
Malamnya, setelah sholat magrib.
Naufal langsung mengajakku segera berangkat ke Rumah nya Mas Raka.
“Sayang, Abay ikut kan??” tanya Naufal.
“Abay nggak bisa ikut Mas, dia udah janjian sama temennya,”
jawabku.
“Yaaah cuman kita berdua dong,” kata Naufal sambil
mengancingkan kemeja nya.
“Iya Mas, bentar lagi pasti temennya dateng,” ujarku sambil
membenahi kerudungku.
“Eeemmm, ya udah, lagian kita juga nggak lama kok,” ujar
Naufal.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, setelah kita selesai bersiap-siap.
Niko teman Abay sudah duduk manis bersama Abay di kamarnya bermain PS, aku dan Naufal menghampiri mereka.
“Abay, Papa sama Mama ke rumahnya Om Raka dulu ya,” pamit Naufal.
“Iya Pa?? Papa lama nggak??” tanya Abay.
“Kayaknya enggak Nak,” jawab Naufal.
“Ya udah Pa, Pa nanti jangan lupa beliin es yang biasanya
Abay suka beli,” ujarny.
“Iya nanti Papa beliin, di rumah aja ya jangan main
kemana-mana, Papa sama Mama nggak ada di Rumah,” tutur Naufal.
“Iya Pa,” jawabnya.
“Ko, Om tinggal dulu ya,” pamit Naufal pada Niko.
“Iya Om Naufal,” jawabnya.
Aku dan Naufal pun pergi turun dari lantai atas.
“Mas, mobil aku udah di panasin??’ tanyaku.
“Pasti udah dong Sayang, tadi udah aku panasin mesinnya,”
jawabnya.
Kami berdua berjalan menuju ke Garasi, lalu kami masuk ke
dalam mobil.
Naufal menancap gas mobil keluar dari Garasi.
Tin…tin….
“Pak, keluar dulu,” pamit Naufal pada Pak Joko.
“Iya Pak,” jawab Pak Joko.
Tanganku keringat dingin, sebenarnya aku tidak mau bertemu
dengan Pak Kevin lagi.
Aku terus saja melihat ke luar jendela.
Naufal meraih tanganku yang sedari tadi ku remas-remas
sendiri.
“Tangan kamu dingin banget?? Kenapa?? Kedinginan?? Aku
matiin ya AC nya,” ucap Naufal.
“Enggak kok, nggak kedinginan kok aku,” jawabku.
“Hehehem, kayak mau interview aja kamu Sayang, keringat dingin gini, kan kita cuman mau ke Rumah nya Raka,” ucap Naufal.
“Aduuuuh gimana ini?? Semoga aja disana nanti nggak ada Pak
Kevin,” gumamku dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, meskipun kami sedikit terhebak
macet di jalan, mobil Naufal berbelok ke Perumahan yang kemaren aku mengantarkan Mika kesana.
“Benerannn??? Pasti ini ke Rumah kemaren, Ya Allah gimana
ini Ya Allah,” gerutuku dalam hati.
Aku terus melihat ke jalan depan, karena mobil kami semakin
dekat dengan Rumah Mas Raka.
Deg deg…..deg deg…..
Mobil Naufal berhenti tepat di depan Rumah yang sama persis
dengan Rumah aat aku mengantarkan Mika untuk pulang.
“Adduuuh, kok cepet banget ya nyampe nya, ayo lah Gi, jangan grogi plissssss,” kataku dalam hati.
“Udah sampe Sayang,” kata Naufal.
“Ehehemm….iya Mas, bener ini rumahnya??" tanyaku dengan
gugup.
“Iya, emang kenapa??” tanya Naufal sambil mengangkat satu
alisnya.
“Nggak papa sih Mas, kali aja salah,” jawabku.
“Ya udah yuk turun,” ajak Naufal.
Naufal pun menepikan mobilnya, lalu kami berdua turun.
Aku langsung menyelipkan jari jemariku di tangan Naufal,
Naufal langsung menggenggamnya erat-erat.
Gerbang di buka oleh Naufal.
Deg deg…….deg deg……
Aku merasa gelisah sendiri, untung saja Naufal tak curiga
padaku.
Naufal mulai mengetuk pintu Rumah Mas Raka.
Tok…tok…tok…
“Assalamu’alaikum,” ucap Naufal.
