
Naufal rupanya memberi kode pada Abay.
"Mama, besok ya," kata Abay.
"Hummm, ya udah lah kalau Abay maunya gitu," ucapku.
"Abay janji, besok ya Ma," ucap Abay.
"Iya Nak, nggak papa," jawabku sambil tersenyum padanya.
Aku segera kembali ke kamar bersama Naufal.
***(Di Kamar)
"Mas, kamu curang tadi," ucapku.
"Loh, curang gimana aku Sayang?" tanya Naufal berpura-pura.
"Tadi kamu kasih kode-kode ke Abay," jawabku sambil memonyongkan bibirku.
"Kasih kode gimana Sayang?" tanyanya lagi.
"Tadi kamu kedip-kedipin dia Mas," jawabku.
"Kedip-kedipin gimana sih Sayang, tadi tuh aku kelilipan," alasan Naufal.
"Kelilipan apanya?? Orang tadi jelas-jelas kamu kedip-kedip ke Abay kok, itu nggak kelilipan itu Mas, kamu kasih kode sama dia biar aku tidur sama kamu," cerocosku.
"Hehehe," kata Naufal sambil berjalan menghampiriku lalu menyelipkan kedua tangannya ke pinggang ku.
Dia menyondongkan kepalanya di pundakku.
"Sayang.......Aku kan pengen sama kamu," rengeknya.
"Aku mau nepatin kata-kata aku tadi, setelah ulang tahun Abay aku bakalan," kata Naufal terpotong olehku karena aku langsung memeluknya erat dan dia semakin tersenyum di belakangku.
Aku tahu sebenarnya apa yang akan dilakukan Naufal padaku.
Dan ternyata dugaanku benar.
Naufal membawaku kedalam malamnya, mengulangi malam-malam yang pernah kita lalui berdua.
Dengan hembusan angin yang keluar dari AC semakin menyengat dingin di kulitku, mungkin Naufal juga merasakan hal yang sama sehingga dia semakin erat menggenggam tanganku.
"Apa yang aku katakan, tidak akan pernah main-main Sayang," bisiknya di telingaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, setelah shalat shubuh seperti biasa aku membantu Bi Sarah untuk memasak sedangkan Naufal melakukan aktivitas olahraga paginya di ruang mini gymnya.
Setelah selesai memasak, aku langsung kembali ke kamar dan menyiapkan kemeja, sepatu, jam tangan untuk Naufal suamiku tercinta.
Aku jadi teringat setiap malam yang diberikan oleh Naufal padaku.
Aku tersenyum-senyum sendiri saat mengambil kemejanya di dalam almari.
Tak kusangka ternyata Naufal berada di belakangku, dan dia meraih kemejanya terlebih dahulu.
Aku membalikkan badanku dan saat itulah Noval berada di depanku dengan jarak yang hanya kurang lebih 10 cm saja.
"Aaaa....emmm....se....sejak kapan kamu disini Mas?" tanyaku.
Naufal meraih tengkuk leherku.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri tadi?" tanyanya.
"Aku....aku nggak....nggak senyum-senyum kok tadi," jawabku.
"Hala, kamu bohong Sayang, aku loh lihat sendiri tadi kamu senyum-senyum terus nggak ngambil-ngambil baju aku, ya keburu aku ambil duluan," kata Naufal.
"Enggak, mana, kamu sendiri mungkin yang senyum-senyum sendiri," tepisku.
"Kamu tuh gitu Sayang, malu-malu kalo suruh ngaku," ucapnya sambil menyentil hidungku.
Naufal menatapku lama, dan semakin mendekatkan wajahnya padaku, aku memejamkan kedua mataku.
Tok....tok...tok.
"Ma......Mama," panggil Abay sambil mengetuk pintu kamarku.
Naufal langsung melepas tengkuk ku.
"Agheemm, kamu.....kamu buka dulu pintunya," ucap Naufal dengan canggung.
"Eemmm.....iya," jawabku juga canggung.
Aku berjalan membukakan pintu untuk Abay.
Glekk....
"Ma, kaos kaki Abay yang putih nggak ada," ucapnya.
"Mama taruh di laci biasanya Abay," jawabku.
"Iya Ma, Abay udah cari tadi, tapi nggak ada Ma," kata Abay lagi.
"Bentar, coba Mama cari," ucapku berjalan ke kamar Abay.
***(Di Kamar Abay)
Aku mencari-cari kaos kaki putih Abay di laci besar miliknya.
"Nah ini Abay, keselip di bawah sendiri," kataku.
