
“Aku suapin nggak ya,” gerutuku dalam hati.
Kepalaku agak mendekat di telinga Naufal, dan berbisik sangat lirih di telinganya.
“Mas, ada Papa sama Abay,” bisikku.
“Nggak papa Sayang,” jawabnya bersuara dan dengan enteng.
Papa Diki lalu mengarahkan kedua bola matanya padaku.
“Ada apa toh ada apa?” tanya Papa Diki.
“Ini loh Pa,” kata Naufal terpotong karena ku injak halus kakinya yang ada di bawah meja.
“Enggak Pa, nggak papa,” jawabku.
Dengan agak malu-malu ku suapi Naufal dengan biskuit yang
dia minta.
“Eeeeemmm gini kan enak, main catur sama Papa terus ada yang suapin aku,” ucapnya.
Papa Diki melihatku dan tertawa padaku.
“Hehehem, suatu keharmonisan dalam rumah tangga ya ini, ini
salah satu bentukannya,” ucap Papa Diki.
“Menjaga suatu keharmonisan dalam rumah tangga itu susah
susah gampang, ada yang bilang susah, sangat susah, dan sangat gampang, kalo menurut kalian gimana?” tanya Papa Diki.
“Gampang Pa,” jawab kami serentak berdua.
“Nah, ini juga wujud keharmonisan yang kedua, hahahaha, kalian kompak,” puji Papa Diki.
“Kenapa kita bilang gampang Pa, karena menurut Naufal,
bahagia nya Gia itu sederhana, jadi kapan pun Naufal bisa kasih cinta buat Gia, ya nggak Sayang, tapi nggak tau ya Pa, kalo menurut yang lain, kan ini menurut Naufal apa yang dirasakan Naufal,” ucap Naufal.
Aku tersenyum kecut pada Naufal karena agak malu dengan Papa Diki.
“Kalo menurut Papa gimana?” tanya Naufal.
“Papa setuju sama kamu, karena Mama kamu juga gitu, bahagia nya sederhana, nggak neko-neko, jadi Papa nggak terlalu ngoyo, bahagia nya Mama kamu itu cuman di perhatiin, di temenin, kasih waktu luang, liburan, gitu-gitu sih, terus komunikasi itu penting, kapan pun dan di manapun,” jawab Papa Diki.
“Sesibuk-sibuknya Papa juga??” tanya Naufal sambil menaikkan satu alisnya.
“Iya dong, harus itu,” jawab Papa Diki lagi.
“Kalo misal Papa Sibuk banget, Papa juga kasih kabar ke Mama?” tanya Naufal lagi.
“Iya Naufal, Naufal gini nih, kalo kita sibuk dan tidak memberi kabar pada seorang istri apa lagi kita jauh dari istri, pasti istri merasa cemas, mikir kita disana lagi kenapa?? Ngapain?? Udah makan belum ya, gitu, jadi baiknya sesibuk apapun kita harus tetap kasih kabar ke istri, ya minimal kirim pesan WA kan nggak makan waktu lama, nggak sampe 3 menit kan kalo cuman kasih kabar aku lagi disini lagi ini sama ini, gitu kan,” tutur Papa Diki yang mengetuk hati Naufal.
Naufal menolehku dan tersenyum padaku.
“Kenapa?? Naufal gitu sama kamu Gi, kalo sibuk nggak ngabarin kamu??” tanya Papa Diki padaku.
“Eeemmm…….Enggak Pa, Mas Naufal selalu kasih kabar sama Gia kok,” jawabku sambil tersenyum padanya.
“Bagus kalo gitu, jangan sampe kamu nggak kasih kabar loh
Fal,” kata Papa Diki.
.
.
.
.
.
.
Sudah lumayan lama aku berada di rumah Mama Feni, jarum jam terus berputar hingga tak terasa sekarang sudah jam 9 malam.
“Pamit pulang ya Ma,” kata Naufal.
“Iya, nanti kapan-kapan kesini lagi ya, harus sering-sering
kesini pokoknya,” ucap Mama Feni.
“Iya Ma, Insya’Allah,” jawab Naufal.
Aku, Abay, dan Naufal bersalaman dengan Mama Feni dan Papa Diki.
“Assalamu’alaikum,” salam kami.
“WA’alaikumalsalam,” jawab mereka.
“Hati-hati loh Fal, jangan ngebut, udah malem,” tutur Papa
Diki.
“Iya Pa,” jawab Naufal.
.
.
.
