Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 208 (Gemetar)


__ADS_3

***(Di Rumah)


Ku bawa beberapa kantung plastik berisi belanjaanku dan di tangan kananku membawa satu kantung plastik berisi kotak kue.


Rasanya bibirku agak gemetar, padahal sebenarnya aku tau, anak semata wayangku akan memburu banyak pertanyaan padaku, karena selam ini


aku tidak pernah sedikitpun membagi cerita padanya tentang hal ini.


Mataku melihat lurus ke depan mengikuti langkah kaki ku yang mengarah ke Dapur.


Suasana Rumah yang hening, ku tengok kanan dan kiri, dan ku cari-cari Bi Sarah.


Ku sabitkan mulutku ke bawah dan ku hela nafas panjang sambil ku geletakkan beberapa kantung plastik di atas meja di mini bar dapurku.


Ku duduk sambil melamun. Menatap jendela Dapur yang langsung menembus halaman belakang rumah yang banyak sekali pohon cemara dan pohon bunga


kenanga.


Aroma khas bunga kenanga menyapa lubang hidungku. Bi Sarah pun datang dari belakang ku.


“Astagfirullah,” ucap Bi Sarah dengan spontan.


Lamunanku langsung terpecah seketika itu dan menengok ke belakang tepat melihat Bi Sarah yang sedang panik melihatku.


“Mbak Giaaaa….” Kata Bi Sarah yang kaget melihat sosok


perempuan pagi ini duduk melamun menatap jendela.


“Kok sudah pulang Mbak??” tanyanya sambil berjalan mendekatiku.


“Gia kan resign Bi,” jawabku atas pertanyaannya.


“Resign Mbak??!!” tanya nya panik dengan membulatkan kedua bola matanya.


Aku hanya memberi jawaban dengan anggukan kepalaku dan senyum pada Bi Sarah.


Bi Sarah menarik kursi agak lebih dekat dengan ku, dan duduk dekat di sampingku dengan kedua matanya yang masih bundar seperti bulan.


“Mbak Gia kenapa resign??” tanyanya yang seperti ingin menerkamku.


“Hehem, panjang Bi cerintanya,” jawabku.


Bi Sarah pasti sudah mengerti dengan jawaban ku ini, beliau pasti sudah tau, bahwa aku belum siap menceritakan semua kepadanya, karena wanita dewasa ini lah yang hampir 80% tau bagaimana watakku sebenarnya.


“Eeemm, gitu ya Mbak,”


“Mau di buatkan Bibi coklat panas atau apa Mbak??” ucap Bi Sarah mengalihkan pembicaraan agar aku juga tidak larut dalam kesedihan.


“Nggak usah Bi,” jawabku sambil tersenyum padanya.


Tanganku meraih kantung berisi kue.


“Ini Bi, dimakan sama semua ya,” ujarku sambil membuka kotak kue tersebut dengan sangat pelan.


“Apa ini Mbak??” tanya Bi Sarah.


“Ini tadi kan Gia pengen beli aja, nggak ada acara apa-apa Bi,” ucapku yang seperti orang tengah kehilangan semangat hidupnya.


“Abay kemana Bi??" tanyaku.


“Dek Abay di atas Mbak,” jawab Bi Sarah.


“Gia ke atas dulu ya Bi, jangan lupa dihabisin kue nya,” tuturku sambil menurunkan kaki ku yang bergantungan ke permukaan lantai.


Dengan senyumku, ku tinggalkan Bi Sarah sendirian di Dapur.


“Masya’Allah Mbak Giaa……Mbak Gia……..” gumam dalam hati Bi Sarah.


Aku berjalan menyusuri anak tangga yang mengantarku ke lantai dua rumah ini.


Langkahku semakin dekat dengan kamar Abay.


Deg deg….deg deg….


Rasa gemetar sedang bertamu padaku, degup jantung yang seperti orang sedang jatuh hati, dan gemetar bibir seperti sedang interview di sebuah perusahaan, yaaahh….ini yang sedang ku alami.


Padahal aku sudah merangkai kata demi kata untuk memberikan penjelasan dan menjawab banyak pertanyaan dari Abay.


Tepat di depan kamar Abay, dengan pintu bercat warna putih dan terdapat nama dia disana.


Tok…tok…tok…..


Gleekkk….langsung ku pegang gagang pintu itu dan ku buka.


