Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 212 (Jatuh Dan Tersungkur)


__ADS_3

Susi terus mengelus lenganku.


"Udah tangisin aja," kata Susi.


"Kamu nggak cerita semua sama suami kamu? Tentang apa yang semua kamu rasain Gi??" tanya Susi.


Aku hanya menggelengkan kepalaku saja.


"Kenapa?? Kamu nggak bisa ketutup gini terus Gi, suami kamu itu bukan orang lain, nggak baik kamu seperti ini terus, menyangga semuanya sendirian, pasti Mama kamu juga nggak tau kan betapa sedihnya kamu??" tebak Susi lagi.


Kembali ku gelengkan kepalaku di sampingnya.


"Kenapa Gi?? Ayo lah kamu sedikit terbuka pada mereka, aku seperti ini karena aku kasihan sama kamu, selalu tersiksa sendirian, jangan kayak gini Gi, bukan fisik kamu yang kesiksa, tapi batin kamu," tuturnya.


Susi selalu memberikanku nasehat-nasehatnya sejak dulu pertama kami bersahabat, dia tak sungkan-sungkan lagi mengatakan padaku. Sekalipun itu bukan yang ku inginkan, aku sangat senang Susi bersikap seperti ini padaku, tapi mungkin memang aku belum bisa saja melakukan semua itu dengan mudah. Karena aku tidak terbiasa berbagi kesedihan kepada orang lain, sekalipun mereka keluargaku.


Memang tak baik, aku tau!!! Tapi bukankah mereka jauh lebih baik tidak mengetahui kesedihanku.


Aku menyanyangi mereka. Aku tidak ingin mereka terluka, sedikitpun dan dengan alasan apapun.


"Aku belum bisa Si, aku belum bisa....huhuhh," ucapku terbata-bata.


"Aku tak tega pada mereka, jika aku mengatakan semuanya, tidak mudah buat aku Si, aku tau aku salah, aku tau ini tindakan yang sangat salah, menyembunyikan semuanya dari Mas Naufal, tapi untuk sekarang, masih ini yang aku bisa, aku bukan orang lain Si, aku adalah aku, huhuhu," kataku.


Susi langsung memelukku dari samping, Susi sangat sangat tau dan paham akan isi hatiku, aku senang dengannya, karena dia tidak sepenuhnya menganggap ini tidak benar ataupun menganggap ini hal yang sangat salah, karena memang watak seseorang berbeda-beda.


"Aku jadi ikut sedih Gi, hhmmm," ucap Susi di pundakku.


"Apapun itu, aku tetep support kamu Gi, dan kalo kamu lagi kesepian, aku siap kok tiap hari nemenin kamu chatting, yah," canda Susi lagi-lagi menghiburku.


"Susiiiiii......." gumamku.


"Biar nggak sedih-sedih terus, jadi harus ada bumbu-bumbu melawaknya dikit Gi," kata Susi.


"Hhhmm kamu, orang lagi nangis masih aja di bercandain," ucapku sambil mengambil sehelai tissu di dalam kotak persegi panjang dan berselimut kain yang sudah di hiasi dengan berbagai pernak-pernik.


"Ya gini dong Gi, kamu lampiasin, cerita ke aku, kamu susah banget sih buat cerita ke aku," ucap Susi.


Aku hanya tersenyum padanya dan menghapus air mataku di kedua pipiku.


Hingga larut malam, Susi menemaniku di Rooftop ini.


Abay dan anak tunggal Susi asik bermain, hingga dia tidak ingin meninggalkan rumah ini lalu menangis.


"Udah lah Si, tidur disini aja, kapan lagi," ucapku.


"Iya Tante, tidur disini aja," sanggah Abay.


Namun, Susi tidak bisa tidur disini, karena besok pagi-pagi dia harus bertemu dengan seseorang, karena Susi sekarang kan juga bisnisman. Jadi meskipun dia bekerja di rumahnya sendiri tapi dia tetap sibuk.