.
.
Dalam perjalanan, Abay selalu tertidur, karena memang jam 9 adalah jam maksimal untuk tidurnya Abay.
“Sayang,” panggil Naufal.
“Hm?” jawabku sambil memainkan ponselku.
“Kamu kenapa tadi nggak bilang jujur ke Papa,” kata Naufal.
“Yang mana?” tanyaku.
“Yang aku jarang kasih kabar ke kamu kalo aku sibuk,” jawab Naufal.
“Memangnya kenapa?? Kamu kan emang ngabarin aku, meskipun malam banget kan,” kataku.
“Iya tapi kan kalo kata Papa baiknya harus kapanpun,” ucap
Naufal.
“Udah nggak papa, aku nggak mau menceritakan aib suami ku
pada siapa pun, cukup aku aja yang tau,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Ya Allah Gia…….Masya’Allah, aku harus gimana dengan sikapmu yang begitu baik bahkan sangat baik padaku, setiap hari aku selalu berusaha buat jadi pria yang paling baik menurut kamu meskipun sebelum Papa kamu,” gerutu dalam hati Naufal.
“Kalo nanti aku sibuk-sibuk lagi, aku pasti kasih kabar kamu
kok, kapan pun dan dimanapun, maafin aku ya,” kata Naufal sambil meraih tanganku dan menciumnya.
“Hehehm, iya Mas,” kataku sambil tersenyum manis padanya.
“Memangnya benar ya Sayang yang dikatakan Papa kalo istri
cemas?” tanya Naufal.
“Bener lah Mas, istri mana yang nggak cemas kalo nggak
dikasih kabar sama suaminya, semenjak kita menikah, hati aku udah terbagi, bukan lagi sepenuhnya milikku, tapi juga milikmu, jadi dimana pun kamu, hati aku ngikut,” kataku dengan sangat serius.
“Eleh eleh….. hehem, istriku puitis banget,” ejek Naufal sambil mencubit pipi tembemku.
“Bener juga kata Dokter Gia ya, hehehm,” ucap Naufal sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Nggak mungkin kalo aku nggak jatuh cinta sama kamu, aku
bisa secepat itu loh cinta sama kamu, karena bahagia kamu sederhana, seperti yang aku bilang ke Papa tadi,” kata Naufal.
“Mas….Mas…..apalagi yang kita cari dari cinta kalo bukan
kebahagiaan, semua orang pasti menomor satukan cinta dari pada dirinya,” kataku.
“Memangnya gitu ya?” tanya Naufal.
“Iya lah, kayak aku cinta sama Papa sama Mama aku, aku pasti mengutamakan mereka dari pada diriku sendiri, seperti hal nya aku mencintai kamu, pasti aku mengutamakan kamu dari pada aku,” ujarku.
“Eeeemmmm gitu ya, cinta itu saling mengutamakan,” ucap
Naufal.
“Oke, quotes hari ini dari Dokter Gia, hehehe, seperti kita” ejek Naufal.
“Apa sih Mas, enggak lah, memang bener kok yang aku bilang,” kataku.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Sesampainya di Rumah.
Tin….Tinn….Tin…
Gerbang tak kunjung di buka oleh Pak Joko yang ternyata
tertidur di bawah pos.
Aku turun untuk membuka gerbangnya sendiri.
Mobil Naufal melaju masuk ke halaman Rumah, Pak Joko langsung menjingkat bangun.
“Astagfirullah,” ucapnya langsung berlari menghampiriku yang
sedang menutup pintu gerbangnya kembali.
“Buk, maaf Buk, saya ketiduran Buk, Ya Allah padahal saya
tidak berniat untuk tidur Buk, malahan saya menunggu Ibu sama Bapak pulang,” kata Pak Joko memohon maaf.
“Nggak Papa Pak, udah Bapak balik tidur lagi, pasti Bapak
ngantuk kan,” kataku.
“Maaf ya Buk, saya benar-benar minta maaf,” ucapnya yang
sepertinya sangat takut karena mungkin ini untuk pertama kalinya Pak Joko ketiduran saat Naufal dan Aku belum ada di rumah.
“Iya Pak, nggak papa, saya masuk dulu ya Pak, Bapak tenang
aja,” ucapku.
“Iya Buk, silahkan,” jawabnya.
Aku berjalan masuk menyusul Naufal yang ku lihat sedang
menggendong Abay untuk masuk ke rumah.
“Assalamu’alaikum,” salamku namun tak ada satupun yang
menjawab.
