Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 117 (Susi's Wedding 2)


__ADS_3

Dekorasi yang sangat kental dengan budaya orang jawa, karena Susi merupakan anak yang sangan "culture" jadi tema nya serba adat jawa.


Kami berjalan sangat pelan, sampai-sampai aku tidak tau dimana keberadaan suamiku, aku tidak bisa melirik ke kanan ataupun kiri, pandanganku hanya fokus ke depan saja.


Semua orang sudah memasang kamera ponselnya sendiri-sendiri untuk memotret Susi yang sedang berjalan di tengah-tengah mereka bak seorang putri raja.


Aku dan Mama Susi mengantarkan Susi untuk duduk menunggu ijab qobul yang akan di ucapkan oleh Pak Bastian.


Setelah semua tamu kembali duduk, akad pun di mulai.


Tangan Pak Bastian dan Papa Susi sudah berjabat tandanya akad memang sudah dimulai.


"Bismillahirrahmanirrahim, wahai Bastian..........."


.


.


.


.


"Bagaimana para saksi?" ucap Pak Penghulu.


"Sah," jawab Para Saksi termasuk aku.


"Alhamdulillah," gumam dalam hatiku.


Tamu sangat khidmat melaksanakan doa setelah ijab qabul, dan sekarang, waktuku untuk mengantarkan Susi duduk di samping Pak Bastian.


"Ayo Nak, Bismillah," ucap Mama Susi.


Aku dan Mama Susi menggandeng Susi untuk menemui Pak Bastian.


.


.


.


Saat Susi sudah berada di samping Pak Bastian, aku dan Mama Susi kembali ke tempat duduk semula kami.


Pak Bastian memakai kan cincin di jari manis Susi, lalu Susi menyalami tangan Pak Bastian, dan semua bertepuk untuk mereka.


Setelah menyerahkan maharnya pada Susi lalu berfoto-foto.


Semua tamu undangan harus menunggu mempelai pria dan wanita yang sedang di rias kembali dalam kamar.


Dengan menunggu Susi, aku mencari keberadaan Naufal.


Ku kirim pesan WA padanya.


"Mas kamu dimana?" Gia.


Tak lama kemudian Naufal membalas pesanku.


"Ini aku lagi sama keluarga nya Bastian di samping tempat foto-foto," Naufal.


Aku segera mencari-cari Naufal di antara puluhan orang disana.


Akhirnya aku menemukannya, tampaknya dia sedang berbicara dengan seorang pria sebaya nya.


Aku langsung menghampiri nya.


"Mas," panggilku.


"Sayang, aku kira kamu ikut Susi sama Bastian," ucap Naufal.


"Enggak lah, kan ini momen mereka Mas," ucapku.


"Oh iya, ini kenalin istri aku No," kata Naufal.


Aku berkenalan dengan pria bernama Beno (Sepupu Pak Bastian)


Tiba-tiba seorang wanita yang seumuran Mamaku tetapi agak lebih tua berjalan menghampiri tempat kami berdiri.


"Loh ini siapa Fal?" tanya wanita itu.


"Oh ini Gia Tante, istri Naufal, hehe," jawab Naufal sambil tersenyum pada wanita itu.


Aku langsung berkenalan dengan wanita itu, dam ternyata wanita itu adalah Mama dari Pak Bastian.


"Oh ini Dokter Gia itu yang biasanya di ceritain sama Bastian di Rumah," ucap Mama Pak Bastian yang sangat ramah.


Dengan kata-kata iku, aku langsung menoleh pada Naufal.


"Emmmm.....iya Tante," sahut Naufal.


"Soalnya Bastian suka cerita tentang istri kamu ini Fal, dan ternyata benar apa yang di ceritakan Bastian sama Mama, aduuuuh Masya'Allah," kata Mama Pak Bastian yang terus melihatku.


"Emmmm...memangnya Bastian cerita apa Tante?" tanya Naufal.


"Ya kata nya gini Naufal beruntung banget Ma sama istrinya, Bastian jadi pengen, kadang Bastian suka godain istrinya di depan Naufal hehehe tapi hanya becandaa aja Ma, nggak beneran, gitu Fal, jadi memotivasi dirinya untuk mencari wanita yang benar-benar dinikahinya, tidak hanya dekat saja Fal, kan Bastian berkali-kali kenalin cewek ke Tante tapi Tante kurang srek, eeeh sekarang Alhamdulillah dapat istri yang baik Masya'Allah," ucap Mama Pak Bastian.


"Memang sering ya?" tanya Mama Pak Bastian padaku.


"Ehehemm, ya begitulah Tante," jawabku sambil tersenyum padanya.


"Terima kasih ya buat Gia sama kamu Fal, meskipun jodoh memang sudah ada yang ngatur, ini perantaranya dari kalian, Tante seneng banget saat Bastian memperkenalkan Susi pada Tante, dia satu-satunya cewek yang sangat berbeda jauh dengan cewek yang sudah dulu-dulu di kenalin sama Tante, makasih ya," kata Mama Pak Bastian.


