
"Oh iya Mas besok kan ulang tahunnya Pak Bastian kamu ke rumahnya dong?" tanyaku.
"Iyalah Sayang sama kamu," jawabnya.
"Aku nggak ikut aja Mas, nanti kasihan Abay di rumah sendiri," kataku.
"Bentar doang Sayang, nggak lama-lama kok, aku juga ngerti sekarang kita punya baby," tutur Naufal.
"Tadi kamu udah beliin yang aku pesankan?" tanya Naufal.
"Udah kok Mas, udah itu di belakang," jawabku.
Sesampainya di rumah aku dan Naufal segera masuk di Rumah.
"Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah yang sedang menggendong Abay.
"Bentar ya Bi, Gia mau ganti baju sama bersih-bersih dulu nanti Abay digendong Gia lagi," kataku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.
Aku udah Naufal segera masuk ke kamar.
Segera aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Setelah selesai aku ambil Abay dari Bi Sarah.
.
.
.
.
.
.
Adzan magrib berkumandang.
Segera ku titipkan abai pada Bi Sarah.
Dan aku langsung beranjak mengambil air wudhu bersama Naufal selalu melaksanakan shoat magrib berdua.
Tak lupa kami menyempatkan untuk mengaji bersama.
Setelah salat Naufal nampaknya langsung turun untuk pergi ke ruang kerjanya di bawah.
Kuambil Abay kembali ke gendonganku.
Aku berjalan menghampiri Naufal.
"Banyak tugas ya Mas?" tanyaku.
"Iya Sayang, besok pagi udah ada meeting," jawabnya.
"Ya udah aku temenin kamu kerjain di sini," kataku.
"Ini aku sampai malam loh Sayang," ucap Naufal.
"Nggak papa Mas aku temenin kamu," tuturku.
"Mas tadi aku waktu keluar sama Susi, aku ketemu lagi sama pak Kevin," kataku dengan pelan.
"Kok bisa??! Kok bisa dia di sana??" tanya Noaufal yang langsung menghentikan jari-jemarinya mengetik di atas keyboard.
"Aku juga nggak tau Mas, Pak Kevin tiba-tiba di mobilku, beliau berdiri katanya mau ngomong penting sama aku tapi aku nggak mau soalnya aku takut sama kamu, nanti aku terlihat seperti menghianati kamu," kataku.
"Kevin segitunya sama kamu Gi, cinta banget sama kamu, padahal dia sudah tau kalo kamu milikku dan nggak akan bisa jadi miliknya, tapi dia tetep kekeh, keras kepala banget sih Kevin," ucap Naufal.
"Memangnya dulu kamu pernah bilang cinta sama Kevin??" tanya Naufal.
"Enggaklah lah Mas, kamu apa-apaan sih, ya nggak mungkin aku bilang gitu, aku nggak pernah sama sekali punya perasaan sama Pak Kevin sedikitpun, aku hanya kagum sama beliau, nggak lebih, berkali-kali kan aku bilang sama kamu," jawabku.
"Ya aku heran aja Sayanggggg, sampai segini nya dia ngejar-ngejar kamu," ucap Naufal dengans sangat lembut.
"Ya lain kali kalo seumpama kamu ketemu lagi sama dia dan memang yang akan dibicarakan dia menurut kamu penting, ya nggak papa Sayang, siapa tau dia butuh apa gitu," tutur Naufal.
"Beneran nggak papa Mas??" tanyaku lagi untuk memastikan bahwa Naufal benar-benar mengizinkanku bertemu dengan Pak Kevin.
"Iya nggak papa, tapi kamu jangan sendiri, sama siapa kek pokoknya nggak sampai berduaan sama Si Kevin," kata Naufal.
Tak terasa berjam-jam sudah aku berbincang-bincang dengan Naufal sampai-sampai tugas Naufal sudah selesai.
"Hooaam,"
"Udah selesai Sayang, kita tidur ya aku ngantuk banget seharian ini aku capek banget Sayang," keluh Naufal.
