Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 225 (Berdua Sama Mama Mertua)


__ADS_3

Satu mangkuk oetmeal telah habis, kini saatnya Mas Naufal menyantap 3 buah sandwich di atas piring.


"Makan lah Mas," tuturku.


"Aku turun ya, kamu habisin Sandwich nya," sambungku lagi.


"Beneran Sayang?? Nggak papa ini kalo Mas makan sandwich nya??" tanya nya lagi.


"Ya iya lah Mas kenapa enggak, makan aja udah," tuturku lagi sambil beranjak berdiri dari sofa.


"Senengg kannn??" godaku padanya.


"Enggak Sayanggg, Mas biasa aja kok, lagian udah lama juga nggak makan, jadi udah biasa," tepisnya.


"Ya udah selamat menikmati...." ucapku.


Aku turun ke bawah meninggalkan Mas Naufal yang sedang berduaan dengan sandwichnya.


"Pasti Mas Naufal seneng banget tuh, hehehem udah lama puasa nggak makan sandwich,"


"Eeeh tiba-tiba sekarang dia makan, hehehem, pasti lahap banget tuh," gumamku dalam hati sambil menuruni anak tangga.


Aku beralih ke Dapur, dan disana ada Bi Sarah yang juga sedang menikmati oetmealku.


"Gimana Bi?? Enak nggak oetmeal buatan Gia??" tanyaku.


"Yaaa, Bibi kan lidah-lidah Jawa ya Mbak, jadii tetep enak lah Mbak, enak kok Mbak, enak," puji Bi Sarah.


"Alhamdulillah kalo Bibi suka," kataku.


"Mbak Gia nggak ke Butik??" tanya Bi Sarah.


"Enggak Bi, absen untuk hari ini, hehehem, mau nemenin suami di Rumah," jawabku.


"Eeemmm begitu Mbak," jawab Bi Sarah.


"Dihabisin loh Bi," ujarku sambil duduk di samping Bi Sarah.


"Siap Mbak, pasti habis ini," jawab Bi Sarah.


Aku menelepon Haru, karena hari ini aku tidak bisa ke Butik. Dan kuserahkan untuk hari ini tanggung jawab Buka dan tutupnya Butik ditanggung oleh tiga-tiganya karyawanku.


"Baik Buk, Ibuk sedang sakit?? Atau bagaimana??" tanya Haru via telepon.


"Enggak, saya nggak sakit Mbak, cuman lagi ada suami di Rumah minta ditemenin sama saya," jawabku dengan jujur.


"Ooowwhh, begitu ya Buk, baiklah Buk,"


"Dilanjut saja, biar kami bertiga yang jaga Butiknya Ibuk," ujar Haru.


"Makasih ya Mbak, bilang sama Hilya dan Isamu juga,"


"Kalian sudah sarapan semua??" tanyaku pada Haru untuk mewakili semuanya.


"Sudah Buk," jawab mereka bertiga.


"Ya sudah nanti makan siang nya via gofood aja ya Mbak," kataku.


"Aduuh, repot-repot Buk," sahut Hilya.


"Hehehem, nggak papa Mbak, santai sama saya," kataku.


"Kalo begitu saya tutup ya Mbak, dilanjut kerjaannya, jangan lupa habis ini buka Butiknya ya Mbak," tuturku.


"Baik Buk, siaapp," jawab mereka.


"Makasih Mbak, Assalamu'alaikum," kataku lalu menutup teleponnya.


Setelah menelepon 3 karyawanku.


Aku berbincang-bincang dengan Bi Sarah yang berkali-kali memuji oetmealku.


"Bibi nggak sarapan nasi? Cuman sarapan ini doang??" tanyaku.


"Iya Mbak, ini saya sudah kenyang," jawab Bi Sarah.


"Bi, Gia kol rindu sama Mama ya Bi," ujarku.


"Iya Mbak, Bibi juga kangen sama Ibuk," sanggah Bi Sarah.


