
***(di Dapur)
Gia mengambil kemasan spaghetti instan di almari dapurnya,
lalu merebus pastanya.
Setelah beberapa menit selesai memasak spaghetti, Gia
langsung membawanya naik ke atas kamarnya dengan segelas jus jeruk.
***(di Kamar)
Sampai di kamar, Gia senang sekali melihat kekraban Jihan
dan Naufal bermain-main di depan TV.
Gia berjalan menghampiri mereka, dan duduk di samping Jihan.
“Jihan, Aunty udah bawa spaghetti kesukaan kamu,” ucap Gia
sambil sesekali mengendus sepiring spaghetti.
Gia menyuapi Jihan sendok demi sendok.
“Uncle mau?” tawar Jihan.
“Sebenernya Uncle mau Non, tapi Aunty Gia tuh pelit,” ejek
Naufal.
“Iiih apaan, enggak Jihan, Aunty nggak pelit, kalo Uncle mau
pasti sudah Aunty buatin,” ucap Gia.
“Dari pada Aunty buatin lagi kan lama, jadi Aunty harus
nyuapin Uncle juga,” kata Jihan dengan menggemaskan.
“Eehmm, tapi Jihan, nanti Aunty pasti akan buatin untuk
Uncle,” jawab Gia yang malu-malu.
“Sekarang aja Aunty, ya?” paksa Jihan sambil
menggoyang-goyang badan Gia.
“Iya Jihan,” kata Gia sambil tersenyum kepada Jihan.
Gia malu-malu menyuapi Naufal di depan Jihan, akhirnya Gia
terpaksa melakukan itu untuk menyenangkan hati Jihan.
“Ciye ciye Uncle sama Aunty,” ejek Jihan.
“Iiih kamu tau banget sih Non, Aunty Gia nya malu tuh,
pipinya merah,” kata Naufal.
Gia hanya menundukkan kepalanya.
Mereka bertiga berbincang-bincang, segala candaan memenuhi kamar mereka.
Setelah beberapa menit kemudian, adzan magrib isya’
berkumandang.
“Kita sholat sama-sama ya Jihan,” tutur Gia.
“Iya Aunty,” jawab Jihan dengan polos.
Mereka segera mengambil air wudhu, sedangkan Naufal tak henti-hentinya memandangi mereka, sebab keakraban mereka. Gia menyambut baik Jihan, begitu juga Jihan sepertinya sangat nayaman dengan Gia.
“Kamu kenapa lihatin aku sama Jihan,” kata Gia sambil
memakaikan mukenah pada Jihan.
“Seneng aja,” ucap Naufal.
“Kamu bisa akrab secepat ini dengan Jihan,” puji Naufal.
“Bisa aja kamu,” kata Gia.
“Udah ah ayo sholat,” tutur Gia.
Mereka melaksanakan sholat bersama.
Setelah sholat Gia melepas mukenah Jihan, lalu merapikan
rambut Jihan, Gia mengepang rambut Jihan karena setelah ini Jihan akan pulang.
“Uncle, terima kasih, kapan-kapan Uncle main ke rumah
Jihan,” ucap Jihan.
“Iya Non pasti Uncle sama Aunty akan main ke rumah kamu,
tenang aja,” kata Naufal.
“Ya udah ayo turun kamu sudah ditunggu Bi Lely di bawah
__ADS_1
Non,” perintah Naufal.
Gia dan Naufal menggandeng kedua tangan Jihan, dan mereka
berjalan menuju ke ruang tamu.
***(di Ruang Tamu)
Rupanya Bi Lely sudah menunggu Jihan.
“Non, gak boleh bandel-bandel ya, harus nurut sama Mama,”
tutur Naufal sambil jongkok di depan Jihan.
“Siap Uncle,” jawab Jihan.
“Anak pintar,” puji Gia sambil mengelus rambut Jihan.
“Ya udah Mbak, Mas, Bi Sarah saya pamit pulang dulu ya,” pamit Bi Lely.
“Iya Bi, hati-hati ya,” sahut Gia.
“Iya Mbak, Assalamu’alaikum,” salam Bi Lely.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Naufal, Gia dan Bi Sarah bersamaan.
Mereka berjalan keluar rumah Naufal.
“Bi, nanti jangan lupa makan ya, dan obatnya sama vitamin
udah Gia taruh di meja kamar Bibi kemaren waktu Bibi di kamar mandi,” ucap Gia.
“Iya Mbak, terima kasih,” kata Bi Sarah.
“Nanti Pak Joko jangan lupa diajak makan sekalian ya Bi,
saya sama Gia sudah kenyang,” kata Naufal.
“Iya Mas,” jawab Bibi.
“Gia ke atas dulu ya Bi,” pamit Gia.
“Monggo Mbak,” ujar Bi Sarah.
Gia dan Naufal berjalan menaiki anak tangga menuju ke
kamarnya.
***(di Kamar)
Gia mengganti bajunya dengan baju tidur minionnya.
Gia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Beberapa menit
Naufal menyusul Gia merebahkan tubuhnya di sampingnya.
“Gi,” panggil Naufal lirih.
