Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 122 (Still Happy)


__ADS_3

Susi pergi untuk pulang.


Tiba-tiba aku lemas, aku tidak bisa melakukan apa-apa, lalu aku jatuh pingsan.


Buuuuukkkkkkk.


"Giaaaaa!!" panggil Papaku.


Tiiiiiiitt..........................


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dan aku pun terbangun mendengar panggilan Papaku itu. Kubuka pelan kedua mataku. Meskipun sempat agak remang-remang pandanganku.


Deeeegggg.....


Aku melihat semua orang tengah mengurungku di sini. Melihat langit-langit atap kamarku.


Nafasku tersengal-sengal, dan melihat satu persatu wajah mereka, disana ada Susi, Bi Sarah, Mama dan Papa Naufal, yang pasti ada Mama dan Papaku juga. Kepalaku agak pusing.


Aku menangis histeris dan langsung memeluk Papaku yang tersenyum padaku saat ku buka kedua mataku.


"Papaa....Huhuhuhu," aku menangis dalam pelukan Papaku.


Semua panik karena melihatku menangis setelah bangun.


"Sayang, Gia kenapa Nak?" tanya Papaku.


"Maafin Gia Pa, Gia belum bisa kasih cucu ke Papa, huhuhuhu," ucapku.


Semua menatap satu sama lain karena tidak mengerti atas apa yang aku bicarakan pada mereka.


Aku menangis tersedu-sedu.


"Loh loh Nak, maksud kamu apa??" sahut Mamaku.


"Iya Gi, kamu mimpi apa tadi?" sahut Susi juga.


"Bayi aku meninggal kan???" tanyaku pada mereka.


"Haaaa," semua melongo melihatku.


"Iya kan Pa? Bayi aku meninggal," tanyaku pada Papaku.


"Gi sadar Gi, bangun bangun," kata Susi.


"Gia mimpi buruk ya, Astagfirullah Nak, istighfar, bayi kamu lahir dengan selamat, sekarang masih ada dalam inkubator," jawab Papaku.


"Apa Pa??!!!" tanyaku lagi yang sangat kaget mendengar jawaban Papaku yang menurut ku tidak benar adanya.


"Iya Nak, nanti kamu bisa melihatnya," tutur Papaku.


"Papa beneran??!!" tanyaku lagi dan lagi.


"Iya Nak, kamu mimpi apa?? Hm?? Cerita sama Papa," ucap Papaku sambil nengelus kepalaku.


"Gia tadi.....tadi kayak bukan mimpi Pa, semuanya seperti nyata, tadi Gia depresi karena bayi Gia lahir prematur dan terkena infeksi jadi meninggal Pa, dan....yang membuat Gia yakin kalo itu bukan mimpi, dari Susi dan semuanya kebingungan, terus Papa sama Mama datang, terus Papa yang ngurus pemakaman itu nyata Pa, saat Papa buka pintu kamar Gia ini, saat Papa bilang sama Gia kalo anak Gia nggak tertolong, Gia nggak bohong Pa, semua nyata Pa," ceritaku sambil menangis di pelukan Papaku.


"Benar Gi tadi semua kebingungan tapi bukan karena bayi kamu infeksi terus meninggal, bukan Gi, jadi karena kan tadi memang setelah kamu di injeksi bius kamu kan nggak sadar, jadinya kamu mimpi buruk mungkin karena kamu takut dan banyak kepikiran hal buruk apalagi tidak ada suami kamu disini," tutur Susi.


Aku semakin bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Susi padaku.


"Pa??!! Ini beneran kan anak Gia nggak meninggal, soalnya di mimpi itu nyata Pa nyata, huhuhuhu, Gia tadi sempat sekali menciumnya Pa dan dia memang benar-benar sudah tidak bernafas, di mimpi itu Gia sempat tertidur lalu bangun kembali, dan Gia ingat betul Susi sempat pamit sama Gia untuk pulang, dan sekarang.......sekarang kenapa Susi ada disini," kataku yang tetep kekeh dan heran.


"Berarti kamu benar-benar mimpi Gi, nyatanya sekarang aku ada disini sama kamu," bantah Susi.