Tanpa memanggil namanya aku langsung saja berjalan mendekati Abay uang sedang menengok ke arahku, dia sedang duduk santai di balkon kamarnya


dengan membawa ipad miliknya.


“Mama!” ucap Abay yang kaget melihatku, karena seharusnya jam segini aku masih berada di Rumah Sakit untuk bekerja, namun sekarang dan seterusnya aku akan berada disini menemani Abay.


Abay berdiri dan terpaku saat ku dekati.


“Kenapa Nak?? Kok kaget gitu ada Mama,” tanyaku dengan halus.


“Kok Mama udah disini?? Seharusya kan Mama masih kerja,” jawab Abay.


Kami pun duduk berdua bersampingan.


“Mama kenapa udah pulang?? Mama sakit?? Atau Mama kenapa??”


Firasatku benar, belum saja aku mencoba menjelaskan padanya, anak lelaki ku ini sudah melontarkan lebih dari satu pertanyan padaku.


“Abay bukan nya senang Mama udah pulang?” ucapku sambil menatapnya.


“Abay pasti senang Ma, tapi kan………..kan nggak biasanya Ma, ada apa Ma disana?? Mama ada masalah?? Papa mana??”


“Mama pulang sendiri kan??” sambung Abay sambil menengok ke arah belakang berharap ada Papanya disana bersamaku.


“Enggak, Mama sendiri, Papa kamu masih kerja Nak,” ujarku.


“Gini Mama jelasin sama Abay, biar Abay nggak


bingung-bingung, pasti ada banyak pertanyaan sekarang kan yang sudah mau Abay tanyakan sama Mama, yak an??? Hayo??” tebakku sambil menyentil halus ujung hidungnya yang mencung seperti suamiku ini.


“Apa Ma?? Mama kenapa??” tanya Abay.


Kami saling menatap, yang awalnya hanya mata dan hati yang berbicara, kali ini aku akan menjelaskan semuanya pada Abay dengan mulutku yang sedari tadi ragu untuk mengatakannya.


“Mama……….”


“Mama keluar dari pekerjaan Mama,” ceplosku tanpa ragu.


“Jadi, mulai hari ini, Mama bakalan nemenin Abay di Rumah, Abay mau minta kemanapun, kapanpun, bakalan sama Mama,” kataku.


“Mama bakalan terus sama Abay, jadi Mama udah nggak ninggal-ninggalin Abay lagi, Abay pasti capek kan kesepian di rumah, Abay juga pasti iri kan sama Niko yang selalu bisa cerita-cerita sama Mama sama Papanya,” sambungku.


Abay hanya diam menatapku, sekarang ganti aku, ganti aku yang menyimpan banyak pertanyaan untuk Abay.

__ADS_1


Mengapa dia hanya diam?? Mengapa dia sama sekali tidak berucap? Dan mengapa raut wajahnya berubah menjadi seperti mendung??


Deg deg…deg deg…


“Abay kok diam ya?? Apa dia marah??” tanyaku dalam hati.


“Ayo Abay, ngomong sama Mama, ngomong,” gertakku dalam hati.


Abay tetap saja mengunci mulutnya, namun dia meletakkan ipad yang dibawanya di belakang tempat ia duduk, dan dia pun memelukku.


“Mama yakin Mama keluar dari pekerjaan Mama??” tanya Abay.


“Iya Nak, kenapa?? Abay sedih ya?? Abay marah sama Mama ini, yak an??” tanyaku dengan sedikit lucu.


Ku lepas pelukan kami, dan ku tatap kembali kedua mata Abay.


“Mama sedih karena Mama keluar dari pekerjaan Mama?? Pasti banyak pertanyaan Mama ke Abay, karena Mama bingung Abay sedih atau malah


senang, yak an Ma??” ujar Abay dengan manjanya.


“Hehehem, iya Nak, kok kamu bisa baca pikiran Mama,”


“Enggak dong, pasti nya Mama bahagia bisa sama Abay, nemenin Abay di rumah,” jawabku.


“Yakin Mama bahagia??” tegas Abay lagi.


“He’em Nak, Mama bahagia, memang ini keputusan yang Mama buat,” jawabku.


