Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 138 (Korban Kecelakaan)


__ADS_3

"Aduh kenapa sih tadi aku harus nyuruh Gia pakai ngambil buku agenda ku segala," gerutunya terus menerus.


Bisa bener-bener malu aku nih kalau dia sampai baca tulisan aku yang receh itu," kata Naufal.


"Apalagi dia pasti risih sama tulisan gombal semacamnya yang gak berfaedah kayak tulisan aku, dia kan bukan tipe cewek yang gitu banget, apalagi kalau dia tahu aku mengulik rahasia dibalik dirinya, aassshhhh gimana nih???" ucap Naufal yang tetap mondar mandir.


"Kalau dia baca pasti dia tuh geli geli lihat sikap aku kayak gitu, selama ini kan dia nggak tau kalau sifat aku ada kayak gitunya meskipun sedikit sih hanya sepuluh persenan," ucap Naufal.


"Oh iya gambarnya!!! Gassshh itu kan aku gambarnya jelek banget, soalnya aku lagi kesel sama dia, aku buat jabrik-jabrik rambutnya, aduuuh, kebongkar kan jadinya," kata Naufal.


Tak lama kemudian aku kembali ke kamar.


***(Di Kamar)


Aku mencoba untuk rileks agar tidak terlihat mencurigakan karena telah membaca buku agenda Naufal.


Aku melihat Naufal yang sedang mondar-mandir saat aku membuka pintu kamar.


"Ini Mas bukunya?" tanya aku yang sebenarnya hatiku menertawakannya.


"Iiiii......iiiya," jawabnya sangat gugup.


"Pinter kan aku cari buku kamu, ya iyalah orang di laci isinya cuman buku ini doang," kataku.


Naufal berdiri terpaku di depanku, dia tersenyum kaku padaku, matanya melebar, bibirnya menciut, detak jantungnya berdegup sangat kencang.


"Pasti Naufal tahu kalau aku udah baca buku agendanya, hehehem, tuh malu kan dia, baru pertama kali loh aku lihat kamu kayak gini Fal, hehehm, lucu banget," gumamku dalam hati.


Naufal hanya diam memperhatikan ku.


"Terus kamu ngapain berdiri disini?" tanyaku.


"Eehmmm, engg......enggak kok, aku tadi cuman stretching aja, suntuk kan depan laptop terus, jadi ya.......ya istirahat bentar," alasan Naufal.


"Ooowwh gitu, hehehm, baguslah," kataku sambil tertawa mengejek padanya, padahal aku sebenarnya tau kalo Naufal berbohong padaku.


"Kamu kenapa senyum kayak gitu ke aku?" tanya Naufal dengan sinis.


"Enggak, siapa yang ngetawain kamu, aku cuman pengen senyumin kamu aja, kok kamu sinis sih," jawbku.


"Emmm......siapa yang sinis, aku nggak sinis, iya aku nggak sinis," ucap Naufal yang kaku.


"Kamu.......kamu tadi........Emmmmm.......sempet baca isinya nggak?" tanya Naufal memberanikan diri.


"Enggak, enggak kok," jawabku berbohong karena aku tidak ingin membuatnya malu berdiri di depanku.


"Bener?" tanya Naufal lagi.


"Iya beneran," jawabku.


"Udah sana lanjut kerja, aku mau cuci muka," kataku.


Aku berjalan meninggalkan nya, namun sebenarnya aku menertawakannya.


Saat aku berada dalam kamar mandi, aku sempat mengintipnya.


Aku melihat Naufal yang mengelus-elus dadanya, dan sepertinya dia merasa berhasil mengelabuhi ku. Tapi sebenarnya dia salah karena aku sudah membaca semuanya.


"Huuuuffttt, untung aja Gia gak baca buku ini," kata Naufal sambil duduk kembali di sofa.


"Bener kan apa kataku, dia tuh gak mungkin buka-buka buku gak penting seperti ini, mungkin kalo dia tau, lihatnya aja pasti ogah dia apalagi mau baca, huuuuft tapi gak papa yang penting dia nggak baca buku ini," kata Naufal.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi.


"Mas, aku ke kamar Abay duluan ya," kataku sambil menutup pintu kamar mandi.


"Iya, aku juga kurang dikit kok ini, nanti aku nyusul Sayang," jawabnya.


"Oooww rupanya Naufal udah nggak kaku lagi sama aku, nggak grogi lagi, uuuhhmm lihat aja, pasti aku kerjain kamu," gumamku dalam hati.


Aku berjalan mengambil lotion.


"Mas, memangnya pada dasarnya seorang pria tidak suka ya dengan wanita manja," ceplosku dengan sengaja.


