
Aku sangat deg deg an menatap Naufal sedekat ini, aku rindu matanya, dagu nya, hidungnya, dan lesung pipinya.
"Mas, apa sih?? Jangan gini," kataku.
"Aku nggak akan lepasin kamu, kalo kamu nutup-nutupin dari aku," ucap Naufal dengan lirih.
"Nutup-nutupin apa sih Mas?? Gak ada," jawabku.
"Udah lah Sayang, jujur aja, kamu kayak gini kenapa," paksa Naufal.
Aku membuang pandanganku untuk tidak menatapnya meskipun aku masih dalam pelukannya.
"Tadi, Noni sama Mamanya ke Rumah Sakit kan," ceplosku.
"Memang iya Sayang, kamu marahnya gara-gara itu," ucapnya.
"Aku nggak marah, aku cuman mikir, sampe segitunya ya mereka sampai nyamperin ke tempat kerja kamu, untuk apa sih sebenarnya?? Apa kamu punya hubungan sama Mamanya Noni diam-diam di belakang aku," kataku langsung tanpa sungkan lagi.
Naufal semakin menatapku kuat, dan melepas pelekannya.
"Astagfirullah Giiii, aku nggak kayak gitu Gi, astaga," ucapnya.
"Kamu kenapa sih Mas??? Ada Abay nggak malah fokus ke Abay, malah fokusnya sama mereka, sebenarnya keluarga kamu itu aku dan Abay atau mereka sih Mas??? Disini aku nggak ngrasain sama sekali loh, kamu sepenuhnya untukku dan Abay, berkali-kali aku bilang ke kamu, kamu tetep kekeh sama mereka, sakit loh Mas aku saat denger Noni manggil-manggil kamu tadi, aku syok, dan tadi jelas kamu ada di ruangan sama mereka kan Mas??? Terus yang buat aku sedihnya lagi, kamu nggak nelfon aku balik, segitu gak pentingnya aku sekarang, makin lama kok makin kayak gini Mas kita," kataku dengn kedua mataku yang sudah berkaca-kaca.
Naufal menghela nafasnya.
"Gitu banget kamu, kalo emang dia lebih penting, dan kamu memang harus menjaganya selalu, kenapa kamu nggak nikah aja Mas sama Mama Noni Mas," ceplosku yang masih santun karena sudah tidak kuat lagi karena semua ini menyangkut Abay, dan ini pertama kalinya aku berani bilang seperti ini pada seseorang selama hidupku.
Naufal hanya diam menatapku.
"Kamu diam kan, karena kamu gak bisa jawab, susah bicara sama kamu, udah lah," kataku sambil menghapus air mataku lalu melangkah pergi.
Dan Naufal langsung berlari menutup pintu dan memelukku.
Naufal mengelus kepalaku.
"Maafin aku, maafin aku Gi, aku buta dengan semua, aku ini milikmu, tapi tidak sepenuhnya denganmu, aku sempat merasa Gi, bahwa aku tidak adil padamu, maafin aku Sayang," kata Naufal di pundakku.
Tapi aku menjorok tubuhnya, agar terlepas dari pelukannya.
"Bukan hanya kata maaf Mas yang bisa aku terima, aku butuh tindakan kamu sebagai suamiku sekaligus Papa nya Abay," kataku lirih.
"Apa semuanya sudah berubah Mas??? Hati mu?? Cinta mu?? Sayang mu?? Apa semua sudah berubah, sampai kamu tak adil padaku, jika memang kamu ingin menjaganya, ingin menghidupinya, ingin selalu ada untuknya, menikahlah," gertakku dengan air mata yang terus mengalir kedua pipiku.
"Sayang, kamu kok ngomong gitu sama aku, nggak ada yang berubah disini, aku tetap sama, tetap mencintaimu, itu akan berlaku selamanya," ucap Naufal sambil menatapku.
"Kamu dulu juga sering bilang seperti itu, tapi sekarang?? Bagaimana dengan Noni dan Mamanya, apa mereka kewajibanmu??" tanyaku lagi.