"Yaah, padahal tadi Abay udah bongkar-bongkar yang di bawah juga Ma, eh Mama yang cari langsung ketemu, 3 pasang sekaligus, hehehe, maaf ya Ma," kata Abay yang berdiri di sampingku.
"Ini cepetan kamu pake, habis ini langsung turun sarapan ke bawah," tuturku.
"Iya Ma," jawabnya.
Aku kembali ke kamarku untuk bersiap-siap berangkat bekerja bersama suamiku.
.
.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian, aku, Naufal dan Abay turun bersama ke bawah.
Saat kami masih berjalan menuruni anak tangga. Dari atas tampak Bi Sarah, Pak Rusdi, Pak Joko, dan dua satpam muda Naufal tengah berdiri mengelilingi cake yang ada di atas meja. Tapis sepertinya Abay tidak mengetahui hal itu.
***(Di Ruang Tamu)
"Selamat ulang tahun Dek Abay," ucap surprise dari mereka.
Mereka bernyanyi bersorak untuk Abay.
"Wah, ini cake nya untuk Abay Bi," kata Abay melihat cake berbentuk iron man itu.
"Iya Dek Abay, " ucap Bi Sarah.
"Ayo salim dulu," tuturku.
Abay menyalami dan mencium satu per satu dari mereka.
Mereka menghaturkan berbagai doa untuk Abay.
"Aamiin," ucap mereka.
"Makasih ya semuanya," sahut Naufal.
__ADS_1
"Iya Pak, Iya Mas," jawab mereka bersahutan.
"Ya udah sekarang makan dulu ya," kata Nuafal.
Kami segera duduk dan langsung menyantap sarapan pagi.
"Ma, Abays sarapan cake nya aja ya," ucap Abay.
"Ya udah iya, di habisin ya," tuturku.
"Hehehe, ini besar Mama, nanti di taruh kulkas aja separuhnya," tepis Abay.
Saat kami tengah sarapan, ponselku berdering.
Segera ku terima video calld dari Mamaku. Dan ku arahkan ponselku pada Abay.
"Hallo Abay...... Assalamu'alaikum," ucap Mamaku.
"Wa'alaikumsalam Eyang," jawab Abay.
"Selamat ulang tahun Nak, aduh cucu Eyang, sehat sehat ya Nak," kata Mamaku.
Abay tersenyum pada Mamaku.
"Terima kasih Eyang, Aamiin," jawab Abay.
"Ini ada Om ini mau bicara sama Abay," kata Mamaku.
"Abayyy," panggil Johan.
"Minta hadiah apa ini?" tanya Johan.
"Hehehem, Abay pengen hot toys ironman mark Om," jawab Abay.
"Abay minta itu?" tanya Johan.
"Iya Om, kans skearang Om udah kerja," canda Abay
"Hehehe, enggak Om Abay bercanda, hadiahnya, Abay pengen Eyang sama Om kesini," ucap Abay.
"Okeyy, kalo itu mudah ya Ma, besok juga kita kesana ya Ma," kata Johan.
"Iya Abay, besok langsung Eyang kesana sama Om," sahut Mamaku.
"Hehe, makasih ya Om, Eyang," kata Abay.
Ponsel kembali pada genggamanku.
"Ini lagi sarapan Gi?" tanya Mamaku.
"Iya Ma," jawabku dan mengarahkan kameranya pada Bi Sarah dan lainnya.
"Wah rame ya Kak," kata Johan.
"Iya, maka nya kamu kesini, kamu nggak kerja?" tanyaku.
"Johan shift malam Kak, besok baru shift pagi," jawabnya.
"Johan sibuk banget Gi, jaranga ajak Mama keluar sekarang," canda Mamaku.
"Hehehe, masak Ma?? Jo gak boleh gitu lah," candaku.
"Ya Allah Kak, enggak Kak, Johan kalo keluar selalu sama Mama, nganterin Mama spa juga Johan Kak," jawab Johan membela diri.
"Ma, Johan nggak terima Ma," ucapku.
Kami tertawa lepas pagi itu.
"Naufal mana Gi?" tanya Mamaku.
"Ini Ma, disamping Gia," jawabku.
Aku mengarahkan kameranya ke arah Naufal. Naufal menyapa dan tersenyum pada Mamaku.
"Sarapan Ma," ucap Naufal.
"Iya Nak, Mama juga sarapan ini sama Johan sama Bibi," jawab Mamaku.
"Ya udah Gi, Mama tutup dulu, kamu lanjutin sarapan," kata Mamaku.
"Iya Ma, byee, Assalamu'alaikum," kataku.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mamaku.