"Kapan-kapan kita kesana ya Bi, berdua," ajakku.


"Mas Naufal nggak diajak Mbak??" tanya Bi Sarah.


"Bukan nggak diajak Bi, tapi Mas Naufal sibuknya minta ampun, dan pasti banyak nggak bisanya, huufftt," keluhku.


"Eeemmm, gitu ya Mbak," ucapku.


Saat kita berdua sedang membicarakan Mas Naufal, ternyata panjang umur. Karena yang tengah kita bicarakan datang dengan membawa loyang dengan piring dan mangkuk yang sudah kosong.


"Udah habis Mas??" tanyaku.


"Sudah Sayang, enaakkkk banget," pujinya.


"Yang enak yang mana? Kan ada dua, sandwich nya apa oetmeal nya??" tanyaku sengaja mengerjai Mas Naufal.


Ekspresi wajah Mas Naufal langsung gelagapan bingung dan tak karuan, bibirnya bergetar.


"Sandwichnya ya Mass," godaku sambil tersenyum padanya.


"Eemmm bukan!! Bukan Sayang, oetmealnya yang enak," jawab Mas Naufal.


"Memang enak kan Bi oetmealnya?? Tuh Bibi aja sampe habis kayak Mas," ucap Mas Naufal mencari teman.


"Hehehem, benar Mas," kata Bi Sarah.


"Ya sudah mana biar Gia yang nyuci Mas," ucapku sambil mengambil loyang dari tangan Mas Naufal.


"Sayang, kita ke salon Mama ya," kata Mas Naufal.


"Ngapain kesana Mas??" tanyaku spontan.


"Yaaaa kayak biasanya Sayang, ayolaaah," paksa Mas Naufal.


"Hhmmm iya iya," jawabku.


"Bibi mau ikut??" tanya Mas Naufal yang sedang duduk di sebelah Bi Sarah.


"Haduuuh, endak Mas, sudah Bibi begini saja, sudah tua, hihihihi," jawab Bi Sarah.


"Yakin Bibi nggak mau ikut??" sahutku.


"Hehehe, iya Mbak, Bibi jaga rumah saja," jawab Bi Sarah.

__ADS_1


"Ya sudah kalo gitu kita berdua aja Sayang," kata Mas Naufal.


"Sayang, kita ke salon Mama ya," kata Mas Naufal.


"Ngapain kesana Mas??" tanyaku spontan.


"Yaaaa kayak biasanya Sayang, ayolaaah," paksa Mas Naufal.


"Hhmmm iya iya," jawabku.


"Bibi mau ikut??" tanya Mas Naufal yang sedang duduk di sebelah Bi Sarah.


"Haduuuh, endak Mas, sudah Bibi begini saja, sudah tua, hihihihi," jawab Bi Sarah.


"Yakin Bibi nggak mau ikut??" sahutku.


"Hehehe, iya Mbak, Bibi jaga rumah saja," jawab Bi Sarah.


"Ya sudah kalo gitu kita berdua aja Sayang," kata Mas Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku dan Mas Naufal pergi ke salon Mama Feni sekitar jam setengah 10 an pagi.


Di perjalanan, kami berdua sempat video call dengan Abay, dan itu tidak lama.


Karena disana Abay sangat jarang memegang ponselnya, jika memang sedangt tidak benar-benar sibuk. Untungnya, Mas Naufal memberikan kebebasan untuk anak laki-laki nya ini.


Di umur Abay yang menginjak remaja, Mas Naufal membolehkan Abay pergi kemana-mana asalkan dengan orang yang tepat dan ijin pada kami berdua. Dan satu hal lagi, tidak neko-neko.


Itu pesan Mas Naufal pada Abay dulu.


Mas Naufal mendidik anaknya seperti saat dia di didik oleh Papanya dulu, memberi sedikit kebebasan namun juga masih dalam pantauan, meskipun jarak jauh seperti ini.


