
Keesokan harinya......
Pagi-pagi sekali Mas Naufal sudah bangun mendahului. Saat Mas Naufal sedang membuka semua gorden yang menutupi dan menyelumi seluruh ruangan ini.
Sinar matahari dari arah Timur langsung menyorot ke seluruh tubuhku. Hangat yang ku kira pelukan Mas Naufal, kini hangat dari sorotan cahaya benda luar angkasa itu.
"Hooaamm...... uuugghhhhh,"
"Morning Sayangggg," ucap Maa Naufal.
Aku langsung terjingkat bangun mendengar Mas Naufal yang berdiri tengah membuka semua gorden.
"Loh.....Mas Naufal???"
"Udah jam berapa ini Mas??" tanyaku.
"Jam setengah 6 pagi Sayang," jawab Mas Naufal.
"Astagfirullah, aku belum masak Mas," kataku lalu membuka bedcover dan menurunkan dua kakiku.
"Eeeiittss," Mas Naufal langsung berlari mencegahku untuk turun.
"Loh kenapa Mas?? Aku mau masak," tepisku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Nggak usah, Mas udah siapin buat kamu, tuh," kata Mas Naufal sambil mengarahkan kedua bola matanya di meja yang ada di samping sofa.
Mataku langsung tertuju pada bubur dan susu yang tersaji di atas loyangm
"Uuuummmm......Mas Naufallll," rengekku sambil merangkul satu tangannya.
"Hehehem, bersih-bersih dulu gih, habis ini kita makan bareng, hawa nya enak loh, semalaman kan hujan," tutur Mas Naufal.
"Lah Mas nggak kerja hari ini??" tanyaku.
"Shift malam lagi Sayang," jawab Mas Naufal.
"Hhmmm ya udah deh," jawabku lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian.
Selesai aku mandi.
Di balkon, Mas Naufal sudah menyiapkan sarapan pagi kami disana.
***(Di Balkon)
Huuummm, hawanya masih pagi.
Belum terlalu banyak polusi, udara masih sangat segar, apalagi embunnya menambah segar dedaunan.
Hijaunya pohon-pohon disini, menambah keindahan dan kesejukan mata. Tanah yang biasanya gersang di dalam pot bunga mawar putih dan kaktusku.
Kini sudah terbasahi dengan hujan semalam.
Hening dan hening.......
Belum banyak manusia yang beraktivitas yang berat di jam segini. Jadi kami berdua begitu menikmatinya.
Hanya suara kicauan burung yang bertenger di pohon-pohon halaman rumah kita. Yang menambah suasana menjadi apik. Rasanya "ayem tentrem" kalo kata Bi Sarah hehehehe.
"Seharusnya aku yang mempersiapkan ini, dan bukan Mas," kataku.
"Sama aja Sayang, ini juga tugas suami, santai kalo sama Mas hehehem," tepis Mas Naufal.
"Maafin ya Mas, aku keenakan tidurnya, mimpinya juga indah-indah sama Mas," ujarku.
"Memangnya kamu lagi mimpi apa sama Mas??" tanya Mas Naufal.
"Hehehem, ada deh, Mas jangan tau," jawabku.
"Ooooh yang ngigo itu ya??"
"Uuuummm....." Ceplos Mas Naufal.
"Memangnya tadi malam aku ngigo Mas??" tanyaku sambil menatapnya.
Mas Naufal menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mengejekku.
"Aaarrghhh, ngigo gimana Mas??" tanyaku lagi.
"Hehehehm, ada deh.....kamu jangan tau," jawab Mas Naufal yang sama persis denganku.
"Aaaaaaa......Mas Naufal, Mas gitu deh, nggak asik," kataku.
"Hahaha, udah udah......ayo dimakan, nggak baik nyuekin makanan begini, makan gih," tutur Mas Naufal.
"Tapi nanti Mas cerita ya," paksaku.
