Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 58 (Speechless)


__ADS_3

"Tapi aku nggak tenang Gi, Aku gak bisa tidur, kata Naufal.


"Udah tenang aja, aku bakalan nemenin kamu aku nggak bakal ngelepasin kamu sendiri," ucapku.


"Udah lah ayo, tidur Aku ngantuk banget Mas,"


Naufal selalu mendekap tubuhku saat tidur, ini yang membuatku nyaman berada disampingnya.


Aku pura-pura memejamkan mataku tapi aku masih berfikir dan masih memikirkan kata-kata dari Mama Vela.


"Sambil memandang wajah Naufal, aku sempat berpikir aku belum siap untuk membencimu Fal, aku belum siap jika aku akan meninggalkanmu, jika benar-benar kamu punya janji lain sama Mama Vela yang belum aku ketahui aku belum siap untuk itu semua," gumamku dalam hati.


"Dan sampai kapanpun aku nggak akan siap Fal," ucapku lagi dalam hati.


Waktu tengah malam aku baru saja bisa tidur dengan pulas.


Keesokan harinya kami tidak mendengar alarm dari ponselku yang biasanya berdering.


Tau-tau kami terbangun karena azan shubuh yang berkumandang.


Kami bangun bersamaan entah karena apa.


"Tumben kita bangunnya barengan Sayang," kata Naufal.


"Iya tumben banget," kata aku.


"Mau ke mana Sayang?" tanya Naufal yang melihatku berusaha membangunkan diriku dari kasur.


"Mau ke kamar mandi, mau mandi terus wudhu," jawab ku.


"Sini aku bantuin pasti masih sakit ya tumit kaki kamu," kata Naufal.

__ADS_1


"Enggak kok, udah enggak sakit, nggak papa aku udah bisa jalan sendiri," kata aku yang tak ingin merepotkan Naufal.


"Beneran kamu bisa jalan sendiri, udah simi aku bantuin aja jalan nya," paksa Naufal.


"Nggak usah, ini juga sama latihan kok Mas," ucapku.


"Ya udah kalo itu memang mau kamu," kata Naufal yang membiarkan Ku berjalan menuju kamar mandi.


Aku menangis dalam kamar mandi.


"Ya Allah beri kami jalan terbaik,aku akan ikhlas lepasin kamu Mas, asalkan kamu senang Mas, asalkan kamu bahagia, kamu sudah cukup berkorban demi aku, kamu jauh dari Jihan semenjak ada aku, kamu terpisah dari Vela karena pernikahan kami," ucapku dalam hati.


"Kamu jadi mengorbankan perasaan kamu sendiri demi aku, kamu begitu baik sama aku Mas," kataku lagi dalam hati.


"Sebenarnya aku tau di mana tempat ternyaman kamu yang pasti itu bukan dari aku,"


"Aku tahu Mas kamu begitu baik denganku sampai kamu rela mengorbankan semuanya demi aku maafin aku Mas," gumamku lagi dan lagi dalam hati


Dan setelah selesai mandi dan wudhu, aku keluar dari kamar mandi.


Lalu Noval langsung berjalan menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit Naufal keluar dari kamar mandi dan langsung melaksanakan sholat bersama.


Setelah sholat kami kembali berdoa.


Ku salami tangan suamiku.


"Mas aku nggak mau ngekang kamu meskipun kamu sudah menikah, pilihan hidupmu itu lebih penting," kata aku.


"Pilihlah tempat yang kau anggap paling nyaman meskipun itu bukan aku, aku rela," kataku.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa apaan sih kayak gini, tempat ternyaman aku itu kamu," kata Naufal dengan tegas.


"Mas udah jangan nutup-nutupin semua sama aku,a aku udah tau selama ini kamu banyak berkorban untuk aku, sebenarnya perasaanmu masih ada kan sama Vela, Aku tau itu tampak dari mata kamu, aku nggak keberatan," bantahku terus kekeh.


"Dan aku juga akan memilih dimana tempat ternyaman ku," kata ku yang sebenarnya sangat sangat berat.


"Ya Allah, maaf aku harus melakukan semua ini demi kebahagiaan Naufal dan juga aku yang sebenarnya, maafkan aku Ya Allah," gumam dalam hatiku.


"Gi kamu kok ngomong gitu sama aku, Kamu udah nggak cinta sama aku?" gertak Naufal.


"Bukannya manusia memang ingin di tempatkan pada tempat yang menurutnya paling nyaman ya Mas," ucapku.


"Biarkan aku memilih tempat ternyaman ku begitu juga dengan kamu," ucapku sambil tersenyum pada Naufal.


"Maksud kamu apa sih, kamu ngomong kayak gini sama aku, Aku enggak ngerti," kata Naufal yang masih saja tidak terima.


Aku memeluk Noval.


"Aku ngerti banget apa yang kamu rasain sekarang," kataku padanya.


"Aku bahagia jika kamu bahagia,.jangan selalu memikirkan kebahagiaan orang lain jika kamu mengorbankan kebahagiaan kamu sendiri, Kamu kan yang bilang ke aku kayak gitu Mas," kataku lagi.


Aku melepas pelukan Naufal, Naufal hanya diam tanpa kata dan tidak bisa menjawab apa-apa. Dia berfikir keras dan sangat ku tekan.


"Udah kamu segera siap-siap, mau kerja nggak," kataku sambil menggodanya.


"Sebenarnya berat Mas buat aku ngomong gini sama kamu tapi gimana lagi aku nggak boleh egois," kataku dalam hati sambil melepas muknahku.


Setelah beberapa menit Naufal selesai bersiap-siap untuk berangkat kerja dan menggandengku untuk turun kebawah sarapan bersama-sama di ruang makam. Aku berusaha agar tidak terlalu merepotkan nya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2