
Keesokan harinya.
Aku sudah rapi dan menyiapkan makanan dengan Bi Sarah untu kami bawa ke meja makan.
Papa, Mama, Abay dan Naufal turun ke bawah bersamaan.
***(Di Ruang Makan)
“Pagi Ma, Pa, Mas,” sapaku.
“Pagiiiii,” jawab Mama dan Papaku yang rupanya sangat sumringah dan bahagia.
Mereka langsung mengambil tempat duduk mereka masing-maasing.
“Kamu ini yang masak??” tanya Papaku.
“Iya dong Pa, tapi di bantu sih sama Bibi,” jawabku.
“Pasti enak kok Pa, hehehe,” kataku memuji makanan buatanku sendiri.
Semua sudah berkumpul di Ruang Makan.
Saatnya kami semua sarapan pagi dan memulai aktivitas kami.
Papa dan Mamaku memuji makanan yang ku buatkan untuk mereka semua sarapan.
“Jago sekarang masaknya,” puji Papaku.
“Hehehe, iya lah Pa,” jawabku.
“Papa nanti di jemput jam berapa??” tanyaku.
“Agak siangan kayaknya, ya Ma ya,” jawab Papaku.
“Nggak jadi jam 10??” tanyaku lagi.
“Enggak kayaknya Nak,” jawab Papaku.
Setelah selesai makan, aku berpamitan pada Mama dan Papaku, karena nanti mereka harus pulang.
“Ma, nanti Gia nggak bisa pamitan sama Mama sama Papa, jadi pamitnya sekarang ya Ma, Hehehem,” kataku.
“Iya nggak papa,” jawab Mamaku.
Aku menyalami, mencium dan memeluk Papa dan Mamaku.
“Mama sama Papa sehat-sehat ya,” kata Naufal.
“Iya Fal, kamu juga, sama anak kamu juga, semuanya sehat,” jawab Papaku.
Aku dan Naufal masuk ke dalam mobil.
“Assalamu’alaikum,” ucap salamku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.
Ku lambaikan tanganku untuk mereka.
Naufal melajukan mobilnya menuju tempat kita bekerja.
“Uuuuggghhhmmm,”
“Kenapa?? Masih kurang liburannya??” tanya Naufal.
“Hu’uum,” jawabku dengan manja sambilmenganggukkan kepalaku.
“Uuuuhhh Sayang….” ucap Naufal sambil menarik tengkukku dan
mengelus-elus kepalaku.
“Ya nanti kita liburan lagi yaaaa,” ucap Naufal.
“Nanti kapan Mas??? Nanti nya kamu itu pasti tahun depan,” jawabku.
“Hehehem, Sayanggggg jangan gitu,” ujar Naufal.
“Kan kamu sibuk banget, jadi ya aku maklumin lah, nggak papa, nnti kalo waktunya pasti bisa sendiri kok tanpa di rencanain,” kataku.
“Aduuuh baiknya istriku, geser sini bentar,” perintah Naufal.
“Apa??’ tanyaku smabil menggeser sedikit badanku.
Naufal menarik kepalaku dan mencium keningku.
“Masssss…..iiiiihhh kamu, kalo nabrak gimana tadi???”gumamku.
“Hehehehe, enggak-enggak Sayang,” jawab Naufal.
“Kamu ih bahaya tau Mas,” gerutuku.
“Kan nggak kenapa-napa ini Sayang, Ya Allah,” ujarnya.
“Lain kali jangan gitu loh, bilang dulu, biar aku siap-siap,” candaku sambil tersenyum-senyum padanya.
“Hehehehem, dasar kamu, bisa-bisa nya bilang gitu,” kata Naufal.
“Salahnya kamu, di jalan juga masih aja mencari kesempatan,” ejekku.
“Iya deh aku salah kok Sayang, aku salah,” ucap Naufal.
Kami terus bercanda tawa di dalam mobil berdua bak anak
muda.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudaian, kami sampai di Rumah Sakit.
***(Di Rumah Sakit)
Sudah tampak Pak Bastian menunggu kami di samping mobilnya dan melihat terus ke arah mobil kami yang akan di parkirkan.
“Tuh lihat Bastian Sayang, Hahahaha masih pagi juga, pasti nungguin aku itu,” ucap Naufal.
“Heheheem, iya kayaknya itu Mas,” jawabku.
Mobil kami terparkir bersebelahan dengan Pak Bastian.
Naufal tidak langsung turun dari mobil, dia membuka kaca mobilnya.
“Woooiii ngapain Lo kayak gini??? Nunggu siapa??” tanya Naufal.
“Nunggu Sus?? Nggak disini Bro, Hahaha,” ejek Naufal.
Pak Bastian hanya menatap Naufal tajam sambil melipat tangannya, Naufal pun turun dari mobil.
