Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 118 (Teka Teki)


__ADS_3

Naufal segera menggendong dan membawaku ke Kamar.


Mamaku yang melihatnya dan langsung panik lalu mengikuti Naufal ke kamarku.


***(Di Kamar)


Naufal langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang.


"Fal Gia kenapa ini??!" tanya Mamaku.


"Nggak tau Ma, tiba-tiba tadi dia pingsan tapi di acara pernikahan Susi tadi dia sempat mengeluh kalau kakinya rasanya nyeri," jawab Naufal.


Naufal segera melepas yang terpakai di kedua kakiku. Dia melihat kedua kakiku yang bengkak.


"Apa Mama panggilin Dokter aja ya," kata Mamaku karena sangat panik.


"Nggak usah Ma, ini Gia cuma kakinya bengkak kok," kata Naufal.


"Beneran nggak papa ini Fal?" tanya Mamaku.


"Iya mah mungkin cuman ini nanti dikompres aja," ucap Naufal.


"Saya ambil kan akhirnya yang Mas," kata Bi Sarah.


"Air dingin ya Bi," kata Naufal.


"Iya Mas," jawab Bi Sarah.


Bi Sarah segera mengambilkan air dingin untuk mengompres kakiku, sedangkan Mamaku sangat panik dan terus mengelus keningku.


"Ya Allah nak Kamu kenapa sih?" ucap Mamaku.


"Mama tenang aja kakak ini lagi ya cuman kelelahan kok Ma," kata Naufal ingin menenangkan Mamaku.


Padahal ini masih 7 bulan loh Fal hamilnya Gia, kadang kalo kakinya bengkak itu 8 bulan kalo nggak 9 bulan," ucap Mamaku.


"Oh gitu ya Ma, tapi yakin aja Ma ini pasti cuman kelelahan kok, nanti coba Naufal tanyakan ke teman Naufal," ujar Naufal sedikit menurunkan kepanikan Mama.


Tak lama kemudian Bi Sarah kembali membawa 1 ember air dingin.


"Ini Mas airnya, Bibi saja yang ngompres nggak papa Mas," tawar Bi Sarah.


"Naufal aja Bi nggak papa," ucap Naufal.


"Ya udah Mas," kata Bi Sarah sambil menyerahkan ember dan sehelai kain pada Naufal.


Akhirnya Naufal telaten mengompres kaki kanan dan kaki kiriku.


Aku merasakan sentuhan dingin pada kakiku, sehingga perlahan aku pun terbangun.


"Mama," rengekku.


"Alhamdulillah," ucap Mamaku.


"Mama kenapa nangis?" tanyaku.


"Mama panik lihat kamu pingsan tadi di bawa sama Naufal," jawab Mamaku.


Aku mencoba mengingat-ingat saat aku terjatuh tadi.


"Maaa, Gia nggak papa," tuturku.


"Tapi Mama tetep khawatir Nak, kan berkali-kali Mama bilang sama Gia, jangan kecapekan, itu yang Mama minta," ucap Mamaku.


"Ya Allah kasihan Mama, Mama sangat khawatir padaku," gumamku dalam hati.


Aku mencoba menarik tubuhku untuk duduk, ku hapus air mata Mamaku.


"Ma, Gia nggak papa, maafin Gia ya, tapi tadi tiba-tiba kaki Gia nyeri banget Ma, Gia nggak tau kalo sampe efeknya kayak gini, maafin Gia ya Ma," ucapku sambil memeluk Mamaku.


"He'em, kamu jangan capek-capek lagi ya, kasihan bayi kamu," tutur Mamaku.


"Iya Ma," jawabku yang merasa bersalah karena membuat Mamaku khawatir.


"Mama belum sholat kan?? Mama sholat dulu gih," ucapku.


"Ya udah Mama sholat dulu ya," kata Mamaku sambil mengusap air matanya.


"Iya Ma, udah Mama jangan nangis," ucapku sambil mengelus tangannya.


Mamaku berjalan keluar dari kamar dan diikuti Bi Sarah.


Naufal tetap melongo melihatku.


"Mas, kamu kenapa melongo gitu?" tanyaku.


"Aku panik lah Sayang, aku berusaha buat terlihat nggak panik di depan Mama, nanti kalo aku panik, Mama makin panik juga Sayang, aku coba beberapa kali cari alasan buat nenangin Mama," kata Naufal.


"Maafin aku, jadi panik semua," ucapku.


"Tadi kamu di gendong nggak mau," ucap Naufal.


"Iissshh banyak orang Mas malu lah aku," rengekku.


"Gimana kaki kamu? Masih sakit?" tanya Naufal.


