucek kedua mataku.


"Kata siapa? Bukan aku kok yang gendong kamu," ucap Naufal.


"Ha? Sumpah kamu?" tanyaku dengan nada syok dan berdiri di pinggir kasur.


Naufal tidak menjawabku, malah sibuk melepas kemejanya.


Aku tak terima, dan aku menghampirinya.


"Mas!!! Beneran kamu??!" tanyaku sambil membalik lengannya agar dia menghadapku.


Naufal tak kunjung menjawabnya, malah menaikkan satu sisi bibirnya.


"Pak Rusdi tadi yang gendong kamu, soalnya tadi kaki aku tiba-tiba sakit," ucapnya.


Aku kaget mendengar hal itu.


Deegggg....


"Pak Rusdi??!" kataku dalam hati yang sangat kesal dengan Naufal.


"Aaaaaah, gimana sih kamu Mas," kataku sambil kesal dan berjalan kesal untuk duduk di sofa.


"Kamu apa-apaan sih Mas, kok gini sama aku," kataku dengan amarahku.


Sedangkan air mata sudah memenuhi pelupuk mataku.


"Huhuhuhuuuu," suara tangisanku.


"Kamu gitu banget sama aku, tua gitu tadi kamu bangunin aku, biar aku jalan sendiri, nggak perlu Pak Rusdi yang gendong aku," kataku dengan isak tangisku.


Naufal sama sekali tidak meresponku.


Aku sangat kesal dengannya, lalu aku melangkahkan kaki ku untuk keluar dari kamar, Naufal menarik tanganku, tetapi aku menariknya kembali, dengan cekatan Naufal menarik tubuhku dan aku terjatuh dalam peluknya.


Aku tidak membalas pelukan Naufal.


"Husstt diem ya," ucapnya.


"Diem gimana? Harga diri Mas," kataku di pundaknya.


Naufal melepas pelukannya.


"Hust hust, hehehm," ejek Naufal sambil menatapku.


"Gitu aja terus Sayang, ngomel ngomel terus, hehehem," ucap Naufal yang semakin membuat hatiku geram.


"Aku, nggak mungkin nglakuin itu sama kamu, ya nggak rela lah aku Sayang," ucapnya.


"Kamu bohong sama aku," rengekku sambil menangis semakin meraung-raung seperti anak kecil yang sedang kehilang permennya.


"Heheheehemm, uuuuh gemes banget aku Gi sama kamu," kata Naufal sambil mencubit kedua pipiku.


"Kamu sih cengeng, jadi aku pengen ngerjain kamu terus Sayang, ya kali aja kamu di gendong Pak Rusdi, ya gak mungkin lah," kata Naufal.


"Huhuhuhu kamu tega ngerjain aku yang baru bangun tidur, udah ling lung malah di kerjain, huhuhu," keluhku.


Naufal menertawakanku dan mengelus kerudungku.


Tok....tok...tok,


Bi Sarah mengetuk pintu kamar kami, dan Naufal mempersilahkan Bi Sarah untuk masuk.


Bi Sarah kaget melihatku tengah menangis.


"Loh?? Mbak Gia kenapa Mas?" tanya Bi Sarah sambil meletakkan barang-barang ku di atas meja.


"Mas Naufal jahat Bi ngerjain Gia," rengekku mengadu pada Bi Sarah.


"Tadi Naufal bilang Bi, kalo yang gendong dia kesini bukan Naufal tapi Pak Rusdi," kata Naufal.


Bi Sarah malah ikut menertawakanku.


"Bibi kok ikut ngetawain Gia?" tanyaku.


"Hehehem, gak mungkin lah Mbak Gia, mana rela Mas Naufal membiarkan Mbak Gia berada di sisi pria lain," ucap Bi Sarah.


"Tuh kan Sayang, Bibi aja paham banget," kata Naufal.


"Orang Mbak Gia teledor nggak kunci kamar aja langsung di carikan dua satpam untuk jaga gerbang belakang, apa lagi di gendong Mbak, hehehem," kata Bi Sarah.


"Bener itu Bi, Gia nya aja nih Bi yang gak peka," ejek Naufal padaku di depan Bi Sarah.


"Hehehe, ya sudah Bibi turun ya Mbak, Mas," kata Bi Sarah.


"Iya Bi," jawab Naufal.


Bi Sarah berjalan keluar dari kamar kami.


Aku berjalan ke kamar mandi.


Naufal menarik tanganku kembali.


"Mau kemana hey?" ucap Naufal.


"Cuci muka sama gosok gigi," jawabku singkat.


"Hehehem,"


Naufal melepaskan tanganku.


"Dasar Gia, lucu banget kalo lagi ngambek gini," ucapnya dalam hati.


.


.


.


.


Setelah aku keluar dari kamar mandi, ku lihat Naufal yang sudah santai santai merebahkan tubuhnya di kasur.


Aku menyusulnya untuk tidur di sampingnya.


Aku tidur membelakangi Naufal karena masih agak kesal dengannya.


Naufal memelukkud dari belakang.


"Masih ngambek ya?" bisiknya di telingaku.


"Enggak," jawabku singkat.


"Enggak kok gitu kalo jawab suaminya," ucapnya yang terus mengerjaiku.


"Udah tidur sana Mas, ini udah hampir jam 2," tuturku.


"Hehehem, jangan ngambek dong Sayang, ya maaf kalo suamimu senang jika mengerjaimu, membuatmu kesal, membuatmu marah, ngambek, dan..," kata Naufal terbungkam oleh tanganku.


Ku cium pipi kanan dan kirinya.


"Huusst, diem, Gia sama baby nya mau bobo," kataku dengan gemas.


"Uuuusshh, itu loh Gi yang buat aku gemes sama kamu, gimana aku gak ngerjain kamu, gak bisa lah, gimana dong?" rengeknya.


"Huusst, Mas Naufal, diharap tidur ya, besok pagi sekali anda harus segera berangkat kerja," kataku dengan luwes.


Naufal menahan tawanya dengan membulatkan kedua pipinya.


"Jangan salahin aku, kalo aku udah gemes sama kamu, udah gak ada batas lagi diantara kita," bisiknya.


Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


Naufal membuka selimutku.


"Jangan gitu Sayang," rengeknya.


"Hadap sini," rengeknya lagi sambil membalikkan badanku.


"Maka nya kamu jangan bawel bawel," kataku.


"Kok aku?? Kok aku Sayang, yeee kamu lah," ucapnya sambil menyentil hidungku.


Bersambunggg......


"Huusst, udah, bobo ya," tuturku sambil menutup mulutnya dengan jari telunjukku.


"Baik Ibu Gia Azimaika," ucapnya.


Akhirnya kami tertidur pagi dini hari itu.

__ADS_1


__ADS_2