Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 199 (How??)


__ADS_3

Saat aku sudah tertidur, ternyata Abay belum tidur, malah


dia sedang menunggu Papa nya di Ruang Tamu.


Tepat jam 22.00 Naufal membuka pelan-pelan pintu rumahnya.


Dan Naufal kaget melihat Abay yang duduk sendiri an di Ruang


Tamu.


“Abayyyy…..kok belum tidur, jam berapa ini??” tanya Naufal.


Abay berjalan menghampiri Naufal yang baru pulang itu.


“Papa apain Mama??” tanya Abay dengan polos.


“HA?? Abay ngomong apa??” tanya Naufal yang sama sekali


tidak mengerti maksud Abay.


“Papa pasti bertengkar ya sama Mama??” tanya Abay.


“Bertengkar?? Enggak Nak, Papa nggak bertengkar sama Mama kamu,” jawab Naufal.


“Tadi Mama ngelamun terus Pa, Papa jangan berantem ya sama Mama, Abay nggak suka, Papa harus buat bahagia Mama terus,” kata Abay dengan polos lalu meninggalkan Naufal menaiki anak tangga.


“Gia kenapa??” tanya Naufal dalam hatinya.


Naufal berjalen menaiki anak tangga.


Sampai di lantai atas, Naufal emmbuka pintu kamar dnegan


sangat pelan, karena dia sudah tau, bahawa aku sudah tertidur.


Gleeekkkkk………..


Naufal melihatku sudah terjaga di atas Ranjang.


“Gia udah tidur,” ucap Naufal pelan.


Naufal berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi.


Dan aku pun merasakan bahawa Naufal hadir di dalam kamar


ini, aku pun terbangun dan langsung membalikkan badanku ke belakang.


Agak sedikit buram aku melihat Naufal yang akan melangkah


masuk ke kamar mandi.


“Mas, baru pulang??” tanyaku.


“Yaelah Sayang, padahal aku rencana nya nggak mau sampe kamu bangun loh, ini malah bangun, hmmm,” ucap Naufal berjalan menemui ku.


“Kenapa?? Kalo aku kebangun ya nggak papa lah Mas,” ucapku.


“Yak an aku kasihan kamu, udah enak-enak tidur, eeehh ada


parasit,” ujar Naufal sambil mengelus keningku.


“Tadi Abay bilang sama aku, jangan buat sedih Mama, buat


Mama bahagia terus, emangnya kamu kenapa??’ tanya Naufal.


“Waduh, berarti Abay belum tidur??” tanyaku dalam hati.


“Bentar-bentar Mas,” kataku smabil menarik bangun tubuhku.


“Kamu ke kamar Abay Mas??” tanyaku.


“Enggak, Abay nungguin aku di bawah, di Ruang Tamu,” jawab


Naufal.


“Loh, Abay belum tidur dong,” kataku.


“Belum, aku aja juga kaget Sayang,” jawab Naufal.


“Kok dia belum tidur ya, padahal tadi waktu dia ke atas udah


aku suruh tidur Mas,” kataku.


“Bentar akum au ke kamar Abay,” ucapku sambil akan


menurunkan kaki ku.


“Udah udah udah, nggak usah, dia udah di kamarnya Sayang,”


bujuk Naufal.


“Dia kenapa belum tidur?? Seharusnya dia udah tidur loh


Mas,” kataku.


“Dia yadi nungguin aku sampe aku pulang,” ucap Naufal.


“Dia tadi juga ngadu ke aku, katanya Mama nya ngelamun mulu,


ngelamunin apa sih,” tanya Naufal.


“Ngelamun??? Aku nggak nglamunin apa-apa,” jawabku.


“Pasti kamu cuman capek aja kan, kamu kesepian kan gara-gara kamu nggak pulang bareng sama aku, yak an,” goda Naufal.


“Eeemmm…..hehehm,” kataku.


“Udah jangan banyak yang di pikirin Sayang, sekarang kamu


balik tidur gih, Mas mu ini kan sudah pulang, apa lagi yang kamu pikirin, hehehm,” ucap Naufal.


Aku kembali meluruskan tubuhku, dan Naufal mengecup keningku lalu menutupi tubuhku dengan selimut.


“Night Sayang, kata Abay suruh buat Mama nya bahagia terus,” bisik Naufal lalu pergi meninggalkan ku ke kamar mandi.


Keesokan harinya, Naufal berangkat lebih pagi dari biasanya.


“Mas, hari ini kamu pake mobil sendiri??’ tanyaku.


