
“Sayang, kalo ada apa-apa telfon aku ya,” Naufal.
Pesan WA Naufal terkirim ke ponselku.
Aku heran saat membaca pesan Naufal yang sikapnya berbeda padaku.
“Mas Naufal kenapa sih?? Kok beda banget, khawatir banget,
padahal kan ini bukan pertama kalinya dia shift malam,” gumamku dalam hati.
“Iya Mas, kamu jangan mikir aneh-aneh, kalo ada apa-apa
pasti aku bilang ke kamu,” Gia.
Dokter Irene sepertinya iri melihatku saat aku
tersenyum-senyum sendiri membaca WA dari Naufal.
“Dari Dokter Naufal Gi?” tanya Dokter Irene.
“Iya Dok, hehem,” jawabku.
“Padahal baru aja di tinggal udah di WA aja,” ucap Dokter
Irene.
“Ya begitulah Dok,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Dok, saya duluan ya,” pamitku.
“Iya silahkan,” jawab Dokter Irene.
Aku berjalan meninggalkan Dokter Irene.
“Gia….Gia, enak banget sih hidup kamu, di sayang banyak
orang, di perdulikan banyak orang, apalagi punya suami yang sangat mencintai kamu, hum andaikan aku bisa sepertimu Gi,” kata dalam hati Dokter Irene.
.
.
.
.
.
.
Siang harinya, aku absen dan tidak ke kantin, karena aku
ingin meluangkan jam istirahatku untuk Naufal.
Tut…..tut….tut….
Dering ponselku menelfon Naufal.
“Naufal kemana sih kok nggak di angkat-angkat,” gerutuku.
Aku mencoba memanggilnya kembali.
Tut…..tut….tut….
“Assalamu’alaikum Sayang,” ucap Naufal.
“Wa’alaikumsalam Mas, dari mana kamu?” tanyaku.
“Abis mandi Sayang,” jawabnya.
“Ha?? Kamu baru mandi?? Jorok banget Mas,” ejekku.
“Pagi tadi kan aku udah mandi Gi, terus aku ke gym sampe jam
10, eh habis gym aku istirahat bentar cerita cerita sama Pak Rusdi, terus mandi,” ucap Naufal.
“Hehehem, iya iya gitu aja udah di jelasin panjang lebar,”
kataku.
“Iya lah Sayang, wajib banget, biar istriku nggak salah paham sama aku,” ujar Naufal.
“Udah makan kamu?” tanya Naufal.
“Belum Mas," jawabku.
"Kenapa belum makan?" tanya Naufal lagi.
"Makan siangnya belum datang Mas, tadi aku terpaksa banget nitip sama Si Suster,” jawabku.
“Kamu sendiri udah makan?” tanyaku.
“Abis sholat aja nanti aku makan Sayang,” jawabnya.
“Mas, kamu udah nggak mikir aneh-aneh tentang aku kan?” tanyaku.
“Sebenarnya masih Sayang, tapi aku usaha sok sibuk aja biar
lupa,” jawabnya.
“Ya Allah kasihan banget, hehehem” kataku.
“Kamu nggak ada temennya?” tanya Naufal lagi.
“Ada kok Mas, Si Suster yang biasanya sama aku, tapi dia
masih sholat,” jawabku.
“Akrab banget dia sama kamu,” kata Naufal.
“Mas….enggak lah, biasa aja kok, aku kan selalu gitu, dan kenapa setiap kali aku sering bersama seseorang, pasti ngiranya akrab banget, padahal aku memberikan porsi yang sama Mas buat temen-temen aku, kecuali sahabatku sih” kataku.
Tak lama kemudian Si Suster datang sambil membawa beberapa kotak makanan dan dua botol air mineral.
“Makanan datang Dok, silahkan dimakan,” ucap Si Suster yang
duduk di depanku.
“Makasih ya Sus, maaf loh ngrepotin banget,” ucapku.
“Iya Dok, tenang aja sama saya, beres, nggak papa,” jawab Si Suster.
“Mas, aku makan dulu ya,” pamitku.
“Iya Sayang, aku juga mau sholat,” jawabnya.
“Ya udah, Assalamu’alaikum Mas,” kataku.
“Wa’alaikumsalam Sayang, love you,” ucap anufal.
Ku matikan ponselku dan ku taruh di atas meja.
“Suami ya Dok?” tanya Suster.
“Hehehem, iya Sus,” jawabku.
