
Aku menunggu Naufal untuk berberes berangkat kerja.
"Gi, nanti kamu sarapannya disini aja ya nggak usah turun," tutur Naufal.
"Nggak mau, aku mau sarapan sama kamu di bawah, titik," kataku yang keras kepala.
"Huufftt sabar Ya Allah sabar," gerutu dalam hati Naufal.
"Ya udah, aku yang nemenin kamu sarapan di kamar, kita sarapan berdua disini," tuturnya.
"Kamu baik banget, kesambet apa? Ha?" ejekku padanya.
"Udah bawaan bayi Gi, aku kayak gini," jawabnya membela diri.
"Wkwkwkwkwk sok sok an kamu Mas," ejek ku lagi.
"Aku turun bentar, mau minta tolong Bi Sarah biar anterin sarapannya ke atas," ucapnya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
Naufal meninggalkan ku di kamar sendiri.
***(di Ruang Makan)
Di bawah seperti biasa mereka sudah menunggu Naufal dan Aku.
"Loh Pak, Ibu kemana?" tanya Pak Joko.
"Gia sakit, semalem habis kepleset di balkon, jadi gak bisa ikut sarapan pagi bareng kalian," jawab Naufal.
"Nanti saya panggilin tukang urut boleh Pak? Barangkali ada yang kesleo di kaki nya Ibu," kata Pak Joko.
"Nanti saya coba bujuk Gia ya, kalo dia mau nanti saya kasih tau Pak Joko," kata Naufal.
"Bi, Saya minta tolong bawain 2 piring sarapan buat Saya sama Gia ya ke atas," perintah Naufal.
"Baik Mas Naufal, segera Saya bawa ke atas Mas," kata Bi Sarah.
"Ya udah, kalian segera makan ya, saya ke atas dulu," pamit Naufal pada Pak Rusdi, Pak Joko dna Bi Sarah.
"Iya Pak," jawab Pak Joko.
Naufal berjalan untuk kembali ke kamarnya.
***(di Kamar)
"Gi, kamu mau di urut?" tanya Naufal yang baru saja masuk ke kamar.
"Ngak ah! gak mau aku, di urut tuh sakitnya minta ampun tau," ucapku pada Naufal.
"Biar cepet sembuh kakinya," tutur Naufal.
"Nggak mau, aku gak mau pokoknya, kamu aja sana yang urut sendiri," kataku ganti.
"Enak aja, orang yang sakit kamu, kok aku yang di urut," tolak Naufal.
"Nanti aku temenin kamu pas di urut, ya mau ya?" rayu Naufal.
"Kalo aku berontak kesakitan, kamu ya yang tanggung jawab," ancamku padanya.
"Kok gitu? Udah pasang ancang-ancang pengen berontak," kata Naufal.
"Ya bukan ancang-ancang, emang di urut tuh sakit banget, soalnya aku udah pernah di urut waktu kecelakaan mini di jalan," kataku.
"Kamu pernah jatuh, Wkwkwkkwwk," ejeknya.
"Pernah lah, maka nya atas mata kaki ku nih ada bekasnya sampe sekarang setia nempel di kulit aku," kataku mencoba menghibur ku sendiri.
"Wkwkwk bisa bisa nya kamu Gi, pasti bandel ya kamu dulu," tebak Naufal.
"Enggak, ini kejadiannya waktu aku kuliah tau, baru jadi Maba (Mahasiswa Baru) , cerita nya gini kan, aku kan jalan-jalan tuh sama temenku naik motor, eh waktu mau balik ke rumah itu tiba-tiba hujan deras banget, ku lajuin kan motorku sambil nyari tempat teduh, eh waktu aku mau belok, aku rem motornya jatuh deh," cerita ku yang ekspresif membuat Naufal semakin ingin mendengarnya.
"Terus temen kamu gimana? Apanya yang luka," tanya Naufal.
"Hati nya yang luka! uuuhhh sebel aku cerita sama kamu!" kata ku sewot.
"Loh loh loh kok ngambek, hayo kok ngambek, wkwkwk ya udah enggak deh, terus istriku apanya yang luka," ucap Naufal yang membuat merah kedua pipiku.
"Ya temenku gak kenapa-napa lah, orang motor sama temenku aja waktu jatuh nimpa aku semua, jadi kaki sama tangan ku yang luka," kata ku yang tak ingin ngambek padanya.
