Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 248 (Suara itu dari Hati Kamu)


__ADS_3

***(Di Rumah Pak Bastian)


Pak Bastian dan Susi sama-sama menanyakan, tumben Mas Naufal tidak ikut bersamaku.


"Mas Naufal sibuk Pak," jawabku terpaksa membohongi mereka.


"Uuumm, gitu ya dia, saking sibuknya nggak bisa main ke rumahku," ucap Pak Bastian.


"Ya begitulah Mas orang sibuk, dingertiin dong temannya," sahut Susi.


Agar mereka tidak mengetahui betapa rapuh dan sakitanya hatiku, ku tebarkan senyumanku pada Pak Bastian dan Susi untuk meminimalisir kecurigaan mereka.


"Orang kemaren aja waktu kamu nyariin Si Naufal Gi, dia kan aku tanya, itu juga dia jawabnya sibuk sama kerjaan, gila ya tuh orang, kerjaan nggak di bawa mati, bilangin tuh Gi sama suami kamu, hahahah," ucap canda Pak Bastian.


"Jadi Mas Naufal waktu itu sibuk sama kerjaannya,"


"Aku yang berstatus sebagai istrinya saja tidak tahu menahu, malahan Pak Bastian yang tau kemana Mas Naufal kemaren, segitu marahnya Mas Naufal sama aku," gumamku dalam hati.


Guna untuk memecahkan pikiran kalutku, disini aku mencoba untuk bercanda tawa. Hingga tak terasa aku keasyikan disini.


Tepat pukul jam setengah 9 malam aku berpamitan untuk pulang, karena aku takut jika Mas Naufal semakin marah padaku.


"Aku pamit pulang ya Si,"


"Pamit ya Pak," ucapku pada sepasang suami istri itu.


"Iya Gi, hati-hati loh ya," ucap Pak Bastian.


"Mari Pak," kataku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Sampainya aku di rumah, entah kenapa aku malah merasa tidak nyaman dan malas berada di rumah ini.


"Huuufftt, sabar Gi, sabar,"


"Mas Naufal ini kecapek an, kamu haru ngertiin," ucapku dalam hati sambil pelan-pelan menaiki anak tangga.


Saat Di Kamar, aku tidak melihat Mas Naufal berada disana.


"Mas Naufal kemana lagi??"


"Mobilnya ada di bawah,"


"Handpone nya juga disini," kataku.


Aku mencoba turun untuk mencari Mas Naufal, dan saat aku menoleh ke Ruang Kerja Mas Naufal yang lampunya terang, menandakan bahwa Mas Naufal sedang ada disana.


"Pasti Mas Naufal lagi sibuk kerja lagi," gumamku sambil melirik ke arah Ruang Kerja Mas Naufal.


Aku pun mengembalikan langkahku menuju kamar kembali. Namun, di tengah-tengah anak tangga langkahku berhenti.


"Apa aku buatin teh aja ya buat Mas Naufal,"


"Siapa tau moodnya nanti jadi membaik," gumamku dalam hati.


"Tapi........nggak ah kan Mas Naufal marah banget sama aku, nanti Mas Naufal makin marah lagi,"


Ku lanjutkan kembali langkahku menaiki anak tangga. Namun, langkah itu berhenti kembali.


"Enggak, aku harus perbaiki semua ini,"


"Aku harus mengalah sama egoku, aku sama Mas Naufal nggak boleh larut-larut kayak gini, aku harus baik-baikin Mas Naufal,"


"Oke, aku harus buatin teh buat Mas Naufal,"


"Huuuffttt, Bismillah, semoga Mas Naufal udah nggak marah lagi sama aku," kataku.


Lalu aku berbalik turun ke Dapur untuk membuatkan Mas Naufal secangkir teh hangat.


***(Di Dapur)


Ku seduh teh dengan air hangat di cangkir putih berhiaskan motif gold itu.


"Pasti Mas Naufal bakalan maafin aku, hehem," gumamku dalam hati.


Dengan sangat berhati-hati, dengan tangan gemetar, dengan hati yang deg-degan karena takut akan feedback dari Mas Naufal. Ku paksa kaki ku untuk menemuinya. Ini effort ku agar hubungan kita membaik.


"Ya Allah, Bismillah, semoga aja mood Mas Naufal sedang bagus-bagusnya Ya Allah, Aamiin," ucapku.


***(Di Ruang Kerja Mas Naufal)


Tok...tok..tok...


"Boleh aku masuk?" tanyaku sambil membawa secangkir teh itu.


Lagi-lagi suara mulut Mas Naufal tetap bungkam, hanya kepalanya saja yang bergerak memberi isyarat padaku jika ia memperbolehkanku masuk.