Deggggg........


Aku melihat Naufal dari pantulan kaca riasku.


Jari jemari Naufal berhenti menari-nari di atas papan keyboard, matanya melotot mengarah ke depan.


"Iiiih lucu banget kalo Naufal kek gitu, hehehehehm," aku menertawkannya dalam hati.


"Kok Gia tanya gitu??? Apa jangan-jangan dia baca tulisan aku??? Terus dia bohong sama aku, kannnn....dugaanku bener, pasti malu aku, aaarrghh," gumam dalam hati Naufal.


"Emmm.....kata siapa?" tanya Naufal.


"Ya nggak, aku cuman nanya," jawabku dengan enteng.


"Agheem, mungkin ya.....beberapa pria seperti itu, sebagian aja nggak semuanya," jawab Naufal yang berusaha tegar, hehehehe.


"Oooowww kalo kamu?? Oh iya, aku kan bukan tipe kamu banget," kataku terus mengerjai Naufal.


"Kamu ngomongnya gitu??? Tau dari mana?? Kamu baca buku aku ya," kata Naufal yang ternyata mencetuskan kata-kata ini padaku.


"Enggak, aku nggak baca buku kamu, kan aku pernah denger Pak Bastian ngomong gitu," alasanku.


Setelah selesai mengoleskan lotion malamku, aku berjalan ke arah Naufal.


Aku duduk bersimpuh di hadapannya. Mendekatkan mulutku pada telinga Naufal.


Saat aku akan mengatakan pada Naufal, aku menahan tawaku agar tidak tertawa di telinganya.


"Yang aku baca dan aku tau, gadis misteris punya berjuta rahasia, misi rahasia, pendiam, pemalu, cengeng, sangat manja, bukan tipe wanitamu," bisikku di telinga Naufal.


Lalu aku menatapnya sambil tersenyum padanya.


Naufal kaget mendengar bisikanku itu.


"Jadi.....jadi kamu baca buku aku?" tanya Naufal.


"Nggak semua, aku cuman baca yang bagian itu aja," jawabku yang kembali tersenyum padanya.


Aku kembali berbisik padanya.


"Si gadis manja," bisikku di telinganya lalu aku berdiri dan melangkah kan kaki ku untuk ke kamar Abay.


Namun Naufal dengan cekatan melipat laptopnya dan meletakkannya di sisi sofa.


Naufal menarik tanganku sampai aku terjatuh di atas sofa.


Deg deg......deg deg....deg deg....


Hati ku berdebar karena wajah Naufal semakin dekat pada wajahku.


Naufal meraih tanganku, dikalungkannya kedua tanganku pada lehernya.


Hatiku semakin berdebar-debar, sesekali aku hanya mampu menelan salivaku


Naufal melingkarkan kedua tangannya pada pinggangku. Wajahnya semakin mendekat dan begitu dekat menyentuh hidungku.


"Kamu bohong kan sama aku, kamu baca buku aku," ucap Naufal dengan lirih.


Aku menatap kedua bola matanya, aku mencoba menjorok tubuhnya, tapi aku tak kuasa karena badan Naufal yang kekar dan sangat berat.


"Mmm.....Mas jangan gini," kataku gugup.


"Kenapa??? Kamu ngerjain aku kan, sekarang ganti aku yang ngerjain kamu Sayang," kata Naufal sambil membelai kening ke pipiku.

__ADS_1


"Aaadduuhh, senjata makan tuan," gumamku dalam hati.


"Memangnya kenapa kalo aku baca buku kamu?" tanyaku terbata-bata.


"Ya....nggak papa, fine-fine aja, tapi ini nggak fair, kamu bohong sama aku, jadi malam ini milikku," kata Naufal.


Deg deg.....deg deg......


Naufal mencium keningku, aku hanya mampu terdiam dibuatnya.


Tiba-tiba, Abay datang ke kamar kami.


Tok....tok...tok


"Ma, Pa," panggilnya.


Naufal langsung beranjak berdiri.


"Aagheemmm," untuk kedua kalinya Naufal salah tingkah padaku seperti ini.


"Ya udah kamu, kamu ke kamar Abay dulu aku nyusul," kata Naufal dengan gugup sambil menggaruk belakang telinganya.


Aku berjalan meninggalkan Naufal untuk membukakan pintu Abay.


Gleekkk.


"Iya Nak, Papa selesain tugasnya dulu," kataku.


Aku dan Abay berpindah ke kamarnya.


***(Di Kamar Abay)


Langsung ku rebahkan tubuhku di atas ranjang Abay.


"Papa ngerjain apa sih Ma?" tany Abay.