Akhirnya mereka pun pulang.


"Byeee Gi, aku pulang ya, Assalamu'alaikum," ucapnya dalam mobil.


"Iya Si, hati-hati, Wa'alaikumsalam," jawabku.


"Byee Tante Susi," kata Abay.


"Daaaaaaaa,"


Mobil Susi melaju menjauh dari kami, aku dan Abay kembali masuk ke dalam Rumah. Dan aku mengunci pintu rumah ini, karena memang sudah malam.


"Abay tidur sama Mama ya," kataku.


"Di kamar Mama apa di kamar Abay??" tanya Abay.


"Di kamar Mama aja Nak," jawabku.


Abay pun menurutinya.


Setelah aku selesai bersih-bersih, Abay datang ke kamar dengan baju tidurnya berwarna hitam panjang itu.


Kami pun tidur hanya berdua.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Esok harinya, Naufal belum pulang ke rumah. Hingga kami selesai sarapan.


Semalam, hanya satu pesan saja yang dia kirimkan padaku.


"Malam Sayang, cepat tidur, aku pulanga agak telat," Naufal.


Pesan itu yang dia kirimkan ke ponselku, aku tidak sempat membalasnya, karena memang aku sudah tidur pulas dengan Abay.


***(Di Ruang Makan)


"Ma, Papa kok belum pulang ya??" tanya Abay.


"Udah, di tunggu aja Nak, bentar lagi pasti Papa kamu pulang, Papa kamu lagi sibuk," jawabku sambil mengelus kepala Abay.


Aku membantu Bi Sarah membersihkan meja makan dan membawa semua piring kotor ke Dapur.


***(Di Dapur)


"Biar Gia bantu nyuci Bi," ujarku yang berdiri tepat di samping Bi Sarah.


"Nggak usah Mbak, jangannn.....Mbak Gia duduk manis saja di rumah, ini mah sudah kerjaan Bibi," tepis Bi Sarah sambil membilas piring-piring.


"Ini juga tugas Gia Bi, hehehe, sebagai ibu rumah tangga," sanggahku.


"Jangan Mbak, sudah Mbak Gia duduk saja, Mbak Gia ini kan Nona nya Tuan Rumah, jangan ah Mbak," ujar Bi Sarah yang terus menolak bantuanku.


"Yakin??? Bibi nggak mau di bantuin Gia??" tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Yakin Mbak," jawab Bi Sarah.


"Ya udah deh, Gia tinggal ya Bi," ucapku.


"Monggo monggo Mbak (silahkan silahkan Mbak)" jawab Bi Sarah.


Saat aku berjalan menaiki anak tangga, tak sengaja ku buka ponselku.


5 pesan masuk dari Mamaku.


"Mama??!!" ucapku sambil berhenti melangkahkan kaki ku dan melihat 5 pesan WA dari Mamaku.


"Gi, Papa kamu kritis,"


"Kalo kamu mau jengukin Papa kamu disini, nggak papa Nak, kesini aja,"


"Baru pagi ini Papa kamu di pindah ruangannya,"

__ADS_1


"Kamu jangan sedih-sedih,"


"Yang kuat, buat Papa kamu Nak,"


Yaahhh, itu pesan dari Mamaku tercinta, berita buruk!!! Lagi dan lagi mengahantuiku. Andai saja aku bisa mnngusir mereka, pasti aku akan terus memasang perangkapa agar mereka tak menghantui ku lagi.


"Papa!!!!" ucapku di atas tangga dengan spontana aku menangis, kaki ku tak bisa di ajak melangkah pergi.


"Apa lagi ini Ya Allah??? Huhuhuhu," kataku sambil menangis dan sedikit menjongkok.


Ku remas kain bajuku, melampiaskan semuanya di kain itu.


"Huuhuhuhu, Papaaa," kataku.


