
Tanpa ku sadari Naufal berjalan dari belakangku dan menggertakku.
"Hayo, nglamun aja," gertak Naufal.
Aku kaget dan langsung menepuk lengannya.
"Iiiih Mas Naufal ngagetin aja kamu," kataku.
"Lagian kamu nglamun mulu, kenapa sih?" tanyanya.
"Ngantuk," ucapku bohong.
"Hu dasar kamu, cepetan berberes habis ini kita pulang," tutur Naufal.
"Iya iya, terus ngapain kamu ngikutin aku hayo lo?" ucapku.
" Kan emang sejalan, yee kamu GR banget sih," ejeknya.
"Udah sana cepet berberes, habis ini kita pulang," kata Naufal.
Di pertengahan lorong langkah kami terpisah.
Di dalam ruang kerjaku, aku membereskan laptop sambil masih memikirkan wejangan dari sepasang Kakek dan Nenek yang terus terngiang di telingaku.
Ku duduk terlebih dahulu sambil melamun memikirkan itu.
"Apakah aku dan Naufal akan bisa seperti mereka? Apa aku akan sekuat dan sesabar Nenek itu ya? Jika hal itu terjadi padaku," ucapku dalam hati.
"Huuufftttz Ya Allah, langgengkan pernakahanku dan Naufal, jadikan maut saja alasan untuk kita berpisah, Aamiin, lindungilah pernikahan kami Ya Rab," pintaku dalan hati.
Naufal yang sepertinya resah karena menunggu istrinya yang tak kunjung keluar ruangan, padahal dia sudah menunggu di depan ruang kerja Gia.
"Ngapain aja sih Gia, lama banget," gerutu Naufal sambil melihat angka jarum di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Naufal menelfon Gia, tapi Gia juga tak kunjung mengangkat telfon dari Naufal.
Akhirnya Naufal sudah tidak sabar dan langsung masuk ke ruangan Gia.
Dia melihat istrinya yang sedang duduk melamun disana.
Naufal menghampirinya dengan langkah pelan sambil menenteng jas dokternya.
"Hey, kamu kok nglamun sih? Kamu mikirin apa? Ha?" tanyanya.
"Eeemmm mmmm enggak, ayo kita pulang," ajakku sambil menenteng tas abu kesayanganku.
Kita berjalan berdampingan menuju parkiran, Naufal sepertinya mencurigaiku, karena sedari tadi aku berjalan sambil melamun.
Sampai di parkiran, dan kami pun langsung masuk ke dalam mobil.
"Gi, kamu kenapa? Ada apa? Dari tadi loh kamu nglamun kayak gini," rayu Naufal dalam mobil.
"Enggak, aku nggak papa," jawabku.
"Ada masalah kerjaan? Atau apa? Hm?" ucap Naufal yang terus mendesakku.
"Aku nggak papa, udah ayo pulang, nanti aku cerita ke kamu, ya?" ucapku sambil tersenyum padanya.
Akhirnya Naufal langsung menancap gas mobilnya untuk pulang ke rumah.
***(di Rumah)
Sesampainya di rumah, sepertinya Jihan dan Bi Sarah menunggu di depan halaman rumah.
Setelah kami memarkirkan mobil di garasi, Jihan langsung menghampiri kami.
"Uncle, ayo katanya kita jalan-jalan," ucap Jihan.
"Iya Non, bentar habis ini Uncle sama Aunty mandi terus sholat, terus kita jalan-jalan, ya?" rayu Naufal.
"Baik Uncle," kata Jihan.
Naufal menggandeng tangan Jihan masuk ke rumah.
"Sepertinya kamus sayang banget sama Jihan Fal," gumamku dalam hati melihat mereka berjalan bersama.
***(di Kamar)
"Hari ini kita kemana Mas emangnya?" tanyaku.
"Ke Mall **** itu, nanti Mamanya Jihan nyusul kesana kok," jawabnya.
"Ooww Aku mandi duluan ya," kataku.
Setelah beberapa menit Aku selesai mandi, segera Naufal masuk ke kamar mandi.
"Aunty, Uncle kemana?" tanya Jihan.
"Masih mandi, kamu tunggu disini ya, habis ini kita sholat," tuturku.
Jihan hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di sofa.
Setelah Naufal selesai mandi, kami melaksanakan sholat bersama.
"Jihan, ini rambutnya mau di kepang gimana?" tanyaku pada Jihan.