"Ya Allah, apakah tadi benar-benar mimpi?" tanyaku dalam hati yang masih belum lega mendengar penjelasan dari Susi.


"Bayi Gia....eemmm laki-laki kan Pa??" tanyaku lagi.


"Iya memang laki-laki Nak, kok Gia tau??" jawab Papaku juga agaks sedikit heran bagaimana bisa aku tau dan mimpinya sama persis.


Deeeggg.


"Tadi di mimpi Gia, bayi Gia juga laki-laki Pa, huhuhu, Gia takut Pa," teriakku.


"Nak, kamu istirahat lagi ya, mungkin kamu masih kaget dengan mimpi kamu, sebentar lagi suami kamu akan tiba di Indonesia, karena Mama sudah meneleponnya, Mama juga memaksanya dan dia minta izin untuk segera pulang," tutur Mama Feni.


"Tapi.....Gia boleh melihat bayi Gia sekarang???" tanyaku.


"Boleh Nak," jawab Papaku.


Papaku membawaku ke ruangan bayi dengan kursi roda, aku hanya bisa melihat anakku yang dibatasi dengan dinding kaca.


"Itu anak Gia Pa?" tanyaku.


"Iya Nak," jawab Papaku.


"Siapa yang adzanin Pa?" tanyaku lagi.


"Papa Nak," jawab Papaku.


Aku langsung memeluk Papaku.


Aku menangis saat melihat bayiku. Aku sempat menyapanya dalam hatiku.


"Makasih ya Pa, Papa selalu ada untuk Gia," ucapku di pundak Papaku.


"Iya Nak," jawab Papaku.


Aku melepas pelukannya.


"Ya Allah mengapa mimpi itu sama persis seperti kenyataan ini, dua kali aku mimpi seperti ini, ini pertanda apa Ya Allah," ucapku dalam hati melamun melihat anakku.


Aku melamun melihat anakku yang ada di dalam inkubator.


Papaku menepuk pundakku dari belakang.


"Nak, kamu nggak boleh lama-lama disini, kamu harus segera istirahat yang cukup," tutur Papaku.


"Iya Pa," jawabku yang menurut pada Papaku.

__ADS_1


Papaku membawaku ke kamar kembali.


***(Di Kamar)


Mama Feni dan Papa Diki berpamitan pulang karena Papa Diki harus segera berangkat kerja.


Sedangkan Susi juga berpamitan untuk pulang.


Hanya Mama dan Papaku serta Bi Sarah yangs sekarang menemaniku.


"Papa nggak kerja?" tanyaku.


"Papa ambil cuti saja hari ini sampai kamu pulang," ucap Papaku.


"Memang nya Gia disini bakalan berapa hari Pa?" tanyaku lagi.


"Tadi Mama tanya Dokter Bela, katanya kurang lebih 5 hari Nak," jawab Mamaku.


Dokter Bela datang untuk mmeeriksaku.


"Pagi," sapanya.


Aku hanya tersenyum padanya.


"Bentar ya, aku periksa dulu," ucapnya.


Dokter Bela segera memeriksa keadaanku.


"Naufal belum pulang?" tanyanya dengan lirih.


"Belum," jawabku sambil menggelengkan kepalaku.


"Sabar ya," ucap Dokter Bela.


.


.


.


Papa dan Mamaku berpamitan untuk keluar sebentar.


"Nak, Mama sama Papa keluars sebentar ya," ucap Mamaku.


"Iya Ma," jawabku.


"Gia disini sama Bibi dulu," tutur Papaku.


"Oh iya Pak, siap hehehe," sahut Bi Sarah yang setia menemaniku.


Beberapa jam kemudian, Naufal tiba di Rumah Sakit dan langsung menuju ke kamarku.


"Assalamu'alaikum," ucap salamnya.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Bi Sarah.


Aku kaget melihat suamiku sudah pulang, kami saling menatap seperti sudah lama terpisahkan.


Aku begitu senang suamiku pulang, Naufal langsung berlari memelukku.


"Sayang maafin aku," ucapnya.


Aku menangis menyambut suamiku tiba disini bersamaku, aku memeluknya begitu erat.