“Harmonis banget Dok, kayaknya mesra terus, hehehe,” kata
Suster.
“Hehem ya begitulah Sus,” jawabku.
“Udah ayo di makan, jangan di anggurin makanannya,” ucapku.
Kami pun makan berdua dalam ruanganku.
“Dokter anaknya berapa?? Satu ya??” tanya Suster.
“Iya Sus,” jawabku sambil menyumpit dimsum udang.
“Cewek apa cowok Dok?” tanya Suster lagi.
“Cowok Sus,” jawabku.
“Kalo anak pertama tuh enakan cowok Dok, soalnya nanti bisa
jagain adik-adiknya,” kata Suster.
“Rata-rata orang pasti bilang seperti itu, tapi ya sedikasihnya aja Sus sama Allah,” ucapku.
“Iya juga Dok, kan kita yang di kasih amanah kok milih-milih, hehe,” sanggah Si Suster.
“Sampe siang ini saya sama sekali belum ketemu Dokter Irene loh Dok, kemana ya beliau??” ucap Suster.
“Tadi pagi saya bertemu sama Dokter Irene Sus di Lobi,” kataku.
“Mungkin aja di ruangannya Sus, kenapa Sus?? Suster ada
perlu??” tanyaku.
“Enggak sih Dok, soalnya heran saja, akhir-akhir ini Dokter
Irene jarang ke kantin, di ruangannya mulu, biasanya tuh di kantin, meskipun hanya sendiri,” ucap Suster.
“Kasihan ya Sus,” ujarku.
__ADS_1
“Memang begitu Dok, disini sebagian para Dokter agak
renggang dengan Dokter Irene karena sikapnya yang ikut campur dan suka cari perhatian Dok, kalo se tau saya begitu Dok,” cerita Si Suster.
“Berarti benar yang di bilang Dokter Irene, sebagian orang disini menjauhinya,” kataku dalam hati.
“Tapi Dok, sekarang Dokter Irene memang benar-benar berubah, Dokter Irene sholat dhuhur Dok, terus maunya sendiri an nggak mau nyatu sama yang lain, jangan-jangan Dokter Irene punya masalah ya Dok sama keluarganya atau sama siapa gitu,” tebak Suster.
“Hehem, kurang tau Sus,” kataku.
.
.
.
.
.
Selesai makan, jam istirahat sudah berakhir, aku dan Suster
berjalan ke ruang periksa kembali.
Setelah ke ruang periksa, aku masuk ke ruang ICU.
.
.
.
.
.
Sore harinya, aku menunggu jemputan Naufal di depan Lobi.
“Dok, nungguin jemputan?” tanya Dokter Anton yang melintas
di sampingku.
“Iya Dok,” jawabku.
“Saya duluan ya Dok," pamit Dokter Anton.
“Iya Dok, silahkan, hato-hati,” ucapku.
Tak lama setelah Dokter Anton melintas di sampingku, mobil
Naufal melaju mendekat padaku.
Mobil pun berhenti di depanku.
Jendela belakang mobil terbuka, kepala Abay keluar dan
memanggilku.
“Mama….” Panggil Abay.
“Loh Nak, kamu udah di jemput Papa?” tanyaku.
Naufal membuka jendela kaca mobilnya.
“Iya Sayang biar Abay tau dimana kita kerja, terus kayak
apa? Kan dia baru tau ini,” sahut Naufal.
Aku langsung berjalan masuk ke dalam mobil, Naufal menancap
gas mobilnya untuk pulang.
“Ternyata rumah sakit tempat Mama sama Papa kerja luas
banget ya Pa,” kata Abay.
“Abay bener-bener baru tau tempat Papa sama Mama kerja?” tanya Naufal.
“Beneran Pa, Abay baru tau kali ini,” jawabnya.
“Abay cuman tau namanya aja, terus tau dari internet doang,” sambung Abay lagi.
"Nah sekarang Abay udah tau kan," kata Naufal.
"Udah dong Pa, kita kan juga jarang banget ya Pa lewat jalan daerah sini, maka nya Abay nggak tau Pa," jawab Abay.
“Kamu habis magrib langsung berangkat Mas nanti?” tanyaku.
“Iya lah Sayang, habis ini sampe rumah langsung mandi,”
jawab Naufal.
“Enggak Sayang, kan aku udah bilang, apapun yang aku lakuin
buat kamu sama Abay, pasti nggak capek kok, nggak berasa, hehehe, kan suami mu kuat, kuat dalam hal apapun, hehehe,” kata Naufal.