Naufal segera membawa aku menaiki anak tangga menuju ke kamar.
Tak lupa kami melaksanakan salat isya terlebih dahulu.
Saat aku sudah tertidur, Pak Kevin datang ke rumahku dan memanggil-manggil namaku.
Kala itu tidak ada Naufal disana, hanya aku dan Pak Kevin.
Pak Kevin berjalan mendekat padaku, aku melangkah mundur sampai kakiku sudah terbentur dengan dinding Ruang Tamu.
"Bapak jangan macam-macam sama saya!!" gertakku.
Pak Kevin menghentikan langkahnya.
Aku memanggil-manggil nama Naufal, tapi dia tak kunjung juga datang menemui ku.
Pak Kevin diam, tidak berbicara padaku sama sekali, ku tatap kedua matanya yang sudah di penuhi dengan air mata.
Aku merasa sedih melihat air mata Pak Kevin yang perlahan akan jatuh.
"Bapak kenapa?? Apa salahs saya, takdir yang sudah menggariskan semuanya Pak, bila saya tidak bisa bersama Bapak, semua tidak salah Pak, semua takdir," ucapku.
"Tidak Gi, semua salah, aku terlalu mencintaimu, kamu yang bisa buat aku seperti ini Gi, aku tau kamu juga mencintaimu, sayangnya kamu sudah terikat dengan orang lain, ya kan Gi," ucapnya.
"Tidak Pak, Bapak salah, itu tidak pernah terjadi," bantahku.
"Saya mohon, sangat memohon pada Bapak, jangan ganggu saya Pak, saya ingin hidup bahagia bersama anak dan suami saya, apakah Bapak akan terus melakukan hal ini pada saya Pak, saya mohon, jangan Pak, jangan, huhuhuhu," ucap permohonanku sambil menangis.
"Kamu mau aku tidak mnegganggu mu lagi Gi??" tanyanya.
"Saya sangat mohon Pak, tolong," jawabku.
"Bilang sama aku, kalo kamu tidak pernah sedikit pun mencintaiku," kata Pak Kevin dengan tegas di depan kedua mataku.
"Saya.....tidak pernah sedikitpun mencintai Bapak, cinta saya hanya untuk suami saya, saya tidak ingin menodai cinta saya untuk orang lain selain suami saya," kataku sambil terbata-bata.
Setelah mendengar itu, Pak Kevin semakin kuat menatapku, diam dan memperhatikan arah kedua bola mataku bergerak.
"Baik lah, mungkin yang lebih pantas mendapatkan cintamu adalah Naufal bukan aku !!!! Tapi kamu juga harus tau, sampai mati pun aku akan tetap cinta sama kamu, dan itu tidak akan pernah bisa berubah," kata Pak Kevin.
"Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi, jika bahagiamu disana, aku akan pergi," kata Pak Kevin.
Pak Kevin langsung berbalik dan berjalan meninggalkanku.
Beliau sempat berbalik melihatku kembali, beliau terjatuh dan berlutut, aku berteriak memanggilnya.
"Pak Kevin!!!!!!!!!" panggilku.
Deeggggg.
Mataku terbelalak dan perlahan keduanya terbuka.
"Huuuffttt......huuuffttt......huuffttt," nafasku tersengal-sengal, keringatku bercucuran di keningku.
Aku masih shock dan menatap langit-langit atap kamar.
Aku menoleh ke arah Abay dan Naufal yang tidur dengan pulas tanpa terganggu olehku.
"Pak Kevin, kenapa beliau hadir di mimpiku?" tanyaku dalam hati.
"Adduuuuhhh, Ya Allah apa lagi ini," gumamku dalam hati.
Ku balikt tubuhku untuk menghadapak Abay dan Naufal.
Ku lanjutkan tidurku meskipun ku paksakan.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya seperti biasa Naufal meninggalkanku bekerja.
"Aku pamit ya Sayang, Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Iya Mas, Wa'alaikumsalam, hati-hati ya," tuturku.