Naufal menciumi ku dan tak memperdulikan Bi Sarah ada disana bersama kita.


"Maafin aku, Maafin aku Giii !!!" ucapnya.


"Aku senang sekarang kamu ada disini," kataku.


Naufal melepas pelukannya dan meraih kedua pipiku.


Aku kaget karena baru pertama kali ini aku melihat dia lemah dan menangis.


"Sampai-sampai aku gak bisa mengadzani anakku sendiri Gi," ucapnya.


"Massss, nggak papa, yang penting sekarang kamu sudah disini, ada Papa jadi kamu jangan merasa bersalah," tuturku.


"Enggak Gi, bukan itu, aku sebagai suami mu, seharusnya aku ada di saat kamu berjuang seperti ini," kata Naufal.


"Kan semua nggak ada yang tau Mas kalo aku mau lahiran di usia kehamilanku yang masih 8 bulan," tepisku.


Aku meneteskan air mataku dan tersenyum padaku, ku usap keningnya.


"Mungkin saat ini kamu belum bisa menemaniku, tapi aku selalu minta sama Allah, semoga kamu terus menemaniku sampai nanti," kataku.


Naufal kembali menangis dan mencium kedua tanganku.


Cukup lama kami berpelukan.


"Anak kita dimana Sayang?" tanyanya.


"Dia masih dalam inkubator Mas, anak kita laki-laki," jawabku.


"Dia sehat kan Gi?" tanyanya lagi.


"Sehat kok Mas sehat, cuman perlu naikin berat badannya aja," jawabku.


"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Naufal yang histeris.


Dia memelukku kembali.


Gleekkkk.


Mama dan Papaku datang kembali, Naufal langsung melepas pelukan kami, dan dia segera menyalami Mama dan Papaku.


"Pa, Ma, maafin Naufal belum bisa menemani Gia saat-saat seperti ini," ucap Naufal meminta maaf.


"Nggak papa Nak, kamu jangan merasa bersalah," ucap Papaku sambil menepuk-nepuk lengan Naufal.


"Naufal benar-benar meminta maaf Pa," kata Naufal lagi.


"Sudah sudah, yang penting anak kamu lahir selamat Nak," tutur Naufal.


"Iya Fal, kamu jangan merasa bersalah, kan kamu pergi memang untuk pekerjaan kamu, dan Gia disini juga banyak yang nemenin, Papa sama Mamaku juga kesini tadi," sahut Mamaku.


Mama dan Papaku memaklumi dan memaafkan Naufal.


.


.


.


.


.


Menjelang malam hari, Papa dan Mamaku pamit untuk pulang.


"Mama pulang dulu ya Nak," pamitnya.


"Sama Papa Ma?" tanyaku.


"Iya Nak pastinya, nanti kasihan Johan di rumah sendiri," jawab Mamaku.

__ADS_1


"Papa besok kesini lagi kan?" tanyaku.


"Pasti dong Sayang, besok Papa kesini sama Johan juga," jawab Papaku yang membuat hatiku lega.


Akhirnya Mama dan Papaku pun pulang.


Saat hari semakin petang, satu persatu tamu Naufal datang dari berbagai kota.


"Selamat Bro," ucap teman Naufal.


Kamarku dipenuhi oleh banyak bunga kembali.


Tampak di wajah Naufal suatu kebahagiaan dan kebanggan terlukis disana, aku sangat senang melihatnya bahagia.


.


.


.


.


.


Beberapa hari berlalu.


***(Di Rumah)


Aku kedatangan tamu spesial menurut Naufal , dia Noni dan Mamanya.


Di Kamarku, kami berbincang-bincang bersama, kebetulan Naufal sudah pulang.


"Uncle, ini adeknya namanya siapa?" tanya Noni.


"Namanya Abay Sahasika Aylmer Herdiman," jawab Naufal.


"Berarti di panggil Adek Abay ya Uncle," ucap Noni.


"Iya Non," jawab Naufal.


Aku tersenyum melihat tingkah lucu Noni.


"Ma, kapan-kapan Adek Abay dibawa pulang ya," kata Noni dengan manja.


