Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 214 (Bye Papa 2)


__ADS_3

Saat jenazah sedang dimandikan, aku dan Johanterus mencoba menghubungi Naufal.


Aku berada di pelukan Mamaku.


"Suami kamu mana Nak??" tanya Mamaku.


"Mas Naufal di Thailand Ma," jawabku.


"Dari tadi Gia mencoba terus menghubungi Mas Naufal tapi nggak bisa Ma, Mas Naufal sibuk Ma, huhuhuhuhu gimana Ma???" tanyaku.


"Sabar Nak, sabar, istighfar ya," tutur Mamaku.


"Ma, kenapa secepat ini Ma? Padahal kemaren Mama bilang, Papa sudah membaik, huhuhu, kenapa seperti ini Ma?? Kenapa Papa ninggalin Gia, huhuhuhu," kataku sambil terus menangis.


Mamaku semakin menangis mendengar rengekanku. Mamaku juga menyesal karena kemarin tidak mengijinkan ku untuk datang menjenguk Papa.


Padahal saat Papa akan pergi, beliau sama sekali tidak memberi pertanda apapun pada keluarga kami, Mama, Johan, begitu juga aku.


Namun, hanya Budhe saja yang diberi mimpi oleh Papaku.


Mama Feni datang menghampiriku, beliau sangat sedih melihatku.


"Sabar Sayang, sabar ya," ucap Mama Feni.


"Naufal gimana Nak??" tanya Mama Feni.


"Belum bisa Ma, belum ada kabar, huhuhu," jawabku.


Tiba-tiba, ponsel Johan bergetar.


"Siapa Dek??" tanyaku.


"Mas Naufal Kak," jawab Johan.


Johan langsung pergi menjauh dari kerumunan orang-orang ini agar tidak berisik, dia berlari ke kamarnya di atas.


Budhe, Mama Feni, dan Mamaku terus mencoba menenangkanku. Bacaan istighfar terus ku ucapkan.


Yang aku pikirkan sekarang, aku tidak bisa lagi ngobrol sama Papa, Berjalan ke Mall berdua dengan Papa, makan ramen saat tengah malam dengan Papa, memakai maskee wajah dengan Papa.


Tawanya, sedihnya, nasehatnya, dan optimisnya.


Aku bakalan rindu itu Pa.


"Huhuhuhuhuhu, aku bakalan rindu dengan kata-kata Papa yang seperti ini.


"Gi, orang jujur pasti mujur"


"Keluarga yang utama, dan segalanya"


"Cintai suami mu, berbaktilah, Insya'Allah surga akan menjadi milikmu Nak"


"Papa sayang sama Gia, Gia segalanya buat Papa, jangan pernah buat Papa sama Mama sedih dan kecewa, bahagiakan kami nanti" kata-kata Papa yang ini yang selama ini terus terngiang di benakku, membahagiakan mereka tanpa merasa berkeluh kesah.


Dan kenapa sampai sekarang aku masih terus mengutamakan kebahagiaan orang di sekitarku termasuk Naufal dan Abay, ya karena ini??? Jika Naufal dan Abay bahagia, pasti Papaku juga bahagia melihatnya.


Ini juga alasan kenapa?? Aku selalu menurut dan tidak pernah membantah pada mereka, karena hidupku hanya untuk mereka, apalagi setelah lulus kuliah, aku mendedikasikan hidupku hanya untuk mereka. Huhuhuhuhuhu, aku juga tidak menolak saat aku dijodohkan dengan Naufal, karena itu yang membuat mereka bahagia.


Dan sekarang???? Aku harus melakukan nya untuk siapa?? Papaku sudah tiada.


Johan menghampiri kami, tepat jenazah Papaku sudah selesai di mandikan.


"Kak, kata Mas Naufal sekarang Mas Naufal sudah siap-siap mau pulang, tapi kan pasti lama, jadi pesan Mas Naufal, nggak usah nunggu Mas Naufal nggak papa," ucap Abay.


Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan dari Johan, Naufal juga tidak salah, memang takdirnya sudah seperti ini.


Papa tiada saat Naufal juga sedang pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah jenazah di sholat i, jenazah akan di berangkatkan ke pemakaman umum terdekat.


Aku melihat Mamaku pingsan karena sudah tak kuat menahan tangis dan lelahnya. Aku semakin sakiitttttttt hati ini melihat Mamaku yang jatuh bersimpuh di pangkuan Budhe.


Bergegas aku pergi ke lantai atas untuk menuju kamar Mama dan Papaku.


Ku ambil foto Papaku yang akan ku bawa ini nanti, sempat menangis melihat tempat tidur Papa yang tak akan pernah lagi beliau singgahi.


"Gia kuat,"


Deeeggggg.........