Tiba-tiba, kaki ku ini mengajakku berlari ingin menemui Papaku.


"Aku harus menjenguk Papa, aku harus ada di dekat Papa, harus!!!" ucapku.


Aku langsung berlari menaiki anak tangga dengan pandangan fokus ke ponselku untuk meminta izin pada Naufal, namun saat jariku akan menyentuh layar ponsel untuk menekan tombol panggil pada Naufal.


Buuuukkkkkkkkkkk.......


Tiba-tiba semua gelap begitu saja.


.


.


.


.


.


.


***(Di Kamar)


"Iiisshhhh, aaawwww," desisku saat merasakan sakit di seluruh tubuhku.


Padahal kedua mataku masih tertutup, tapi rasa sakit ini membuatku tidak nyaman.


Aku merasakan nyeri di bagian keningku, kaki ku, pahaku dan lenganku.


"Aaawwww, aku kenapa ini??? Kenapa sakit sekali??" tanyaku dalam hati.


Aku berusaha mengajak kedua mataku untuk segera bangun dari mimpi ini. Mimpi buruk yang membuat seluruh badanku sakit-sakit seperti ini.


Ku paksa kedua mataku untuk segera membuka.


Pelan-pelan ku buka. Terlihat lampu di kamar tidurku.


Dan Naufal yang ada disampingku, Abay yang menangis di kaki ku, serta Bi Sarah yang mengelus-elus kaki ku.


Aku masih belum mengerti mengapa Abay sampai menangis.


Ku coba menggerakkan kaki ku, namun terasa kaku dan agak pedih. Kepalaku terasa nyut-nyutan.


"Aaaarrrrghh, aawww," keluhku.


"Sayanggg," panggil Naufal.


"Masss, udah pulang??" tanyaku setengah sadar sambil menahan rasa sakit kepalaku.


Ku raba kepalaku yang terasa sakit hingga ada yang berbeda saat jemariku tak sengaja menyenggol sebuah benda lembut yang menempel pada keningku.


"Apa ini Mas?? Kok Abay nangis??" tanyaku sambil merasakan benda itu.


"Kenapa Nak?" tanyaku.


"Kenapa Nak??" tanyaku pada Abay.


"Sayangggg......kamu habis jatuh tadii," ucap Naufal dengan halus.


"Di tangga, tadi aku pulang udah ada Bibi sama kamu di tangga, terus aku tanya ke Bibi kamu kenapa?? Bibi juga nggak tau," jawab Naufal.


Aku menoleh pada Bi Sarah.


"Iya Mbak, tadi Bibi taunya Mbak Gia udah tergeletak di tangga," sahut Bi Sarah.


"Pantesan Mas badanku sakits semua," keluhku.


"Kaki kamu lecet, siku kamu juga, terus yang paling parah kening kamu Sayang?? Kamu ngapain aja sih bisa jatuh kayak gitu, hm?? Pasti jalan sambil mainin hp," ujar Naufal.


Aku mencoba mengingat memori itu.


"Aku tadi kannn....."


"Hp aku sekarang mana Mas??" tanyaku.


"Mati lah Sayang, orang hp kmau jatuh dari atas ke bawah tadi, untung aja kamu nya nggak guling-guling," ucap Naufal.


"Mati Mas???!!!"


"Mas....coba deh sekarang kamu telepon Mama, coba deh Mas, mana hp kamu," kataku membuat Naufal semakin bingung.


Naufal menarik ponsel nya keluar dari saku celananya. Perlahan aku menceritakan semua pada Naufal. Pastinya dengan tangis dan isak ku ini.


"Sayanggg......Sayang, aku tau kamu panik, tapi tetep hati-hati," tutur Naufal.


"Huhuhu, gimana lagi Mas?? Siapa yang nggak panik kalo dapat berita kayak gitu," jawabku.


