
Matahari sudah bergeser ke ufuk barat. Waktunya untuk menutup butik ini. Dan aku harus segera pulang bertemu dengan suamiku.
"Mbak, jangan lupa dikunci ya nanti,"
"Saya pamit pulang," pamitku.
Aku berpesan pada mereka untuk mengunci Butik ini, karena hari ini adalah sabtu. Dan waktunya mereka untuk menghabiskan malamnya di luar. Biasanya seperti itu.
Entah sama gebetan mereka, atau sama teman mereka.
"Hehehe, Iya Buk," jawab Hilya.
"Pasti Buk, siaap," jawab Haru.
Isamu hanya menimpalkan senyumnya padaku, karena hanya dia dari mereka bertiga yang jarang sekali keluar dan dijemput oleh pacaranya.
Malahan, mungkin Isamu tidak mempunyai pacar atau teman dekat cowok.
"Mbak Isamu nggak ikut keluar nanti?? Mbak Haru sama Mbak Hilya udah antusias loh," tanyaku.
"Tidak Buk," jawabnya yang sangat singkat dan hemat.
"Kalo Mbak Isamu kesepian, nanti seumpama Mbak Hilya sama Mbak Haru ini keluar, Mbak Isamu bisa ke rumah saya aja, rumah sayas sepi kok Mbak, tenang aja jangan malu-malu, hehehe," tuturku.
"Hemm, iya Buk," jawabnya lagi dengan singkat.
Memang Isamu ini, berbeda jaauuuuhhhh sekali dengan Hilya dan Haru. Yaaahh wajar, karena Hilya dan Haru adalah gadis kota, sedangkan Isamu anak desa. Jadi dia belum tau seluk beluk kota ini.
Kejamnya kota ini, hiruk pikuk di kota ini.
Dan kulihat-lihat, Isamu ini tidak begitu liar atau suka bermain dengan seorang cowok (Pacaran ataupun dating). Mungkin karena dia dari desa, jadi dia lebih terlihat kalem dan santun. Serta tidak berani neko-neko.
"Mbak Isamu tau kan rumah saya?? Pasti tau dong, Mbak Haru sama Mbak Hilya aja pernah kesana, masak Mbak Isamu udah kerja sama saya lama belum tau rumah saya, hehehe," candaku sambil tersenyum padanya.
"Tau Buk, saya punya alamat rumah Ibuk," jawab Isamu dengan senyumnya.
"Iya nih Buk, Isamu nggak pernah kitaa ajak kemana-mana, apalagi kalo kita lagi sama teman cowok kita Buk, dia tuh takut cowok apa gimana sih Sa???" ceplos Haru.
"Iya loh Sa, ayolaaas sekali-kali, kamu udah lama tinggal di kota tapi jarang mau diajak keluar, apa jangan-jangan kamu sudah punya pujaan hati di desa yaaa,"
"Hayo ngakuuu..." Sambung Hilya.
"Hehehem, iya jangan-jangan Mbak Isamu udah ada yang minta ya di desa, jadi disini jaga perasaannya, hehehem," sanggahku.
"Hehehe, tidak Buk, ya begitulah," jawab Isamu.
"Ya sudah, saya pamit pulang loh, jangan lupa Mbak Isamu ke rumah saya ya," kataku.
Isamu hanya tersenyum padaku, tidak memberikan jawabannya.
Aku pun pulang meninggalkan Butik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah)
"Assalamu'alaikum," salamku dengan senang hati, apalagi teringat dengan bunga pemberian dari Mas Naufal tadi.
"Wa'alaikumsalam Mbak," jawab Bi Sarah.
"Bi, Mas Naufal sudah berangkat??" tanyaku.
"Sudah Mbak, Mas Naufal nggak pamitan sama Mbak Gia??" tanya Bi Sarah.
"Eemmm, belum tau sih Bi, nggak lihat hp sama sekali,"
"Bentar, Gia cek dulu," jawabku sambil merogo ponselku di dalam tas.
Lalu ku buka, 5 pesan WA dari Mas Naufal.
"Sayang, Mas berangkat,"
"Maaf Mas pamitan via Wa,"
"Kamu hati-hati kalo pulang, nggausa ngebut,"
"Love youu,"
"Mas sayang sama Gia,"
Itu isi 5 pesan Mas Naufal di ponselku.
Aku tersenyum-senyum membaca pesan-pesan Mas Naufal itu.
"Hehehehm, Mas.....Mas," gumamku.
"Kenapa Mbak?? Mas Naufal nggak pamitan sama Mbak?? Padahal tadi Mas Naufal bilang sama Bibi kalo udah pamitan sama Mbak," ujar Bi Sarah.
"Sudah Bi, hehehem," jawabku.