“Iya Sayang, aku udah ada janji, kamu nggak papa kan


berangkat sendiri?? Apa mau di antar sama Pak Joko aja,” tanya Naufal.


“Nggak nggak, nggak usah, aku naik mobil sendiri aja, aku


bisa kok Mas,” jawabku.


“Maaf ya aku nggak bisa hadir buat sarapan bareng-bareng


lagi, tadi malam aku juga udah absen,” kata Naufal.


“Nggak papa kok, kan emang kamu nggak bisa,” ucapku.


Aku menunggu Naufal di halaman depan Rumah sampai dia masuk ke dalam mobil.


Tin…Tin……suara klakson dari mobil Naufal.


“Bye Sayang, Assalamu’alaikum,” pamitnya di dalam mobil.


“Wa’alaikumsalam Mas, hati-hati ya,” jawabku.


Mobil Naufal melaju menuju gerbang Rumah. Aku kembali masuk karena sudah di tunggu untuk sarapan bersama.


***(Di Ruang Makan)


“Ma, Papa berangkat duluan??’ tanya Abay.


“Iya, jadi Papa nggak bisa sarapan bareng sama kita, nggak


papa kan??" tanyaku pada Abay.


“Nggak papa sih Ma,” jawab Abay.


Kami pun langsung menyantap menu sarapan pagi ini.


Setelahnya sarapan, aku berpamitan untuk berangkat bekerja


pada Abay dan Bi Sarah.


“Mama kerja dulu ya Nak,” ucapku sambil membungkuk di depan


Abay.


“Iya Ma, Mama hati-hati ya kalo nyetir sendiri, Mama nggak


boleh ngebut-ngebut,” ucap Abay.


“Iya Nak,” jawabku.


Mobilku sudah siap ada di depan halaman Rumah.


“Bi, Gia berangkat ya,” ucapku.


“Iya Mbak,” jawab Bi Sarah.


“Assalamu’alaikum,” pamitku.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.


Aku pun masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil membawaku ke tempat dimana aku bekerja.


“Aku cerita nggak ya sama Mas Naufal soal Pak Kevin??”


tanyaku dalam hati.


“Gimana ya??? Sebenarnya aku takut bahas Pak Kevin lagi,” gumamku dalam hati.


“Apa aku bilang aja ya nanti??” ucapku lagi.


***(Di Rumah Sakit)


Setelah mobil berhasil ku parkirkan, aku berjalan sendirian


menuju ruanganku.


Aku berniat ke ruangan Naufal untuk membicarakan tentang


kejadian kemaren aku bertemu dengan Pak Kevin.


Aku sudah berjalan menuju ruangannya, aku sangat yakin membicarakan soal ini padanya.


Namun, tibanya aku di depan pintu ruangannya, Naufal masih


berbicara dengan pasien nya.


“Yah pasien nya Mas Naufal masih di dalem,” kataku.


“Nanti aja deh,” ucapku lalu pergi meninggalkan ruangan


Naufal.


Aku kembali ke ruanganku sendiri.


***(Di Ruang Kerjaku)


Aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, ada


hbungan apa mereka sebenarnya.


Tok….tok….tok..


“Masuk,” jawabku.


“Pagi Dokter,” Dokter Anton.


“Pagi,” jawabku.


“Saya mau ajuin data ini ke Dokter atas perintah dari Dokter


Naufal,” ucap Dokter Anton.


Dokter Anton memberikan laptopnya padaku.


“eemmm iya Dok, Dokter Naufal masih ada pasien nya ya??”


tanyaku.


“Sepertinya masih ada Dok, ada apa?? Biar nanti saya


sampaikan,” ujar Dokter Anton.


“Eemmm….nggak papa sih Dok, hehem,” jawabku.


“Ya nanti bisa kok ini segera saya selesaikan,” kataku.


“Baik Dok, kalo gitu saya balik dulu ya Dok,” kata Dokter


Anton.


“Silahkan silahkan,” kataku sambil tersenyum pada Dokter


Anton.


Ku sisihkan dulu laptop milik Dokter Anton.


Ku ambil jas dokter dan stetoskop milikku dan aku berjalan


keluar dari ruanganku.


Seperti biasanya aku menjalani rutinitasku setiap hari


bekerja disini.


Setiap hari banyak korban berdatangan, ada yang selamat


namun ada juga yang masih di rawat.


Setelahnya aku di ruang periksa, pasien gawat darurat yang


baru saja datang, langsung ku tangani di ruang operasi.