Sebenarnya aku malu menangis di depan Abay, bagaimana lagi?? Aku tidak bisa menahannya.


"Apa aku aja yang jenguk Papa kesana?? Kalo kamu pasti nggak bisa Sayang, dengan keadaan kamu yang seperti ini," ujar Naufal.


"Jangan Mas, kamu kan mau berangkat nanti sore, nanti kamu malah kecapek an," tepisku.


"Nggak papa kok Sayang, sekarang juga kan masih jam 8 an," ucap Naufal yang kekeh ingin menjenguk Papaku.


"Udah Mas, nggak usah, kamu juga baru aja pulang kan," kataku.


"Abay juga udah jangan nangis Nak, Mama nggak papa, cuman jatuh biasa aja, ya," rayuku pada Abay.


"Lain kali Mama hati-hati, huhuhuhu, jangan seperti ini, Abay khawatir sama Mama," kata Abay.


"Hehehem, udah cup cup, cowok nggak boleh cengeng," ejekku.


Abay menghapus air matanya di depanku.


"Bi, Naufal minta tolong air hangatnya Bi, buat kompres kaki nya Gia," kata Naufal.


"Baik Mas, saya ambilkan di bawah sebentar," jawab Bi Sarah.


"Abay mandi dulu ya Ma," kata Abay.


"Loh anak Papa belum mandi ternyata," canda Naufal pada Abay.


"Belum Pa," jawab Abay dengan wajah cemberutnya.


"Iya, mandi gih," tuturku.


Abay pun keluar dari kamar mandi, dan sekarang tinggal kami berdua.


"Nanti yang nyiapin semua kebutuhan buat aku, biar aku aja," ujar Naufal sambil menepuk tanganku yang berada di atas bedcover.


"Jangan Mas, aku aja," tepisku sambil berusaha untuk menarik bangun tubuhku.


"Nggak nggak, kamu nggak bisa Sayang, udah nggak usah, aku aja," ucap Naufal.


"Tapi Mas?? Itu sudah kewajibanku," bantahku.


"Sayangggg, aku aja, aku nggak mau kamu kenapa-napa, kamu masih sakit gitu," kata Naufal.

__ADS_1


Kedua bibirku mulai mengerucut dengan kernyitan kedua alisku.


"Beneran nggak papa?? Nanti kamu udah nggak cinta lagi sama aku," candaku dengan manja.


"Eeemmmm gitu, manja-manja gitu sekarang, hehehem, nggak bakalan lah Sayang, kamu ini ada-ada aja," ucap Naufal sambil mengelus kepalaku dan tak sengaja menyenggol luka di keningku.


"Aduuuhh....iissshhh, sakit Mas," keluhku.


"Uuuummmm sakit ya, maaf maaf aku nggak sengaja Sayang," kata Naufal.


"Sini sini deketan," sambung Naufal lagi yang menarik kepalaku lalu menciumnya tepat di sebelah luka yang tertutupi oleh kain kasa.


"Mendingan kannnnn?? Hhhmm?? Hehehemm," ucap Naufal sambil tersenyum padaku.


Aku ikut tersenyum dan menganggukkan kepalaku, seperti seorang gadis kecil yang senang sehabis dibelikan permen.


"Iya lah, yang ngobatin Dokter Cinta, ya pasti enakan," canda Naufal dengan PD.


Langsung ku cubit pelan kulit perut Naufal.


"Hahahaha, Sayanggggg, kok di cubit gini," kata Naufal.


"Kamu sih, genit banget, lama-lama kayak Pak Bastian kamu Mas, huuumm," ejekku sambil mendekat tepat di depan wajahnya dan menatapnya seperti seorang musuh.


"Hahahahaha, baru tau kamu Sayang, udah lama kali Sayang," sambung Naufal yang semakin menyebalkan.


"Oooo pantesan sama pasien nya genit juga," kataku.