"Hehehem, iya nanti kalo Adek Abay udah besar ya Aunty," ucap Mama Noni padaku.


"Hehem iya Noni, pasti nanti Aunty ajak Abay kesana," ucapku.


"Namanya bagus banget Gi, dari siapa?" tanya Mama Noni.


"Nama pertama nya Abay aku ambil dari arab Mbak, Sahasika diambil dari bahasa jawa artinya pemberani kata Papa, terus yang Aylmer dari Naufal artinya bangsawan katanya Mbak," jawabku.


"Hehehem, pantesan bagus Gi, banyak yang sumbang nama hehehe," canda Mama Noni.


"Ma, kapan ya Noni punya Adek yang gemas seperti Adek Abay ini," ucap Noni.


Mama Noni bingung menjawabnya bagaimana ke Noni.


"Eemmm Noni, kan sudah ada Adek Abay, jadi Noni sudah punya Adek," tuturku.


"Ma, Noni kan libur, jadi Noni disinia aja ya," rayunya pada Mamanya.


"Iya biarin dia disini aja," sahut Naufal.


"Huuumm ya udah, nanti Mama suruh sopir buat kirim baju kamu kesini ya," jawab Mama Noni.


Noni senang kegirangan dan terus mengelus pipi Abay yang sedang dalam pangkuanku.


"Gi gak papa kan anak aku disini?" tanya Mama Noni.


"Nggak papa Mbak, aku seneng disini jadi rame," jawabku dan tersenyum padanya.


"Ya udah Gi, Fal, mumpung masih sore, aku pamit pulang ya, soalnya mau ada tamu," ucap Mama Noni.


"Oh iya Mbak," jawabku.


Mama Noni berpamitan untuk pulang, dan Naufal mengantarnya ke depan Rumah.


.


.


.


.


.


.


Saat menjelang kami akan tidur, Abay menangis sangat keras, aku dan Naufal sangat panik.


"Cup cup Abay," kataku sambil menggendongnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Naufal.


"Nggak tau Mas, tiba-tiba dia nangis," jawabku.


Ini kali pertama nya kami punya bayi, jadi begitu bingung dan harus bagaimana, meskipun Mama dan Papa selalu memberi arahan pada kami.


Segera Naufal membuatkan susu untuk Abay.


Dan akhirnya Abay pun diam setelah dia meminum susu buatan Naufal.


"Dia haus Sayang," kata Naufal sambil mengelus pipi Abay dengan gemas.


"Uncle, Noni ngantuk," ucap Noni.


"Iya bentar ya," jawab Naufal.


"Udah Mas kamu tidur dulu aja sama Noni, aku nunggu Abay tidur aja," tuturku.


"Enggak Gi, aku kasihan kamu," ucapnya.


Akhirnya ku tidurkan Abay di sampingku, karena aku masih tak tega dengan umurnya yang masih satu minggu untuk ku tidurkan sendiri di ranjangnya.


"Noni minta sebelah mana hayo?" tanya ku pada Noni.


"Noni sebelah Adek Abay aja Aunty," jawabnya.


"Uncle, nanti kalo Adek Abay udah sebesar Noni, kita jalan-jalan ya sama Mama sama Adek Abay sama Uncle, ya?" ucapnya.


Namaku tidak ada di dalam rencana Noni, Naufal langsung melihat padaku. Aku memberi senyum padanya sebagai isyarat untuk menjawab "iya".


"Eeeee.....iiii....iya Noni," jawab Naufal.


"Noni sekarang tidur ya," tutur Naufal sambil mengelus rambut Noni.


Saat kami semua sudah tertidur kecuali Naufal, aku merasakan hangat nafas dari Naufal, dia mencium keningku dan juga kening Abay.


"Tidur yang nyenyak Sayang," bisiknya di telingaku.


Bersambung.....


Terimakasih buat semuanya yang selalu ekspresif bahkan sempat sedih, nyesek, emosi hehehehe tapi nggak papa, Author semakin seneng dan semangat jadinya🙏😁🖤

__ADS_1


Jangan bosen-bosen nya buat nulis komen di bawah😁


Dan terima kasih buat yang selalu support.


__ADS_2