Ya beginilah, setiap harinya aku bergelut disini, di ruang


ICU, di ruang operasi.


Siang harinya, saat aku akan bersiap-siap untuk ke Mushola,


Naufal menemui ku di ruanganku.


Gleeekkk….


“Sayangggg……” panggilnya.


“Tumben kamu kesini?? Ngapain??’ tanyaku.


“Suami nya kesini malah nanya nya gitu kamu Sayang,” ucap


Naufal.


“asti ada yang mau di omongin kan ini,” tebakku.


“Hehehe, iya sih,” ajwab Naufal.


“Buruan kamu ngomong apa, keburu sholat nih Mas,” ujarku.


“Nanti malam kita ke rumahnya Raka ya, temenin aku,” ucap


Naufal.


Deeeeggggg…………


Aku langsung berdiri terpatung di depan Naufal mendengar


ucaapannya yang mematikan untukku.


Bagaikan mendatangi masa lalu jika aku kembali lagi kesana.


“Eeemmmm rumahnya Ra….Raka temen kamu itu?? Yang pernah ke


rumah kita??” tanyaku dengan gugup.


“Iya, Raka yang ke rumah kita dulu sama istrinya,” jawabnya.


“Ehhmmm……gimana ya Mas ya,” ucapku di potong oleh Naufal.


“Kenapa??? Kamu nggak bisa Sayang??” tanya Naufal.


“Bbbb….bisa…bisa kok,” jawabku.


“Emm tap…” Naufal langsung memotong pembicaraanku.


“Ya udah sekarang kita sholat,” ajak Naufal.


Kami pun berjalan ke Mushola berdua.


Setelah sholat, aku langsung kembali ke ruanganku


meninggalkan Naufal.


“Aduuuh gimana ya??? Nanti aku gimana??” tanyaku dalam hati.


“Pasti Mas Naufal juga nggak tau kalo Pak Kevin ada


hubungannya dengan Mas Raka,” gumamku dalam hati sambil membawa mukenahku.


“Dokter,” sapa Suster Andini sambil menepuk pundakku.


“Eeehh Suster,” kataku.


“Tadi ke Mushola berdua ya Dok,” tebak Suster Andini.


“Hehehehem, iya Sus, Suster kok tau??’ tanyaku.


“Ya tau lah Dok, tadi saya mau ke ruangan nya DOkter, tapi


Dokter keluar sama Dokter Naufal, akhirnya nggak jadi deh, hehehehem,” jawab


Suster Andini.


“Kenapa ke ruangan saya??” tanyaku.


“Yam au ngajakin ke Mushola barengan Dok, tapi ya sudah saya


mengurungkan niat saya, hehehem, lagian saya seneng lihat Dokter Naufal sama


Dokter Gia kalo lagi berdua,” puji Suster Andini.


“Udah makan siang Sus??’ tanyaku.

__ADS_1


“Belum Dok,” jawabnya.


“Mau makan barengan sama saya??” tanyaku.


“Eeeemmm…..tap…” ucapan Suster Andini langsung ku potong


karena aku tau apa yang akan dikatakan olehnya.


“Tenang aja, nggak ada Dokter Naufal kok,” ucapku.


“Ehehehe, kalo gitu saya mau Dok, tapi saya ke kantin dulu


ya,” ujar Suster Andini.


“Iya Sus,” jawabku.


“Saya tunggu di ruangan saya ya,” sambungku lagi.


“Iya Dok,” jawab Suster Andini lalu melangkah menuju lift.


***(Di Ruang Kerjaku)


Aku menyiapkan makan siangku di atas meja sambil menunggu


Suster Andini.


Sebenarnya aku menyiapkan dua porsi, satu untukku dan satu


untuk Naufal, tapi aku tidak sempat mengatakan padanya.


“Mas Naufal udah makan belum ya??" tanyaku sendirian.


Ku ambil ponselku di dalam tas, ku buka ponselku dan mencari


nomor kontak Naufal, lalu ku telepon dia.


Tut….tut….tut…


Naufal langsung mengangkatnya.


“Hallo, ada apa Sayang??” tanya Naufal langsung menjurus.


“Emmm….Mas, kamu sudah makan??” tanyaku.


“Ini makan sama Dokter Anton sama Bastian, kenapa Sayang??” tanya Naufal.


“Oooo ya udah,” jawabku.


“Kamu mau gabung??” tanya Naufal.


“Eehem, enggak kok Mas, aku cuman…..cuman nanya kamu aja,” kataku.