"Memang sudah takdirnya begini Tante," ucap Naufal.


Akhirnya seorang MC mengumumkan bahwa pasangan pengantin akan segera menemui tamu kembali.


"Mas, ayo ke Mama," ajakku pada Naufal.


"Mama dimana?" tanya Naufal.


"Di seberang sana, udah ayo pokoknya," kataku.


Naufal menuruti apa kataku. Dan kami berjalan untuk menghampiri Mama dan Bi Sarah.


Tak lama kemudian Susi dan Pak Bastian keluar dari arah berlawanan, Susi dari arah timur dan Pak Bastian dari arah barat dengan di giring oleh seorang penari pria dan wanita yang sepertinya menceritakan tentang wayang-wayang an.

__ADS_1


Dari awal Susi dan Pak Bastian berjalan, seorang MC terus berbicara dengan bahasa jawa krama alus.


Di belakang Susi dan Pak Bastian ada kedua orang tua mereka.


Mereka melakukan prosesi pernikahan dengan adat jawa yang di dampingi dua kembar mayang di samping-sampingnya.


Suara khas gending dan gamelan jawa terdengan di Aula Hotel ini, lama sudah aku tidak mendengar ini, dulu aku sangat sering mendengar alunan gamelan jawa jika aku berlibur ke rumah nenek ku saja. Aroma daun pandan dan melati tercium di mana-mana.


.


.


.


.


Setelah Pak Bastian menginjak sebuah telur dan Susi membasuh kakinya, Papa Susi membawa mereka untuk menaiki panggung dekorasi yang sudah terpajang indah di sisi Aula Hotel.


Awal acara akan di mulai, acara di awali dengan sungkeman.


.


.


.


.


Tak terasa sudah beberapa jam, akhirnya tiba di acara terakhir, pembacaan do'a dan ayat suci Al-Qur'an.


Benar-benar sangat khidmat para tamu undangan Susi dan Pak Bastian, mungkin mereka begitu menikmati pemandangan asli kental budaya Jawa disini.


Dan setelah pembacaan do'a selesai, acara makan-makan, berfoto dan berjabat tangan dengan kedua pengantin terlaksana sekarang.


"Mas, kamu kalo mau makan sama Mama, tumitku tiba-tiba nyeri Mas," kataku.


"Enggak Sayang, aku juga masih kenyang tadi sarapan di Mama," jawab Naufal.


"Tadi kamu sempet nemenin Pak Bastian nggak Mas?" tanyaku sambil mengelus-elus perutku.


"Sempet banget lah Sayang, orang dia nelpon aku terus," jawab Naufal.


"Untung aja nikahnya sama sahabat aku Gi, kalo nggak, aku kayak orang hilang disini, kamu juga nemenin Susi kan, aku canggung mau ngobrol sama Mama sama Bi Sarah," kata Naufal.


"Hehehehem, aduuuh kasihan," kataku sambil mengusap keningnya.


Mamaku datang dari arah belakang Naufal.


"Nggak foto kalian?" tanya Mamaku.


"Nanti aja Ma, masih antri," jawabku.


"Ya udah nanti nyari Mama loh kalo mau foto biar barengan," pesan Mamaku.


"Iya Ma, Bibi kemana?" tanyaku.


"Bibi ngobrol tuh sama teman Mama yang juga di undang kesini Nak, udah akrab dulu terus sekarang jarang ketemu," jawab Mamaku.


"Hehehm, Iya Ma," jawabku.


Mamaku berjalan meninggalkan kami.


"Nanti sampe Rumah Mama harus istirahat loh Gi, gak pake tapi-tapian," tutur Naufal.


"Iya iya Mas," jawabku yang harus menurut padanya.


"Kamu kurang istirahat itu, tadi di mobil pasti tidurnya kurang nyaman," tebak Naufal.


"Enggak kok Mas, nyaman-nyaman aja," bantahku.


"Menurut kamu nyaman, tapi menurut yang ada di dalam perut kamu beda lagi Sayang," ucapnya.


"Iya iya Pak Dokter," jawabku yang menyerah.


Deretan antrian pun sudah agak sepi, aku mencari Mamaku dan Bi Sarah untuk segera berfoto bersama.


Saat sedang sedikit mengantri, kaki ku sangat sakit, dan aku berbisik pada Naufal.


"Mas, kaki ku makin sakit," keluhku.


Naufal langsung menatapku dengan panik.


"Gimana Sayang? Kita pulang duluan apa gimana? Tapi nggak enak Sayang," ucap Naufal lirih.


"Jangan lah Sayang, aku nggak enak," kataku.


"Kamu jangan bilang Mama ya, nanti Mama khawatir, aku nggak mau," kataku.


"Iya iya enggak," ucap Naufal.


Naufal langsung menggandeng tanganku kuat-kuat.