Naufal berjalan masuk ke dalam mobil.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
***(Di Rumah Sakit)
Naufal membuat kejutan untuk ulang tahun Pak Bastian hari ini.
Di dalam ruangan Naufal, Pak Bastian mendapat kejutan dari beberapa tenaga medis di sana.
Semua mengucapkan selamat dan doa yang terpanjat khusus untuk Pak Bastian hari itu.
"Selamat ya Bas," kata Naufal sambil memeluk dan menepuk lengan Pak Bastian.
"Ya Fal, terharu Gue, gila," kata Pak Bastian.
"Langgeng langgeng Lo," kata Naufal.
"Hahaha Ya pastilah Fal," kata Pak Bastian.
"Gimana rumah tangga Lo sama Susi, baik-baik aja kan?" tanya Naufal.
"Ya baik-baik dong, kan Gue sayang banget sama Susi," jawab Pak Bastian dengan sangat luwes.
"Iya iya pengantin baru," ejek Naufal sambil menertawakan Pak Bastian.
"Lagi nunggu baby nih, kayak Lo, kalo lihat Abay jadi pengen punya baby," kata Pak Bastian.
"Ya segera dong Bas," tutur Naufal.
"Coming soon," kata Pak Bastian yang membuat Naufal tertawa terbahak-bahak.
"Wahaahaha, horor Lo," ejek Naufal.
"Ya kan rumah tangga Gue belum lama kayak Lo sama Gia Fal, jadi ya belum tau apa yang bakalan terjadi, kata Lo pasti ada kerikil-kerikil yang bakalan dateng, ya nggak," kata Pak Bastian sambil menyenggol lengan Naufal.
"Arrrgh udah kerja kerja," kata Naufal.
.
.
.
.
.
.
.
Sore harinya, Naufal tiba di Rumah.
***(Di Rumah)
Gleeekk, suara Naufal membuka pintu kamar.
"Abayyy," panggilnya yang melihatku sedang memakaikan baju pada Abay.
"Papa udah pulang Sayang," ucapku sambil tersenyum pada Abay.
Naufal melangkah menghampiri Abay.
"Eits, stop Mas, mandi dulu," kataku.
"Tapi Sayang, aku udah kangen banget sama Abay," ucapnya.
"Jangan ngaco deh Mas, cepetan mandi dulu," tuturku.
"Sayanggggg," ucapnya.
"Mas Naufal....." ucapku.
"Hhmmm, baik lah, aku mengalah," jawabnya langsung melangkah mundur dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, dia langsung sholat, dan berjalan menghampiri Abay.
"Aduuh kesayangan Papa," kata Naufal.
"Aku gendong ya Sayang," ucapnya.
Naufal menggendong Abay dengan sangat berhati-hati.
Kami bersantai-santai di balkon.
"Habis ini, Papa sama Mama pergi dulu ya Nak," ucap Naufal pada Abay.
"Jadi, Abay ikut Bi Sarah sebentar," tuturnya.
Aku senang dans sangat bahagia melihat Naufal dan Abay.
Tiba-tiba terlintas di pikiranku tentang Pak Kevin.
Aku langsung menoleh kebelakang dan panik.
"Kenapa kamu Sayang??" tanya Naufal melihatku.
Aku tidak menjawabnya, aku melihat setiaps sudut kamar.
"Sayang....Gi....Gia," panggil Naufal.
"Emmmm......nggak Mas..nggak papa," jawabku sambil tersenyum padanya.
"Sore-sore jangan nglamun Sayang, nanti kesambet," tutur Naufal.
"Jangan nakut-nakutin Mas," kataku.
"Aku nggak nakut-nakutin Sayang, emang bener," ucapnya.
"Suka banget kalo istrinya ketakutan," ucapku sambil sesekali meliriknya.
.
.
.
.
Adzan magrib berkumandang, aku dan Naufal segera mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat bersama dan mengaji.
Setelah selesai sholat, aku dan Naufal segera bersiap-siap ke rumah Pak Bastian.