__ADS_1


Seperti ada bisikan di telingaku saat aku sedang mengelus ranjang tempat Papaku tidur biasanya.


Aku menoleh ke samping kiri dan kanan.


Tidak ada siapapun di dekatku.


"Seperti bisikan Papa, huhuhuhuhuhu, apa ini hanya halusinasiku saja," ucapku dalam hati.


Aku pun turun ke bawah, menemui mereka kembali.


Mama mertua dan Pakdhe menghampiriku.


"Gia, kamu bisa??" tanya Pakdhe.


"Bisa Pakdhe," jawabku.


"Kalo nggak kuat biar Pakdhe saja yang bawa, nanti kamu pingsan seperti Mama kamu Gi," tutur Pakdhe.


"Gia bisa Pakdhe, bisa," jawabku lagi.


"Ya sudah, Pakdhe di belakang kamu," ucap Pakdhe.


"Gia, yang kuat ya, ini untuk Papa kamu Nak," bisik Mama Feni dekat di telingaku.


Aku menoleh padanya.


"Iya Ma, terima kasih Ma," kataku.


Detik-detik keberangkatan jenazah Papaku.


Di temani Johan di sampingku yang juga terus mengalir air matanya.


Saat melihat keranda yang sudah berada di depan mataku, mendengar sedikit ceramah dari Ustad. Aku terus saja membayangkan wajah Papaku.


Dalam hati aku terus berteriak sangat kencang menyebut nama Papaku.


"Papaaaa........huuhuhuuuuuuuu..........disini ada Gia Pa, Papa harus pergi ya? Huhuhuhuhuuuuuu tenang disana Pa, Gia akan selalu do'a in Papa kapan pun Pa, Gia sayang sama Papa, lebih dari sayang Pa, sekarang........Papa bakalan jauh sama Gia,"


"Ini alasan Gia Pa, kenapa Gia tidak pernah mau merayakan hari ulang tahun Gia, karena dulu saat kecil, Gia pernah bilang sama Papa, Gia tidak ingin tumbuh besar dan menjadi orang dewasa, Gia ingin stuck menjadi gadis kecilnya Papa saja, agar Papa tidak pernah tumbuh menua, dan tidak akan bisa meninggalkan Gia, huhuhuhuhum, Papa pasti ingat dulu Gia pernah mengatakan khayalan itu Pa," ucapku dalam hati sambil menerungi kepergian Papa ini.


Dan jenazah Papaku pun dibawa ke Tempat Pemakaman Umum.


Aku di dampingi Johan disampingku dan juga Abay serta Bi Sarah.


Air mata seperti tak bosan-bosannya mengalir di kedua Pipiku.


Kebetulan, jarak antara Tempat Pemakaman dan Rumah Mamaku hanya dijangkau dengan jalan kaki saja.


Sambil membawa beberapa keranjang bunga dan aku membawa foto Papaku berjalan ke Pemakaman.


***(Di Pemakaman)


Ku taburkan bunga-bunga di atas makam Papaku.


Sambil menangis di pelukan Johan.


Semua para pelayat yang ikut ke acara pemakaman mendoakan Papa.


Saat semua orang sudah kembali, dan hanya tersisa Pakdhe, Budhe, aku, Johan, Abay dan Bi Sarah serta Papa Mertuaku disini.


Rasanya aku tidak ingin pulang, ingin menemani Papa disini saja, meskipun mustahil akan terjadi. Aku masih tidak menyangka, Papa pergi secepat ini.


Nama tertulis di batu nisan yang terus ku elus-elus yang ku ibaratkan sebagai kening Papaku.


Belum 1 hari Papa ninggalin aku, tapi aku sudah rindu, aku tidak lagi bisa menggenggam tangan Papaku, tidak lagi bisa memeluknya, menangis di pundaknya apa lagi.


"Pa, Papa tenang disana yaaa, Gia akan slealu khususkan do'a untuk Papa, Gia kangen Pa," ucapku dalam hati.


"Ya Allah, berikan tempat terbaik untuk Papa disana, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkan dari siksa kubur maupun siksa neraka-MU Ya Rab. Aamiin aamiin aamiin,"


"Kak, pulang ya," ucap Johan.


Aku tidak menjawabnya, malah aku menangis lagi di pundaknya.


"Kakak kangen sama Papa Dek," keluhku.


"Mbak Gia..... istighfar Mbak," sahut Bi Sarah.


"Gia, terima semua nya dengan ikhlas, kasihan nanti Papa kamu, Papa kamu sudah tenang dan baik-baik saja disana, ya..." rayu Pakdhe.


Mereka semua tidak tau, bagaimana usaha ku yang terus menerus ingin menerima semua ini, tidak semudah yang mereka katakan, memang.....memang ini sudah takdir....memang ini juga yang terbaik untuk kami semua dari Allah, namun....luka ringan saja tidak bisa langsung bisa sembuh.....apalagi luka semacam ini.