"Yang seperti kemarin aja Aunty," jawabnya dengan manja.
Gia mengepang rambut Jihan seperti anaknya sendiri, Naufal lagi-lagi melihat mereka, rupanya dia sangat bahagia.
Setelah beberapa jam mereka selesai berberes, kami mengajak Jihan untuk segera pergi bersenang-senang.
***(di Ruang Tamu)
"Bi, Gia pergi dulu ya," pamitku pada Bi Sarah yang sedang bersih-bersih di ruang tamu.
"Iya Mbak, hati-hati," ucapnya.
"Iya Bi, berangkat dulu ya Bi, Assalamu'alaikum," salamku.
Kami berjalan menuju garasi mobil.
Jihan duduk di pangku olehku di kursi depan, karena dia ingin tetap dekat dengan Unclenya.
"Noni nanti di jemput Mama kamu kan?" tanya Naufal dalam mobil.
"Noni gak mau Uncle, Noni maunya sama Uncle terus," ucapnya manja.
"Noni, Uncle kan harus kerja, jadi Noni harus nemenin Mama di rumah, biar Mama kamu nggak kesepian," tutur Naufal.
"Uncle saja yang kesana nemenin Noni," rengek Jihan.
"Uncle nggak bisa kesana Jihan, Uncle kerja," tuturnya lagi.
Aku hanya diam mendengarkan obrolan Naufal dan Noninya.
Hampir setengah jam kami sampai di Mall.
***(di Mall)
Aku dan Naufal berjalan menuju Cafe di dalam Mall sambil menggandeng tangan Jihan.
__ADS_1
Sampai di Cafe, kami memesan menu makanan ringan.
"Kamu suka apa Jihan? Mau roti Maryam?" tawarku.
"Jihan suka maryam," jawabnya.
"Kamu apa Mas?" tanyaku pada suamiku.
"Aku samain aja kayak kamu, kan kita selalu sama, biar romantis Sayang," godanya.
Aku langsung membungkam mulutnya, Jihan kaget dengan tingkah konyolku.
"Ada Jihan, kamu ah selalu gitu? Malu tau aku," bisik ku di telinga Naufal.
"Ya udah lepasin dulu bungkamannya, mau aku bilang gitu lagi," ucap Naufal yang masih dalam bungkaman Gia.
Aku segera melepasnya.
Setelah beberapa menit, pesanan kita datang dan juga tepat Mama Jihan datang.
"Mbak, mari makan," ucapku.
Mama Jihan hanya tersenyum padaku.
"Kalo mau pesen lagi aja," suruh Naufal pada Mama Jihan.
"Udah Fal, tadi udah sarapan," katanya dengan mengambil ponsel dalam tasnya.
"Eemm Fal, nanti aku beli TV, tapi nggak tau yang mana, biasanya kan orang laki tuh yang ngerti gituan jadi temenin bentar ya, gak papa kan Gi?" ucapnya padaku.
"Iya Mbak nggak papa, lagian Mas Naufal juga nggak keberatan," jawabku sambil meneguk cofee latte.
"Kamu mau beli yang gimana emangnya Fan," ucap nya pada Mama Jihan (Fani) karena mereka seumuran.
"Yang gede aja, yang kemaren kan masih medium tuh, biar Jihan malah lega lihatnya, ya kan Nak?" tanyanya.
Jihan hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa menit kami selesai makan, dan lanjut untuk membelikan TV Mama Jihan.
Kami berkeliling Mall untuk mencari TV incaran Mama Jihan.
Setelah hati Fani terpikat dengan TV yang terpajang di toko yang lumayan besar dan sangat ramai pembelinya, akhirnya kami pun pergi mengikutinya.
"Yang mana nih Fal?" tanya nya pada Naufal.
Naufal memegang salah satu TV yang menurutnya paling bagus.
"Ini loh Fan, cocok nih kayaknya," jawabnya.
Aku hanya diam sambil menggandeng tangan Jihan.
"Eemmm Fal, Aku ke kamar mandi dulu ya," pamitku.
"Ooh iya ya," jawab Naufal.
"Jihan kamu disini dulu sama Mama sama Uncle ya," tuturku.
"Noni ikut Aunty aja," ucap manjanya.
"Ya udah baiklah," kataku.
Aku berjalan menggandeng tangan Jihan menuju kamar mandi di Mall.
Sampai di kamar mandi.
"Jihan, Aunty ke dalam dulu ya, kamu tunggu disini," tuturkus sambil meraih kedua pipi Jihan.