"Mas pake kemeja ini ya," kataku sambil membawakan kemeja kaos polo miliknya.
"Iya Sayang," jawabnya yang menurut padaku.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, aku dan Naufal berpamitan pada Bi Sarah.
"Bi, Gia tinggal dulu ya, sama titip Abay, Gia bentar doang kok Bi," pamitku.
"Enggeh Mbak, siap," jawab Bi Sarah.
"Nanti pulang mau di bawain apa Bi?" tanya Naufal.
"Hehehe, enggak Mas," jawab Bi Sarah.
"Bener Bi?" goda Naufal lagi.
"Masss julid banget kamu," sahutku sambil menepuk lengannya.
"Hehehe, becanda Bi, nanti kalo Bibi pengen makanan apa WA ke Gia ya, nanti Naufal beliin," tuturnya.
"Iya Bi jangan sungkan-sungkan," sahutku.
"Hehehe, Insya'Allah Mas," kata Bi Sarah malu-malu.
"Tinggal dulu ya Bi, Assalamu'alaikum," pamit Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
Naufal segera membukakan pintu mobil untukku, setelah kami masuk ke dalam mobil, Naufal segera menancap gas mobilnya.
Naufal memilih melewati jalan dalam agar tidak macet karena waktu sudah mepet.
.
.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, kami sampai di Rumah Pak Bastian.
***(Rumah Pak Bastian)
"Mobil siapa itu Mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Irene," jawabnya singkat.
"Loh ada Dokter Irene juga?" tanyaku panik.
"Tau, aku tadi di WA sama Bastian, katanya ada Irene ke rumahnya," jawabnya.
"Ooww mungkin tau kali kalo kamu mau kasih surprise," ucapku.
"Nggak lah Sayang, nggak ada yang tau," ucapnya.
Mobil Naufal terparkir di belakang mobil Dokter Irene.
Susi berjalan mengendap-endap menghampiri mobil Naufal.
"Mas itu Susi," kataku sambil melepas seatbelt.
"Ngapain dia jalan kayak gitu Sayang?" tanya Naufal sambil melihat Susi yangs sedang berjalan.
"Nggak tau Mas," jawabku.
Aku dan Naufal segera turun dari mobil.
"Susi, kamu ngapain kayak gitu?" tanyaku.
"Ada temennya Mas Bastian Gi," jawabnya.
"Kok bisa? Kamu yang ngundang?" tanya Naufal.
"Enggak, aku nggak ngundang, tiba-tiba dia kesini tadi," jawab Susi.
"Ya udah gak papa Mas biar tambah rame," kataku.
Naufal langsung lemas mendengar kataku.
"Ayo mari masuk," ucap Susi mempersilahkanku dan Naufal masuk.
Naufal langsung menarik tanganku agar menggandeng tangannya.
"Gini terus loh Sayang," bisiknya.
"Iya iya," jawabku.
Kami berjalan masuk ke Rumah Pak Bastian.
"Assalamu'alaikum," ucpaku dan Naufal.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dokter Irene dan Pak Bastian.
Dokter Irene langsung tersenyum pada Naufal.
"Weh tumben kesininya kalian barengan," kata Pak Bastian.
"Ada apa nih?? Pasti kasih kejutan buat Gue ya, wahahaha," ucap Pak Bastian.
"Enggak Mas, Gia memangnya mau kesini," sahut Susi.
"Pd Lo Bas," kata Naufal.
"Orang Gue mau nganterin istri Gue, yeeee," kata Naufal.
Susi memanggilku untuk ke Dapur.
"Bentar ya Mas, aku ke dapur dulu di panggil Susi," kataku pada Naufal.
"Iyaa Sayang," jawab Naufal yang sangat manis membuat Dokter Irene ingin sekali meliriknya.
***(Di Dapur)
"Gi bantuin aku, jadi nanti kita ke belakang halaman rumah dulu, biar Mas Bastian di bawa suami kamu," kata Susi.
"Iya Si, nanti aku WA Mas Naufal," kataku.