"Ooooo, pantesan Mbak Gia senyum-senyum, hehehem," kata Bi Sarah.
"Kok kayaknya sumringah sekali Mbak-Mbak," sambung Bi Sarah lagi.
"Iya dong Bi, hehehe tadi di Butik, Mas Naufal kirimin bunga buat Gia, so sweet ya Bi ya Mas Naufal," ucapku pada Bi Sarah.
"Waduuuhhh, enaknyaaa jadi Mbak Gia," kata Bi Sarah.
"Beruntung Bi punya suami seperti Mas Naufal, yang nggak pernah mau nyakitin Gia, kayak Papa ya Bi ya,"
"Huuummm, kayak Papa yang nggak pernah mau sedikitpun nyakitin Gia, ada ya Bi ya ternyata manusia seperti itu di dunia, yaaaah tapi udah pergi," ucapku.
"Tapi kata Papa, Allah kasih kita sesuatu jika kita memang sudah siap, siap menurutNYA, bukan menurut kita, bukan begitu Bi??" kataku sok tegar.
"Iya Mbak, Bapak juga pernah bilang seperti itu sama Bi, entah rejeki, musibah, cobaan, berkah, semua diberi atas kesiapan kita," ucap Bi Sarah dengan kedua matanya yang perlahan berkaca-kaca.
"Hhhmmmcckk, Bibi jadi ingat Bapak," kata Bi Sarah.
"Aaaaaaa.......Bibi jangan cengeng dong," kataku berusaha menguatkan Bi Sarah, padahal sebenarnya aku juga mengingat Almarhum Papaku.
"Ya sudah, Gia ke atas ya Bi, mau mandi, udah asem baunya, hehehe," kataku agar tidak terus berlanjut membahas tentang Papaku.
"Enggeh Mbak, monggo," jawab Bi Sarah mempersilahkanku ke atas.
***(Di Kamar)
Aku langsung bergegas untuk mandi.
.
.
.
.
.
.
Setelah adzan magrib, aku baru saja selesai untuk mandi.
Malam minggu bagiku itu.......malam kelabu.
Jika dulu.....bagi para gadis remaja seperti pada umumnya, pasti mereka menghabiskan waktunya untuk bermain atau keluar, jalan, dating, pergi lihat konser, pergi ke coffe shop main truth or dare, pergi ke taman, pergi dinner.......
Hehehemmm, tapi kalo untuk aku......itu semua kulewati begitu saja.
Malam minggu versiku, pasti keluar makan bersama keluarga, atau tidak movietime sama keluarga, kalo nggak pasti kumpul-kumpul sama keluarga.
__ADS_1
All about my family.....until now.
Family the first. Itu semboyan Papaku.
Jadi, aku sudah tidak kaget jika malam minggu biasa aja. Nggak ada yang spesial, nggak ada ceritanya bingung milih baju buat pergi sama pacar, bingung nanti ngomong apa kalo ketemu sama pacar, deg-degan kalo pas lagi ketemu atau di jemput sama pacar. Hehehemm.....itu bukan aku.
Aku, aku yaa aku.. .
Ini versiku, seperti itu.....
Memang sudah di desain dengan orang tuaku seperti itu, aku melewati semua masa-masa tanpa merasakan sedikit dari salah satunya....
Hehehem, lucu ya??
Tapiiiiii, jangan salah....
Setelah menikah, aku juga ngerasain itu loh.
Ngerasain dinner, dating, nonton berdua, bingung milih baju yang mana???
Yaaaah, seperti malam mingguku sekarang ini.
Tanpa Abay, tanpa Mas Naufal.
Saat aku duduk termenung di Balkon sendirian.
Dan merenungi semua itu, tentang gaya hidupku di masa lalu.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.
Tok....tok...tok...
"Mbak...."
"Mbak Giaaa," panggil Bi Sarah.
Aku langsung beranjak berdiri, dan berjalan untuk membukakan pintu Bi Sarah.
Gleeekkk....
"Iya Bi?? Kenapa??" tanyaku.
"Ada tamu Mbak di bawah, Mbak Isamu," jawab Bi Sarah.
"Oooo Mbak Isamu,"
"Tumben Mbak Isamu kesini?? Hehehem akhirnya Mbak Isamu kesini," gumamku dalam hati.
"Ya sudah Bi, tolong Bibi bilang bentar lagi saya turun, saya mau siap-siap dulu, ini belum sisiran, hehehe," kataku.
"Baik Mbak," jawab Bi Sarah.
"Makasih ya Bi," ujarku.
Bi Sarah melangkah pergi dari depan kamarku.
Beberapa menit kemudian, aku turun menemui Isamu...
***(Di Ruang Tamu)
"Haayy Mbak Isamuu.....akhirnya kesini juga, hehehem," kataku menyapanya.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum saja padaku.