Tapak kakiku sampai terdengar saat menaiki anak tangga,
karena rumahnya begitu sepi tanpa Bi Sarah, hanya terdengar keramaian di pos belakang.
***(Di Kamar)
Naufal baru saja masuk ke kamae, karena habis mengantarkan Abay ke kamarnya.
“Sayang, aku ke belakang dulu ya,” kata Naufal.
“Ke belakang mau?” tanyaku.
“Mau main-main dulu sama Pak Rusdi di belakang,” jawabnya.
“Tapi jangan malam-malam ya, besok kamu kerja,” kataku.
“Yaaah Sayang, sampe jam setengah 12 aja,” ucapnya.
“Mas, kamu besok kerja loh, kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan tidur malam-malam,” tuturku.
“Kecuali kalo kamu shift malam nggak papa Mas,” sambungku.
“Heeemmm, nggak jadi deh Sayang, tapi harus ada gantinya,”
ucapnya.
“Ganti nya apa??? Kamu main karambol sama aku, nggak ah aku nggak mau,” kataku.
“Udah aku mau bersih-bersih dulu,” kataku sambil melepas
kerudungku dan melangkah masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
depan meja riasku, ku oleskan lotion malam yang rutin ku pakai dari aku masih remaja hingga sekarang.
Ku lihat Naufal yang tadinya berwajah lesu dan badannya yang
terdampar di atas Kasur extra besarnya beranjak berjalan ke kamar mandi.
Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang. Ku pejamkan kedua
mataku mencoba untuk tidur.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, aku hanya mendengar pintu kamar
mandi yang di buka oleh Naufal rupanya, dan suara langkah kakinya yang menuju kea rah dinding tempat tombol lampu kamar akan di matikan.
Buuukkk…….benda besar jatuh menimpaku.
Nafasku sesak dan sangat berat.
Ku buka kedua mataku pelan-pelan, pasti lengan kekar Naufal
jatuh menimpa tubuhku.
Dan ternyata……
“Mas…….sesak sumpah jangan gini,” keluhku.
“Kamu harus kasih gantinya dan kamu harus menanggung
resikonya karena kamu nggak ngebolehin aku ke pos belakang main sama Pak Rusdi,” rengeknya sambil memalingkan wajahnya di belakang tubuhku.
“Kan demi kebaikan kamu,” kataku.
“Udah ah jangan ngerengek gini Mas, malu sama anaknya yang
udah kelas empat,” kataku.
“Biarin, anaknya nggak ada disini,” bantahnya.
“Ya udah kamu boleh silahkan kamu main ke belakang sana,”
perintahku dengan nada sedikit kesal.
“Nggak mau,” jawabnya.
“Bukan nya dari tadi kamu berharap biar aku bolehin
nongkrong di belakang, terus ekarang aku udah ngebolehin kamu, kok kamu malah nggak mau,” kataku.
“Hehehehem emang sengaja aku nggak mau, kalo kamu bilang
enggak, aku gak bakalan ngelakuin Sayang,” ucapnya sambil mengangkat kepalanya yang di sembunyikannya tadi.
“Ya udah sekarang kamu tidur,” tuturku.
“Nggak mau juga,” tepisnya.
“Laaah kamu mau nya gimana?? Nggak jelas deh kamu Mas,”
ujarku.
“Aku maunya….” Naufal mencium keningku, menciumi setiap inci
wajahku.
Jantung berderup kencangn, aku mendengar jelas derupan
jantung Naufal.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang.
Seperti biasa aku selalu bangun tepat saat adzan
berkumandang, aku segera turun dari ranjang dan bergegas mandi tanpa membangunkan Naufal terlebih dahulu.
.
.
.
Selesai aku dan Naufal mandi, tak lupa kami melaksanakan
sholat shubuh bertiga dengan Abay.
Setelah sholat, aku turun ke bawah dengan Naufal.
***(Di Dapur)
Ada yang kurang sepertinya, dan ada yang berbeda saat aku
masuk ke Dapur.
“Ngapain kamu kesini Mas?” tanyaku.
“Mau nemenin kamu,” jawabnya.
“Nemenin aku?? Jangan aneh-aneh deh, sana biasanya kamu nge gym kan kalo jam segini,” tuturku.
Naufal berjalan mendekatiku, menyelipkan kedua tangannya pada pinggangku.
“Aku teriakin Bibi nih,” candaku.