Susi sesekali menengok ke arah mereka yang ada di Ruang Tamu.
"Gi, Dokter Irene deket banget ya sama suami kamu," kata Susi.
"Kok Susi tau???" tanyaku dalam hati.
"Kok kamu tau Si??" tanyaku pada Susi.
"Asik banget ngobrolnya sama suami kamu," jawabnya.
"Hehehem, rekan kerja Si," kataku.
"Ciyee ada yang cemburu nih," ejek Susi.
"Aaah enggak lah Si," kataku.
"Nggak mungkin enggak Gi, kamu gak bisa bohong sama aku," ucap Susi.
"Eeemmm mana Si Cake nya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Bentar Gi aku ambilin," jawabnya.
Susi berjalan meninggalkan ku entah kemana, aku menunggunya di dalam dapur.
Tak lama kemudian dia datang dengan membawa semua kotak besar yang berisi Cake.
"Wih gede banget Si," kataku.
"Hehem iya dong, untuk suamiku," kata Susi.
"Aiiissh bisa aja," kataku sambil menertawakannya.
Susi segera membuka kotak besar itu.
"Iiiih so sweet banget kamu," pujiku.
"Kayak kamu enggak aja Gi, ini kan gurunya dari kamu, hihihi," kata Susi sambil menyenggol halus lenganku.
"Aku aja dulu iri lihat kamu dengan suami mu yang selalu romantis, aku cuman bisa lihat doang loh Gi dulu, sekarang aku yang sepertimu," kata Susi.
"Aduh aduh kasihan temanku ini," kataku sambil mengelus kepalanya.
"Lilin nya mana Si?" tanyaku lagi.
Susi segera mengambilkan di laci dapurnya.
"Taraaas," ucapnya sambil membawa satu lilin kecil.
"Kecil banget Si," kataku.
"Hehe iya Gi, aku lupa Gi tadi nggak beli, ini aja aku belinya dadakan banget," kata Susi.
"Astagfirullah Susi kenapa nggak minta buat aku yang beliin aja tadi," kataku.
"Nggak sempet kepikiran Giii," ucapnya sambil menancapkan lilin di cake ulang tahun Pak Bastian.
"Kita bawa ke belakang sekarang Gi," ajak Susi.
Aku segera berjalan ke belakang halaman rumah Pak Bastian.
.
.
.
.
"Waaah bagus banget Si," pujiku.
"Kamu ini yang menata semua ini sendiri?" tanyaku.
"Iya lah Gi, sama siapa lagi," ucapnya.
"Bagus banget, emang dari dulu aku kalah sama kamu kalo soal seni," kataku.
"Dasar, bisa bisanya bilang gitu," kata Susi.
Meskipun hiasan dan balon-balon sangat kecil tapi sangat unik dan cantik, disana sudah tersedia meja dan kursi yang tersusun rapi, sudah ada berjejer hidangan dan minuman juga di atas meja.
"Ini Pak Bastian beneran nggak tau Si??" tanyaku.
"Enggak Gi, Mas Bastian jarang ke belakang," jawabnya.
"Udah tata dulu itu cake nya," tuturku.
Susi segera menata cake nya dan menyalakan lilinnya.
"Sekarang kamu WA suami kamu Gi," ucap Susi.
Ku ambil ponselku dari dalam tasku dan langsung mengirim pesan WA pada Naufal.
.
.
.
.
Naufal merasakan ponselnya berdering dalam sakunya.
Naufal membuka pesan WA dariku, dan dia langsung mengajak Pak Bastian dan Dokter Irene untuk ke halaman belakang.
"Bas, ke belakang yok cari angin," kata Naufal.
"Tumben banget Lo ngajak ke belakang," ucap Pak Bastian.
"Udah ayok, nggak pake nanya," ucap Naufal beranjak berdiri dari sofa.
"Yok yok," kata Pak Bastian.
__ADS_1
Bersambunggg......
Tunggu kejutan selanjutnya readersss🖤😁