"Agak enggak sih, tadi kaku banget," keluhku.


"Kecapek an ini kamu," tebak Naufal.


"Padahal aku nggak ngapa-ngapain loh Mas," kataku.


"Kamu nggak ngrasa kecapek an Sayang, tapi kan tadi kamu banyak berdiri, banyak jalan," kata Naufal.


"Iya iya maaf ya," rayuku lagi.

__ADS_1


"Udah ah, ayos holat dulu Mas," ajakku.


"Aku gendong ya," ucapnya.


"Enggak, aku jalan sendiri aja," tolak ku.


"Tuh kan, kamu gitu Sayang," ucap Naufal.


"Ya udah iya, tapi nanti habis wudhu aku jalan sendiri ya," ucapku.


"Iya iya heemmm," kata Naufal.


Naufal langsung menggendongku, setelah Naufal berhasil menggendongku dalam dekapannya. Dia tidak langsung membawaku untuk wudhu, tetapi malah tersenyum dengan terus menatapku.


Wajahku memerah dan jantungku berdebar tak karuan.


"Naufal apa-apaan sih," gerutuku dalam hati.


"Massss, apaan sih, jangan lebay," ejekku.


Naufal tidak menggubris apa kataku, dia tetap menatapku, aku semakin salah tingkah dan malu.


Ku goyang-goyang kan kedua kakiku, tapi lagi-lagi dia tidak menggubris ku.


"Aaaarrghh, jangan dingin dong Fal, jangan buat jantungku mau copot seperti ini," gerutuku dalam hati.


Ku gigit saja lengan Naufal yang sedang mengangkat kepalaku.


"Aaaaaw, Giaaaa," keluhnya.


"Kamu apaan sih jangans seenaknya gitu dong Mas," ucapku.


"Seenaknya gimana sih Sayanggggg, hmm?" tanyanya.


"Ya kamu, seenaknya aja natap aku kayak gitu, senyumin aku kayak gitu, seenaknya buat jantu...," ucapanku terhenti saat aku mulai mengutarakan apa yangs sebenarnya aku rasakan pada Naufal.


"Kenapa?? Kenapa diam gitu, jan....jantu?? Jantu apa Gi?" tanyanya.


"Udah ah ayo kita wudhu," ucapku karena tidak ingin ketahuan oleh Naufal.


"Jan apa sih Gi?" tanyanya lagi.


"Mas Naufal....gak penting," kataku.


"Nggak, setiap kata yang kamu ucapkan, itu penting bagi aku Gi," kata Naufal.


"Aaashh masihs sempat-sempatnya dia ngegombal kayak gini," gumamku dalam hati.


"Hayo jawab dulu, jan apa tadi?" paksanya lagi.


Naufal berfikir kuat-kuat.


"Apa tangan Naufal ini nggak kram karena terus menggendongku," ucapku dalam hati.


"Gi ayolah," kata Naufal.


"Eciyeeee ciyeeee eemmm gitu ya," goda Naufal yang semakin membuatku jengkel.


"Mas, udah donga ayoo," ajakku.


"Ehehehem, jadi gitu ya, ya udah mulai sekarang aku sering-sering gitu in kamu aja, hihihihi," canda Naufal.


"Kamu nyebelin gitu Mas," ejekku.


"Biarin, wekkkk," ejek Naufal balik lalu berjalan membawaku ke dalam kamar mandi untuk segera mengambila air wudhu.


.


.


.


.


Setelag wudhu, kami langsung melaksanakan sholat dhuhur berdua.


Setelah sholat, aku kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang.


"Udah kamu rebahan aja, kalo mau apapun bilang sama aku," tutur Naufal.


"Iya Pak Dokter," jawabku.


"Aku ke bawah dulu bentar ya Sayang ambila air," kata Naufal.


Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.


Naufal berjalan keluar dari Kamar. Aku hanya diam sambil menonton TV di Kamar.


Tiba-tiba Mamaku masuk ke Kamar untuk menemuiku.


"Mama nggak tidur?" tanyaku.


"Enggak Nak," jawabnya sambil duduk di sampingku.


"Mama kan biasanya tidur," ucapku.


"Khusus untuk hari ini dan besok, Mama nggak tidur, karena ada kamu disini," kata Mamaku.


"Nak," panggilnya dengan tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca.


"Iya Ma?" jawabku.