"Lagi kerja ya Mas?" tanyaku.


"Ya," jawabnya cuek dan super duper jutek.


"Ini aku bawain teh buat kamu, diminum ya mumpung masih hangat," kataku dengan senyum manisku.


Ku letakkan secangkir teh itu di sebelah tangan Mas Naufal yang sedang bersandar di atas meja.


Aku mencoba membaik-baiki Mas Naufal.


"Mas capek ya? Jangan kerja berlarut-larut Mas, nanti kecapek an, sini aku pijitin ya," kataku.


"Nggak usah," jawabnya.


"Eeemmm mau minum tehnya," tawaranku.


Mas Naufal malah langsung menutup laptonya dan berdiri dari kursinya lalu melangkah pergi.


Ini semakin membuat aku kesal dan menbuat hatiku lelah akan sikapnya yang semakin hari semakin menyebalkan.


"Mas," panggilku yang membuat langkah Mas Naufal berhenti.


"Mas kenapa sih?"


"Kita nggak bisa loh Mas kayak gini terus,"


"Kemaren kan aku sudah bilang baik-baik sama Mas, kalo ada masalah diomongin baik-baik, nggak main pergi-pergian Mas, tapi Mas malah pergi kan, bukannya Mas Naufal sebelumnya selalu ngajarin aku kayak gitu ya Mas??" ucapku yang berdiri jauh dibelakangnya.


"Aku salah apa lagi? Aku salah karena waktu Mas pulang aku nggak di rumah? Aku salah aku bangun kesiangan, iya aku ngaku aku salah,"


"Aku minta maaf Mas, terus aku coba bicara baik-baik sama Mas, aku juga masih salah Mas?" tanyaku yang terengah-engah karena ingin menjerit dan menangis.

__ADS_1


Mas Naufal membalikkan badannya menghadapku dan berucap "Ya, kamu salah!"


Deeggggg..........


Tiga kata yang menyakiti hatiku sedalam-dalamnya.


Aku yakin ini bukan Mas Naufal, seratus persen aku yakin.


Setelah mengucapkan tiga kata itu, Mas Naufal pergi ke kamar dan aku tetap mengejarnya. Aku ingin menyelesaikan masalah ini segera.


***(Di Kamar)


Perselisihan itu tetap berlanjut.


"Mas, jangan gini dong,"


"Selesaikan dulu masalahnya, ini bukan Mas yang selama ini aku kenal,"


"Mas yang dulu itu baik, selalu mau masalahnya segera selesai, selalu manggil aku sayang, nggak pernah mau nyakitin aku, nggak mau buat aku nangis, orangnya sumringah, selalu ceria, selalu menghargai apa yang aku lakuin,"


"Tapi yang ini Mas??? Beda!!!!! Beda Mas, Mas berubah!! huhuhuhuhu," ucapku dengan isak tangisku.


"Mas malah diem kayak gini, selalu seperti ini, kenapa Mas??!!"


"Kenapa?? Ada yang salah sama aku yang nggak aku sadarin?? Yahhh, mohon maaf Mas, mohon-mohon aku sama kamu,"


"Itu kan masalah sepele Mas, kenapa harus dibesar-besarin kayak gini, sampe-sampe Mas nggak mau ngomong sama aku, huhuhuhu,"


"Kamu yang ini???!!!"


"Buat sedih aku tau nggak Mas, sakit hati aku," kataku dengan tegas meskipun menangis.


Mas Naufal hanya diam membisu di depanku, bahkan dia begitu tega melihatku menangis. Aku pun langsung berlari keluar kamar menuju kamarnya Abay.


*** (Di Kamar Abay)


Aku berharap Mas Naufal datang mengerjarku, tapi nyatanya tidak. Aku benar-benar kecewa padanya.


Aku mengatur rapat-rapat pintu kamar Abay, aku terjatuh di bawahnya. Kaki ku gemet ini udah nggak sebentar Mas, kita udah lama sama-samanya, huhuhuhu, kamu nggak pernah seperti ini Mas sama aku,"


"Ya Allah.......Huhuhuhuhuhu," aku menangis menjadi-jadi saat itu.


"Papaaaa.......Papaaa....," Hatiku terus memanggil-manggil Papaku.


"Mas Naufal jahat Pa sama Gia huhuhuhu,"


"Nggak tau kenapa sifatnya berubah Pa Huhuhuhu,"


Aku terus-terusan menangis, dan Mas Naufal juga tidak menemuiku disini.


"Pasti terjadi apa-apa saat Mas Naufal tugas disana, nggak mungkin tiba-tiba Mas Naufal berubah hanya karna kesalahan sepele yang aku buat, tapi apa??"