"Aduh aduh Sayang kasihan kamu," kata Naufal sambil meraih kedua pipiku dan mengecilkan mulutku.
Tok...tok...tok.
"Permisi Mas, Mbak," kata Bi Sarah.
Naufal langsung melepaskan tangannya dari pipiku karena Bi Sarah melihatnya.
"Masuk aja Bi gak papa," kata ku.
"Ini Mbak, sarapannya sama Mas Naufal," ucap Bi Sarah sambil meletakkan 2 gelas susu dan 2 piring sarapan di atas meja.
"Makasih ya Bi, maafin Gia gak bisa bantuin Bibi masak," ucap pinta maaf ku pada Bibi.
"Mbak Gia gak perlu minta maaf sama Bibi, ini udah kerjaan Bibi Mbak," kata Bi Sarah.
"Saya pamit ke bawah dulu ya Mbak," pamit Bi Sarah.
"Mari Mas," ucap Bi Sarah.
"Ya Bi," kata Naufal.
Bi Sarah berjalan keluar dari kamar kami.
"Sini aku suapin ya," kata Naufal.
__ADS_1
"Nggak usah gak papa, aku bisa makan sendiri Mas," ucapku yang malu-malu sebenarnya ingin di suapi oleh Naufal.
"Udah sini gak usah nolak, aku suapin kamu," paksa Naufal yang semakin membuatku jatuh hati padanya.
"Ya udah kalo kamu maksa," jawabku pasrah.
Dengan telaten Naufal menyuapi ku sendok demi sendok.
"Nanti, pulang kerjaku agak awal, jadi gak sore kayak biasanya," kata Naufal.
"Kenapa?" tanyaku dengan polos.
"Kan istriku sakit, aku gak bisa ninggalin dia lama-lama sendirian di rumah dong," kata Naufal.
"Kamu romantis banget sih Mas, kapan lagi seorang Dokter Naufal berlaku romantis pada istrinya," ejek ku padanya.
"Yeleh apaan coba, biasanya aku juga romantis sama kamu, sering malah," bantah Naufal.
"Kalau kali ini beda Mas, kan biasa biasanya kan aku sehat kalau kali ini kan aku sakit jadi perhatian kamu sepenuhnya ke aku, ya kan?" ucapku.
"Ya iyalah mana tega aku lihat kamu kesakitan kayak gini, gerak dikit gak bisa, jalan dikit gak bisa, maunya dituntun aja," ucapnya yang sepertinya ganti mengejekku.
"Oh jadi kamu nggak mau, ya udah kalau nggak mau nggak usah ngurusin aku, biar aku jalan-jalan sendiri, kamu nggak usah gendong aku, kesana kesini biarin aku duduk di sini sampai nanti malam kamu pulang," kata ku ngambek.
"Tuh kan ngambekan sih kamu, ya nggak lah bukannya aku nggak mau, aku malah mau banget berlaku romantis gini kayak kamu, kan kamu jarang mau diajak romantis, bukan begitu?" kata Naufal.
"Udah ah males debat pagi-pagi sama kamu, sana berangkat kerja," tuturku.
"Kamu ngusir nih," kata Naufal.
"Ya enggak nanti kalau kamu telat gimana?" ucapku.
"Ya makanya cepetan dihabisin makanan nya, biar aku bisa segera berangkat kerja," tuturnya ganti.
Setelah beberapa menit, Aku telah menghabiskan bubur buatan Bi Sarah dan Naufal juga telah melahap habis sarapan paginya.
"Aku berangkat dulu ya Sayang, kamu baik-baik di rumah tunggu aku pulang," tuturnya sambil mengusap-usap rambutku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan menyalaminya.
Kamar serasa sepi tanpa Naufal, masih sebentar Naufal meninggalkanku, rasanya aku sangat rindu padanya.
"Seneng banget Ya Allah jika setiap harinya Naufal seperti ini padaku, aku berharap hubunganku kedepannya akan selalu baik-baik saja," pintaku pada Sang Khalik.
Aku meraih ponselku untuk menelepon Bi Sarah, agar menemaniku di atas kamar.
"Halo Assalamu'alaikum Bi," salamku.
"Wa'alaikumsalam Mbak Gia, ada apa? Ada yang perlu Bibi bantu?" jawabnya.
"Nggak Bi, Gia cuma kesepian di atas kamar sendiri, Bibi repot gak kalau nggak repot Bibi ke atas ke kamar Gia dong, temenin Gia di sini," kataku.