“Wooiii, jangan diem aja dong, kayak patung aja Lo, Hahaha, ada apa sih??" tanya Naufal.
Aku hanya berdiri dan diam di samping Naufal.
“Lo Gillllaaaa fal, bener-bener gilaaa,” kata Pak Bastian yang malah di tertawakan oleh NAufal.
__ADS_1
“Hahahaha, apa sih Lo tiba-tiba ngatain Gue gitu,” tanya Naufal.
“Lo ninggal Gue selama 3 hari Fal, Lo paraaahh wah….ngehajar Gue ya Lo,” kata Pak Bastian.
“Ngehajar apa sih?? Aahahahaha,” tanya Naufal lagi.
“Tiga hari Gue sibuk banget Fal, gara-gara Lo tinggalin, nyiksa Gue Lo Falllll, bener-bener nih Gi istri kamu,” aduan Pak Bastian.
Aku hanya tersenyum membalasnya.
“Kan Gue udah serahin ke rekan Gue,” jawab Naufal.
“Iya tapi kan setengahnya di Gue Naufallllll, dasar ya Lo,” kata Pak Bastian.
“Hahahaha, biar Lo ngerasain apa yang Gue rasain Bas, katanya sohib, hihihihi,” ujar Naufal.
“Paraahhh Gi suami kamu,” kata Pak Bastian.
“Udah jangan ngomong mulu, kerja Bas kerja,” ucap Naufal.
Naufal merangkul pundak Pak Bastian, dan mereka tertawa berdua.
Aku berjalan di belakang mereka.
“Gue gak bisa bayangin jadi Lo gimana Fal??” ucap Pak Bastian.
“Maka nya biar Lo juga ngerasain, hahaha, udah tau kan rasanya,” kata Pak Bastian.
“Kok Lo betah sih Gi sama orang macam ini,” ejek Pak Bastian.
“Betah lah, buktinya kita nikah, buktinya kita punya anak satu, yeeee,” jawab Naufal yang tidak terima.
“Tapi kamu tetep diperhatiin kan Gi??? Kalo nggak??? Ngambek aja Gi,” ucap Pak Bastian.
“Hehehem,” lagi-lagi hanya senyuman yang ku balaskan pada Pak Bastian.
“Lo jangan kompor Bas, istri Gue aman-aman aja kok,” sahut Naufal.
“Siapa yang kompor, Lo pernah nanya ke istri Lo nggak??? Aku sih cuman menyampaikan aja, awas belakangan nanti efeknya, hahaha,” ujar Pak Bastian.
“Eemm…..Mas, aku ke ruanganku duluan ya, udah di tunggu Suster Andini,” ucapku.
“Iya Sayang, jangan dengerin omongannya Bastian ya,” teriak Naufal.
Aku sambil berbalik berjalan dan tersenyum padanya.
“Mulut Lo Bas Bas, Astagfirullah sabar sabar,” ucap Naufal sambil mengelus-elus dadanya.
“Bener kan Gue, ngomongin kenyantaan kok, hahahaha, Lo sih, gimana enak Bapak Naufal liburan nya??” tanya Pak Bastian.
“Itu kan demi anak Gue Bas, sesibuk-sibuknya Gue, tapi harus ada waktu buat keluarga Gue,” jawab Naufal.
“Eeeemmm…..gitu ya, beneran gitu???” ejek Pak Bastian sambil menarik sudut bibirnya ke bawah seperti bulan sabit condong ke bawah.
“Resek Lo Bas,” kata Naufal.
Pak Bastian terus saja menertawakan Naufal.
Aku yang sedari tadi sudah di tunggu Suster Andini dengan
cepat menghampirinya.
***(Di Ruanganku)
Suster Andini sudah duduk-duduk disana.
“Pagi Sus, maaf ya saya lupa,” kataku.
“Pagi Dok, nggak papa Dok,” jawab Suster Andini.
Ku letakkan tasku dank u pakai jas Dokterku lalu aku duduk
“Gimana Dok liburannya??? Menyenangkan??” tanya Suster
Andini.
“Alhamdulillah sangat snagat memuaskan dan sangat
menenangkan hehehehe,” jawabku.
“Puas nggak Dok??” tanya Suster Andini lagi.
“Pastinya puas dong Sus, hehehem, ayo kita mulai, apa dulu
ini??’ tanyaku.
“Kemaren saya selesai sampai ini Dok, kemaren kan digantikan
Dokter Irene, jadi ya belum selesai, seharusnya kalo sama Dokter pasti sekarang
udah selesai,” ujar Suster Andini.
“Hehehem, nggak papa, sama siapa aja pasti sama aja, saya
juga tidak lebih baik dari mereka kok Sus,” ucapku.