“Memang ini mendadak, sebenarnya bukan mendadak, Mama udah pikirkan ini udah dari dulu, dan pada saatnya Mama keluar dari kerjaan Mama,


Mama sengaja nggak cerita ke siapa pun termasuk Abay,” ujarku.


“Kenapa Mama nggak cerita sama Abay?? Abay kaget kenapa Mama keluar dari kerjaan Mama??” tanya Abay.


“Surprise dong Sayang, ini kejutan buat kamu, gimana?? Abay senang??” tanyaku sambil ku angkat dua alisku.


Abay kembali meraih bahuku dan dia memelukku dengan sangat erat, selayaknya seorang anak dan ibu.


“Abay pasti senenggggg banget dengerin berita ini, Abay seneng bangetttt Ma,” ucapnya.


“Makasih ya Ma, Mama memang Mama terbaik sedunia, Abay pengen Ma, ditemenin sama Mama seperti Niko, Love you Ma,” ucap Abay.


Aku lega mendengar ungkapan bahagia dari Abay.


Ini jawaban yang ku tunggu-tunggu sedari tadi, ku kira dia akan marah atau bagaimana?? Keputusan ini memang benar-benar yang tebaik,


mereka semua bahagia dengan keputusan ini.


“Akhirnya Ya Allah, ini yang selama ini diinginkan anak ku,” ucapku dalam hati.


Air mata menetes pada kedua pipiku.


“Mama kenapa menangis?? Mama sedih ya??" tanyaku.


“Enggak, Mama malah bahagia, kenapa dari dulu Abay nggak bilang sama Mama kalo Abay pengen ditemenin Mama, Mama kan bisa resign dari dulu Nak,” ucapku sambil mengusap kening Abay.


“Abay sayang sama Mama,” ucap Abay.


“Mama lebih sayangggggg sama Abay, hehem,” kataku dengan senyum padanya.


“Yeeeaaayy berarti mulai besok dan seterusnya Mama di rumah terus sama Abay, yeeaayyy,” kata Abay yang sangat girang.


“Hehehem, ya udah Mama ambilin kue buat Abay dulu ya, tadi Mama beliin buat Abay,” kataku.


Abay hanya menganggukkan kepalanya.


Aku beranjak berdiri dan berjalan keluar dari kamar Abay sambil menghapus air mataku.


bahagia itu yang utama bagiku, walaupun bagi orang lain hal ini adalah hal yang paling menyiksa, namun memang ini yang membuatku bahagia pula. Impian besar bukan apa-apa jika mereka tidak bahagia, aku bisa menutup semua kebahagiaan dan keinginanku demi mereka, karena aku sangat mencintai mereka, Papa, Mas Naufal, dan Abay anakku.


.


.


.


.


.


.


.


Kue kesukaan Abay ku bawakan untuknya di kamar.


“Dihabisin ya, Mama beliin spesial buat kamu loh,” kataku.


“Iya Ma,” jawabnya.


Aku hanya memberikan kue itu pada Abay dan tidak menemaninya duduk kembali disana.


“Mama nggak nemenin Abay makan kue nya??”


“Mama mau kemana??” tanya Abay sambil memegang tanganku.


“Mama mau mandi dulu, gerah, hehem,” jawabku.


Aku meninggalkan Abay seorang diri di balkon kamarnya, ku


tutup rapat-rapat kamar Abay. Aku berjalan menuju kamaeku.


Gleeekkkk….


***(Di Kamar)


Angin langsung berhembus dari pintu dan jendela kamarku,


ternyata begini ya suasana pagi di kamar ini.


Aku berusaha terus berlari dan membuang secuwil rasa sedihku


ini yang tak seorang pun tau.


Huuummm, berlari dari rasa sedih lebih melelahkan daripada


harus berlomba lari marathon.


Keputusan ini yang terbaik Ya Allah, kuatkan aku jika


seseorang selalu melontarkan tanya mengapa resign? Kenapa berhenti kerja??


Sebenarnya aku tidak ingin mendengarkan pertanyaan seram itu dari siapa pun.


Tapi apa lah daya.


Sembari berdiri melamun menatap balkon, aku duduk di sofa

__ADS_1


dan lepas heels kesayanganku yang dibelikan Naufal langsung dari luar negeri


untukku. Ku simpan baik-baik heels itu lalu aku beranjak mandi.


.


.


.


.


.