"Mungkin ada data-data yang harus di masukin dan segera diselesaiin Nak, bentar lagi Papa kesini," kataku.


"Papa sibuk banget ya Ma, kasihan," kata Abay.


"Ya memang begitu Nak pekerjaan Papa kamu," jawabku.


"Kamu kok belum bobok, tadi kan Mama suruh kamu bobok duluan," tanyaku pada Abay.


"Abay nggak bisa tidur Ma, Abay nungguin Mama sama Papa," jawabnya.


"Ya udah sini sini," kataku sambil menarik tubuhnya agar dalam pelukanku.


"Makasih ya Ma untuk hari ini," kata Abay.


"Untuk hari ini apa?" tanyaku.


"Sudah mengajak Eyang kesini, mengajak teman-teman Mama kesini," jawab Abay.


"Sebenarnya Mama ingin adain syukuran di hari ulang tahun kamu ini, tapi kata Eyang nanti saja jika umurmu 17 tahun," kataku.


"Udah bobok Nak," kataku sambil mengelus-elus kepalanya.


"Nanti kalo Abay udah besar, Abay harus tetep jadi seperti ini ya, nggak boleh ada yang berubah," ucapku.


"Iya Ma, Abay sayang sama Mama," kata Abay.


"Mama juga Sayang," kataku lalu mencium keningnya.


Tak lama kemudian, Naufal menyusulku ke kamar Abay.


Gleekkkkkk, Naufal membuka pintu kamar Abay.


"Papa matiin ya lampunya," kata Naufal.


"Iya Pa," jawab Naufal.


Naufal masih agak sedikit canggung saat melihatku.


"Papa sinis sebelah Abay, jadi Abay di tengah," kata Abay.


Abay meraih tangan Naufal dan juga tanganku, dia menyatukan tangan kita di atas perutnya.


"Papa sama Mama harus tetap seperti ini sampai kapanpun," kata Abay.


"Iya lah Nak, mana bisa berubah, Papa, Mama akan tetap sayang sama Abay," kata Naufal.


"Papa jangan ninggalin Mama ya," ucap Abay sambil menoleh ke arahnya.


"Kok Abay bisa bilang gitu ke Papanya," gumamku dalam hati.


"Nggak akan lah Nak, Papa janji, Papa begitu mencintai Mamamu ini," kata Naufal.


"Aghhemm," aku berdehem karena ingat dengat tulisan di buku agenda tadi.


Sebelum tidur, Naufal sempat memberi pertanyaan pada Abay.


"Abay nanti cita-citanya apa?" tanya Naufal.


"Seperti Papa sama Mama," jawabnya langsung.


"Dokter?" tegas Naufal.


"Iya Pa," jawab Abay.


"Abay yakin mau jadi seperti Papa sama Mama?" tanya Naufal lagi.


"Iya Pa, Abay yakin, kata Mama waktu Abay masih baru kelas 1 SD, Mama sempat cerita sama Abay Pa, kata Mama jadi Dokter itu bukan hanya sekedar pekerja, tapi juga bisa menolong kesusahan orang Pa, Mama bekerja jadi Dokter bukan karena gajinya banyak kata Mama, tapi amalnya ikhlas nolong orang Pa, ya kan Ma?" kata Abay.


Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil tersenyum padanya.


"Abay Abay, beruntung sekali kamu tumbuh di antara kami, dengan Mama yang begitu mendidikmu keras akan kebaikan dan pengorbanan," gumam dalam hati Naufal.


"Waduh anak Papa," kata Naufal.


"Maka nya Abay harus gigih giat kalo belajar, ya," tutur Naufal.


"Udah bobok," tutur Naufal lagi.


Akhirnya kami pun tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Esok harinya.


***(Di Kamar)


Kami sudah berpakaian rapi, begitu juga Abay yang sudah berseragam rapi menunggu kami yang tengah duduk-duduk di sofa.


"Ma, Bibi dari kecil sama Mama?" tanya Abay.


"Iya Nak, Bibi itu udah lama ikut kerja Eyang di rumah, jadi waktu Mama masih kecil seusia kamu, Bibi udah kerja sama Eyang," jawabku.


"Pantesan Ma, Eyang dekat banget sama Bibi," ucap Abay.

__ADS_1


"Bi Sarah udah seperti saudara sendiri Nak, apalagi kalo sama Mama," kataku.


.


.


.


Setelah selesai bersiap-siap, kami turun bersama ke bawah.


***(Di Ruang Makan)


"Pagi Pak, Buk," sapa mereka pada kami.


"Waduh udahs sumringah-sumringah semua, ada apa ini?" tanya Naufal sambil menarik kursi yang dia peruntukkan untukku.