“Huuummm, tiga hari di tinggal Dokter, saya ke kantin
sendiri an, sholat sendirian,” keluh Suster Andini.
“Kenapa sendiri?? Bukan nya berjama’ah Sus??’ tanyaku sambil
mengernyitkan kedua alisku.
“Maksud saya Dok, biasanya kan kita jalan berdua nih Dok,
lah ini saya sendirian, nggak enak nggak ada yang diajak ngobrol, di kantin
juga gitu, saya cepet-cepet makan nya,” ucap Suster Andini menceritakan dirinya
saat tidak ada aku.
“Uuuummmmm…..kasihan banget, memangnya yang lain kemana
Sus?? Kana da tuh temen Suster yang lain,” ujarku.
“Yang lain datang bulan Dok, jadi nggak sholat, terus mager
mau ke kantin, masak datang bulan barengan Dok mereka berdua, hehehem,”
jawabnya.
“Hehehem, Suster ini bisa aja, siapa tau memang beneran Sus,
kan bisa aja, aaahh Suster,” kataku.
“Udah balik fokus kesini lagi Sus,” sambungku.
Kami fokus membahas tentang pekerjaan kami.
.
.
.
Hanya sebentar kami membahas hal itu, kami harus kembali
__ADS_1
bekerja mennagani pasien-pasien yang setiap harinya menunggu kami.
Aku dan Suster Andini berjalan menuju sebuah ruangan yang
dipenuhi oleh para pasien.
“Kemaren nih Dok, pada nanya in Dokter, kan kalo pagi,
waktunya Dokter yang meriksa kan, mereka pada tanya tuh,” kata Suster Andini.
“KAn pagi sudah ada Dokter Irene,” jawabku.
“Iya Dok, tapi mereka tetap mencari Dokter,” ucap Suster
Andini.
“Nanti kalo Dokter masuk, pasti mereka pada nanyain, abis
dari pada Dok, gitu Dok, pasti itu, soalnya kemaren saya nggak jawab, Dokter
Irene juga nggak jawab, kan Dokter Irene nggak tau perginya kemana,” sambung
Suster Andini.
Aku masuk menemui mereka semua.
“Pagi pagi….” Sapaku pada mereka semua.
“Pagi Dokter,” jawab mereka dengan serentak.
“Dokter, kemaren kemaren, sudah 3 hari yang memeriksa kita
bukan Dokter??” tanya mereka.
“Ehehem, saya masih ambil cuti untuk anak saya,” jawabku
sambil tersenyum hangat pada mereka.
Aku dan Suster Andini memeriksa satu per satu dari mereka.
Banyak yang memberi pertanyaan yang sama padaku, hingga ke
ruangan-ruangan berikutnya, pertanyaan tetap sama.
“Tuh kan Dok, saya bilang juga apa, hehehem, banyak yang
nanya-nanya kan,” kata Suster Andini.
“Hehehem, iya juga, Suster bener,” jawabku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari sudah semakin siang, adzan dhuhur pun berkumandang.
Aku sekelebat melihat Naufal sedang terburu-buru langkahnya.
Namun aku pergi ke Mushola bersama dengan Suster Andini.
“Dokter Naufal tadi Dok,” ucap Suster Andini.
“Hehehem iya,” jawabku.
“Buru-buru banget,” ucap Suster Andini.
“Mungkin ada yang mendadak kali Sus,” ujarku.
Ku percepat langkahku dengan Suster Andini untuk menuju ke
Mushola.
Sampai di Mushola, kami langsung bergegas mengambil air
wudhu dan sholat bersama-sama disana..
.
.
.
.
.
Setelah aku sholat, dan memakai kaos kaki ku kembali di
depan Mushola, aku baru melihat Naufal berjalan ke arah ku.
“Mas, tumben nggak ikut jama’ah??” tanyaku.
“Iya tadi ada urusan dadakan bentar,” jawabnya.
“Eeemmm, pantesan kamu buru-buru banget tadi aku lihat,”
ucapku.
“Urusan apa sih Mas??’ tanyaku lagi.
“Ada Sayang tadi,” ceplos Naufal memanggilku sebutan Sayang
di depan Suster Andini, auto dia senang.
“Mmm…..ya udah aku balik,” ucapku.
Aku melangkah meninggalkan Naufal.
“Heeemmm, nggak jadi panas nih Dok, padahal matahari nya
terik loh, hehehe,” ejek Suster Andini.
“Heheheehm, Suster apa sih??” tanyaku.
“Panas panas gini ada yang manggil Sayang, ehem, ciye ciye,”
ejek Suster Andini.
“Nanti kalo saya nikah pasti gitu nggak ya Dok,” kata Suster
Andini.
“Pasti lah Sus, keharmonisan kan salah satu kunci nya,”
jawabku.
__ADS_1
Bersambung......