"Udah di makan dulu buburnya, nanti keburu panas loh disini, ini kan mumpung pagi-pagi masih enak, keburu kamu juga ke Butik kan," ucap Mas Naufal.
Akhirnya, kami pun menikmati semangkuk bubur di balkon. Ini cara kita saling membahagiakan satu sama lain. Sederhana namun indah.
Beginilah kami berdua....
Setiap hari selalu terhiasai dengan hal yang indah-indah, meskipun terkadang ada hal yang kurang menyenangkan. Tapi, kita selalu membuatnya menjadi indah dengan cara kita.
Kuncinya hanya beryukur....bersyukur...dan bersyukur.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi.
Aku bersiap-siap untuk segera pergi ke Butik.
Mas Naufal sedang asik berolahraga di mini gym nya yang ada di lantai bawah. Sedangkan aku sibuk berbenah.
Tak lama kemudian, selesai berbenah.
__ADS_1
Ku ambil tasku dan kupakai heels ku. Lalu aku menjemput Mas Naufal ke bawah untuk berpamitan padanya.
Dengan gamis mocca, dan heels mocca juga, aku menuruni anak tangga.
***(Di Mini Gym)
Aku melihat Mas Naufal sangat fokus disana sambil memakai earphone di kedua telinganya.
"Mas....."
"Aku mau ke Butik ya," pamitku.
"Sekarang banget Sayang??" tanya Mas Naufal.
"Iya lah Mas," jawabku sambil berjalan mendekat padanya.
"Ooowwh, mau Mas anterin??" tanyanya lagi.
"Nggak usah, Mas aja belum mandi, masih keringetan gini," jawabku sedikit mengejeknya.
"Mas mandi bentar bisa kok," tepisnya.
"Nggak, nggak usah Mas, Mas kalo mandi lama, jadi mending aku berangkat sendiri aja ya, hehehe," ujarku sambil tersenyum padanya.
"Emangnya disana ada siapa sih?? Kok Mas nggak boleh nganterin kamu," ucap Mas Naufal.
"Mas Naufal apaan sih, nggak ada siapa-siapa lah, ngaco Mas ini,"
"Disana cuman ada Hilya, Haru sama Isamu, hhmm negatif aja pikirannya," kataku.
"Hahahaha, becanda Sayang," ucap Mas Naufal lalu meneguk air dalam botol minum stainless nya.
"Ya udah salim dulu," kataku sambil menyalami tangan Mas Naufal.
"Assalamu'alaikum Mas," ucap salamku.
"Wa'alaikumsalam Sayang, hati-hati loh," tutur Mas Naufal.
"Iya Mas, Byeeee," ucapku.
Sampainya di Butik, langsung aku menuju lantai atas.
Disana, Hilya, Isamu dan Haru sudah rapi dan wangi.
Karena sebentar lagi, Butik akan open.
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga turun ke bawah dan membuka Butiknya. Ternyata saat aku kesana tadi, sudah banyak pelanggan yang menunggu di depan untuk buka nya Butik ini.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dengan nikmat dan rejeki yang telah dilimpahkan untukku.
Mereka langsung menyerbu Butik ini.
Kemudian, saat aku turun ke bawah.
Ada wanita yang kemaren tak asing di mataku kini datang kembali lagi disini, namun sekarang dia sedang bersama Haru.
"Nah Ibu Gia ini pemiliknya Butik ini Mbak, silahkan," kata Haru.
Deeeeegggggg.......
"Meira!!!" ucap dalam hatiku saat melihat Meira.
Meira pun ikut melongo saat melihatku dan bertemu denganku kembali. Aku berharap, pertemuan kami berdua kali ini, bisa memperbaiki semuanya.
"Ini ya pemiliknya??" Ceplos Meira dengan ketus.
"Iya Mbak, Mbak bisa berdiskusi tentang desain dengan Ibu Gia inid di atas," ucap Haru.
"Okey," jawab Meira.
