
Gia membolak-balikkan tubuhnya karena tidak bisa tidur.
“Kamu kenapa sih Gia?” tanya Naufal.
“Aku gak bisa tidur,” rengek Gia.
“Gak bisa tidur kenapa? Hm?” tanya Naufal lagi sambil
menatap Gia dengan manja.
“Nggak tau, padahal aku gak ada mikirin apa-apa,” jawab Gia.
“Ini udah malam loh, besok kita kerja,” tutur Naufal.
“Iya, tapi mataku tuh lihat masih bersinar terang benerang
banget,” ucap Gia sambil membelalakkan matanya dengan jarinya.
Naufal tertawa dengan tingkah manja istrinya itu.
“Kok kamu malah ngetawain aku sih?” ucap Gia.
“Hehehm, kamu lucu sih Sayang,” kata Naufal sambil mencubit
pipi kiri Gia.
“Aaww sakit tau, emang aku dari dulu lucu, kamu aja yang
baru nyadar,” ejek Gia.
“Iya ya, selama ini aku buta, dibutakan oleh cinta kamu,”
rayu Naufal.
“Apaan sih kamu, garing tau,” ucap Gia malu-malu sambil
menepis dada bidang Naufal.
“Awww sadis banget sih kamu Gi,” rengek naufal yang
pura-pura kesakitan.
“Dasar manja ah kamu, gitu doang juga, lagian nih ya, kamu
kan baru-baru ini bisa jatuh cinta sama aku,” ejek Gia.
“Iiiiih apaan? Kamunya aja yang gak peka sama aku, hayo
loh,” ejek Naufal ganti sambil menyentil hidung Gia.
“Eh eh kok aku? Kamu lah,” ucap Gia sambil mengelus-elus
alis tebal Naufal.
“Kamu dengerin nih ya, aku mulai jatuh hati sama kamu, udah
dari kemaren-kemaren tau, apalagi waktu bilang kalo masakan kamu gak enak di depan Bi Sarah dan Pak Joko, sebenarnya aku tuh mau ngomong kalo aku tetep sayang sama kamu, tapi..” kata Naufal terpotong oleh Gia.
“Tapi apa?” tanya Gia.
“Ya aku malu lah di depan Bi Sarah sama Pak Joko,” jawab
Naufal.
“Halah, bilang aja kamu gengsi kan waktu itu,” ejek Gia.
“Yeee enggak ya, bisa-bisanya kamu nih nuduh aku gengsi,”
bantah Naufal.
“Hmm selalu, kamu mah selalu gitu gak mau ngakuin, padahal
emang iya gengsi kan?” paksa Gia lagi.
“Iya kan kamu gengsi? Hayo loh Fal?” goda Gia sambil
menrtawakan suaminya yang malu-malu.
“Kamu maksa deh,” ucap Naufal.
“Wkwkwkwkwk,” tawa Gia dengan keras.
Naufal membungkam mulut Gia dengan tangannya.
“Huuuusssttt udah malem Gi, di rem ketawanya,” perintah
__ADS_1
Naufal.
“Lagian kamu sih, gak mau ngaku, wahahaha,” ejek Gia yang
tetap menertawakan Naufal.
“Iya deh iya aku ngaku, udah ya, awas loh di ungkit-ungkit,”
ancam Naufal.
“Yelah, ngancam ni kamu,” ucap Gia.
“Udah Gia udah,” tutur Naufal.
“Iya iya wkwkw,” ucap Gia.
“Eh Fal, ngomongin Bi Sarah aku jadi keinget, gimana kalo
kita suruh suami Bi Sarah kerja disini jadi tukang kebun,” rayu Gia.
“Boleh, emang suaminya bakalan mau?” tanya Naufal.
“Pasti maulah Fal, orang buat sama-sama istrinya masak gak
mau, lagian nih ya suami mana coba yang mau di pisahin dari istrinya,begitu juga sebaliknya,” tutur Gia.
“Iya juga sih, ya kayak aku ke kamu ini Gi, pengennya deket
terus gak mau jauh-jauh,” Goda Naufal.
“Mulai gombalnya,” kata Gia sambil wajahnya memerah.
“Fal ayolah serius, boleh nggak?” tanya Gia lagi.
“Iya iya pasti boleh lah, suruh segera aja kesini suami Bi
Sarahnya,” tutur Naufal.
“Beneran ya?” tanya Gia untuk memastikan keputusan suaminya.
“Iyaaa,” jawab Naufal.
“Yeeey besok aku bakalan suruh Bi Sarah buat segera suaminya datang kesini,” kata Gia dengan sangat senang.