Setelah tidak sampai 10 menit aku keluar dari kamar mandi, dan berjalan menuju toko TV tempat Naufal dan Fani.
Saat aku hampir mendekat dengan jarak mereka, salah satu pegawai tengah bertanya pada mereka.
"Ini istrinya ya Mas?" tanya Pegawai itu.
Naufal dan Fani saling memandang kebingungan.
"Bukan," jawab mereka bersamaan.
"Saya saudaranya Mbak," sahut Fani.
"Iya kami saudara an Mbak," sahut Naufal juga.
Jihan menatapku lama sambil menengadahkan kepalanya.
"Aunty, kenapa berhenti?" tanyanya sambil menggoyangkan gandengan tangan kita.
"Owwhh emmm nggak papa Jihan," ucapku sambil tersenyum manis padanya.
Ku langkahkan kaki ku menuju mereka.
"Udah selesai Gi," ucap Fani.
"Udah Mbak, Mbak udah cocok milih TV nya?" tanyaku.
"Ini Gi, udah masih nunggu," jawabnya.
"Nanti kalo masang TV aku aja gak papa Fan, sekalian Gia aku ajak kesana biar tau rumah kamu," kata Naufal yang kasihan dengan Fani sebagai single parent.
"Udah nanti biar orang sininya aja yang masangin Fal, kamu gak usah repot-repot," tuturnya.
"Nggak papa Mbak, lagian saya pengen tau rumah Mbak Fani kan saya belum pernah kesana, hehehe," hirauanku.
"Pasti kamu bakalan nyaman disana Gi, rumahku kan di puncak jadi dingin banget," godanya.
Pegawai Pria menghampiri kami.
"Mbak silahkan langsung ke kasir," ucap pegawai itu.
"Iya Mas," jawab Fani.
"Mas temenin Mbak Fani, nanti kalo ada gini-gini nya dia gak bisa kasihan loh," perintahku.
"Iya bentar, kamu gak cemburu kan?" ucapnya lirih.
"Iiih apaansih, ya nggak lah, kasihan Mbak Fani nggak ada yang nyaranin, cepet gih susul dia," ucapku.
Aku menunggu duduk-duduk bersama Jihan.
"Kasihan Mbak Fani mengatur semuanya sendiri, apalagi punya gadis kecil yang mungil ini," gumamku dalam hati.
Setelah hampir setengah jam mereka selesai mengurus pembayaran TV nya.
Kami kembali melanjutkan jalan-jalan untuk memenuhi permintaan Jihan.
"Aunty, ayo kita kesana," ajak Jihan dengan menunjuk ke arah area bermain.
"Mas, Jihan minta kesana," ucapku.
"Fal, Gi aku kesana dulu ya mau meeting bentar doang, mendadak ini," sahut Fani.
"Iya Mbak," jawabku.
__ADS_1
"Nitip Jihan dulu lagi ya, hehehe," katanya.
"Iya Mbak, nggak papa," kataku dengan ramah.
Kami membawa segera Jihan pada area bermain.
***(di Area Bermain)
Jihan mengajak Naufal untuk bermain bersamanya.
"Uncle, kita main disana ya?" ucap Jihan.
Kami berjalan mendekat, Naufal menggandeng tanganku dan Jihan seperti layaknya menjadi Papa.
Hari ini aku senang sekali, keluargaku serasa lengkap disini, dengan kehadiran Jihan.
Aku hanya menunggu mereka bermain bersama, karena aku yang sangat alergi dengan sebuah keramaian, bahkan aku tidak suka suasana ramai seperti ini, tapi bagaimana lagi? Aku ingin membuat senang hati Jihan.
"Ayolah Gi, dari pada kamu diam disini cuman nungguin kita," bujuk Naufal.
"Enggak, aku nggak mau Mas," jawabku.
"Aunty, ayo main sekali ini aja sama Jihan sama Uncle," ajak Jihan.
"Huuuftt oke oke baiklah jika kalian memaksa," kataku sambil tersenyum pada Jihan.
Kali ini aku mengalah dengan mereka.
Kami bercanda dan membuang tawa bersama disana, tiba-tiba saat kami jumping, Jihan menjorokku dan aku terjatuh di dekap Naufal.
Langsung ku lepas dan ku dorong tubuh Naufal.
"Ciye ciye Aunty sama Uncle," kata Jihan dengan polosnya.