Aku berjalan meninggalkannya untuk turun ke bawah mengambil Abay.
.
.
.
.
.
Malam hari menjelang tidur, Abay sudah lelap dalam tidurnya.
Naufal mencoba membawaku duduk-duduk di tepian balkon.
"Kamu kenapa bawa aku kesini?" tanyaku yang sama sekali tidak menatapnya.
"Aku sudah memikirkan semuanya, aku juga akan siap mengambil resikonya," jawab Naufal.
Deeeeeggggg......
"Naufal siap mengambil resikonya??? Apa dia akan menikahi Mama Noni??! Ya Allah......Tegarkan hati hamba," do'aku dalam hati.
"Huuuufftttt,"
"Apa?" tanyaku singkat seolah tak peduli.
"Aku akan memberi jarak antar aku dan mereka, aku tidak akan lagi mmebuatmu cemburu saat aku bersama mereka, aku janji Gi, setelah aku pikir-pikir, aku sangat tidak bisa jika harus kehilangan kamu, dengan kata-kata yang kamu ucapkan tadi padaku, itu yang membuatku sadar, yang berharga adalah kamu, meskipun Noni dan Mamanya memang amanah, aku akan tetap menjaganya dengan semestinya aku sebagai saudaranya, aku tidak akan berlebihan lagi Gi, aku sangat janji sama kamu," ucapnya.
"Kamu milikku," kata Naufal lalu memelukku.
Aku menangis mendengar kata-kata Naufal.
"Tapi kamu harus tau, menjaga jarak bukan berarti kamu menjauhi mereka, kamu tetap saudara mereka Mas, aku tidak ingin menajuhkanmu dari saudaramu sendiri, aku nggak sekejam itu," kataku di pundak Naufal.
Naufal melepas pelukannya.
"Aku tau Sayang," ucapnya.
Naufal mendekatkan wajahnya padaku.
Deg.....deg....deg.
Dan dia mendaratkan ciumannya tepat di keningku.
Dengan angin malam yng menggores dingin pori-pori kami, Naufal menciumi setiap inci wajahku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, aku segera membangunkan Naufal yang sekarang tengah memelukku dari belakang.
"Uuughhhmmm," tangannya sangat berat.
"Mas....," ucapku sambil mengelus-elus tangannya.
"Mas Naufal," panggilku.
Pelan-pelan Naufal membuka matanya.
"Udah Shubuh bangun," kataku.
Aku segera beranjak dari ranjang dan mandi.
Setelah selesai mandi, segera aku siapkan alat sholat untuk kami.
Beberapa menit kemudian, Naufal keluar dari kamar mandi lalu segera melaksanakan sholat subuh bersama ku.
Setelah sholat, Naufal segera bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Aku menggendong Abay yang sepertinya sudah terbangun.
"Abay Sayang, uuuuh udah bangun Nak," kataku.
segera kubuka gorden yang mengelilingi kamarku.
Matahari pagi sudah tampak separuh di ujung timur.
"Hmmm seger banget," kataku yang menikmati embun pagi.
Aku menggendong Abay sambil menunggu Naufal selesai bersiap-siap.
Tak lama kemudian, Naufal sudah berpenampilan rapi dengan menggunakan kemeja berwarna tosca nya dan juga jam tangannya warna silver serta sepatu hitam yang sangat mulus dan licin itu.
"Ayo turun Sayang, kita sarapan," ajaknya.
Aku udah Naufal segera turun ke bawah.
***(Di Ruang Tamu)
Semenjak ada Abay, Bi Sarah dan lainnya selalu sarapan setelah ku, karena saat aku makan Bi Sarah harus menjaga Abay.
"Monggo Mbak sini Dek Abay nya," kata Bi Sarah.
Aku segera memberikan Abay itu padanya.
"Aduh aduh anak ganteng," kata Bi Sarah.
Aku dan Naufal segera menyantap hidangan sarapan pagi itu.
Setiap sarapan pagi ini, aku jadi teringat dengan masalah sandwich, sudah lama Naufal tidak makan sandwich di depanku.