.
.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, kami sampai di depan gerbang sekolah Abay.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa," ucap Abay setelah bersalaman dengan kami.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Naufal.
Abay turun dan keluar dari mobil, Naufal kembali melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat kami bekerja.
.
.
.
.
.
.
"Sayang, nanti pulang kerja, mampir ke Supermarket bentar ya beli beef," ajak Naufal.
"Iya Mas, nanti Susi sama Pak Bastian juga ke rumah," kataku.
"Iya, tadi Bastian juga WA aku Sayang, katanya gini, siapin makanan banyak di rumah Lo, nanti baru Gue kesana," ucap Naufal.
"Hehehem, dasar sahabat kamu Mas," ucapku.
***(Di Rumah Sakit)
Sampainya di Rumah Sakit. Aku berjalan beriringan dengan Naufal.
"Mas....kok nggak ada Dokter Irene ya," kataku.
"Iya, aku juga nggak lihat Sayang, biasanya kan kalo kita lewat ruangannya ada dia disana," jawab Naufal.
"Coba deh Mas kamu telfon resepsionis nya yang disana," tuturku.
"Iya Sayang bener kamu, bentar aku telfon bentar," kata Naufal langsung meraih ponsel di dalam sakunya.
Tut....tut....tut
"Selamat pagi Bapak Naufal, ada yang bisa saya bantu?" tanya Resepsionis.
"Eemmm ini saya mau tanya, soal tadi malem saya nelfon kamu buat kasih satu kamar untuk teman saya, saya minta tolong cek kamarnya sekarang, " kata Naufal.
"Maaf Pak tadi teman Bapak sudah pergi dari shubuh, bahkan mau membayarnya tapi saya bilang ini atas perintah Bapak, jadi teman Bapak langsung pergi," jawab Resepsionis tersebut.
"Oh gitu ya Mbak, ya udah makasih ya," ucap Naufal.
"Iya Pak sama-sama," ucap Resepsionis tersebut.
Naufal menutup dan menyimpan ponselnya kembali dalam saku.
"Gimana Mas kata Resepsionis nya?," tanya aku
"Katanya dia udah pergi dari subuh Sayang," jawab Naufal.
"Aduh kemana ya Mas ya Dokter Irene," tebakku.
"Ya mungkin dia pulang Sayang, bentar lagi juga di sini," ucap Naufal selalu positif thinking.
"Ya udah Mas, kalo gitu aku ke ruanganku ya," ucapku.
"Iya Sayang," jawab Naufal.
__ADS_1
Aku berjalan ke ruanganku dan Naufal berjalan ke ruangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari sudah semakin siang, tak terasa sudah beberapa jam Aku bekerja.
Saat aku tengah perjalanan untuk shalat, Aku mau lihat Dokter Irene yang juga berjalan menuju Mushola.
"Itu kan Dokter Irene," gumamku dalam hati.
"Iya bener itu Dokter Irene," gumamku lagi dalam hati yang semakin yakin bahwa yang kulihat adalah Dokter Irene.
Aku berlari menyusulnya laluku tepuk pundaknya.
"Dokter Irene," panggilku.
Dokter Irene menoleh padaku.
"Gia," jawabnya.
"Dokter Irene ke mana aja, dari tadi Saya nyariin Dokter Irene tapi nggak ada, terus Mas Naufal coba telepon Resepsionis di hotel, katanya Dokter Irene udah pergi dari shubuh," kataku.
"Oh iya Gi, maaf aku tadi nggak sempat titip pesan sama Resepsionis nya, aku tadi shubuh pulang Gi, aku sadar bahwa lari dari masalah bukanlah solusi terbaik," jawabnya.
"Makasih ya kamu udah bantu aku, setelah apa yang aku lakukan, aku jadi sadar, hehem," ucap Dokter Irene.
"Tapi Dokter Irene nggak papa kan??? Dokter Irene baik-baik saja kan?" tanya aku yang khawatir.
"Iya Gi, aku baik-baik aja, tenang aja aku nggak papa kok," jawabnya sambil tersenyum lagi padaku.
"Ya udah kalo gitu kita sholat dulu ya," ajakku.
"Oh iya Gi masalah gamis kamu, besok ya aku kembaliin, soalnya masih aku laundry," ucapnya.
"Iya Dok nggak papa," jawabku.
Aku dan Dokter Irene melangkah masuk ke dalam Mushola.
Saat kami sedang berwudhu, aku melihat Dokter Irene yang meneteskan air mata.
"Dok, Dokter Irene nggak papa?" tanyaku lagi.