"Noni, kamu nggak boleh gitu lagi, nanti kalo Aunty jatuh kesana gimana, ya Non? jangan di ulangi lagi ya?" tutur suamiku.
"Maafin Noni Uncle," kata Jihan.
"Udah nggak papa Jihan, Aunty gak kenapa-napa kok," ujarku sambil mengelus rambutnya.
"Kamu suka kan?" goda Naufal di telingaku.
Ku cubit halus pinggangnya.
"Iiih apaan, enggak ya, ke GR an banget sih kamu," bantahku.
"Ayo Jihan, kita main lagi," ajakku pada Jihan.
Hampir satu jam lebih kita bermain, bercanda dan tertawa bersama.
"Haduuuh capek juga ternyata Non main sama kamu," keluh Naufal.
Aku yang sedari tadi mengelap keningku yang dibasahi oleh keringat.
"Tuh Aunty juga capek Non," tunjuk Naufal.
"Enggak, yeee Aunty biasa aja ini," bantahku lagi tak terima dengan ejekan Naufal.
"Heleh kamu pura-pura aja gitu, nanti kalo sampe rumah pas......," kata Naufal terbungkam lagi olehku.
"Uncle kamu emang nakal Jihan, sukanya gitu sama Aunty," ucapku sambil masih tetap membungkam mulut Naufal.
"Gimana ngomongnya ini Gi? Kalo mulutku kamu bungkam gini," kata Naufal sambil jari telunjuknya mengarah pada bungkaman halusku.
"Uncle, ayo kita beli es krim," ajak Jihan.
Aku melepas bungkamannya.
"Oke Noni, siap," jawab Naufal.
Kami berjalan sambil berkeliling Mall dari lantai 1 hingga lantai 8 , sebenarnya aku sudah merasa sangat capek malam itu tapi sudahlah, dengan adanya Jihan aku hampir tidak merasakan keinginanku untuk segera pulang.
Dan akhirnya es krim yang di maksud Jihan akhirnya kita temukan.
"Ini Non, es krim yang biasa kamu beli?" tanya Naufal.
"Iya Uncle," jawabnya singkat.
"Tau gitu tadi kita langsung naik aja Non, gak pake ke lantai 1 dulu," keluhnya.
"Udah lah Mas, namanya anak kecil," tuturku.
Naufal memesankan 1 es krim untuk Jihan dan 1 lagi untukku.
"Anaknya ya Mas?" tanya Penjual Es Krim.
Krik Krik krik krik.
Naufal dan Gia saling bertatap muka.
Bukan dan iya, itu jawaban kami, Naufal menjawab iya dan aku menjawab bukan.
"Loh, maksudnya gimana ini Mbak Mas kok jawabnya beda," kata Penjual Es Krim yang menahan tawanya.
"Eemmmm, maksudnya gini Mbak, bukan salah lagi, gitu kan Sayang?" kata Naufal.
"Iiii....iya Mbak," jawabku agak ragu.
Setelah kami memesan es krim dan berjalan kembali untuk menuju mushola.
"Kamu gimana sih jawabnya kok bisa beda," ucap Naufal dengan kesal.
"Loh, ya bener aku kan, Jihan kan keponakan kita," jawabku membela diri.
"Iiiih kamu ah, gak bisa di ajak kompromi," ejek Naufal.
"Kamu sih gak bilang-bilang, lagian pake bohong lagi," ejek ku ganti sambil sesekali meliriknya.
Jihan yang menghiraukan perdebatan kami dengan menikmati es krimnya.
"Aku kayak gitu, soalnya kamu tau nggak dari tadi Mbak-mbak baju putih samping kita dari tadi kita di area bermain sampek beli es krim dia memperhatikan aku terus, kamu nggak tau kan?" ucap Naufal sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya.
"Mau kamu aku di taksir sama dia," godanya lagi yang semakin membuatku ingin memukulnya sekarang.
"Kan aku gak tau," ucapku kesal.
"Kalo aku bilang dari tadi ke kamu, pasti kamu udah ngambek sama aku dari tadi awal sampek akhir Gi, gak mau lah aku, garing tau di cuekin kamu," kata Naufal sambil julit padaku.
Tak terasa dari perdebatan kami sudah sampai mushola.
Bersambung.....
Terima kasih kakak semua.ππ
Maaf Author telat upnya.π€
Tapi pasti akan ada gantinya, jadi readers jangan kecewa yaπ
Nantikan episode selanjutnya.
π
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote kak heheheπ