
"Assalamu'alaikum," ucap salam Mbak Menik.
"Wa'alaikumsalam," jawab kami semua serentak.
"Sar, aku gowo telo Sar (Aku bawa ketela Sar)" ucap Mbak Menik sambil membawa ember berisi olahan ketela.
"Wooooo, nggawe dewe Nik?? (Buat sendiri Nik??)" tanya Bi Sarah.
"Lohhh, iyo toh Sar, iki khusus gawe dayo mu (Iya lah Sar, ini khusus untuk tamu mu)" jawab Mbak Menik.
"Monggo (Silahkan), di coba loh," kata Mbak Menik.
"Pasti enak ini buatan Mbak Menik," puji Naufal.
Mbak Menik tersenyum-senyum senang di puji-puji oleh Naufal.
"Hehehem, kapan mane Sar, di elem wong ganteng (Kapan lagi Sar, di puji orang cakep)" ucap Mbak Menik.
Aku dan Naufal mengambil olahan ketela itu.
"Eeemmmm, enak kok ini Mbak," pujiku.
"Bener Mbak?? Enak???" tanya Mbak Menik.
"Iya Mbak beneran, enak banget ini," jawabku.
"Alhamdulillah, nanti kalo balik ke kota, saya buatkan," ucap Mbak Menik memakai bahasa Indonesia.
"Hehehem, boleh boleh Mbak," kataku.
Kami berbincang-bincang disana, menceritakan kebiasaan kami masing-masing.
Benar kata Bi Sarah, di desa ini, setelah magrib, banyak warga yang sudah menutup pintu rumahnya.
Dan hanya suara jangkrik saja yang terdengar.
"Bi, beneran sepi ya," ucap Naufal.
"Sepi Mas, tapi biasanya masih ada beberapa orang lewat, hehem, namanya di desa Mas, orang desa kalo abis isya' pasti sudah tertidur, karena setelah shubuh harus sudah bergelut di Sawah masing-masing," ucap Bi Sarah.
Hanya Rumah Bi Sarah saja yang ramai penghuni.
Tertawa ngakak karena ternyata Mbak Menik mempunyai sedikit bakat sebagai pelawak.
Meskipun disana tidak begitu terang lampu di halaman Rumah Bi Sarah, namun kami tetap saja nyaman berada disana.
Hingga larut malam kami bercerita-cerita, tentang Mbak Menik.
"Yowes Sar, aku muleh yo, (Ya sudah Sar, aku pulang ya)" pamita Mbak Menik.
"Iyo Nik, ojo lali sesok mrene mane (Iya Nik, jangan lupa besok kesini lagi)" ucap Bi Sarah.
"Iyo Sar, Mbak Gia jangan lupa loh mampir sama Mama nya juga, semuanya monggo (Silahkan) mampir ke rumah saya," ajak Mbak Menik.
"Hehehem, enggeh (Iya) Mbak Menik," jawab Mamaku.
Mbak Menik pun pulang ke rumahnya.
"Menyenangkan loh ya Mbak Menik Menik itu," sahut Papaku.
"Enggeh (Iya) Pak, Menik memang seperti itu orangnya, seperti orang yang tidak pernah merasakan kesedihan, padahal kasihan hidupnya sengsara Pak," kata Bi Sarah.
"Udah punya suami itu Bi??" tanya Naufal.
"Hehehm, belum Mas," jawab Naufal.
Ku dekatkan mulutku pada telinga Naufal.
"Kenapa tanya gitu??? Mau nikah lagi???" candaku berbisik di telinga Naufal.
"Hehehem," Naufal hanya tersenyum saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semakin malam, angin disana semakin dingin, hampir saja ujung tangan dan kaki ku membeku.
Kami semua pun memutuskan untuk masuk ke dalam saja.
Saat aku sedang mengambila air wudhu, aku mendengar Naufal bertanya pada Bi Sarah karena bingung memakai kran yang mana.
"Bi, ini kran nya yang bisa mana ya??" tanya Naufal dengan polos.
"Itu bisa semua Mas," jawab Bi Sarah.
"Hihihi," aku menertawakan Naufal di dalam kamar mandi.
Karena memang kran di rumah Bi Sarah ada banyak dan letaknya berdekatan.
"Tapi kok kran nya banyak ya Bi," ucap Naufal heran.