Aku terus saja menundukkan kepalaku, agar aku tidak kaget
jika yang membukakan pintu adalah Pak Kevin.
“Ka…..Assalamu’alaikum,” ucap Naufal.
Gllekkkk…..
Akhirnya pintu di buka.
“Hey Naufal,” ucap Mas Raka.
“Huuuftttt,”
Aku merasa lega saat Mas RAka yang membukakan pintu ini.
Aku langsung tersenyum sumringah padanya.
“Huufffttt syukurlah Mas Rama yang bukain,” ucapku dalam
hati.
Mas Raka mempersilahkan kami untuk masuk ke rumahnya, namun tetap saja, aku tidak aman ada di Rumah ini.
“Ayo Fal, Gi, masuk-masuk, ya gini rumah aku, nggak sebesar
Rumahnya Naufal ya, heheh,” canda Mas Raka.
“Hehem, enggak sama aja,” jawabku.
Kami duduk di ruang tamu, mataku terus saja melirik kanan
dan kiri. Aku khawatir tiba-tiba ada Pak Kevin disini.
“Sepi banget rumah kamu Ka,” ucap Naufal.
“Iya, anak aku lagi keluar sama Tante nya, aku sama istri ku
doang di Rumah,” jawab Raka.
“Maaaa…..Mama ….” panggil Raka ke istrinya.
Istri nya pun datang dengan membawa beberapa jamuan kue
basah di piring yang di bawanya.
“Anaknya kok nggak ikut??” tanya Istri Raka.
“Enggak, tadi main PS sama temennya di Rumah,” jawab Naufal.
“Anak kamu itu kayaknya jarang main di luar loh Fal??” tebak
Raka.
“Iya jarang bangetm kan pulang sekolah dia harus ngaji,
belum kalo malembegini biasanya les, jadi ya selesai les langsung tidur, besoknya gitu lagi,” jawab Naufal.
“La ini nggak les??" tanya Raka lagi.
“Kan sekolah nya Abay masih libur Ka,” jawab Naufal.
“Ooo iya iya, ayo di makan loh Fal, ini istri aku buat
khusus tamu nya malem ini,” ujar Raka.
“Hahahah, iya iya Ka, santai aja, pasti aku cobain kok,”
jawab Naufal.
Mereka asik bercerita-cerita sedangkan aku masih waspada.
“Sayang, di makan,” perintah Naufal.
“Hehehem, iya Mas, nanti aja,” bisik ku pelan di dekat
__ADS_1
telinga Naufal.
“Kok, Mas Raka nggak cerita tentang Mika ya, padahal kan
kemaren yang anterin aku, apa Mas Raka sudah tau semua??” tanyaku dalam hati.
“Tapi nggak, nggak mungkin, Pak Kevin kan nggak mungkin mau cerita-cerita,”jawabku dalam hati.
Naufal dan Mas RAka asik membahas bisnis yang akan mereka
kerjakan berdua, aku dan istri nya Mas Raka, hanya menjadi pendengar setia disana.
Mereka sampai ketawa-ketawa keras dan tak terkontrol,
seperti saat Naufal bertemu dengan Pak Bastian.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, mereka mengajak kamui untuk makan malam.
“Ayo Fal, makan dulu, pasti laper kan habis ketawa-ketawa,”
ajak Raka.
“Udah lah Ka, aku masih kenyang banget,” ucap Naufal.
“Heemmm, nggak ada kenyang-kenyang an disini, ayo,” paksa
Raka sambil beranjak berdiri.
“Ayo Gi, angan sungkan-sungkan disini, istri kamu dari tadi
diem terus Fal,” ucap Raka.
“Emang gini orangnya, diem, pemalu,” jawab Naufal.
“Makan Mbak,” sahut istri Raka.
Akhirnya Naufal dan aku ikut mereka berdiri, Raka menarik pundak Naufal, dan mereka membawa kami ke ruang makan.
***(Di Ruang Makan)
“Tuh, udah di masakin istriku banyak loh, masak kalian nggak
mau makan,” kata Raka.
“Hehehem, bisa aj kamu Ka, alasan aja, padahal kamu kan yang lapar,” tepis Naufal.
“Hahahaham yakali Fal, kamu tau aja,” ucap Raka.
“Aku tau dari dulu kamu tetep aja, makan mulu,” ejek Naufal.
Aku duduk di sebelah Mas Naufal.