***(Di Rumah)
Kami turun dari mobil, dan langsung berjalan masuk ke rumah.
“Assalamu’alaikum,” salam kami.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah yang sedang menyapu di Ruang Tamu.
“Sepi banget Bi??” tanyaku.
“Bapak masih keluar ke depan Mbak,” jawab Bi Sarah.
“Oh kalo gitu Gia ke atas ya Bi,” ucapku.
“Monggo monggo Mbak,” jawab Bi Sarah lagi.
Kami berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar
masing-masing.
***(Di Kamar)
Naufal bergegas langsung masuk ke kamar mandi, aku langsung menyiapkan kemeja untuknya seperti yang biasa ku lakukan setiap pagi.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Naufal selesai mandi.
“Sayang, kamu dimana?” tanya Naufal yang baru saja keluar
dari kamar mandi.
“Semprotin tanaman ini Mas, ada apa?? Kemeja kamu udah aku siapin kok,” kataku.
“Makasih ya istriku,” teriaknya yang membuatku tersipu malu.
“Nggak usah lebay Mas hehe,” jawabku yang sebenarnya bersorak kesenangan.
“Hehehem, Naufal….Naufal,” kataku dalam hati.
Setelah menyeprot tanaman kaktus yang hanya beberapa tertata di tepian balkon kamarku, aku berniat ke kamar Abay.
***(Di Kamar Abay)
Gleeekkkk…ku buka pintu kamarnya.
Abay berdiri di depan kaca panjangnya, sudah rapi memakai
baju koko dan sarung serta kopyah.
“Kirain Abay belum mandi Nak,” kataku sambilberjalan
menghampirinya.
“Kata Bibi, ustadnya udah dating di bawah,” ucapku.
“Iya Ma, ini Abay juga udh siap,” jawabnya.
Tiba-tiba aku ingin sekali mencium dan memeluk Abay.
Ku cium Abay lalu ku peluk dia.
“Mama kenapa??” tanya Abay.
“Memangnya kenapa Nak?? Mama nggak boleh cium sama meluk anak Mama,” kataku.
“Ya nggak papa banget Ma, tapi tumben banget,” tepis Abay.
“Mama pengen aja, kenapa?? Mama bau ya karena belum mandi,” kataku.
“Enggak Ma, Mama nggak bau,” ujar Abay.
“Abay jadi anak yang baik ya, yang pinter, nggak lupa
sholat, berbakti sama Mama sama Papa,” tuturku sambil mengelus kepalanya.
__ADS_1
“Sini Nak, Mama pengen peluk lagi,” kataku sambil menarik
Abay kembali.
Naufal pun memanggil-manggil namaku dari arah luar kamar
Abay.
“Sayang….” Panggil Naufal.
Aku segera keluar dari kamar Abay.
“Iya Mas?” jawabku sambil menutup pintu kamar Abay.
“Kaos kaki aku Sayang,” rengek Naufal.
“Bukannya tadi udah Mas,” ucapku.
“Iya Sayang udah, tapi sebelahan, satu pendek satu nya lagi
panjang,” Kata Naufal.
“Ahehhehem, kok bisa?” tanyaku sambil sedikit tertawa.
“Nggak tau lah Sayang, kan kamu yang siapin,” ucap Naufal.
“Hehehe, ya udah mana mana aku ganti sini,” kataku sambil
berjalan masuk ke kamar.
“Mana mas kaos kaki nya tadi?” tanyaku.
Naufal berjalan menghampiriku dengan membawa kaos kaki yang tadi salah ku ambilkan.
“Ini udah kan sama,” ucapku sambil memberikan sepasang kaos
kaki yang sama panjangnya.
“Nah ini Sayang,” ucap Naufal langsung memakainya.
“Loh kok udah pake kaos kaki?” tanyaku.
“Iya Sayang kayaknya aku berangkat lebih awal deh, jadi habis ini aku langsung berangkat,” jawab Naufal.
“Loh loh loh, Kamu udah makan tadi?” tanyaku.
“Udah Sayang tadi siang abis telfonan sama kamu tadi,”
jawabnya.
“Maaf ya Mas, aku salah ngambilin kamu kaos kaki,” kataku.
“Nggak papa Sayang, itu nggak merubah apapun, santai aja,” jawab Naufal sambil mengelus kepalaku.
“Abay ngaji di bawah kan?” tanya Naufal.
“Iya,” jawabku.