Hehem memang Naufal selalu begitu, memegang apa yang sudah dia katakan.
"Nanti kamu pulang jam berapa Mas??" tanyaku padanya.
"Sore Sayang kayak biasanya," jawabnya.
"Oh gitu, emangnya ada meeting ya??" tanyaku lagi.
"Enggak ada sih Sayang," jawab Naufal.
__ADS_1
"Eh Mas, Susi sekarang berhenti kerja ya," kataku.
"Iya, kok kamu tau?? dia cerita sama kamu??" tanya Naufal Balik.
"Iya kemarin waktu dia di sini kan dia cerita sama aku kalau nggak dibolehin kerja sama Pak Bastian," jawabku.
"Iya Bastian juga cerita sama aku katanya biar dia nggak kecapek an terus biar cepat hamil juga," ucap Naufal.
"Kalo menurut aku ya Sayang, kan emang kita berusaha udah pasti, tapi kan juga aku nggak bisa ngelarang Kamu tiba-tiba nggak kerja gitu, kamu kan dulu juga pernah aku minta kan buat kamu nggak kerja, tapi kamu nggak mau. Soalnya ini juga cita-cita Papa kamu, kamu juga pengen banget kan dari dulu katanya, ya jadi sedikasihnya aja sama Allah kapan," kata Naufal yang selalu membuatku insecure dengan kedewasaannya.
"Terus kamu baru mau nggak kerja waktu lahiran ini, nanti kamu juga bakal balik kerja lagi soalnya kamu nggak mau kan aku suruh berhenti, jadi kamu cuma cuti," kata Naufal.
"Bukannya aku nggak mau nurut sama kamu Mas," sahutku.
"Iya Sayang, aku ngerti aku paham, kan kamu juga ngelakuin kerjaan kamu kan juga enggak terpaksa, kamu bahagia bahagia aja nggak ngerasa tertekan atau gimana-gimana," ucap Naufal.
Selesai sarapan aku mengantarkan Naufal ke halaman depan.
"Sayang aku berangkat ya, Assalamu'alaikum," ucapnya sambil mengecup keningku lalu ku selami tangannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab ku.
Matahari sudah semakin terik, dma sepertinya hampir bergeser ke arah barat.
"Bi ini nanti Gia keluar dulu ya sama Susi buat beli sesuatu, sebenarnya Gia pengen aja Abay, cuman kan pasti nggak dibolehin sama Mas Naufal soalnya kemarin Gia sudah sempat ngomong sama Mas Naufal tapi nggak diizinin, jadi Gia titip dulu ya Abay sama Bibi, Gia nggak lama kok Bi," kataku.
"Oh iya Mbak, monggo-monggo pasti Bibi jagain Dek Abay," kata Bi Sarah.
"Ya udah Gia berangkat dulu ya Bi, mau jemput Susi," kataku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.
Ku sempatkan untuk mencium Abay yang sebenarnya tak ingin ku tinggalkan.
"Mama pergi dulu Sayang," kataku sambil mencium kening Abay.
"Assalamu'alaikum Bi," salamku.
"Wa'alaikumsalam Mbak hati-hati ya," tutur Bi Sarah.
Aku segera masuk ke dalam mobilku lalu melajukan mobilku untuk menjemput Susi.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di rumah Pak Bastian.
Ini kali pertamanya aku ke rumah Pak Bastian.
Sebelum aku turun dari mobil aku sempat menghubungi Susi karena aku takut ini pertama kalinya.
Rumahnya sangat sepi seperti tidak berpenghuni hanya suara angin yang berhembus di telingaku.
Dan tampak Susi yang tengah melambaikan tangannya yang berdiri di tengah-tengah pintu rumahnya sambil memanggil-manggil namaku.
Segera kubuka mobilku lalu turun dan menghampirinya.
"Assalamu'alaikum, wah ini ya rumahnya," kataku.
"Iya Gi, kamu nggak masuk dulu," ajaknya.
"Emmm enggak Si, kamu udah siap kan?" tanyaku.
"Udah kok Gi, tinggal cus kita berangkat," jawabnya.