"Nak, pulang ya," sahut Papa Diki.


Johan mengangkat tubuhku yang lemas sambil membantuku berjalan.


***(Di Rumah Papa dan Mama)


Masih banyak orang datang memberikan bela sungkawa pada Mamaku.


Aku masih melihat Mamaku yang tergeletak lemas dengan mata sembabnya menangisi kepergian Papa di pangkuan Kakak dari Mamaku.


Semakin sedih aku melihat pemandangan ini, rasanya ingin segera ku hapus, tapi.....siapa aku???


Papa Diki mendekat dan duduk bersimpuh di sampingku.


"Maafkan Naufal ya Nak, tidak bisa menemanimu saat seperti ini, saat kamu kehilangan Papa kamu," ujar Papa Diki.

__ADS_1


"Iya Pa, Gia nggak papa," jawabku.


Bukan itu yang sekarang ku pikirkan, sekarang aku hanya ingin menenangkan diriku saja. Berusaha menerima dan menerima dengan ikhlas, ikhlas melepas kepergian Papaku.


Sangatlah berat memang, tapi apakah aku akan berlarut dalam kesedihan ini??? Tidak mungkin, aku juga harus melanjutkan hidup, untuk anak dan suamiku.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, saat aku tengah mneggantikan Mamaku, karena masih banyak pelayat yang berdatangan.


Aku belum bisa menceritakan apa-apa pada mereka.


Telingaku panas, saat mereka menanyakan kejadian saat Papa akan pergi, aku ini tak tau apa-apa.


Biarkan aku yang di hujani pertanyaan ini, jika Mama?? Kasihan Mama, pasti Mama akan terus menerus mengulangi kesedihan saat menjawab pertanyaan dari mereka yang sama saja jawabannya.


.


.


.


.


.


.


.


Tepat pukul 3 Sore.


Akhirnya, Naufal pun datang dengan memakai baju serba putih.


"Assalamu'alaikum," ucap Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang sedang ada di dalam rumah ini.


Naufal langsung terjatuh duduk bersimpuh di hadapan Mamaku, dia langsung menyalami tangan Mamaku dengan tundukan kepalanya dan keningnya menempel seperti orang yang sedang sungkem.


"Mama, maafin Naufal Ma, Naufal belum datang disaat Papa pergi, Naufal benar-benar minta maaf Ma," ucap penyesalan Naufal.


Mamaku hanya bisa mengelus-elus pundak Naufal.


Lagi-lagi aku menangis melihatnya.


Aku tau pasti Naufal merasa bersalah dengan Mamaku dan juga aku, karena tidak bisa hadir menyaksikan saat-saat terakhir Papaku.


Naufal memeluk Mamaku dan Mama menangis di pundak Naufal seperti sedang membisikkan sesuatu di telinga Naufal.


Aku melihatnya dari jauh.


Apa yang sedang mereka bicarakan.Yang aku dengar hanya kata terima kasih dari Mamaku pada Naufal


Lalu aku pun berlari naik ke lantai atas karena sudah tidak sanggup lagi melihatnya.


Setelah dia menemui Mamaku, sekarang mata Naufal sedang mencari-cari keberadaanku. Karena aku tidak tampak disana.


Naufal menanyakan keberadaanku pada Bi Sarah, dan dia menyusulku ke atas dan menemuiku yang sedang duduk merenung sendirian di kamarku.


Gleeekkkkk.......


"Sayang," panggil Naufal.


Aku menoleh padanya dengan kedua mataku yang sudah sangat berat ini, kaki yang lemas ini, ku paksa berlari ke arah Naufal untuk segera ingin memeluknya, menangis di pelukannya.


Dan ternyata aku sudah tidak kuat lagi menyangga diriku sendiri, aku terjatuh ke pelukan Naufal.


Buuuukkkkk....Naufal langsung memelukku.


Aku memeluknya sangat erat. Pasti Naufal merasa kesakitan.


"Aaaghhh.....huhuhuhuhuhuhu,"


Aku menangis terisak-isak seakan-akan mengadu pada Naufal tentang sakitku ini.


"Sabar ya Sayang, sabarrr," tuturnya sambil mengelus-elus kepalaku.


"Maafin aku, maafin aku ya," ucap Naufal.


"Kamu boleh peluk aku sekenceng yang kamu mau Sayang, lakukan," sambung Naufal lagi yang mengerti akan suasana hatiku.


Aku tidak peduli jika orang yang ada di luar mendengarkanku menangis, aku sudah tidak perduli, aku hanya ingin menangis di pelukan suamiku yang dari tadi ku nantikan.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2