Lagi-lagi aku melihat-lihat beberapa foto yang terpajang
disana. Anmun tidak satu pun foto disana ada wajah Pak Kevin.
“Lalu siapa Pak Kevin sebenarnya??” tanyaku dalam hati.
“Ayo di makan loh,” sahut istri Raka.
“Hehehem, iya Mbak,” jawabku.
Kami pun memakan jamuan makan malam yang sudah di siapkan spesial untuk kami.
“Ini semua masak sendiri Ka??" tanya Naufal.
“Iya lah, nggak ada pembantu disini,” jawab Raka.
“Ooooo, kalo di rumahku ada, tapi tetep, Gia juga ikut
maak,” ujar Naufal.
“Gimana?? Enak nggak Mbak??’ tanya istri Raka padaku.
“Hehem, enak kok Mbak, enak banget,” jawabku sambil
tersenyum padanya setelah mencoba steak buatan nya.
“Alhamdulillah, soalnya kalo masak yang steak ini baru
perdana loh, sebelum-sebelumnya aku belum bisa Mbak, jadi ini pertama kalinya, hehehe,” ujar istri Raka.
“Nggak keras kan Mbak dagingnya??” tanya istri Raka lagi.
“Enggak kok Mbak, udah pas banget,” jawabku.
.
.
.
.
.
.
Setelah makan malam selesai, kami berdua berpamitan untuk
pulang.
“Mikakok belum pulang ya Ma??” ucap Raka pada istrinya.
“Macet kali Pa,” jawab istri Raka.
Mereka mengantarkan kami sampai ke halaman depan Rumah
“Aku pulang ya Ka, makasih loh,” ucap Naufal.
“Aku yang makasih Fal, kamu udah mau sempetin dateng ke
Rumah ku,kapan lagi kan?? Pak Direktur ke rumah ini, hahaha,” canda Raka.
“HAhaha, apaan sih, kapan pun bisa lah,” ujar Naufal.
“Tapi kan kamu sibuk nya kebangetan Fal, nggak sama kayak
aku, beda lah,” ucap Raka.
“Aaahh enggak, sama aja, udah ah, makin ngaco, hahaha, kau
pulang ya,” pamit Naufal.
“Yok, hati-jati loh,” tutur Raka.
Kami berdua masuk ke dalam mobil.
Naufal membuka kaca mobilnya.
Tin…tin…..
“Assalamu’alaikum,” ucapsalam Naufal.
“Wa’alaikumsalam Fal,” jawab mereka sambil melambaikan
tangannya.
Aku merasa terselamatkan hari ini.
Saat mobilkami melaju, aku melihat ke belakang spion,
terlihat mobil merah, yang tak asing dimataku.
Yah, benar. Itu seperti mobilnya Pak Kevin.
“Itu kan kayak mobilnya Pak Kevin?? Berarti bener Pak Kevin
juga tinggal serumah sama Mas Raka,” gumamku dalam hati.
“Aduuuuh, kalo Mas Naufal ngajakin aku kesana lagi, aku
harus gimana dongggg,” gerutuku dalam hati.
“Aku harus bilang dan ceritain semua nya sama Mas Naufal,”
ucapku dalam hati.
“Aggheemm,” sesekali aku berdehem agar nanti nya aku tidak
gugup berbicara tentang Pak Kevin pada suamiku ini.
Saat aku akan mulai membuka mulutku, Naufal terlebih dahulu
membuka obrolan denganku.
“Gi,” ucapnya.
“Eemm…iya…kenapa?” tanyaku sambil ku angkat kedua alisku.
“Aku hampir lupa loh, belum buat materibuat besok,” ucap
Naufal.
“Kamu mau ada operasi lagi Mas??” tanyaku.
“Iya loh Sayang, doa in ya, nanti malem aku harus nyicil
ini,” ujar Naufal.
“Ingetin aku ya,” sambungnya.
“Yahh,kamu tidur malem lagi dong,” kataku.
“Iya Sayang pastinya, mau gimana lagi,” keluh Naufal.
“eemm, aku temenin nanti,” jawabku.
“Jangan lupa beliin es buat Abay,” ucapku.
“Ini jam berapa, apa nggak tutup Sayang,” ucap Naufal sambil
melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya.
“Masih jam 9 kok, masih buka Mas,” kata ku.
“Mas Naufal kayaknya masih repot banget deh, apa aku nggak
cerita sekarang aja ya,” kataku dalam hati.