"Hehehe, iya Mas, soalnya ada dua yang dari PDAM, satu dari sumur, satu lagi langsungd dari sumbernya Mas," jawab Bi Sarah.
"Maksudnya Bibi dari sumbernya?? Gunung maksud Bibi??" tanya Naufal.
"Betul sekali Mas, hehehem, monggo (Silahkan) bisa di coba mau nya Mas Naufal yang mana," ucap Bi Sarah.
"Kalo yang langsung dari gunung yang mana ini Bi??" tanya Naufal lagi.
"Jangan sok-sok an yang dari gunung langsung Mas, kedinginan tau rasa kamu, hihihihi," ejekku.
"Dingin banget emangnya Bi?" tanya Naufal.
"Dingin banget memang Mas, tapi kalo Mas Naufal berkenan ya monggo," kata Bi Sarah.
Aku saja selalu mandi air hangat jika di rumah Bi Sarah karena air nya yangs sangat dingin membuat tulang-tulang kaku dan berat untuk jalankan.
Akhirnya Naufal mencoba berwudhu memakai air yang mengalir langsung dari gunung.
Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi, dan menunggu Naufal selesai wudhu.
"Gimana??? Dingin kan??" tanyaku pada Naufal.
"Bbbrrrr dingin banget Sayang, ini kalo orang yang punya sakit gigi pasti ngilu kalo kumur, Bbbrrr dingin banget beneran," ucap Naufal.
Aku menertawakan Naufal yang kedinginan.
"Kan udah aku bilang tadi, ya iya lah dingin, langsung dari gunung, beku nanti kamu Mas, heheheh," candaku.
"Kalo yang ini asli dingin Gi nggak pake salju," ucap Naufal.
Kami pun melaksanakan sholat isya'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dini hari, saat adzan shubuh berkumandang.
Bi Sarah membangunkanku.
"Mbak, mau ikut Bibi ke Masjid??" tanya Bi Sarah.
"Hoooamm, iya Bi, bentar Bi tungguin Gia," kataku.
Bi Sarah meninggalkanku, dan aku membangunkan Mas Naufal, karena semalam aku tidur di kursi depan TV, sedangkan Naufal tidur di kamar dengan Abay.
"Mas Naufal bangunnnnn," ucapku.
Naufal pun bangun.
Aku mengajaknya untuk sholat berjama'ah ke Mushola bersama Bi Sarah.
"Mas, sholat di Mushola," ucapku.
"Mama sama Papa udah bangun??" tanya Naufal.
"Udah Mas," jawabku.
"Ya udah kamu duluan ke kamar mandi nanti aku nyusul," tutur Naufal yang sebenarnya masih mengantuk.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
.
.
.
.
.
.
Setelah semua lengkap dan siap, kami berbondong-bondong berangkat ke Mushola.
.
.
.
.
.
.
Sepulang dari Mushola, Bi Sarah menawariku untuk ikut dengan nya ke Sawah.
"Mbak Gia mau ikut Bibi ke Sawah??" tanya Bi Sarah.
"Jangan Mbak, nanti disana sampean (kamu) kepanasan, hehehem," sahut Mbak Sari.
"Nggak papa Mbak Sar, hehem, saya juga lama nggak ke Sawah," kataku.
"Monggo Mbak Gia ikut, tapi nanti duduk-duduk aja Mbak, jangan ikut Bibi jebur ke Sawah ya, hehehe," kata Bi Sarah.
"Bibi kesana sama siapa?" tanyaku.
"Sama Pak Rusdi saja Mbak," jawab Bi Sarah.
"Gia ganti baju dulu ya Bi," kataku.
"Enggeh monggo (Iya silahkan)" ucap Bi Sarah.
Aku masuk ke dalam kamar, membuka koperku, dari Mushola, Abay langsung terlelap kembali.
"Mau kemana kamu??" tanya Mas Naufal.
"Ke sawah sama Bibi," jawabku.
"Aku ikut," ujar Naufal.
"Abay gimana Mas?? Kasihan loh nanti bangun-bangun nggak ada orang," jawabku.
"Mama sama Papa juga ikut??" tanya Naufal.
"Mama sama Papa udah jalan-jalan berdua an," kataku.
"Ya udah kalo gitu, aku di rumah aja nanti aku nyusul kamu ke sawah," ucap Naufal.
"Oke, byeee," ucapku.
"Byeee," jawab Naufal agak sedih karena tidak ikut ke sawah.