“Oooo, tapi kamu udah makan??” tanya Naufal balik.


“Ini mau makan, tapi masih nunggu Suster Andini, mau makan


bareng sama aku,” jawabku.


“Ya udah kalo gitu kamu lanjut aja,” sambungku.


“Ya Sayang,” jawab NAufal lalu mematikan telepon dariku.


“Yaaaah, ini gimana dong??? Tau gitu tadi Suster Andini


nggak usah beli makan di Kantin, kan aku bawa dua porsi, satu nya nanti yang


makan siapa??” gumamku.


Tak lama kemudian, Suster Andini datang dan masuk ke dalam


ruanganku.


Dia duduk di depanku. Dia melihat ada dua kotak makan yang


tergeletak di atas meja.


“Dokter bawa banyak menu??” tanya Suster Andini.


“Enggg…..enggak kok Sus, ini sama hehem,” jawabnya.


“Sebenarnya yang satu ini buat Mas Naufal, saya lupa bilang,


Mas Naufal nya udah makan sama temen-temen nya,” sambungku.


“Tau gitu tadi Suster nggak usah beli makan, makan punya Mas Naufal aja,” ucapku.


“Yah sudah terlanjur Dok, ini saya juga beli banyak banget,”


kata Suster Andini.


“Ya udah lah Sus, nggak papa kok,” ucapku sambil tersenyum


pada Suster Andini.


Akhirnya aku memutuskan untuk menyimpan makan siang yang ku siapkan untuk Naufal dari Rumah.


Sambil bercerita-cerita dan juga sambil makan.


Selesai makan, kami melanjutkan pekerjaan kami kembali.


Sebenarnya aku sedikit kecewa, karena makan siang untuk Mas Naufal masih utuh, tapi salahku juga sih tidak bilang padanya terlebih dahulu.


“Dokterrr, bad mood ya??" tanya Suster Andini.


“Enggak, wajah saya kelihatan bad mood ya Sus??” tanyaku


sambil menekan kedua pipiku.


“Iya itu, kenapa?? Gara-gara makanan itu Dok??’ tanya Suster Andini.


“Oooo enggak kok Sus, “ jawabku.


“Udah ah Sus, udah habis jam istirahat nya, waktunya kita


kerja lagi,” ucapku sambil beranjak berdiri.


“Yaaah cepet banget Dok,” keluh Suster Andini.


Aku kembali bekerja dengannya.


Hari semakin sore, pertanda aku akan pulang kerja.


Dengan mengingat kotak makan yang masih terisi penuh, hatiku


jadi agak sedih, ku masukkan kembali kotak makan itu dalam tasku, yaaah


meskipun kecil tapi ini ku siapakan khusus untuk suamiku.


Seperti biasa, NAufal menjemput ke ruanganku.


Kami berjalan berdua menuju parkiran.


Di perjalanan, aku sangat malas berbicara.


“Gi, kamu nggak papa??” tanya NAufal sambil mengangkat kedua


alisnya.


“Hmm?? Nggak papa kok Mas,” jawabku.


“Kok diem terus dari tadi?” tanya Naufal.


“Huuuftft, tadi aku bawain kamu makan siang,” ucapku.


“Terus mana makanan nya??” tanya Naufal.


“Udah basi Mas,” jawabku.


“Ya ampun Sayangggg, kenapa kamu tadi nggak bilang sama


aku????” tanya Naufal lagi dan lagi.


“Aku tau kamu udah terlanjur makan sama temen-temen kamu,


jadi aku nggak bilang, aku juga lupa bilang tadi waktu kita mau sholat, tapi


aku lupa juga,” jawabku.


“Yaaaaah Sayang,” ucap NAufal sambil meraih tanganku.


“KAmu pasti sedih ya?? Karena makanan kamu nggak aku makan??”


tanya Naufal.


“sedikit Mas, tapi salahku juga lupa bilang sama kamu,”


ucapku.


“Ya udah besok-besok dan besok, kamu bawain aku makan siang ya, pasti aku makan kok, nanti kita makan berdua kalo jam istirahat di ruangan kamu,” kata Naufal sambil mengelus-elus tanganku.


“Kamu jangan sedih dong,” rayu Naufal.


Aku memberikan senyumku padanya.


“Nanti malam kita jadi ke rumah Mas Raka Mas??” tanyaku.


“Jadi dong Sayang, dia udah nanya in dari tadi,” jawab


Naufal.

__ADS_1


“Eehhmmm ya udah,” kataku.


Bersambung.......


__ADS_2