"Hehehe, ndak apa-apa Mas," kata Bi Sarah.


"Udah ayo makan-makan," kata Naufal.


Kami pun segera menyantap sarapan pagi.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, setelah selesai sarapan. Kami langsung berpamitan untuk segera berangkat kerja.


"Bi, Gia berangkat ya, udah di tungguin Mas Naufal sama Abay di mobil," kataku.


"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.


"Assalamu'alaikum," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah yang sedang membersihkan meja makan.


Aku berjalan masuk ke dalam mobil.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Seusai mengantarkan Abay ke sekolahnya, Naufal kembali menancap gas mobilnya.


Tiba-tiba aku teringat tentang Dokter Irene.


Aku masih tidak menyangka bahwa Dokter Irene seorang peminum dan perokok.


"Eemmmm.....Mas," panggilku.


"Hm?" jawabnya yang fokus melihat ke arah depan.


"Apa sih yang buat seseorang jadi peminum, kamu pernah nggak Mas sedikit saja terlintas di pikiran kamu ingin mencoba barang haram itu?" tanyaku.


Setelah mendengar pertanyaanku itu, Naufal sedikit memelankan kecepatan mobilnya.


"Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba banget kamu nanyanya gini Sayang," kata Naufal.


"Ya aku mau tau aja," jawabku.


"Ya nggak lah, gak pernah sedikitpun aku pengen nyentuh barang itu Sayang, rokok aja gak pernah apalagi yang begituan," jawabnya.


"Lagian kamu kenapa nanya-nanya gitu, pasien kamu peminum?? Kena liver?? Apa jantung??" tanya Naufal.


"Enggak Mas, bukan pasien aku," tepisku.


"Yah terus siapa?? Kalo bukan pasien kamu," ucap Naufal.


"Bukan siapa-siapa, aku cuman nanya," tegasku.


"Ya mungkin seorang peminum itu hanya untuk melampiaskan ada juga yang memang ketergantungan, ada juga yang memang kebiasaan, ya banyak alasannya," kata Naufal.


"Berarti benar alasan Dokter Irene," gumamku dalam hati.


"Huuummm kasihan banget ya Dokter Irene, semoga aja hubungan Dokter Irene dan suaminya semakin membaik," gerutuku dalam hati.


Pandanganku fokus pada sekerumunan orang yang memenuhi jalan kami.


"Ada kecelakaan Mas?" tanyaku.


"Iya kayaknya Sayang," jawab Naufal.


Saat mobil Naufal berhenti pas di belakang kerumunan warga. Naufal dan aku langsung turun dan melihat korban kecelakaan itu.


Dan ternyata setelah kami melihatnya, untuk korban itu tidak begitu parah, hanya luka berdarah di tangan, kening dan kakinya.


"Ada apa ini Pak?" tanya Naufal pada salah satu warga disana.


"Kecelakaan Mas, kayaknya yang satunya tadi meninggal," jawab Bapak itu.


"Yang meninggal cewek apa cowok ya Pak?" tanya Naufal lagi.


"Cowok Mas," jawabnya.


"Namanya Kevin Mas, barangkali anda kenal, tadi ktpnya sempat jatuh, tapi sekarang udah di bawah pihak berwajib," sahut seorang Pria yang berada di samping Bapak itu.


Deeegggg..........


Telingaku mendengar kata Kevin.


Naufal langsung menatapku.


"Kevin Sayang!!" ucapnya yang juga kaget mendengar kata Kevin.


"Mas, jangan jangan Pak Kevin," kataku.


Naufal diam menatapku. Tampak kekhawatiran yang terlukis di wajah Naufal, meskipun dia sempat bertengkar dengan Pak Kevin, tapi Naufal bukan tipikal orang yang jahat dan tidak peduli pada orang yang membuat sakit di hatinya.


"Tenang Sayang tenang, bentar ya," ucapnya.


"Terus Mbaknya ini belum di telfon ambulance," kata Naufal.


"Belum Mas," jawab Bapak itu lagi.


"Tadi korbannya di bawa ke Rumah Sakit ******," kata Bapak itu.


Kebetulan rumah sakit itu adalah Rumah Sakit tempat Naufal dan bekerja.


"Oh ya udah Mbaknya di bawa ke mobil saya aja," kata Naufal.


"Wah nggak bisa Pak," jawab Bapak itu.


Aku tidak tega melihat wanita yang tebujur lemas dan kesakitan itu.


"Saya Dokter Pak," kata Naufal sambil memberikan ID Cardnya pada Bapak itu.


Akhirnya Bapak itu mengizinkan kami membawa korban kecelakaan wanita itu.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2