"Oo Bibi nggak repot Mbak, baik habis ini Bibi ke atas, Bibi pasti segera ke atas nemenin Mbak Gia tunggu sebentar ya Mbak," jawab Bi Sarah.
Tidak lama kemudian Bibi akhirnya masuk ke kamarku.
"Sini Bi duduk sini sebelah Gia," perintahku sambil menepuk sofa di sampingku.
"Bi, Gia mau cerita sama Bibi, gimana sih dulu cerita Bibi sama Pak Rusdi," tanyaku.
"Dulu Bibi sama Pak Rusdi sudah pacaran dari SMA Mbak, eh ternyata Alhamdulillah nya kita berjodoh dan orang tua saling merestui," kata Bi Sarah.
"Enak ya kisah cinta Bibi," kataku.
"Mbak Gia juga enak di jodohin dan Mas Naufal yang mencintai Mbak Gia dan bahagia seperti sekarang ini, dan juga perhatian sama Mbak Gia, jarang-jarang Mbak kalau di jodohin bakal awet awet kayak gini di zaman sekarang, kalo di zaman dulu sih udah biasa tapi kan ini zaman sekarang, jadi Mas Naufal dan Mbak Gia luar biasa banget," ucap Bi Sarah.
"Bibi bisa aja, dulu sih kalau pertama kali Mas Naufal nggak langsung suka ke Gia Bi, jadi butuh proses buat dia jatuh cinta sama Gia, dan itu sakit banget tapi Gia sabar, Gia menunggu kapan waktunya tiba Mas Naufal akan akan jatuh cinta pada Gia, dan Allah Maha Baik ya Bi sekarang semua terbayarkan dengan sikap Mas Naufal yang seperti ini pada Gia," curhatku pada Bi Sarah.
"Tapi kata Mbak Gia dulu sangat mencintai Mas Naufal jadi Mbak Gia bisa sabar menghadapi Mas Naufal," ucap Bi Sarah.
"Karena itu dulu Gia sempet masih belum percaya kalau Mas Naufal akan jadi suami Gia tapi ternyata Allah dengerin doa Gia Bi," kataku.
"Dulu Gia sempet nahan, Gia nggak pernah berniat buat jatuhin hati Gia pada seseorang. Karena Gia tahu Gia bakalan dijodohin sama pria pilihan Papa, jadi Gia memilih untuk memendamnya saja, tapi beda dengan waktu Gia mencoba tidak jatuh hati pada Mas Naufal, Gia sangat berat sekali untuk meninggalkan perasaan Gia, untuk mengubur perasaan Gia pada pada Mas Naufal demi pria pilihan Papa, tapi ternyata dia malah yang dijodohin sama Gia dari Papa Bi, rasanya seneng banget dia sangat bersyukur banget emang Papa sama Mama selalu memilih yang terbaik buat Gia, dari Gia kecil bibit tahu kan dari dia kecil dia selalu mengatur kamu berteman dengan siapa aja atas pilihan mereka tapi ternyata teman Gia hanya Bibi, Susi dan Meira. Itu saja tapi Gia nggak berkecil hati sama sekali karena memang itu yang terbaik untuk Gia,Gia juga nggak suka teman banyak, Gia juga nggak suka rame-rame jalan-jalan ke sana ke sini Gia nggak suka," curhatku panjang dan lebar.
"Tapi Bibi salut sama Mbak Gia, dari dulu Mbak Gia nggak pernah ngebantah apa yang di pilihkan sama Papa dan Mama Mbak Gia, terutama permintaan dari Papa Mbak Gia apalagi dulu waktu Mbak Gia mau sekolah masuk SMA Bibi masih ingat banget dulu Mbak Gia pengennya tetap sekolah di dalam kota aja, tapi Papa Mbak Gia meminta pada Mbak Gia untuk sekolah di luar kota, dan pada akhirnya Papanya Mbak Gia memutuskam untuk sekolah di dalam kota saja, Bibi ingat banget Papa Mbak Gia selalu menuntun Mbak Gia setiap langkah di mana pun Mbak Gia pergi. Mulai dari kehidupan Mbak Gia, siapa pun yang berhak bergaul dengan Mbak Gia, percintaan Mbak Gia, pendidikan Mbak Gia, semua terkontrol oleh Papa Mbak Gia," kata Bi Sarah yang sangat tau tentang diriku.