"Ayo Bi, Gia udah selesai," ucapku.
Aku, Bi Sarah, dan Pak Rusdi pergi ke sawah yang pernah ku datangi kemaren.
Rupanya, banyak orang di jam shubuh ini pergi ke sawah, ada yang jalan tanpa alas kaki, ada yang naik sepeda onta, dan ada juga yang masih menaiki kerbau nya.
"Mbak Sar," sapa tetangga Bi Sarah.
"Enggeh (Iya)" jawab Bi Sarah.
Mereka semua melihatku heran, karena mungkin wajahku tampak asing disini.
Aku sangat senang dan bahagia dengan suasana desa ini.
Sedih, penat, kesal, terpuruk, jatuh, hilang semua di sini.
Bahagia saat melihat mereka saling menyapa.
Bahagia saat melihat mereka pergi bersama-sama bekerja.
Bahagia melihat mereka serentak memakai peci ke Sawah.
"Huhuhum, seneng ya Bi," kataku.
"Enak kan Mbak disini," ucap Bi Sarah.
"Hehehe udah nggak ada tandingan nya Bi, dari kemaren muji-muji desa ini terus Bi, kalo kata Bibi, disini pastia ayem tentrem," ucapku.
"Hehehe, pasti Mbak, tidak gaduh seperti di kota," kata Bi Sarah.
***(Di Sawah)
Disana sudah banyak para petani yang sudah bergelut menanami sawahnya.
Ada yang membajak sawahnya, menanam padi, memupuk, dan mencangkul lahan nya sendiri dengan giat.
"Sugeng enjing Pak Karno (Selamat pagi Pak Karno)" sapa Bi Sarah.
"Sugeng enjing Mbak Sarah," jawab Pak Karno.
Pak Karno juga tersenyum padaku, meskipun ini baru pertama kali nya kami bertemu.
"Pak Karno itu siapa Bi??" tanyaku.
"Kepala desa disini Mbak," jawab Bi Sarah.
Di sana terdapat gubuk kecil, dan Bi Sarah menyuruhku agar duduk saja.
__ADS_1
"Mbak Gia duduk sini aja nggak papa Mbak, bersih juga Mbak tempatnya," tutur Bi Sarah.
"Hehhem, Bi, Gia sebenarnya mau ikut turun juga sama Bibi," ucapku.
"Tapi Mbak, nanti kotor, jangan," kata Bi Sarah.
"Ayo lah Bi, Gia pengen banget, mumpung ini Gia pake celana kan Bi," rayuku.
"Ya Bi ya," rayuku lagi.
"Hehehe, nggeh pun monggo-monggo Mbak (Ya sudah silahkan-silahakan Mbak)" jawab Bi Sarah yang akhirnya memperbolehkan aku ikut bercocok tanam dan terjun langsung ke sawahnya.
Pertama kalinya kakiku ku masukkan dalam lendut, rasanya ada geli-geli nya gimana, tapi sangat lah dingin dan agak susah untuk aku berjalan.
Bi Sarah sudah ada di tengah namun aku masih saja di pinggir.
"Mbak Gia bisa??" tanya Bi Sarah.
"Hehem, bisa Bi bisa," jawabku yang tidak ingin membuat repot Bi Sarah.
Disana aku di ajari oleh Bi Sarah, bagaimana cara menanamnya agar lurus.
"Seru juga ya Bi ya," kataku sambil menanam padi yang ada di tanganku.
"Nanti kotor semua loh Mbak," kata Bi Sarah yang khawatir.
"Enggak Bi, kan Gia sendiri yang minta," ucapku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setengah lahan sawah Bi Sarah yang sangat luas sudah berhasil kami tanami hingga fajar muncul dari ufuk timur untuk menyapa kita.
Apalagi saat sunrise seperti ini, terlihat matahari yang berwarna orange membara.
"Gimana nggak seneng Bi disini, di suguhi pemandangan gunung indah kayak gini, apalagi sunrise nya Bi," kataku.
"Apa itu Mbak sunrise??" tanya Bi Sarah.
"Sunrise itu artinya matahari terbit Bi," jawabku.
"Ooo munculnya gitu ya Mbak," kata Bi Sarah.
"Nah, bener banget Bi," jawabku.
"Kalo jam jam segini Mbak, bentar lagi pasti Sari kesini bawain sarapan pagi ini Mbak," ucap Bi Sarah.