Seusai mandi, ku keringkan rambutku dan ku tatap diriku


sendiri di depan cermin riasku.


Aku memandang setiap sisi wajahku di cermin besar dan terang


itu, ku letakkan hair dryer di atas meja.


Dan aku tersenyum sendiri di depan cermin, ku tepuk tiga


kali pundakku sendiri.


“Terima kasih Gia, kamu kuat,” ucapku dalam hati untuk


diriku sendiri.


Lama aku sudah tidak berterimakasih pada tubuhku ini yang


sudah menemaniku berpuluhan tahun, yang sudah lama rindu dengan tepukan ini.


Dengan suasana hening sendiri di kamar ini, jadi teringat


saat aku sedang hamil Abay, teringat juga saat Mas Naufal sering meninggalkan


ku keluar negeri.


Namun semua itu tertutupi oleh raut bahagia yang terlukis di


wajah Abay dengan keputusan yang memang sangat sangat berat ku ambil ini.


“Hhmmm, bahagia nya ya tadi Abay, hehehem, maafin Mama ya


Nak, selama ini Mama belum bisa menadi Mama yang sepenuhnya untukmu, waktu Mama


harus terbagi untuk sekian banyak orang,” kataku.


Ponselku pun berdering……


Langsung ku terima telepon dari Susi.


“Assalamu’alaikum Gi,” ucap Susi.


“Iya, Wa’alaikumsalam,” jawabku.


“Iiih kok lemes gitu?? Kenapaaaa?? Masih mikirin soal


keputusan kamu ini??” tanya Susi yang sangat tau meskipun tanpa melihatku


langsung.


“Hehehem, apaan sih, ya nggak lah,” jawabku.


“Yakin?? Udah lah Gi, aku tau banget kamu, gimana?? Tadi Mas


Bastian langsung telfon aku loh, katanya dia kaget kok tiba-tiba kamu resign,


kurang apalagi disini? Hehehem Gia….Gia kamu ini, dasar!!!! Selalu membuat


banyak orang pengen nanya ke kamu,” kata Susi.


“Si kan nggak semua orang harus tau tentang aku,” ujarku


lagi-lagi mengatakan kalimat ini untuk ke beberapa puluh kali pada Susi.


“Iya iya Giaaa. Aku tau, siapa sih yang nggak inget semboyan


kamu itu, hehehem,” canda Susi.


“Nggak lagi sedih kan sekarang??” tanya Susi yang khawatir


padaku.


“Nggak lah Si, biasa aja, tumben kamu telfon aku?? Ada apa??


Kamu nggak kerja??” tanyaku sambil ku sisir rambutku.


“Ini lagi kerja, aku kepikiran aja sama kamu, yaaaaa


meskipun aku tau pasti jawaban kamu akan sama kalo ditanya, Gi kamu nggak


papa?? Iya Si biasa aja gak papa, akum ah udah hafal mantra kamu yang kayak


gituan hahahaha,” ulasan Susi mencoba untuk menghiburku.


“Hehehehem jangan gitu aa Si, tau aja kamu,” jawabku yang


sepertinya sudah asyik dan sudah masuk ke dalam lelucon yang terus dihadirkan


Susi.


Tak tau kenapa?? Setiap kali aku chatingan sama Susi, video


call sama Susi, teleponan sama Susi, ada semangat tersendiri yang membius pada


diriku, yaaaaa karena memang Susi ini orangnya sangat warm dan welcome, siapa


saja yang dekat dengan dia, pasti merasakan hal yang sama, dia membawa aura


positif pada siapapun, jadi tidak ada alasan untuk aku menolak telepon atau


bertemu dengannya.


Hanya satu jam kami bisa mengobrol berdua via telepon, tak


lama kemudian, Abay masuk ke kamarku dan menompangkan kedua tangan nya di atas


pundakku.


“Mama, makasih ya,” ucap Abay sambil memberikan satu ciuman di pipiku.


“Hehehmm Mama minta maaf ya Nak, Mama belum bisa jadi Mama yang baik buat Abay,” kataku.


“Enggak Ma, Mama sudah yang terbaik,” uji Abay sambil memelukku.

__ADS_1


“Lihat Mas, betapa bahagianya anakmu ini, dia terus ingin berada di dekatku, andai saja kamu tau Mas,” ucapku dalam hati.


Bersambung..........


__ADS_2