Karena disana Mas Naufal juga punya teman yang memilik coffe shop di dekat tempat Abay tinggal.


Otomatis Abay tidak bisa berbohong.


"Mas, kangen sama Abay," rengekku.


"Kesana lagi??" tanya Mas Naufal.


"Tapi Mas sibuk, terus pasti nggak bisa ikut, ya kan," tebakku terus terang.


"Masak Mas nggak mau pergi sama aku??" ucapku spontan.


"Mau banget lah Sayang, terus gimana?? Mas nggak bisa, apa Mas ngambil cuti lagi,"


"Ya nggak papa kalo Mas ambil cuti lagi," jawab Mas Naufal.


"Nggak usah Mas, lebih baik aku menahan rasa kangen ini saja, nunggu Mas aja, sampe Mas ada waktu luang," ujarku.


"Sayangggg, kalo kamu pengen kesana, ya kesana aja, monggo silahkan,"


"Dari pada nanti kamu nanti nungguin Mas hayo, belum tentu ada waktu luangnya," tepis Mas Naufal.


"Memangnya Mas Naufal nggak akan ada waktu luang buat kita, aku sama Abay??" tanyaku agak sedikit sinis.


"Loh loh.....ya bukan begitu dong Sayangkuu,"


"Tuh kan bawaannya sinis nih kalo lagi haid, uuuhmm uuhhmm," ucapnya sambil mencubit pipiku.


Sampainya di Salon Mama Feni, kami berdua langsung turun dan masuk ke salon yang sudah ramai dan banyak terparkir mobil serta motor disana.


"Selamat siang, selamat datang di......" ucap karyawan disana terpotong saat tau bahwa yang datang adalah anak dan menantu dari pemilik salon ini.


"Eeh, Mas Naufal sama Mbak Gia, selamat datang kembali kes....sini," kata karyawan itu dengan terbata-bata.


"Siang Mbak," jawab Mas Naufal dan aku.


Lagi-lagi, Koko yang menyambut kami.


"Tuh kan benerrrrr, Mas Naufal yang datang,"


"Dari suaranya aja Koko udah denger Mas," ucap Koko sambil menghampiri kami.


"Ada Mama nya Mas Naufal di dalam," sambungnya lagi.


"Loh ada Mama juga Ko??" tanya Mas Naufal.


"Iyaaa Mas, dari tadi pagi," jawab Koko.


Koko langsung mengajak kami menemui Mama Feni di ruang biasanya tempat khusus untuk tamu dari keluarga ini.


Di ruangan itu, Mama Feni kaget melihat aku dan Mas Naufal. Mama Feni yang sedang dimanjakan oleh Mbak Menik disana, sedang di pijat kakinya.


"Mamaaa," sapa Mas Naufal lalu menyalami tangan Mama Feni disusul denganku.


"Naufal??? Eh eh eh Gia jugaa," kata Mama Feni.


Aku tersenyum kepada Mama Feni.


"Ya gini dong Nak sering-sering kesini nggak papa, ini kan punya Mama, bebas kamu mau kesini kapan pun," kata Mama Feni padaku.


"Tuh kan Sayang, apa kata Mama," sanggah Mas Naufal.


"Gia sini duduk," ucap Mama Feni.


Koko mengambilkan aku kursi di samping tempat Mama Feni duduk.


"Mau diginiin kayak Mama??" tanya Mama Feni.

__ADS_1


"Iya Ma, mau dia," jawab Mas Naufal.


Aku langsung menengadahkan kepalaku melihatnya.


"Massssss....." gerutuku.


"Ko, paggilin Mbak Mbak satu lagi Ko," perintah Mama Feni.


"Iya Buukkk," jawab Koko dengan letoy, hihihihi.


Aku pun duduk dengan posisi yang sama seperti Mama Feni.


"Sayang, Mas ke ruang samping ya," ucap Mas Naufal.