Alhamdulillah, aku agak sedikit lega. Saat Meira berkata "Okey" berarti dia mau berbicara denganku, dan mungkin dia sudah melupakan masa lalu kita dulu.
Meira mengikutiku menaiki anak tangga.
"Silahkan duduk Mei," tuturku.
Ku berikan beberapa majalah desain hijab butik ini pada Meira. Meskipun aku agak canggung sekarang.
"Eeemmm, ini kamu bisa lihat-lihat atau dapat referensi nya dari sini," kataku.
"Nggak perlu!!" Jawab Meira dengan jutek.
Deeeggggg.......
Penilaianku salah, Meira masih marah padaku dan masih menaruh dendam juga padaku.
"Maaf, bukannya kamu mau menemuiku karena hal ini?" tanyaku dengan halus.
"Bukan karena aku mau bicara sama kamu, berarti aku memaafkan kelakuanmu,"
"Salah!!!" bantah Meira.
"Maksud kamu kelakuanku?? Kelakuanku yang mana ya??" tanyaku.
"Hey jangan pura-pura lupa atau nggak tau?? Mau aku sebarin kalo pemilik butik ini adalah seorang perusak hubungan orang, Ha??" ucap Meira dengan kedua matanya yang melotot.
"Astagfirullah Mei, kamu masih dendam sama aku karena hal itu,"
"Udah Mei, udah.....Pak Kevin sudah menjadi suamimu, sudah menjadi milikmu, lantas kenapa kamu masih sangkut pautkan semuanya sama aku??? Toh Pak Kevin juga sudah membenci aku,"
"Apa lagi yang kamu mau?? Apa lagi yang ingin kamu usik dari aku???" tanyaku.
"Yah, kamu benar....Kevin sangat membencimu, Kevin seperti itu karena dia capek, dia lelah, dia marah karena masih mengingatmu,"
"Di otaknya Kevin itu masih ada kamu Gi, gampang banget kamu ngomong jika Kevin udah benci sama kamu, aku belum puas, aku akan tetap membenci kamu jika kamu masih berada di dunia ini!!!" kata Meira.
__ADS_1
Gleeerrrrrrr..........
Tamparan secara tidak langsung dari mulut Meira padaku. Aku berusaha tenang, dan tidak ingin membuat masalah di butikku sendiri.
"Mei, udah.....aku nggak mau ribut sama kamu, aku udah punya hidup sendiri, soal Pak Kevin gimana-gimana ke aku, itu urusan Pak Kevin, bukan urusanku, jadi jangan salahin aku,"
"Kalo kamu seperti ini, aku minta tolong.....jangan di butik aku, yah," tuturku dengan lembut pada Meira.
Aku tidak ingin meledak-ledak disini, aku tetap ingin sabar menghadapi Meira.
"Oke!!! Lagian aku juga gak akan mau beli lagi disini!!" kata Meira lalu dia turun ke lantai bawah meninggalkanku.
"Astagfirullah ternyata Meira masih marah sama aku, padahal kan masalah ini udah beberapa tahun lalu lamanya,"
"Sabar....sabar...," Gumamku dalam hati.
Aku tidak ingin terlalu memikirkan masalah ini.
Aku sudah mau membuka halaman baru dalam hidupku. Yang penting aku udah minta maaf dengan Meira dan Pak Kevin dulu.
Dimaafkan ataukah tidak?? Itu urusan mereka.
Dan aku juga tidak pernah berniat untuk merusak hubungan mereka. Semua sudah digariskan seperti ini. Sudah takdirnya seperti ini.
Saat aku turun ke bawah, Haru langsung bertanya kepadaku.
"Loh Buk?? Mbak tadi kenapa ya?? Kok kayaknya kesal banget," tanya Haru.
"Mungkin tidak cocok dengan option desain hijab di butik ini kali ya Mbak," jawabku pada Haru.
"Eeemmm pantesan, tadi langsung nyelonong pergi aja Buk, nggak papa Buk, masih ada pelanggan lainnya," ujar Haru menyemangatiku.