"Loh panjang umur Mbak, itu tuh Mbak, lihat Sari udah jalan kesini sambil bawa rantang punya Bibi," ucap Bi Sarah sambil menunjukkan telunjuk jarinya ke arah Mbak Sari yang berada di ujung.
"Hehehm, iya, Bibi bisa pas banget," kataku.
"Bi, kalo Bibi kerja, siapa yang menggarap sawah Bibi??" tanyaku.
"Pasti nya Sari sama suaminya Mbak," jawab Bi Sarah.
Pak Rusdi sudah tidak bersuara, karena saking fokusnya dan rupanya Pak Rusdi rindu dengan sawahnya.
Aku, Pak Rusdi dan Bi Sarah minggir ke tepi Sawah.
Bi Sarah terus menggandeng tanganku karena takut jika aku terjatuh.
Setelah ke tepi, Mbak Sari duduk di gubuk kecil tadi.
Aku dan Bi Sarah membersihkan kaki dan tangan kami yang penuh lendut.
"Bi ini bersihin nya dimana??" tanyaku.
"Sini Mbak, sini ikut Bibi," jawabnya.
Bi Sarah mengajakku berjalan ke pojok Sawah, disana ada sebuah bambu kecil yang mengalir air yang sangat jernih.
"Nyuci nya disini Mbak, nggak papa kan??" tanya Bi Sarah.
"Ooowh, hehem, nggak papa lah Bi," jawabku.
Ku bersihkan tangan dan kaki ku yang berselimut lendut.
Setelah bersih kami menghampiri Mbak Sari di gubuk.
Tak lama kemudian, Pak Rusdi melihat Naufal dan Abay menyusul kami.
"Mbak itu kan Mas Naufal sama Dek Abay," ujar Pak Rusdi.
Pandangan kami langsung tertuju pada mereka.
"Soalnya tadi Mas Naufal bilang mau nyusul kesini Bi, tadi kan sebenarnya mau ikut, tapi Abay masih tidur, jadi nggak bisa," kataku.
Naufal menghampiri kami sambil menggandeng Abay.
Abay senang berlari-lari di jalan kecil yang ada diantara sawah dan sawah.
"Mamaaaa....," Panggil Abay di tengah-tengah sawah memanggilku.
Dari kejauhan ku lambaikan tanganku.
Abay berlari padaku.
"Huussty Abay, nggak boleh teriak-teriak," kataku.
"Hehehem, Abay seneng Ma," ucap Abay.
Naufal melihat celana dan bajuku basah, dia melihatku ke atas ke bawah, ke atas ke bawah.
"Kamu ikut nyebur ke Sawah??" tanya Naufal.
"Ya iya lah Mas, aku kan pengen," jawabku.
"Emang bisa??" tanya Naufal dengan sedikit mengejekku.
"Bisa lah, tanya aja Bibi, ya Bi ya," jawabku.
"Hehheem, ada ada aja kamu Sayang," kata Naufal.
"Tadi aku kira Papa sama Mama kesini," sambung Naufal.
"Papa sama Mama belum pulang??" tanyaku.
"Belum, di rumah sepi, nggak ada orang," jawab Naufal.
"Mungkin Ibuk sama Bapak masih menikmati ke asri an desa sini Mas, hehehem, Ibuk sama Bapak kalo kesini ya gitu Mas, jarang di rumah, jalan-jalan terus," kata Bi Sarah.
"Pantesan Mama sama Papa belum pulang Sayang, biarin, seneng disini mereka Sayang," ujar Naufal.
"Ayo mari duduk sini," ujar Pak Rusdi.
"Dek Abay mau sarapan??" tanya Bi Sarah.
"Abay pengen lari kesana Bi," ucap Abay sambil menunjuk jarinya ke arah sawah yang lebih tengah.
"Ya udah kesana aja Nak, tapi balik ya, hehehm," sahut Naufal.
"Yeeaayy," ucap Abay langsung berlari kegirangan meninggalkan kami.
Kami semua duduk di gubuk kecil tadi.
Makanan yang di bawa Mbak Sari dari rantang, sekarang di tata apik.
Ada menu sambal terasi, ikan laut, dan kerupuk.
"Sarapans setiap pagi, paling enak di sawah ya ini Mbak," ucap Mbak Sari.
"Nggak papa saya suka kok Mbak," kataku.
__ADS_1
Bersambung.....