"Aku mencari tau dari siapa???"


"Mama?" Pikiranku tiba-tiba tertuju pada Mamaku.


"Iya bener Mama??" Gumamku dalam hati.


Aku jadi teringat saat aku ke Rumah Mama, Mama selalu saja menanyakan Mas Naufal. Tapi kan........itu bukan pertama kalinya Mama seperti itu. Dan nggak mungkin aku bilang ke Mama tentang sikap Mas Naufal. Aku nggak mau Mama sedih, apalagi jika keadaannya semakin memburuk.


"Ya Allah.....aku harus lakuin apa? Huhuhu," ucapku.


"Padahal sebelum berangkat kesana, kita baik-baik aja loh Mas, nggak ada aku buat kesalahan ataupun kamu,"


"Aku bakalan selalu tunggu kamu buat jelasin Mas, sebenarnya apa yang sedang terjadi, sampe kamu seperti ini ke aku, huhuhuhu,"


Aku berusaha berdiri, tubuhku merasakan dingin dari angin yang berhembus di jendela kamar Abay.


Aku berjalan ke arah angin itu dengan sengaja.


Lagi-lagi aku menerungi kesalahanku. Cara apalagi?


Tetes air mataku membasahi kedua pipiki.


Aku begitu sedih, jika ini harus terjadi.


Aku selalu berusaha sabar dan selalu ingin jika hubungan kita akan baik-baik saja.


Tapi kenapa kamu malah yang membuat semuanya hancur Mas? Tidak ada usaha sedikitpun dari mulut kamu untuk jelasin semua ke aku.


Huhuhuhuhuhu..........


***


Bulan, aku ingin memelukmu


Aku ingin menjerit keras karena pedih yang sedang ku alami sendirian.


Aku tidak tau harus berlari kemana lagi...


Aku hanya punya Mas Naufal dan Mama.


Sangat tidak mungkin jika Mamaku tau.


Tolong, maafkan aku.


Dengan banyak ketidaksempurnaanku menjadi pasanganmu.


Bulan, bisikkan pada suamiku kalimat itu.


Aku sangat mencintainya.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Semalaman, aku tidur sendirian di kamar Abay.


Tepat saat shubuh, aku terbangun.


"Uuuggghhh, astagfirullah hoooammm,"


Ku buka kedua mataku....aku baru sadar jika kamar ini bukan kamar Abay melainkan ini kamarku dan Mas Naufal.


"Loh.....kok aku bisa ada disini?? Kan semalam aku tidur di kamarnya Abay," kataku dalam hati.


Ku tengok sebelahku, yaaahh Mas Naufal yang sedang tidur pulas.


Lantas siapa yang membawaku kesini kalau bukan Mas Naufal. Aku semakin bingung dengan sikapnya. Padahal Mas Naufal sendiri yang nggak mau bicara sama aku, tapi Mas Naufal juga yang membawaku untuk tidur bersamanya.


Ku pandangin baik-baik wajah Mas Naufal shubuh itu tengah minimnya penerangan di kamar kami.

__ADS_1


Terlihata alis tebal dan bulu matanya yang lentik. Hidungnya yang menjulang tinggi dan langsing. Bibirnya yang agak tipis dan merah muda.


"Masss......aku bingung sama Mas?"


"Bahkan sudah tidak lagi memelukku saat kami sedang tidur,"


"Segitunya Mas sama aku, Mas sudah tidak lagi mendekapku," gumamku dalam hati.


Aku benar-benar tidak menyadari jika kala itu bibirku berada tepat di atas kening Mas Naufal, perlahan dan perlahan semakin dekat. Aku pun mencium keningnya dan air mataku menetes mengenai keningnya.


"Aku sangat mencintaimu Mas dengan sikap dan sifat kamu yang berubah ini," ucapku dalam hati.


Mas Naufal mulai resah dan bergerak-gerak karena mungkin merasakan ada yang aneh di keningnya yang basah. Dengan gerakan cepat aku langsung melepas bibirku dari keningnya.


Mas Naufal pun terbangun dan belum sadar sempurna. Langsung ku hapus air mataku dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Mas Naufal merasakan hal yanga aneh padaku, kenapa aku begitu terburu-buru saat turun dari ranjang ini. Kemduian ia pun meraba pelan-pelan keningnya.


"Kok basah?" ucap Mas Naufal.


"Apa semalam hujan ya?? Terus bocor?"


Mas Naufal pun menyalakan lampunya dan mengecek bantal serta plafon, sama sekali tidak ada air yang menetes ataupun bantal yang basah.


"Kok bisa cuman keningku aja yang basah??" tanya Mas Naufal yang semakin penasaran.