"Aku udah lama Gi, nggak datang ke rumah Allah," jawabnya.
"Maksud Dokter?" tanyaku dengan polos.
"Iya Gi, Aku jarang sekali sholat bahkan tidak pernah," jawabnya.
"Malam suka clubbing, cari kesenangan, aku juga konsumsi alkohol, aku juga merokok Gi, tapi teman-temanku disini nggak ada yang tau Gi, kamu janji ya jangan bilang sama siapapun," kata Dokter Irene.
Aku kaget saat mendengar Dokter Irene mengkonsumsi alkohol dan merokok, meskipun saat pertama kali aku melihatnya dengan pakaian yang lumayan terbuka dan ketat, tapi aku tidak menilai buruk padanya.
"Kamu pasti kaget kan Gi," kata Dokter Irene.
"Eemmmm......ma...maaf Dok," kataku sangat gugup.
"Nggak papa Gi, cuman kamu yang tau ini, tapi satu Gi, aku nggak pernah lakuin perbuatan zina yang sangat fatal, sekalipun aku nggak pernah Gi," jawabnya.
"Yang penting sekarang Dokter Irene sudah mau kembali," tuturku.
"Mungkin ini karma ya Gi buat aku, aku yang dulu selalu ninggalin Allah, aku yang gak pernah peduli dengan-Nya, aku yang mencari kesenangan duniawi sehingga aku lupa atas semua perintah-Nya," ucap Dokter Irene.
"Aku sangat menyesal Gi, aku melakukan itu semua semata-mata aku ingin bahagia, aku ingin melupakan semua masalahku, hidup sendiri itu tidak enak Gi, apalagi tanpa seorang pendamping, Mamaku sakit dan terus mendesakku untuk segera menikah, sedangkan aku juga merasa kesepian Gi, aku juga ingin mempunyai seorang suami, tapi jodoh belum juga datang padaku, dan aku ketemu sama suamiku yang sekarang, lalu aku mencintainya, apa ini semua karma ya Gi," kata Dokter Irene.
"Dokter.......Udah ya, sekarang yang terpenting Dokter Irene ingin kembali, buka lembaran baru untuk Dokter Irene," kataku.
"Gi, Allah maafin aku nggak ya, setelah sekian lama dosa yang telah kuperbuat," ucap penyesalannya.
"Semua orang pasti punya dosa toke semua orang pasti punya salah manusia adalah tempat salah, Allah akan mengampuni hamba yang kembali pada-Nya," ucapku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai sholat, Aku berjalan beriringan dengan Dokter Irene.
Naufal memanggilku dari belakang.
"Ren, tadi shubuh Kamu kemana??" tanya Naufal.
"Aku tadi pulang Fal, aku kasihan sama suamiku kalau aku tinggal di rumah sendirian," jawabnya.
"Bagaimanapun juga, dia suamiku dan aku istrinya," kata Dokter Irene.
"Sekali lagi aku terima kasih ya Fal," ucap Dokter Irene.
"Iya Ren, udah santai aja," jawab Naufal.
"Ya udah kalau gitu aku duluan ya," kata Dokter Irene.
Dokter Irene berjalan meninggalkan aku dan Naufal.
"Sayang, makin hari kamu makin akrab sama Irene," ucap Naufal.
"Makin akrab gimana?? Mungkin karena dulu kan aku.....aku jarang ngobrol sama Dokter Irene, terus sekarang sering ngobrol jadi kelihatannya akrab," kataku.
"Ngobrol apa aja emangnya kamu sama Irene?" tanya Naufal.
"Ya biasa lah Mas, standar aja, masalah wanita Kamu kan cowok," candaku.
"Curhat curhat gitu Sayang," ejek Naufal.
"Ya kurang lebihnya seperti itu sih Mas," jawabku.
"Berarti kamu curhatin aku ke dia dong Sayang," kata Naufal.
"Ya enggak lah Mas, nggak mungkin, aku cuman jadi pendengar aja kok, aku enggak pernah curhat-curhatan gitu," tepisku.
"Sudah kuduga Sayang, pasti kamu gitu, jadi pendengar terus, diem mulu," kata Naufal sambil sedikit menertawakanku.
"Ya terus aku mau curhat tentang apa Mas, gak ada yang menarik dari cerita aku," kataku.
"Huuummm masak sih," ucap Naufal.
"Udah ah Mas, di lihatin orang-orang tuh," kataku.
Selama kami mengobrol berdua di sepanjang jalan, banyak orang yang menyapaku begitu juga menyapa Naufal.
Bersambung.......
__ADS_1