"Mama tau, sebenarnya rumah tangga mu tidak seindah yang kamu ucapkan pada Mama, tapi kamu saja yang selalu membawanya dengan bahagia, dan tidak pernah mengeluh sedikitpun sama Mama sama Papa, dulu waktu kamu dijodohin sama Naufal, Adikmu bilang sama Mama gini, Ma, Kakak harus ya dijodohin, dia bilang gitu, Mama hanya mengangguk saja di depannya, Mama mikir begitu sayangnya Adikmu padamu Nak, sampai dia bilang seperti itu," ucap Mamakus sambil air matanya berlinang di kedua pipinya.


"Mamaaaa, Mama kenapa bilang gitu? Gia bahagia Ma," kataku sambil mengelus tangannya.

__ADS_1


"Mama tau rasanya Nak, karena Mama juga seperti Gia," tepis Mamaku yang terus menangis.


"Maaaa, pilihan orang tua adalah pilihan yang paling tepat, Mama sama Papa ingin memberikan yang terbaik untuk Gia, jadi nggak ada salahnya Ma," kataku.


"Iya Nak, Mama tau betul, tapi jika dari pertama sudah saling mencintai pasti itu akan lebih mudah, sedangkan kamu dan Naufal hanya mengenal beberapa bulan saja," ucap Mamaku.


"Udah Ma, Gia bahagia kok sama Mas Naufal," tepisku lagi.


"Kamu selalu menyembunyikan semua sedihmu dari Mama dan Papa Nak, segigih apapun Mama ngotot sama kamu, pasti kamu nggak bakal cerita Nak, begitu pintar kamu menyembunyikan semua itu," ucap daalm hati Mamaku.


"Mama jangan nangis gitu ah," kataku mencoba menghibur Mamaku.


Mama bercerita banyak padaku, meluapkan semua kerinduannya padaku.


Sedangkan Naufal yang berpamitan untuk mengambil air, sampais sejam ini dia tak kunjung kembali ke kamar.


"Mama ke bawah dulu ya, bantuin Bibi," pamit Mamaku.


"Iya Ma," jawabku.


Mamaku berjalan menuju keluar Kamar.


Saat Mama keluar kamar, Naufal berjalan masuk ke kamar.


"Lama banget Mas," kataku.


"Hehehe, iya tadi di ajak Johan main PS bentar Sayang," kata Naufal.


"Heemmmm, nyaman ya sampe lama banget," kataku.


"Ih ih ih kamu cemburu," ejek Naufal padaku.


"Ya enggak, aku cuman bilang aja, siapa yang cemburu, GR banget kamu," ejekku ganti.


"Kamu kesepian ya di kamars sendiri," ucap Naufal.


"Enggak lah, aku tadi di temenin Mama, weekkkk," kataku padanya.


Beberapa jam kemudian, adzan ashar berkumandang.


"Disini adzan nya lambat ya Gi," kata Naufal.


"Lambat gimana Mas? Ya enggak lah," kataku.


"Tuh kan disini adzan nya jam setengah 4, kalo disana jam 3 berapa gitu," kata Naufal.


"Beda tipis doang Mas," kataku.


"Kamu mandi dulu gih," tuturku.


"Iya iya," jawab Naufal yang sangat menurut padaku.


Naufal segera masuk ke kamar mandi, aku berjalan-jalan menyusuri balkon rumahku.


Aku terus memikirkan apa yang sudah dibicarakan Mamaku padaku.


"Kenapa Mama tiba-tiba tanya seperti padaku," gumamku dalam hati.


"Memang sih insting seorang Ibu itu sangat kuat dengan anaknya, tapi.....Apakah Mama memang benar-benar merasakan ya?" tebakku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, Naufal memanggil-manggil namaku.


"Gi....,"


"Giaaa," panggilnya.


Aku segera berjalan menghampiri nya.


"Iya Mas?" jawabku.


"Kamu dari mana? Jangan sengaja ngilang-ngilang hanya untuk dicari Gi," ucapnya sambil menahan tawanya.


"Hehehhem, bohonggg," kataku sambil berjalan menyenggol bahunya.


Aku berjalan masuk ke kamar mandi.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi, dan kami segera melaksanakan sholat ashar bersama.


Setelah sholat, Mama memanggilku untuk ke bawah.


Segera aku menemui Mamaku.


"Gi," panggilnya.


"Iya Ma," jawabku sambil menuruni anak tangga.


Mama ku membawa sebuah kotak berwarna putih yang sudah lusuh dan sudah kotor.


"Mama ini bawa barang kamu, ketemu di gudang," ucap Mamaku.


"Apa itu Ma?" tanyaku.


"Ini bukannya barang kamu?" tebak Mamaku.


"Perasaan aku nggak pernah punya kotak putih gini deh," gumamku dalam hati.


"Gia kayaknya nggak punya ginian deh Ma," ucapku.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2