“Sayang, aku besok jangan lupa loh, bawain sarapan lagi buat
aku,” kata Naufal.
“Iya Mas,” jawabku.
Tiba-tiba ponselku berdering……
Ku ambil ponselku dari dalam tas.
“Mama?” ucapku.
Langsung ku terima panggilan masuk dari Mama.
“Hallo Ma, Assalamu’alaikum,” kataku.
“Wa’alaikumslaam Nak, Gia sekarang dimana?? Lagi sibuk
nggak??" tanya Mamaku.
“Gia ini di jalan mau pulang Ma sama Mas Naufal, Gia nggak
lagi sibuk kok, kenapa Ma?? Ada apa??” tanyaku bertubi-tubi.
“Papa kamu,” jawab Mamaku singkat.
__ADS_1
Deeeeeggggg.
“Pasti Papa sakit lagi,” ucapku dalam hati.
“Kenapa Ma?? Papa kenapa?? Sakit lagi ya??” tanyaku dengan
nada tidak bersemangat.
“Iya Nak, Papa kamu opname lagi,” jawab Mamaku.
“Papa sa…” kataku tidak ku lanjutkan karena Mama pasti tidak
akan memberikan jawaban nya padaku.
“Hallo, kenapa Nak??’ tanya Mamaku ganti.
Aku berusaha tegar dan tidak banyak menanyakan tentang sakit yang di derita Papaku, karena aku tau, jawaban Mama pasti Papa hanya kecapek an.
“Heemmm, nggak papa kok Ma, pasti Papa kecapek an lagi kan,” tebakku dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
“Iya Nak,” jawab Mamaku.
“Kan apa aku bilang, Mama akan jawab gini sama aku,” guammku dalam hati.
Air mata sudah memenuhi pelupuk mataku, tapi aku tetap
berusaha agar air mata ini tidak jatuh dan membiat Naufal khawatir padaku.
“Ooowhh, Gia doa in semoga Papa cepet sembuh ya Ma, Papa
tidur ya Ma??” tanyaku.
“Iya Nak, Papa kamu masih tidur,” ajwab MAmaku.
“Eeemm, ya udah, kalo besok Papa bangun, video call Gia ya
Ma, Gia mau ngomong sama Papa,” uajrku.
“Iya Nak, pasti kalo Papa bangun, Mama bakalan video call ke
kamu,” ucap Mamaku.
“Ya udah Nak, Mama kasih kabar itu, jangan banyak pikiran
ya, Papa kamu baik-baik aja,” tutur Mamaku.
“Huufftt iya Ma,” jawabku.
“Hati-hati di jalan, Assalamu’alaikum,” salam Mamaku.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku.
Ku simpan kembali ponselku ke dalam tasku.
“Papa kenapa Sayang??” tanya Naufal.
“Papa opname lagi, sakit lagi, kecapek an lagi,” jawabku
sambil meneteskan air mata namun tidak menghadap Naufal.
Naufal merasa kasihan padaku, dia menepikan mobilnya, lalu berhenti di pinggir jalan.
Naufal menarik kedua tanganku, agar aku menghadapnya, aku
hanya mampu menunduk dan menangis di depannya.
Dia mengangkat dagu ku.
“Sabar ya,” tutur Naufal yang tak banyak bicara dan langsung
memeluk erat tubuhku.
Aku emnangis terisak-terisak di bahu Naufal.
Aku peluk dia begitu erat, melampiaskan semua rasa kesal dan
ingin tau ku tentang sakit yang di derita Papaku.
Aku tau Naufal pasti merasa kesakitan karena aku terlalu
menekan saat memeluknya.
“Huhuhuhuhuhu,” aku menangis sejadi-jadinya di abhu Naufal
sambil meremas-remas kemeja nya.
Naufal tau sebenarnya aku ingin marah, namun aku tidak bisa
mengutarakan atau pun melampiaskan amarahku.
Dia terus mengelus-elus kepalaku hingga aku sedikit tenang.
Saat aku sedikit tenang, aku melepas pelukan ku dengan
Naufal.
Naufal meraih kedua pipiku dan mengelusnya.
“Ada aku, jangan sedih ya, kita sanggah berdua,” tutur
Naufal.
“Udah jangan nangis ya kamu,” tutur nya lagi sambil
menggenggam tanganku.