"Kamu nggak pijat sekalian Naufal??" tanya Mama Feni.


"Iya Ma, kaki nya Naufal doang, nanti minta Koko yang pijit aja," jawab Mas Naufal.


Tak lama kemudian, Koko dan satu karyawan Mama Feni datang.


"Ko, tolong pijitin kaki nya Naufal itu, katanya mau dipijit kamu bentaran doang," ucap Mama Feni.


"Siappp Buk," jawab Koko dengan santun.


Meskipun Koko orangnya seperti ini, tapi beliau sangat sopan. Dan sangat baikk, dan sangat jujur.


Mas Naufal dan Koko berpindah ke ruang samping.


Tinggal aku dan Mama Feni saja disini dengan dua karyawan nya.


"Abay gimana Nak??" tanya Mama Feni.


"Alhamdulillah baik Ma, tadi sempat video call sama Gia sama Mas Naufal," jawabku.


"Iya, kemaren juga Mama Wa, Mama tanya kann,"


"Betah nggak disana?? Betah banget katanya Nak, hehehem, nggak salah kalo Naufal milihin disana," ucap Mama Feni.


"Alhamdulillah Ma, karena Mas Naufal sedikit memberi kebebasan disana Ma, jadi pasti Abay nya betah Ma," ujarku.


"Mmmm......Ma,"


"Ggg....Gia mau cerita sama Mama," ucapku dengan bibir bergetar.


"Apa Nak??" jawab Mama Feni.


"Aduuuh, aku cerita nggak yaaa tentang Mas Naufal sama Adiknya Abid,"


"Kan aku nggak pernah bicarain tentang Mas Naufal ke siapapun," gerutuku dalam hati.


"Tapi kan Mama yang tau sifat asli dan sifat yang sebenar-benarnya Mas Naufal," ucapku dalam hati.


"Eemmm.....Gia......Gia mau cerita sama Mama," kataku.


"Cerita apa Nak?? Cerita aja sama Mama," ucap Mamaku.


"Kamu hamil lagi??" tanya Mama Feni.


"Bukan Ma, bukan itu," jawabku.


"Gia mau tanya gini sama Mama, eeemmm......apa....apa mungkin ya Ma, secinta-cintanya suami ke istrinya, dia pernah berbohong?? Meskipun sudah berumah tangga sangat lama??" tanyaku.


"Maaf kalo Gia tanya begini sama Mama," kataku terbata-bata karena sangat takut bertanya hal ini pada Mama Feni.


"Kenapa Nak?? Ada masalah apa sama Naufal?? Kamu disakiti sama dia??" tanya Mama Feni bertubi-tubi dan kaget saat aku menanyakan hal itu. Karena selama aku menjadi menantunya Mama Feni, aku tidak pernah mau sedikitpun menceritakan keluh kesahku padanya.


"Eeemm....eng....enggak Ma, nggak ada masalah sebenarnya, cuman kemaren Gia sama Mas Naufal pergi ke acara temennya Mas Naufal, dan disana diadain game dan semacamnya Ma, terus Mas Naufal......"


Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi saat malam itu. Mama Feni syock mendengar ceritaku.


Apalagi saat mendengar Mas Naufal bersama dengan Adiknya Abid.


"Terus Naufal gimana Nak ke kamu?? Dia sudah minta maaf?? Dia menjelaskan semuanya ke kamu??" tanya Mama Feni sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Sudah Ma, dan Gia juga nggak percaya kalo Mas Naufal seperti itu, Mas Naufal selalu jujur sama Gia Ma, Mas Naufal bener-bener nggak bohong sama Gia,"


"Gia percaya jika Mas Naufal tidak sengaja dengan semua itu," jawabku.


"Ya Allah Nakk, bagaimana perasaanmu saat itu?? Mama nggak bisa ngebayangi, iiisshhckk Naufal.....Naufal...." gumam Mama Feni.