"Kamu gandengan terus sama aku, jadi kamu tumpuin semua ke aku biar agak nggak sakit Sayang," tuturnya.


Aku menuruti apa kata Naufal, aku benar-benar menggenggam tangannya, mungkin saat ini tanganku dan tangan Naufal sangat merah.


Kami sudah berada di atas panggung dekorasi, saat aku akan menyalami mereka, aku harus melepas tanganku dari Naufal.


"Aaawwws sakit banget," keluhku dalam hati, sedangkan Naufal terus memperhatikanku.


Aku menyalami satu per satu dari mereka, dan akhirnya saat aku menyalami Susi, Susi menangis di pelukku.


"Susi udah dong jangan nangis, ini hari bahagia kamu loh," tuturku.


"Makasih Gi makasih," ucapnya.


"Huusstt, makasih apa sih Si, semua yang terjadi sudah takdir," tuturku.


"Udah, hapus air mata kamu, jangan sampe aku ikutan nangis loh," ancamku.


Mendengar kata-kata itu Susi langsung melepas pelukan ku dan langsung mengusap air matanya sambil ku bantu.


Segera kami berfoto bersama.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Akhirnya acara telah selesai, aku sangat lega di hari bahagia sahabatku ini.


Aku, Mama, Naufal dan Bi Sarah berpamitan untuk pulang.


"Tante, Gia pulang dulu ya sama Mama," pamitku.


"Iya Mbak, pulang dulu ya," sahut Mamaku.


"Oh iya, jangan lupa besok kalo Gia mau balik, mampir ke rumah Tante dulu loh," jawab Mama Susi.


"Hehehem, Insya'Allah Tante," ucapku.


"Harus pokonya, ya Mbak ya," kata Mama Susi sambil tersenyum pada Mamaku.


"Hehhem iya tenang aja Mbak besok pasti Gia mampir," kata Mamaku.


"Ya udah kami pamit pulang ya Tante, salam buat Om sama Susi juga," kataku.


"Iya Gi, hati-hati loh," tutur Mama Susi.


"Iya Mbak," jawab Mamaku.


"Assalamu'alaikum," ucap kami.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Susi.


Kami tidak bisa berbicara lama dengan Mama Susi karena tamunya yang sudah sangat banyak dan terus berdatangan.


Kami pun berjalan keluar dari Aula untuk menuju lift.


Ting...tong, lift berhenti di lantai 3 tepat dimana mobil kami terparkir.


Aku benar-benar menahan rasa sakit pada kakiku dengan terus menggandeng tangan Naufal saat kami sedang mencari-cari mobil.


"Sayang, aku gendong aja ya," bisik Naufal.


Langsung ku tepuk lengannya dengan halus.


"Loh kenapa Gi?" tanya Mamaku dengan spontan.


"Emmm......emmmmm nggak papa, ini Mas Naufal becanda aja, hehehhe," jawabku sambil tersenyum menyeringai pada Mamaku.


"Jangan lah Mas, aku malu dilihatin Mama sama Bibi," bisikku balik.


Naufal malah menertawakanku.


"Ketauan Mama kan, hahahhaa," bisik Naufal lagi yang semakin membuatku kesal.


Akhirnya kami berhasil menemukan mobil kami, sopir Mamaku sudah menunggu sedari tadi.


Kami semua langsung masuk ke dalam mobil, dan mobil langsung melaju menuju perjalan pulang ke Rumah Mama.


"Nggak sakit kalo nggak di pake jalan?" tanya Naufal dengan lirih.


Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil menatapnya.


"Coba aku lihat kaki kamu," perintah Naufal.


Segera ku perlihatkan kaki ku padanya.


Dia kaget melihat kaki ku yang membengkak dua-duanya.


"Ya Allah Sayang sampe bengkak gitu," kata Naufal.


"Mas jangan keras-keras nanti kedengar Mama sama Bibi," tuturku.


"Sampe kayak gitu loh Gi," kata Naufal.


"Iya udah husstt," ucapku.


.


.


.


.


Setengah jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Rumah Mama.


"Alhamdulillah sampe," ucap Mama.


Mobil melaju langsung ke garasi, Mamaku turun terlebih dahulu.


"Gia, Mama turun dulu ya, ada kepentingan mendesak," kata Mamaku.


"Iya Ma," jawabku.


Aku tau kepentingan mendesak yang dimaksud Mamaku adalah soal di dalam toilet hehehe.


Mamaku langsung berlari masuk ke kamar.


Naufal turun terlebih dahulu, lalu membantuku untuk turun dari mobil.


Kami berjalan masuk ke dalam Rumah.


Saat kaki ku mencoba untuk melangkah, tiba-tiba aku jatuh pingsan.


"Astagfirullah," ucap Bi Sarah spontan yang melihatku jatuh dan langsung di tangkap oleh Naufal.


Berasambunggg......

__ADS_1


__ADS_2