"Ya begitulah Bi, Gia nyerahin sepenuhnya hidup Gia buat mereka, apalagi Bi yang mampu kita bayar untuk mereka kalau bukan hanya itu jadi anak berbakti buat mereka," ucapku agak terharu.
Kami saling sharing sampai tak terasa matahari berada di tengah-tengah bumi.
Sedangkan naufal yang sedang bekerja sangat fokus tanpa memikirkanku karena tidak ada lagi di sana yang ingin di ganggui nya.
***(di Ruang Kerja Naufal)
"Loh kok tadi Gue nggak lihat sih Lo berangkat bareng Gia," ucap Bastian.
"Lo lagi marahan ya sama Gia?" tanya Bastian yang duduk bersender di sofa kerja Naufal.
"Enggak lah, Gia enggak ngambek sama Gue, dia tuh lagi sakit soalnya semalam habis jatuh di balkon," jawab Naufal sambil fokus melihat layar monitor laptopnya.
"Kok bisa sih? Ngapain aja istri Lo sampai jatuh di balkon segala," ejek Bastian.
"Tadi malam tuh dia main hujan di balkon, eh ternyata bawahnya ada kecoa jatuh deh dia," kata Naufal.
Bastian menertawakan cerita Naufal tentang kejadian yang menipa istrinya semalam.
"Aduh Fal sumpah unik banget istri Lo, padahal dulu Lo nggak suka banget cewek yang menye-menye yang manja yang sifatnya kayak anak kecil, Lo kan paling alergi banget sama yang begituan," ejek Bastian lagi.
"Tapi ternyata sekarang istri Lo malah kayak gitu, Lo kan sukanya sama cewek yang pekerja keras, mandiri, nggak suka ngerepotin orang lain itu kan tipe Lo banget, kenapa sekarang berubah jadi 180° Fal, wkwkwk," ucap Bastian yang terus menertawakan Naufal.
"Jodoh tu nggak ada yang tahu Bas, makanya lu segera nikah sana biar tau sifat jodoh asli Lo gimana?" kata Naufal membela diri.
"Gue sih nerima nerima aja dia kayak gitu, malahan Gue baru sadar kalo perempuan yang sifatnya kayak gitu lucu dari pada perempuan yang pekerja keras dan mandiri kayak gak mau ngurusin Gue gitu, kalo dia kan beda, dia perhatian banget sama Gue, apalagi kalo dia lagi manja manja sama Gue lucu banget tahu Bas, Lo nggak pernah ngerasain kan makanya cepet nikah aja," ejek Naufal ganti.
"Malahan Gue suka sifat kayak istri Lo, dari dulu kan tipe Gue gitu, tipe Gue beda jauh sama Lo, Gue suka banget malah cewek yang manja manja minta gini gini gitu, suka banget. Nggak kayak Lu hidupnya belajar belajar belajar mulu,"
__ADS_1
Mereka saling melempar canda dan ejekan.
"Udah sana kerja malah bicara in Gia, eh iya Gue mau tanya sama Lo, gimana hubungan Lo sama Si Vela?" tanya Naufal.
"Enggak gimana-gimana, emang kenapa tanya tanya," jawab Bastian.
"Ya nggak papa sih. Terus rencana selanjutnya mau nikahin dia?" tanya Naufal lagi.
"Sebenarnya Gue tuh sama dia belum ada sih kata pacaran atau gimana,.dan Gue juga belum punya rencana buat segera nikahin dia, soalnya akhir-akhir ini dia tuh gimana gitu Fal, jadi curiga Gue sama dia, makin gak yakin buat nikahin dia," curhat Bastian tentang Vela.
"Gini ya, ya Lo harus pilih tuh cewek yang benar-benar mau nemenin hidup Lo, jangan asal, masalahnya itu buat selamanya satu kali seumur hidup gak bisa ganti-ganti," tutur Naufal.
"Iya iya Gue tau, tapi Gue bakalan cerita sama Lo Bas," kata Naufal ingin menceritakan tentang Vela semuanya pada Bastian.
"Cerita tentang apa Fal?" tanya Bastian penasaran.
"Udah pokoknya nanti Gue bakal cerita sama lu tapi tungguin kapan Gu ceritanya," kata Naufal.
"Ah Lo selalu bikin Gue penasaran aja Fal," kata Bastian sambil mengernyitkan dahinya.
"Pokoknya tunggu aja nanti," ucap Naufal.