“Teriak aja, orang Bibi nggak ada weekkk,” ejek Naufal yang
kepalanya tersandar di pundakku.
“Bibi nggak ada ya??” ucapku.
“Aassshh aku lupa kalo Bibi pulang kampung, maka nya kok ada yang beda,” gerutuku.
“Iya iya deh aku kalah,” kataku.
“Mas, sampe nanti kamu bakalan tetep gini?” tanyaku.
Naufal mengangguk-angguk di pundakku.
“Terus aku gimana masaknya Mas?” tanyaku lagi.
“Masak aja kalo kamu mau masak, sama gini kan bisa,” kata
Naufal.
“Mas Mas Abay Mas,” kataku dengan sedikit teriak dan dengan raut wajah yang sangat serius.
Naufal dengan cepat menarik kedua tangannya dari pundakku.
“Hehehehehe,” aku menertawakan Naufal yang ketakutan.
“Mana Abay?? Kamu bohong ya Sayang,” ucapnya.
“Hehehem, lagian kamu, mau masak juga, gangguin aja,” kataku.
Naufal akhirnya duduk menemaniku memasak.
“Aku mau lihatin istriku kalo masak ah,” ucapnya.
“Apa sih, hehehem,” ucapku smabil tersipu malu.
Ku mulai aksi memasakku. Mulai mencuci sayur, memotong
daging, merebusnya sampai semua bahan bercampur jadi satu dalam panci.
Keringat mulai tampak memenuhi keningku.
Dengan sifat romantisnya, Naufal mengambil tissue lalu
mengusapkeringat yang mengucur di keningku.
“Apa sih Mas, hehem, mana aku bisa sendiri,” ucapku karena
malu.
“Udah kamu lanjut aja, biar aku yang bersihin keringat kamu,”
tuturnya.
“Ini tuh kayak waktu kita lagi ada operasi,” ucap Naufal.
“Kan kalo kita lagi ada operasi, pasti ada tuh yang ngusapin
keringat kita,” kata Naufal.
“Memangnya siapa yang biasa ngusapin keringat kamu kalo lagi
ada di ruang operasi?” tanyaku yang membuat Naufal kikuk dengan tiba-tiba.
“Ya pasti asisten aku lah Sayang,” jawabnya.
“Ooooo yang perempuan itu,” tebakku.
“Iii…iya,” jawab Naufal.
“Kamu kan juga ada yang ngusapin pastinya,” ucap Naufal.
“Ada dong pasti ada,” jawabku dengan percaya diri.
“Tapi kan kalo aku cewek yang ngusapin, jadi nggak bakalan
bisa buat kamu cemburu, hm yak an,” kataku sambil menoleh padanya.
“Memangnya kamu cemburu kalo ternyata asisten aku yang
selalu ngusapin aku??” tanya Naufal.
”Nggak lah, ngapain aku cemburu, ingat kerja ya kerja, keluarga ya keluarga, professional dong Mas,” ujarku.
“Alhamdulillah, nggak jadi takut aku Gi,” ucap Naufal sambil
mengelus dadanya.
“Loh kan aku emang nggak pernah cemburu kalo masalah
pekerjaam,” kataku.
“Ada kok, pernah kamu cemburu waktu dulu di Bali sama Bastian juga,” kata Naufal.
“Itu kan nggak di rumah sakit Mas, dan nggak ada tuntutan
kan disana, ya jelas lah aku mikir macem-macem,” tepisku.
“Nih udah kamu cobain sayur buatan aku, hak,” kataku smabil
menyuapinya satu sendok sayur tumis.
“Heeemmm enak banget, pokoknya terbaiklah istriku ini,”
pujinya lalu mengecup keningku.
“Itu hadiah buat kamu, hehehem,” kata Naufal.
“Udah kamu balik ke atas, akum au nyiapin ini nya,” tuturku.
Naufal melangkah meninggalkanku, aku menyiapkan satu per
satu menu sarapan pagi, mulai dari nasi, roti, buah, susu, dan lainnya.
Yaaaa karena Bi Sarah pulang kampung, jadi aku harus
melakukannya sendiri.
.
.
.
.
Selesai menyiapkan sarapan pagi, tubuhku sangat gerah, aku
berjalan menapaki anak tangga.
Dan berniat untuk mandi kembali karena memang sangat gerah meskipun ada AC menyala di setiap ruangan Naufal kecuali kamar mandi dan gudang.
Bersambung...........
__ADS_1
Awas senyum-senyum sendiri hehehehe