“Apa?” jawab Gia sambil memainkan ponselnya.
“Kamu jangan main HP dong kalo aku ajak ngomong,” tutur
Naufal sambil memiringkan tubuhnya menghadap Gia.
Gia meletakkan ponselnya di meja sampingnya.
“Apa hm?” tanya Gia.
“Mungkin lucu ya kalo di rumah kita ini setiap harinya ada
anak kecil seperti Jihan,” ucap Naufal.
Gia memelototkan kedua matanya.
“Ehmm iya pastilah, kan rumah kita sepi,” ucap Gia berusaha
tetap rileks dan memahami kata Naufal.
“Jihan itu, sangat lengket banget Gi sama aku, jadi kamu
nggak udah cemburu sama dia, jadi dulu Mamanya dia itu nikah sama sepupu aku, setelah Jihan berumur 5tahun, sepupu aku meninggal karena kecelakaan, padahal dulu dia begitu dekat sekali sama sepupu aku, tapi gimana lagi Gi, mereka sudah
digariskan seperti itu,” kata Naufal.
“Ya enggaklah, pasti aku gak bakal iri sama Jihan, aku
ngerti banget betapa terpukulnya hati Jihan ketika melihat Papanya meninggal, kasihan tau,” ujar Gia.
“Jadi dulu sebelum aku nikah sama kamu, hampir setengah hari
ku bersama Jihan, membahagiakan Jihan, membawa kemanapun dia mau Gi,” kata Naufal.
“Terus kenapa kamu sekarang jarang banget ke rumah Jihan?” tanya Gia.
“Bukannya jarang Gi, kan aku sekarang udah punya keluarga
sendiri, jadi aku ingin fokus sama kita aja,” tutur Naufal sambil mengelus-elus rambut Gia.
“Kecuali kalo ada hal yang urgent banget,” kata Naufal.
__ADS_1
“Eehmm gitu, oh iya tadi kamu katanya mau kasih tau aku,”
tagih Gia.
“Oh iya, kamu inget banget sih,” ucap Naufal sambil meraih
ponselnya di meja.
“Ini loh Gi, tadi aku mau kasih tau kamu ini, tapi kamu
jangan kaget ya, pasti kamu bakalan seneng banget,” tutur Naufal.
“Mana?” tanya Gia.
Naufal memberikan ponselnya sama Gia.
“Kok ini?” tanya Gia lagi karena bingung Naufal memberikan
ponselnya pada Gia.
“Iya itu, coba kamu buka chat WA aku sama Bastian,” perintah Naufal.
“Hayo, kamu pasti ada apa-apa ya ini sama Bastian,” goda
Gia.
“Iiih ya gak lah, ada-ada aja kamu, aku normal loh,” tegas
Naufal.
“Wkwkwkwk iya-iya Mas, gitu aja sewot,” ejek Gia.
“Makanya kamu buka dulu Gia,” tutur Naufal lagi.
Gia membuka chat WA Naufal dan Bastian, Gia membaca semua isi pesan mereka, Gia terlihat senang saat membaca pesan itu.
“Kamu beneran?” tanya Gia sambil melongo wajahnya di depan
ponsel Naufal.
“Iya lah, masak aku bohong sih,” jawab Naufal.
“Ya Allah kamu beneran ini mau ajak aku ke Bali?” tanya Gia
lagi yang masih tidak menyangka.
“Iya Sayang, kita tinggal berangkat aja, soal tiket, hotel
dan transportnya udah di urusin sama Bastian, jadi nanti kita honeymoon disana,” tutur Naufal.
“Aaaah kamu, makasih,” ucap Gia terharu dengan sikap manis
suaminya.
Gia langsung memeluk suaminya sambil meneteskan air matanya.
“Aku akan buktiin sama kamu Gi, janji apapun yang keluar dari
mulut aku bukan omong kosong,” ucap Naufal di pundak Gia.
“Aku akan buat kamu bahagia,” ucap Naufal lagi.
“Gia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Makasih ya, aku gak tau lagi harus ngomong apalagi sama
kamu,” kata Gia sambil melepas pelukan mereka.
“Udah ah jangan nangis,” tutur Naufal sambil mengusap air
mata di kedua pipi Gia.
“Aku terharu sama sikap kamu,” rengek Gia.
“Udah, ya?” ucap Naufal sambil memeberikan senyum manisnya dengan Gia.
“Terus kita kesana hanya berdua?” tanya Gia.
“Enggak dong Gia, Bastian pasti ikut, tapi nggak tau sama
siapa,” jawab naufal.
“Ooo gitu, sumpah Mas, aku gak nyangka kamu bisa gini sama
aku,” kata Gia sambil memeluk kembali suaminya.
“Aku mencintaimu Gi,” kata Naufal lirih.
Mereka terhanyut dalam situasi sunyi dan manis malam itu.
Bersambung.......
Terima kasih untuk readers yang udah vote, comment dan like🖤
jangan lupa comment, like dan vote nya ditambahin lagi ya hehehe🙏😁
Tunggu kejutan selanjutnya😊
Tetep stay disini ya kakak, temenin Author hehehe😊
__ADS_1