Tia-tiba ponsel Naufal berbunyi dan ternyata telepon dari Pak Anton bahwa ada pasien darurat di ruang periksa
Naufal dan Bastian dengan cekatan langsung menghampiri Pak Anton.
Sedangkan Aku yang sedari tadi di rumah sendiri tanpa Naufal hanya bingung ingin melakukan apa? Ingin menghubungi Naufal tetapi takut karena dia sedang bekerja, tapi Aku sudah tidak tahan menahan rindu terhadapnya sehingga aku terpaksa langsung menelpon nya.
Tut tut tut suara dering dari ponselku.
"Kok Naufal nggak jawab telfon aku," ucapku sendiri.
"Yaelah pasti dia lagi sibuk," kataku kecewa.
"Sudahlah aku tidur saja, bangun-bangun pasti Naufal udah pulang," gumamku dalam hati.
Di ruang periksa Naufal yang sedang fokus menangani pasien daruratnya.
Setelah hampir 1 jam, pekerjaan Naufal selesai dan hari pun sudah semakin siang.
Di ruang kerjanya Naufal melihat ponselnya, dan ternyata ada panggilan tak terjawab dariku.
"Gia nelfon aku? Kenapa?" Naufal bertanya-tanya dalam hati.
Naufal dengan segera menarik jas dokternya dan langsung buru-buru berlari ke parkiran karena takut Aku kenapa-napa.
Dalam mobil Naufal berusaha mencoba menghubungi Gia.
Tapi tak ada jawaban dari Gia.
Naufal melaju dengan mobilnya sangat kencang.
***(di Rumah)
Sesampainya di rumah, Naufal langsung berlari menaiki anak tangga sambil tergesa-gesa.
Bi Sarah yang melihat sikap Naufal bertanya-tanya dalam dirinya.
"Mas Naufal kenapa ya? Jangan-jangan, Mbak iya kenapa-napa tapi jika kenapa-napa pasti dia sudah menghubungi Bibi gumamku dalam hati bibi.
Setelah sampainya Naufal di depan kamar dan langsung membuka kamarnya tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
Dan akhirnya Naufal yang melihatku tengah tidur pulas di sofa memelankan langkah kakinya untuk mendekatiku.
"Syukurlah Sayang kamu nggak kenapa-napa," gumam dalam hati Naufal.
Naufal menghampiriku sambil nafasnya terengah-engah lalu duduk jongkok sambil mengelus-elus keningku.
Aku merasakan hembusan nafas hangat Naufal.
Ku buka pelan pejaman mataku, terlihat wajah suamiku yang tersenyum padaku, ku usap keningnya yang di penuhi peta keringat.
"Sayang, kamu nggak papa kan?" tanyanya padaku.
Aku berusaha untuk membangunkan tubuhku yang di bantu olehnya karena pinggang dan kaki ku masih terasa sangat nyeri.
Naufal langsung memelukku.
"Kamu kenapa? Tumben kayak gini, aku gak papa Mas," jawabku di pundak Naufal.
"Aku khawatir tadi kamu nelfon aku, kenapa? Ada apa?" tanyanya lagi masih tidak mempercayai ku.
"Aku tadi cuman....cuman mau tau kabar kamu aja," jawabku malu-malu.
"Cuman apa? Hayo? Bilang sama aku cuman apa? Kangen ya sama aku?" tebak Naufal yang sepertinya sudah tau bahwa aku merindukannya.
"Iiiih apaan enggak ya, PD banget," ucapku sambil sedikit mendorong tubuhnya.
"Udah sana mandi, terus sholat, jangan deket-deket," kataku.
"Ooo gitu aku gak boleh deket-deket, ya udah, awas kalo hujan deras campur petir, terus lampu mati, awas peluk-peluk aku," ancamnya sambil sedikit menertawakanku.
"Ya jangan, kamu tega aku ketakutan," ucapku padanya.
"Kata kamu nggak boleh deket-deket," kata Naufal.
"Kan aku becanda, udah cepetan mandi," perintahku.
Naufal berdiri lalu berjalan ke kamar mandi dan meletakkan jas dokternya di ranjang.
"Hampir aja aku ketahuan sedang merindukannya, jadi orang PD banget sih dia," gumamku dalam hati yang menunggunya mandi.
Ponsel Naufal berbunyi di atas ranjang, aku penasaran ingin mengambil ponselnya lalu menjawab seseorang yang tengah menelfon Naufal.
Bersambung.....
__ADS_1