Naufal membuka ponselnya ternyata sudah pukul 22.30.
“Aku gak bisa tidur Fal, kamu aja yang tidur duluan,” perintah
Gia.
Tanpa berkata-kata Naufal langsung menarik tubuh Gia dan
mendekapnya.
“Sini biar bisa tidur,” ucap Naufal sambil mengelus-elus
rambut Gia.
Gia sangat bahagia sekali malam itu.
“Ya Allah terima kasih buat kebahagian yang Kau hadirkan
malam ini untuk Gia,” gumam Gia dalam hatinya.
Gia tertidur di dalam pelukan Naufal.
Beberapa jam kemudian.
Tengah malam tepat.
Vela dibawa oleh Naufal ke rumah mereka.
“Gi, aku mau ngomong sama kamu,” ucap Naufal.
“Apa maksud kamu membawa Vela ke rumah kita Fal?” tanya Gia.
“Aku pengen ngomong soal kita bertiga,” kata Naufal dengan
wajah serius kali ini.
Vela hanya diam sambil menundukkan kepalanya tanpa berani
melihat ke arah Gia.
Deeeggg.
__ADS_1
Gia kaget dan penasaran mendengar kata-kata suaminya itu.
“Fal, udah deh jangan becanda gini,” tutur Gia.
“Aku gak becanda Gi, aku serius!” sontak Naufal.
“Lalu apa hubungannya dengan Vela Fal?” tanya Gia lagi.
“Aku ingin meminta ijin sama kamu Gi, aku ingin menikahi
Vela,” ucap Naufal dengan menatap tajam mata Gia.
“Apa Fal?! Kamu ngaco ya?!” Gia syok mendengar ucapan
suaminya itu.
“Aku serius Gi, ingin menikahi Vela,” tegas Naufal lagi.
Gia benar-benar sangat bingung, Gia meneteskan air matanya
karena tidak percaya bahwa suaminya akan mengingkari janjinya pada Papanya.
“Kamu tega Fal sama aku?! Bagaimana dengan keluarga kita
nanti, apa kata mereka,” sontak Gia sambil menangis terisak-isak.
“Kamu lupa Fal, disaat kita akad, kamu sudah berjanji pada
Papa aku, bahwa kamu tak akan menduakan aku!” kata Gia.
“Gi, ini udah pilihan aku!” sontak Naufal ganti.
“Enggak Fal! Aku nggak bisa kamu poligami, gak bisa Fal!
Udah cukup kamu pernah nyakitin hati aku, tapi untuk sekarang aku mohon jangan Fal, aku tidak siap untuk keputusan mu ini,” kata Gia memohon-mohon pada
Naufal.
“Enggak aku gak mau Fal!” bentak Gia dengan sangat keras.
Gia terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi
keningnya, Naufal yang mendengar teriakan Gia ikut bangun.
“Gi, hei, sadar Sayang,” ucap Naufal sambil menyadarkan Gia
yang melamun.
“Enggak Fal! Aku nggak mau,” kata Gia sambil menangis dan
memangkukan kepalanya di lutunya.
“Hei gak mau apa? Kamu tenang dulu, kamu mimpi apa tadi? Hm mimpi apa? Cerita sama aku,” perintah Naufal.
“Aku tadi mimpi kalo kamu membawa Vela ke rumah kita dan
ingin menjadikannya dia istri kedua kamu,” ucap Gia terbata-taba karena menangis.
“Hei hei dengerin aku, lihat aku,” tutur Naufal sambil
meraih wajah Gia agar melihat matanya.
“Aku gak mungkin poligami in kamu Gi, ini hanya mimpi,
kamu tenang ya,” tutur Naufal.
Naufal mengambil segelas air putih di mejanya yang diberikan
pada Gia.
“Minum dulu,” perintah Naufal.
Gia meminum segelas habis air putih yang diambilkan Naufal.
“Aku takut Fal! Aku takut mimpi itu akan terjadi,” kata Gia
yang masih menangis.
“Gia, aku janji ya sama kamu, aku gak akan mau menduakan
kamu, kamu ingat itu,” tutur Naufal untuk menenangkan hati Gia.
“Kamu pasti mikir aneh-aneh makanya mimpi buruk Gi, sekarang kamu balik tidur ya, aku bakalan di samping kamu terus, kamu jangan khawatir,” tutur Naufal lagi sambil mengecup kening Gia dengan lembut.
Naufal kembali mendekap tubuh Gia agar Gia tertidur.
__ADS_1
Naufal mencoba menenangkan Gia, Naufal kasihan dengan istrinya.