Bi Sarah datang membawakan minuman khas yang ada di rumahku.
"Silahkan Mbak, diminum," kata Bi Sarah.
Isamu hanya mengangguk dan tersenyum pada Bi Sarah.
"Nah ini minuman khas kalo bertamu di Rumah ini, hheehm, cobain,"
"Enak kok, coklat panas,"
"Mbak Isamu nggak alergi sama coklat kanm??" tanyaku.
"Endak Buk," jawabku dengan sangat santun dan halus.
"Ya begini Mbak kalo di rumah ini, sepi yaaa,"
"Eeemmmm," jawab Isamu sambil melihat-lihat sekelilingnya dan melihat foto keluarga kami yang terpajang disana.
"Anaknya nggak pernah pulang Buk??" tanya Isamu.
"Jarang Mbak, kalo nggak pas hari libur aja, yang ada saya sama Mas Naufal yang kesana," jawabku.
"Oiya, ngomong-ngomong Hilya sama Haru pergi kemana Mbak??" tanyaku.
"Saya kurang tau Buk, soalnya tadi mereka perginya berpisah, Haru sama cowoknya, Hilya juga sama cowoknya," jawab Isamu.
"Eeemmm, Mbak Isamu nggak pengen seperti mereka??" tanyaku.
"Sudah ada pria yang saya cintai di hati saya Buk, jadi saya menjaga hati saya hanya untuk dia seorang," jawab Haru.
Aku kaget dengan jawaban Haru.
Ternyata Haru yang pendiam dan tidak banyak bicara ini sudah memiliki pujaan hati.
"Ooo harus sudah punya pacar berarti??" tanyaku lagi.
"Bukan pacar Buk, ya begitulah," jawab Haru sambil tersenyum-senyum padaku.
"Diminum Mbak," kataku.
Isamu meminum coklat panas yang dibuatkan oleh Bi Sarah tadi.
"Jadi, Ibuk disini tinggal sama Pak satpam, Bibi tadi, sama Pak Naufal saja??" tanya Isamu.
"Ada dua satpam lagi di belakang Mbak, terusa ada suaminya Bibi tadi juga, jadi di rumah ini ada tujuh orang," jawabku.
"Eeemmm, kata nya dengar-dengar dulu Ibuk jadi Dokter ya??" tanya Isamu padaku.
"Hehem, iya," jawabku dengan kalem.
"Pantesan, Dokter dapatnya Dokter ya Buk," ujar Isamu.
"Aaah tidak Isamu, memang sudah ditakdirkan sama Allah saya dan Mas Naufal berjodoh, nggak selalu yang dokter dapatnya dokter, yang pejabat dapat pejabat, yang pengusaha dapat pengusaha, nggak selalu seperti itu," ucapku.
"Saya minder Buk, karena pria yang saya cintai sangatlah mapan," kata Isamu yangs sepertinya mulai terbuka padaku.
"Kenapa minder?? Yang penting dia bisa menerima kamu apa adanya, dan pengertian sama kamu," tuturku.
"Hehehem, kayaknya nggak akan terjadi deh Buk," tepis Isamu.
"Loh kenapa?? Jangan minder Mbak," kataku.
"Saya sama dia kayaknya nggak mungkin akan sama-sama Buk," ucap Isamu lagi.
"Do'a aja Mbak, jodoh nggak ada yang tau," tuturku.
"Ibuk benar sekali, saya akan mendoakannya Buk," jawab Isamu dengan tegas.
"Kamu tadi kesini naik apa??" tanyaku.
"Itu Buk motor saya di depan," jawab Isamu.
"Kalo Haru sama Hilya pergi, kamu sendirian di Butik??" tanyaku.
"Kalo itu sudah pasti Buk, hehehm," jawabnya.
"Kamu nggak bosan Mbak?" tanyaku lagi.
Dia menggelengkan kepalanya.
Kehidupan remaja Isamu ini tidak beda tipis denganku.
Apa memang sifat anaknya ini introvert sepertiku ya....
Aku susah menebak sifat asli Isamu ini.
Kalo lagi berdua seperti ini, Isamu berani bertanya atau ngobrol denganku. Tapi kalo lagi di Butik, dia hanya diam, sesekali hanya tersenyum dan menyapa aja.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Lama kami berbincang-bincang, dan yang kami bahas pastinya tentang Butik, mau apa lagi??? Hehehem.
Isamu ini menurut cerita yang barus saja ia ceritakan padaku, dia ini anak yang sangat berbakti dan penurut pada orang tuanya. Benar kataku, dia nggak neko-neko.
Sudah jam 9 malam, Isamu menghabiskan secangkir coklat panas. Dan dia juga sempat memujinya.
Aku mengantarkan Isamu di depan halaman rumahku, disana terparkir scooter matic warna kuning milik Isamu.