Kami segera berangkat menuju sebuah Mall.
Di dalam mobil kami sempat berbincang-bincang.
"Si rumahnya Pak Bastian sepi banget ya," kataku.
"Ya gitu deh Gi, maka nya aku kesepian sendirian di rumah," ucap Susi.
"Kamu nggak takut, ada hantu gitu??" tanyaku padanya.
"Aaahh Gia jangan bicara in itu," jawabnya.
"Abis sepi banget loh Si, sumpah aku dari tadi di depan aja udah mengkorok banget," keluhku.
"Ya pasti pertama ada gangguan-gangguan gitu lah Gi, cuma lama-lama aku cuek aja," jawab Susi.
"Emang kamu nggak gitu di Rumah Naufal?" tanya Susi balik.
"Iya sih Gi bener kamu, aku juga pengennya gitu, tapi katanya Mas Bastian mau nikmatin berdua dulu aja," ucap Susi.
"Jadi ya gitu, untung aja Mas Bastian pulang kerjanya nggak malam-malam," kata Susi.
Lama kami berbincang-bincang, akhirnya kami sampai juga di Mall.
***(Di Mall)
Setelah mobil terparkir dan kami masuk lift menuju lantai 5.
Susi membeli perlengkapan untuk hari ulang tahun Pak Bastian besok.
"Kamu mau kasih kado Pak Bastian apa Si?" tanyaku.
"Aku mau beliin sepatu sport buat dia Gi," jawabnya.
"Oh berarti ini kita beli kadonya dulu apa beli yang buat surprise nya dulu," tanyaku.
"Beli kadonya dulu aja Gi," jawabnya.
Aku dan Susi segera berjalan menuju sebuah toko sepatu sport yang terkenal brand-nya.
Susi sempat meminta pendapat padaku yang pantas sepatu sport yang akan dipakai Pak Bastian.
"Aduh Gi aku lupa," ucap Susi.
"Lupa apa??" tanyaku.
"Aku nggak tau ukuran kaki Mas Bastian Gi," jawabnya.
"Astagfirullah Susi, ukuran kaki suaminya aja nggak tau," kataku.
"Hehehe ini baru pertama kalinya aku kaaih kado Mas Bastian sepatu loh Gi, maklum lah," ucapnya sambil tersenyum menyeringai padaku.
"Ya udah aku coba telepon Mas Naufal dulu," kataku
Ku ambil ponsel di dalam tasku.
Tut....tut...tut Suara dering dari ponselku.
"Halo Assalamu'alaikum," salam Naufal.
"Wa'alaikumsalam, Mas kamu sibuk nggak," tanyaku.
"Nggak, kenapa Sayang?" tanya Naufal balik.
"Ini kan aku lagi beli kado kan sama Susi yang kemarin aku pamitan sama kamu, terus dia mau kasih kado sepatu, eh dia nggak tau ukuran kaki Pak Bastian, kira-kira kamu tau nggak Mas?" tanyaku.
"Oh ukuran kaki Bastian, 42 43 an Sayang," jawab Naufal.
"Oh gitu ya, ya udah kalo gitu makasih Mas, maaf ganggu," ucapku.
"Iya Sayang nggak papa, aku juga belum beliin kado buat dia kok, sekalian kamu beliin bisa??" ucap Naufal.
"Bisa Mas, tapi kalo ketauan Susi gimana?" tanyaku.
"Ya nggak papa Sayang, kan yang di kasih kado suaminya bukan Susi, nanti barangnya aku wa kamu ya," kata Naufal.
"Iya Mas, ya udah kamu lanjut kerja," tuturnya.
"Iya Sayang, byee Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam," jawabku lalu menutup teleponnya.
"Gimana Gi?? Berapa kata Naufal," tanya Susi.
"42 sampe 43 an katanya Si," jawabnya.
"Ya udah sip, nanti kamu bantu nyariin ya," ucapnya.
"Loh kok aku Si? Kan kamu istrinya," tepisnya.
"Kan kamu udah lebih tau dan berpengalaman Gi, hehehhee," ejek Susi.