Naufal kembali melajukan mobilnya.
Ku hapus air mata ku.
Aku mencoba menghilangkan sedihku di perjalanan ini, karena
aku takut nanti Abay akan mencurigai ku lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di Rumah.
***(Di Rumah)
Setelah kami turun dari mobil, aku langsung berjalan masuk
dan menaiki anak tangga menuju kamar Abay.
Aku bertemu Bi Sarah yang menuruni anak tangga.
“Loh Bi, Niko belum pulang??” tanyaku.
“Belum Mbak,” jawab Bi Sarah.
“Ooo ya udah Bi kalo gitu,” kataku.
***(Di Kamar Abay)
“Abay…..ini es pesanan kamu tadi,” ucapku sambil memberikan
kantung kresek pada mereka.
“Makasih Ma,” ucap Abay.
“Satu nya buat Niko ya Nak,” ucapku.
“Iya Ma,” jawab Abay.
“Niko nggak di marahi Mama nya pulang malem??’ tanyaku.
“Tadi Mama sempat kesini Tante, Mama mau keluar sebentar
sama Papa ke Apotek, annti Mama jemput kesini lagi,” jawab Niko.
“Oooh gitu, ya udah takutnya nanti kamu di marahi terus
nggak boleh main kesini lagi,” ujarku.
“Di minum yah es nya,” ucapku.
Lalu aku pergi meninggalkan mereka.
***(Di Kamar)
Aku langsung bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat isya”.
Naufal sudah menungguku dan sudah menyiapkan dua sajadah
untuk kami.
Kami pun sholat berdua.
Setelah sholat, tak lupa ku khususkan doa ku untuk Papaku.
“Ya Allah, Ya Rabb ku, mala mini, hamba khususkan doa hamba
untuk Papa hamba Ya Allah, berikan lah kesehatan dan panjang umur pada Papa hamba, angkat lah segala bentuk penyakitnya Ya Allah, Hamba sangat sangat mencintai
nya Ya Allah, sehatkan ayah Hamba, huhuhuhu, kepada siapa lagi Hamba memohon, hanya padaMu Ya Allah, Hamba mampu memanjat doa dengan segala kelemahan Hamba, Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waiqna adza bannar, aamiin,”
Air mataku menetes dengan sendirinya saat mendoakan Papaku.
Aku langsung menyalami dan mencium tangan Naufal, Naufal
kembali emmelukku dan menenangkan ku.
“Huhuhuhuhu,” aku menangis kembali di dekapan Naufal.
“Aku tau Mas, Mama sangat baik padaku, bahkan lebih dari
baik, tapi kenapa Mama tidak kasih tau aku??? Sedih aku pasti Mas, tapi jikaseperti ini, aku semakin tersiksa sendiri Mas, huhuhu,” kataku.
“Uuusshhh udah udah, Mama ngelakuin ini semua bukan tanpa
alasan Sayang, kamu nggak boleh negatif thinking, khusnudzon ya,” tutur Naufal.
Aku semakin menangis dan memeluk erat Naufal.
“Nggak boleh berprasangka buruk sama Mama ya, Sayang, aku tau kok kamu pasti kuat,” ucap Naufal.
“Gia….Gia, andai saja aku bisa mengubah takdir, pasti akan
selalu aku membuat kamu seriap detiknya berbahagia Gi, tidak menangis seperti ini, aku sangat sedih jika melihatmu seperti ini,” gumam dalam hati Naufal.
“Kamu nangis gini, kamu sebenarnya capek, juga banyak
pikiran, mending sekarang kita tidur ya,” ujar Naufal.
“Tapi Mas, kan kamu mau buat materi,” ucapku sambil mengusap air mataku dan melepas pelukan dari Naufal.
“Aku besok aja, atau kamu tidur aja nggak papa, tapi kamu
nggak akan mau kan, kamu pasti kekeh mau nemenin aku, jadi aku nyicilnya besok aja,” kata Naufal.
“Nggak papa Mas, aku nemenin kamu, aku nggak papa kok,”
tepisku.
“Huuusstt,” Naufal lagsung membungkan bibirku dengan
telunjuk jarinya.
“Udah, aku ngerjain besok aja, sekarang kita tidur, ya,”
perinta Naufal.
Bersambung......
__ADS_1
terima kasih buat semuanyaaaaa yang selalu setia menanti hehe,🙏😁