Memang Haru yang paling dekat denganku, berbeda dengan Hilya dan Isamu, apalagi Isamu yang sangat pendiam. Jarang sekali berbicara denganku.
"Makasih ya Mbak," ucapku pada Haru.
Aku sudah terbiasa memanggil semua karyawanku dengan sebutan "Mbak" aku tidak ingin memanggil dia dengan sebutan namanya, karena juga agar kami lebih akrab saja.
Tiba-tiba, ada seorang pria pengantar bunga masuk ke dalam Butik ini. Dia membawa seikat bunga mawar putih yang sudah dihiasi dengan kertas-kertas dan kain disana.
Teng tong.......
"Pagi Mbak," ucap Bapak pengantar bunga itu.
"Iya pagi Pak," jawabku.
"Ini Mbak, ada kiriman bunga untuk Mbak Gia," jawab Bapak itu.
"Oh iya, itu nama saya Pak," ujarku.
"Oh kebetulan Mbak, ini Mbak bunga nya, silahkan tanda tangan disini," ucap Bapak itu.
"Maaf Pak, bunga nya dari siapa ya?? Karena saya tidak merasa memesan bunga,"
"Bentar Pak, saya tanya karyawan saya dulu," kataku.
Setelah aku menanayai tiga karyawanku, tidak ada yang sedang memesan bunga disana.
"Semua tidak ada yang pesan bunga Pak," kataku.
"Disini juga tidak tertera namanya Mbak, siapa tau dari kekasihnya Mbak, hehehe," ujar Bapak itu.
"Heemm, Ibu Gia ini sudah menikah Pak," sahut Haru.
"Hehehe, benar Pak saya sudah menikah," sambungku.
"Nah mungkin dari suaminya Mbak," kata Bapak itu.
Dari pada ribet dan saling bertanya-tanya, akhirnya aku menandatangani tanda terima bunga itu. Dan Bapak itu pun pergi dari Butik kami.
"Ciyee....ciyee, Ibuk pagi-pagi udah ada kiriman bunga dari Pak Naufal, so sweet banget ya Pak Naufal," ejek Haru.
"Iya kali ya?? Ini dari Mas Naufal kali ya??"
"Dari siapa lagi kalo bukan Mas Naufal, hehehem ada ada aja Mas Naufal," gumamku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Aahh Mbak Haru bisa aja," kataku.
"Saya ke atas dulu ya," ucapku sambil membawa bunga itu.
Dari buket bunga itu, terdapat sehelai kertas kecil yang bertuliskan.
"My Beloved Wife, Gia"
Aku tersenyum-senyum sendiri saat membacanya.
"Pasti ini dari Mas Naufal,"
"Mas Naufal selalu tiba-tiba kalo ngasih, hehehem, tanpa ngasih tau dulu," kataku.
Huuummm, lumayan.....
Saat moodku mulai dirusak oleh kehadiran Meira di Butikku, tapi bunga pemberian dari Mas Naufal ini menjadi moodboster ku sekarang.
Langsung ku pajang bongkar bunga itu, dan ku pajang di vas bunga yang ada di lantai bawah.
Dengan aku menghirup aroma wangi bunga ini, aku harap kebahagiaanku juga tertular kepada setiap orang yang datang di butikku ini.
"Masya'Allah Mas Naufal, tadi malem aja udah romantis sama aku, tapi sekarang.......masih aja, hehehem,"
"Besok pagi aku bakalan buatin kamu sesuatu Mas, buat tanda terima kasih atas bunga yang kamu kasih ini ke aku," gumamku dalam hati.
"Waaah, langsung di pajang nih sama Ibuk," ejek Haru.
"Hehehe, mumpung masih segar Mbak, biar yang lain juga ngerasain kebahagiaan yang saya rasain," jawabku pada Haru sambil memasukkan bunga ke dalam vas bunga.
__ADS_1
Bersambung..........