"Iiiisshhh," kataku.
Akhirnya aku dan Susi memilih-milih sepatu yang cocok untuk Pak Bastian.
"Gi ini kayaknya bagus deh," kata Susi sambil membawa sepatu berwarna hitam putih.
"Kamu suka itu?" tanyaku.
"Iya, kayaknya cocok deh buat Mas Bastian," jawab Susi.
__ADS_1
"Ya udah ambil itu aja nggak papa," kataku.
"Lihat dulu ukurannya," tuturku.
Dan ternyata Susi berhasil mendapatkan sepatu itu.
Tak lupa aku juga membelikan sepatu untuk suamiku.
"Kita kemana lagi ini Si?" tanyaku.
"Ke toko pernak-pernik seadanya disini aja Gi," jawabnya.
Susi mengajakku ke sebuah toko pernak-pernik.
Di toko tersebut, Susi langsung tinggal mengambil semua yang dia inginkan.
Beberapa menit kemudian, balon dan perlengkapan lainnya sudah lengkap, gantian aku mengajaknya ke toko jam tangan sesuai permintaan Naufal.
"Si ikut aku bentar," ajakku.
"Kemana?" tanyanya.
"Udah ikut aja," kataku.
Aku segera menariknya untuk pergi ke toko jam tangan.
Disana aku tinggal mengambil jam tangan yang sudah di pesan Naufal.
Setelah aku membayarnya dari kami berjalan untuk segera pulang.
"Udah Gi gitu doang tadi?" tanya Susi.
"Iya Si, Mas Naufal udah pesan jadi aku tinggal ambil," jawabku.
Saat aku dan Susi tengah berjalan menuju mobil kami, tiba-tiba di mobil Susi ada Pak Kevin dengan wajah agak pucatnya.
Deeegggg..
"Bapak," panggil Susi.
"Bapak kok bisa ada disini?" tanya Susi.
"Aku pengen bicara sama temanmu ini," jawab Pak Kevin sambil menatapku.
"Ya udah kalo bapak bicara disini saja," kataku.
"Aku hanya mau bicara sama kamu," ucap Pak Kevin
Susi dibuat bingung dengan Pak Kevin.
"Aku mohon, ikut aku sebentar saja," paksanya.
"Maaf Pak saya tidak bisa, sudah ada hati yang harus saya jaga," tolakku.
"Permisi Pak, maafkan saya," kataku.
Aku dan Susi masuk ke dalam mobil, mobil melaju meninggalkan Pak Kevin.
"Ada apa lagi sih Gi kamu sama Pak Kevin?" tanya Susi.
"Aku nggak tau Si," jawabku yang fokus menyetir.
"Kamu lihat nggak tadi Gi? Wajahnya Pak Kevin pucet banget," kata Susi.
Deeeggggg.
Sesekali aku melihat kaca spion.
"Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Pak Kevin padaku ya, apa tentang penyakitnya??? Atau tentang yang lainnya," dalam hatiku bertanya-tanya.
"Masak sih pucet Si?" tanyaku lagi untuk memastikan bahwa apa yang ku lihat tadi sama seperti yang ditanyakan Susi padaku.
"Iya Gi, Seriusan," jawab Susi yang begitu yakin.
"Kamu kenapa sih Gi tadi nggak mau diajak bicara, cuman bentaran loh padahal," kata Susi.
"Aku takut ada salah paham lagi Si," tepisku.
"Barangkali tadi penting Gi," kata Susi yang menyadarakan hatiku.
"Kan kamu setelah ini bisa ceritain ke Naufal, jadi kamu nggak terlihat seenaknya sendiri, kamu ya tetep jaga hati buat Naufal," tuturnya.
"Kasihan loh Gi, coba temui beliau," ucap Susi.
"Apa beliau akan membicarakan tentang penyakitnya padaku ya, seperti kata-kata yang di tulis beliau di diaryku, Kamu tidak akan pernah tau, apa tentang itu yang akan dibicarakan Pak Kevin," gerutuku dalam hati.