“Ya udah aku berangkat ya,” pamitnya.
“Daaaa Sayang, Assalamu’alaikum,” ucapnya sambil mengecup
keningku.
“Wa’alaikumsalam Mas, hati-hati ya jangan ngebut,” tuturku.
“Iya Sayang,” jawabnya lalu berjalan keluar kamar.
Ku intip Naufal dari balkon sebelah kanan kamarku.
Menunggu mobil Naufal melaju.
Setelah aku lega melihat mobil Naufal melaju dan semakin jauh dari rumah, aku segera masuk ke kamar kembali untuk mandi.
.
.
.
.
.
.
Malamnya, tepat pukul 8 malam, Abay baru saja selesai les di
rumah.
***(Di Kamar Abay)
Aku dan Abay berniat untuk tidur, karena rumah sepi dan hawa nya sangat dingin.
“Nggak pake AC ya Ma,” kata Abay.
“Iya Nak, udah dingin banget ini, tumben,” kataku.
“Mungkin mau hujan Ma,” sanggah Abay.
Ku rebahkan tubuhku di samping Abay.
Tiba-tiba ponselku berdering…
“Hallo Ma, Assalamu’alaikum,” salamku.
“Wa’alaikumsalam Nak, Nak Mama mau bilang sama kamu, tapi
kamu tenang aja ya,” jawab Mamaku.
“Ma, Mama kenapa?” tanyaku.
“Ada apa Ma??!” tanyaku.
“Mama cuman mau kasih tau kamu, kan kalo Mama nggak ngasih tau kamu, rasanya nggak fair, apalagi ini menyangkut Papa,” ucap Mamaku.
“Papa sakit Nak,” jawab Mamaku.
“Apa Ma??!! Papa sakit !!!!!” kataku sangat kaget mendengar jawaban dari Mama.
Hatiku benar-benar sakit dengan keadaan ini, melihat orang
pertama yang aku cintai telah jatuh sakit.
“Iya Nak?? Sekarang Papa di rumah sakit,” ucap MAmaku.
Apalagi setelah mendengar Papa masuk rumah sakit, hatiku
sangat sangat sangat hancur.
Air mata sudah memenuhi pelupuk mata.
“Ma, Papa nggak papa kan?” tanyaku.
“Papa sakit apa Ma??!! Keadaannya gimana??” tanyaku.
“Gia tenang ya Nak, Papa nggak papa, kamu tenang aja,” ucap Mamaku.
Abay bingung saat memperhatikanku yang tengah panik sambil
menangis.
“Ma, Gia nggak mau Papa sakit, Gia kesana ya Ma sekarang, Gia mau nemenin Papa, Gia harus ada di samping Papa,” kataku.
“Gia, jangan Nak, ini udah malam, jika kamu mau menjenguk
Papa, besok kan bisa Nak, sekarang kan disini Papa udah di temenin Johan sama Mama,” tutur Mamaku.
“Enggak Ma, maaf untuk kali ini Gia nggak nurut sama Mama,
Gia mau ketemu Papa sekarang Ma, tolong ijinin Gia ya Ma, Gia mohon,” kataku terbata-bata karena menangis.
“Tapi Nak, ini sudah malam, besok saja Gia,” tutur Mamaku
lagi.
“Ma, ini soal Papa, Gia nggak bisa tenang kalo hal buruk
terjadi sama Papa ataupun Mama, Mama tau kan saat kejadian dulu, betapa hancurnya hati Gia Ma, Gia nggak mau melewatkan untuk kedua kalinya,” kataku.
"Gia, tapi ini Papa hanya sakit biasa," kata Mamaku.
“Pliiss Ma, Gia mohon banget sama Mama,” paksaku.
“Ya sudah Mama ijinkan kamu, tapi kamu di antar ya Nak,” ucap Mamaku.
“Iya Ma, habis ini Gia langsung berangkat kesana,” kataku.
"Assalamu'alaikum Ma," kataku langsung menutup telepon dari Mama.
"Ma, Mama kenapa?? Tadi Eyang bilang apa sama Mama, Mama kok nangis??" tanya Abay.
"Kakek kamus sakit Nak, sekarang Mama harus kesana, Abay mau ikut sama Mama?" tanyaku padanya.
"Abay harus ikut sama Mama," jawab Abay.
__ADS_1
"Ya udah kita turun sekarang ya Nak, Mama mau bilangin Pak Joko buat nganter kita kesana sekarang," kataku.
Bersambung......