"Buk, saya pamit pulang ya," ucap Isamu.
"Iya Mbak, hati-hati, sudah malam, kamu sendirian,"
"Nggak usah ngebut," tuturku.
"Iya Buk," jawab Isamu.
Dan Isamu pun pergi kembali ke Butik.
"Hhhmmmm, jadi kangen suasana di Rumah Sakit deh,"
"Tangannya udah kaku, rindu saat di ruang operasi, di ruang ICU, di kantin, kapan-kapan sambang Mas Naufal sama teman-teman kesana lah," ucapku dalam hati sambil berjalan masuk ke dalam Rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.....
Aku bangun shubuh sekali, meskipun aku tidak sholat, tapi aku bersemangat karena aku akan membuatkan makanan kesukaan Mas Naufal yang sangatttttt lama tidak Ia makan.
Yaituuuu.......Sandwich.
Mas Naufal lama menghindar dari makanan ini dengan alasan aku. Jadi untuk hari ini, akan ku buatkan dia makanan itu.
***(Di Dapur)
Selalu Bi Sarah yang absen nomor satu jika berasa di Dapur.
"Hay Bibi," ucapku sambil memegang kedua pundaknya dari belakang.
"Bibi ngapain ini??" tanyaku.
"Nyuci beras Mbak, sama mau potong-potong sayur," jawabnya.
"Eeemmm, menu hari ini apa Bi??" tanyaku.
"Soto, tumis sayur sama ada lagi nanti goreng-goreng ikan Mbak," jawab Bi Sarah.
"Mbak Gia mau masakin Mas Naufal apa??" tanya Bi Sarah yang sepertinya sudah tau apa yang akan aku lakukan.
"Kok Bibi tau Gia mau masakin Mas Naufal??" tanyaku ganti.
"Bibi jelas tau Mbak, hehehe kan Mas Naufal kerja malam, jadi pagi ini Mas Naufal pulang disambut dengan masakan nya Mbak Gia, betul begitu Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Hehehehem, Bibi......Bibi.....tau ajaa," kataku.
"Siiippp kan Mbak," ucap Bi Sarah sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Bisa aja Bibi, ini loh Bi, mau buatin sandwich sama oatmeal buat Mas Naufal," jawabku.
"Hhuummm, pasti spesial buat Mas Naufal ya Mbak, hehehe," ujar Bi Sarah.
"Kalo Bibi mau, Gia buatin sekalian nggak papa kok Bi," kataku.
"Endak Mbak, sudah, Bibi juga biasanya suka buat sandwich sendiri,"
"Ngomong-ngomong, Mas Naufal lama yo (ya) Mbak, udah nggak makan sandwich," ceplos Bi Sarah sambil mencuci sayur mayur yang akan dimasak.
"Itu semua karena Gia Bi, Mas Naufal jadi kesiksa nggak bisa makan sandwich," gumamku dalam hati.
"Iii...iya Bi, udah lama," jawabku.
"Biasanya kalo dulu banget, Bibi sering lihat Mas Naufal buat sandwich sendiri, kadang di buatin Mbak Gia, udah lama banget loh Mbak, apa Mas Naufal udah nggak suka sama sandwich ya Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Masih Bi, masih suka," jawabku.
"Ya sudah, monggo Mbak Gia buatin sandwich sama ooo......ooooo apa tadi Mbak??" tanya Bi Sarah yang lucu dengan nada bicaranya yang medok.
"Oetmeal Bi, hehehem," jawabku lagi sambil menertawakan Bi Sarah.
"Nah itu Mbak, Bibi nggak tau masakan apa itu," ujar Bi Sarah.
"Nanti, Gia bakalan buatin juga buat Bibi, tenang saja,"
"Ya udah Gia masak dulu Bi," ucapku.
Aku pun membuatkan sandwich dan oetmeal super spesial buat Mas Naufal, ku buat dengan oenuh cinta dan kehati-hatian.
Saat nanti Mas Naufal menggigit sandwich dan memakan oeatmealnya, aku juga ingin Mas Naufal merasakan kebahagiaan dan cinta pada saat itu juga.
Semua ku buat dengan perfect.
"Huuummm, pasti Mas Naufal nanti kaget kaloa ada sandwich di meja kamar, hehehem, kerjain ah," ucapku dalam hati.
Aku sudah tidak sabar menunggu Mas Naufal pulang, meskipun acara memasakku ini belum selesai semua.
Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti ekspresi Mas Naufal saat ku kerjai dengan sandwich ini, hihihihi.
Sambil masak sambil ngebayangin Mas Naufal.
Huuummm, jadi rindu sama dia.
Aku ini seperti orang yang baru jatuh cinta saja.
Senyum-senyum nggak jelas sendiri.
Bersambung......
__ADS_1