"Sudah Ma, tapi semuanya sudah aman dan baik-baik aja kok Ma, Mas Naufal nggak mungkin seperti itu Ma, Mama tenang aja," tuturku.


"Tapi Nak, kenapa kamu baru cerita ke Mama?? Seharusnya saat kejadian kamu langsung cerita ke Mama," ucap Mama Feni.


"Hehehem, enggak Ma, karena bagi Gia, masalah ini hanya karena salah paham aja Ma," jawabku.


"Nak, memang Mama ini Mama kandungnya Naufal, tau seluk beluknya Naufal, Mama tau segala tentang Naufal. Tapi Nak, jika anak Mama salah, akan tetap salah, Mama tidak ingin membenarkan jika benar-benar itu salah, sekalipun itu anak Mama,"


"Mama harus tegur suami kamu Nak, ini bukan masalah sepele, namanya laki-laki tidak selalu bisa kita andalkan, dan setiap manusia itu sewaktu-waktu bisa berubah Nak, karena Naufal juga manusia biasa, bukan malaikat yang selalu baik perilakunya," sambung Mama Feni.


"Mama tidak ingin rumah tangga kenapa-napa, Naufal memang laki-laki baik, tapi ingat Nak, Naufal juga manusia biasa, manusia tempatnya salah, jadi Naufal tidak selalu benar, dimata kamu, di hati kamu, begitu juga dengan dimata Mama dan di hati Mama," ucap Mama Feni lagi.


Deeggggg


Aku tersentuh mendengar wejangan dari Mama Feni, ini yang bilang Mamanya Mas Naufal sendiri.


"Jadi, maksud Mama, sebaik-baiknya Mas Naufal sama Gia, kebohongan itu pasti ada Ma??" tanyaku.


"Pasti Nak, tidak ada manusia sempurna, manusia tempatnya dosa," jawab Mama Feni.


Deegggg........


Semakin aku tertampar dengan wejangan Mama Feni, namun aku harus mempertimbangkan ini semua.


Tapi yang utama, aku harus percaya kepada suamiku, laki-laki yang aku cintai setelah Papaku.


"Kenapa Mama bisa menyimpulkan seperti itu Ma?? Padahal Mama kan Mama kandung Mas Naufal, biasanya apapun yang dilakukan oleh anaknya pasti baikkk aja Ma di mata seorang Ibunya," kataku.


"Kalo Mama beda Nak, Mama tidak seperti itu, Jika Naufal ya salah, nggak bisa diubah jadi benar, salah ya ditegur, seperti yang Mama bilang dari awal," jawab Mama Feni.


Ya Allah......beruntungnya memiliki Mama mertua sebaik Mama Feni. Sangat terbuka dengan menantunya. Sangat merangkul menantunya.


"Tapi Mama tenang aja kok Ma, Mas Naufal bukan laki-laki yang seperti itu, Gia percaya sama Mas Naufal Ma, Mas Naufal pria baik, sekalipun dia berbohong pasti demi kebaikan juga Ma," terpisku.


"Masya'Allah Giaaaa.........masih saja kamu bisa berfikir positif tentang suami kamu, padahal Mama sudah berkata seperti itu, tapi kamu tetap teguh dan bilang jika kamu percaya dengan suami kamu,"


"Begitu mulianya cinta kamu sama anakku Naufal," gumam dalam hati Mama Feni dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Eehhmmm, ya sudah nanti tenang saja, Mama yang akan bilang sama Naufal," ucap Mama Feni.


"Ma, tapi Mama jangan marah sama Mas Naufal ya, Gia begini.......hanya ingin sharing sama Mama," kataku.


"Gia ingin lebih dekat dan terbuka lagi sama Mama," sambungku.

__ADS_1


"Iya Nak, Mama sangat mengerti kamu," jawab Mama Feni sambil tersenyum padaku.


Bersambung.......


__ADS_2