Setelah ku pikir-pikir, langsung ku putar balik arah mobilku.
"Loh Gi?? Beneran kita samperin sekarang?" tanya Susi yang panik.
"Iya Si," jawabku sambil melajukan mobilku dengan kecepatan yang sangat cepat.
Susi mengucap istighfar terus dalam mobil karena takut dengan kecepatan mobilku.
Sampainya di parkiran Mall, ku cari-cari disana tidak ada keberadaan Pak Kevin.
"Nggak ada Si, beliau udah pulang," kataku.
"Yaaah, kayaknya iya Gi," kata Susi.
Ku telusuri semua lantai parkiran, tapi aku tak kunjung menemukan Pak Kevin atau mobilnya.
"Sudahlah Si, mungkin sudah takdirnya seperti ini," cetusku.
"Hmmm ya udah Gi," kata Susi.
Aku melajukan mobilku kembali untuk pulang.
Sampai di Rumah Pak Bastian, tepat disana sore hari.
"Kayaknya Mas Bastian udah pulang Gi," ucap Susi dalam mobilku.
"Itu mobilnya?" tanyaku.
"Iya Gi," jawabnya
Aku dan Susi segera turun.
"Gi, mampir dulu ya," kata Susi.
"Eemm lain kali aja Si, Pak Bastian udah pulang, pasti Mas Naufal juga udah pulang," jawabku.
Dan ternyata, Naufal malah keluar dari dalam rumah Pak Bastian.
"Hayooo ngobrol apa?" kata Naufal yang mengagetkanku.
"Loh, Mas Naufal?? Kok disini," tanyaku yang kaget bisa-bisanya dia ada dimana-mana.
"Mobila aku udah di rumah, tadi di ambil Pak Joko, aku pulang sama Bastian, terus aku tau pasti kamu nganter Susi, jadi biar bisa semobil sama kamu Sayang," rayunya.
Aku malu Naufal seperti ini di depan Susi, aku langsung mendekatinya dan mencubit halus pinggangnya.
"Eemmm.....eemmm jangan dengerin Mas Naufal Si," kataku.
"Hehehe, gak papa lah Gi, nggak usah malu, biasa aja," ucap Susi.
"Tuh kan Sayang, Susi aja tau," kata Naufal yang semakin memojokkanku.
"Ya udah Mas kita pulang, udah 3 jam lebih loh aku ninggalin Abay," ucapku sambil melihat jam tangan yang melingkar di tanganku.
"Iya iya Sayang, pamitan dulu sama yang punya rumah," ucap Naufal.
Setelah aku dan Naufal berpamitan pada Susi dan Pak Bastian, Naufal menyetir mobilnya dan melajukan mobilnya untuk pulang.
Di dalam mobil, Naufal terus menggenggam tanganku, dan menciumi tanganku sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa sih Mas?? Kesambet apa?" tanyaku.
"Hehem, rindu kalo lagi kayak gini Sayang, biasanya kan kalo berangkat kerja, ini kamu cuti, jadi berangkat sama pulangnya, aku kesepian," keluhnya.
"Kayak tiap hari nggak ketemu aja Mas, orang kita juga ketemu," kataku.
Naufal hanya memberikan senyumnya saja.
"Mas, rumah Pak Bastian serem ya," kataku padanya.
"Serem gimana? Ya emang gitu Sayang, kamu aja yang belum biasa kesana," kata Naufal.
"Ya enggaklah Mas, aura nya beda," bantahku.
"Ya beda Sayang, desain rumah Bastian klasik kalo kita kan eropa jadi kesannya beda," kata Naufal.
"Susi bisa loh Mas tinggals sendirian tau," kataku.
"Kalo aku, pasti udah minta orang yang harus nemenin aku," kataku.
"Hehehe, iya ya, rumah Bastian tuh sepi banget Sayang," kata Naufal.
Bersambung.......
Terima kasih semuanyaaaa🙏🖤😁
Jangan lupa like, komen, dan vote yaaaa
__ADS_1
Upload di percepat sesuai permintaan readers hehehe