Dia pun mengambil ponselnya dan mengecek cctv.


Akhirnya, ulahku pund diketahui oleh Mas Naufal. Yaaah aku telah menciumnya.


"Gia cium aku,"


"Terus kenapa ada airnya?? Gia nangis?" Gumamnya dalam hati sambil memutar kembali video di cctv itu.


Selesai aku mandi, aku melakukan rutinitas seperti biasa kulakukan setiap paginya. Aku melihat Mas Naufal yang masih duduk di sofa, bisa-bisanya Mas Naufal tidak melihatku saat aku tengah melewatinya.


Dari pada aku berlama-lama berada di kamar ini malah membuatku sedih. Aku pun turun ke bawah untuk melakukan rutinitasku memasak bersama Bi Sarah.


***(Di Dapur)


Tumben belum ada Bi Sarah disana. Belum ada tanda-tanda Bi Sarah habis ke dapur juga. Wastafel juga masih kering.


Tidak ada bekas-bekas orang masak.


"Tumben jam segini Bibi kemana ya?" gumamku dalam hati.


Pak Rusdi datang mengambil kantong sampah di Dapur.


"Eh Mbak Gia," sapa Pak Rusdi.


"Hehehm iya Pak,"


"Pak, Bibi kemana ya? Kok belum muncul tumben," tanyaku.


"Oh iya saya lupa mau kasih tau Mbak Gia, Bibi sakit Mbak, demam terus katanya ngeluh kalau badannya sakit semua," jawab Pak Rusdi.


"Astahfirillah Bi Sarah.....sekarang Bibi masih tidur Pak?" tanyaku lagi.


"Masih Mbak," jawab Pak Rusdi.


"Ya sudah jangan di bangunin ya Pak," kataku.


"Baik Mbak,"


"Yaaaah ternyata Bibi sakit, aduuuuh kasihan Bibi, aku harus cek keadaan Bibi nanti,"


"Sekarang mending aku buatin bubur buat Bibi," gerutuku dalam hati.


Tanpa ditemani Bi Sarah, aku pun tetap semangat memasak untuk sarapan kami semua.


Aku khawatir dengan keadaan Bi Sarah, apalagi di usia Bi Sarah yang semakin menua. Tetapi masih mau dan ngotot kerja disini.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selesai memasak, aku ke kamar kembali dan mengambil peralatan yang biasa ku bawa saat dulu menjadi Dokter.


Aku lupa menaruhnya dimana?? Aku mencari-cari di alamari dan di laci. Mas Naufal sepertinya memperhatikanku dari belakang. Namun Mas Naufal sama sekali tidak bertanya padaku.


Apakah ada yang sedang aku cari??


Atau ada yang bisa aku bantu?


Tanpa bantuan Mas Naufal aku pun menemukan stetoskop dan tensimeter.


"Nah, akhirnya dapet," kataku lalu pergi dan segera menemui Bi Sarah di kamarnya.


Sedangkan Mas Naufal sebenarnya kepo dengan tingkahku yang membawa stetoskop dan tensimeterku.


"Gia kenapa bawa itu semua? Buat siapa?" Gumamnya dalam hati.


Akhirnya Mas Naufal pun mengikutiku.


Dengan membawa bubur serta peralatanku, aku berjalan pelan-pelan ke kamar Bi Sarah.


***(Di Kamar Bi Sarah)


"Bi, bangun Bi," kataku.


Badan Bi Sarah sangat panas dan nafasnya pun terasa panas.


"Eehhmm, Mbak Gia," ucap Bi Sarah.


"Udah udah.....Bibi tidur aja, Bibi sakit kan,"


"Biar Gia yang periksa Bibi ya," kataku.


Mas Naufal berdiri memperhatikanku dari belakang tanpa sepengetahuanku.


"Ternyata Bibi yang sakit," gumam dalam hati Mas Naufal.


Setelah aku mengecek tekanan darah dan denyut jantung Bi Sarah yang normal. Mas Naufal langsung mengarahkan tangannya di kening Bi Sarah. Sehingga menjadikan wajah kami saling berdekatan. Apalagi saat kami saling menatap, kira-kira jaraknya hanya 5cm saja.


Deg...deg....deg...deg.....


Aku mendengar degupan jantung Mas Naufal.


Mas Naufal menatap kedua mataku kuat-kuat.


Bersambung.........


Jangan lupa selalu tungguin episode berikutnya


daaannn pastinya jangan lupa kasih like, komen dan vote nya yaaaa


terimakasih semuanya🙏

__ADS_1


Terimakasih ya atas support kalian


Disini Author insya'Allah akan memberikan cerita terbaik yang selalu kalian nantikan.


__ADS_2