"Amit-amit Sayang, jangan sampek, ya nggak lah, kamu ini!! Gak bakalan, aku tuh genitnya cuman sama kamu,"


"Ngapain ke yang lain selagi ada istri," sambungnya lagi.


Dan iklan pun datang, jeng....jeng....jeng.....


Bi Satah datang membawa satu ember air hangat untuk kaki ku.


"Masuk Bi," kata Naufal.


"Monggo Mas, Bibi atau Mas Naufal yang mau mengompres??" tanya Bi Sarah.


"Gia sendiri aja Bi, bisa kok," sahutku.


"Nggak Bi, Naufal aja, sini Bi airnya," Naufal langsung merebutnya dari Bi Sarah.


"Hehehem, Mas Naufal sama Mbak Gia kompak banget," puji Bi Sarah sambil menutupi mulutnya.


"Ehem, Bibi..." Kataku.


"Ya sudah, kalo gitu Bibi tinggal dulu nggeh (ya) ke bawah," ucap Bi Sarah.


Bi Sarah meninggalkan kamar kami kembali.


Naufal memangku kaki ku yang memar akibat terjatuh tadi.


"Aaaa...pelan Mas," kataku.


"Huuusst, percaya in semua sama aku Sayang," kata Naufal.


Aku tersipu malu dengan sikap romantisnya pria ini.


"Mas...Mas..udah anak satu, masih aja kayak ABG kamu ini, hehehem," gumamku dalam hati.


Naufal dengan telaten mengompres kaki ku.


"Nanti kalo aku tinggal, apa-apa minta bantuan ke Bibi loh Sayang, jangan asal," tutur Naufal.


"Terus hati-hati lagi, jangan ceroboh, udah berapa kali kamu jatuh kayak gini,"


Aku sengaja diam dan tetap memperhatikan bulu mata lentiknya yang semakin jelas terlihat dari arah samping.


"Terus besok kamu nggak usah masak, kalo mau gofood aja," ucapnya lagi.


"Sayang.....di dengerin nggak??"


"Kok diem aja dari tadi?? Ke enakan ya??" tanya Naufal.


Dalam hatia aku menertawakannya.


"Say......." Belum selesai Naufal memanggilku, dengan cepat aku menjawabnya.


"Iya Sayangggggg," jawabku dengan santun dan halus seperti Putri Solo.


Deeeggg.....


Naufal langsung berhenti mengompres kaki ku, dan menoleh padaku.


"Apa Sayang?? Apa?? Ulangi lagi??" tanya Naufal dengan sengaja berpura-pura tidak mendengarnya.


"Iya Sayanggg," ucapku lagi agar dia lega.


Naufal langsung meletakkan kain nya dan ember di bawah ranjang kami. Dia mendekat ke arah wajahku.


"Bilang apa?? Coba bilang lagi," tuturnya.


"Iya Sa.." Naufal langsung mendaratkan warm kiss padaku.


Aku hanya diam saat itu.


"Manis banget," ucap Naufal.


Aku malu saat dia mengatakan itu padaku.


"Maksud kamu??" tanyaku malu-malu.


"Maksud aku, manis banget tadi panggilan kamu ke aku, hehehem," ucap Naufal.


"Seneng kan kamu," kataku sambil menyeringai padanya.


"Hehehem, pastinya dong Sayang," sambung Naufal.


Naufal mencoba menguiburku agar sedikit lupa dan tidak terlalu berlarut dalam kesedihan yang ku alami.


Selesai mengompres kaki ku, Naufal sibuk mempersiapkan kepergiannya nanti sore.


Aku mencoba menurunkan kaki ku dan berjalan menemui Naufal di ruang ganti baju.


Langkah kaki ku jadi tidak bisa sepanjang seperti biasanya, rasanya seperti kembali saat setelah melahirkan Abay dulu, jalan harus ekstra pelan.


"Sayanggg, kok kesini sih?? Kaki kamu masih memar loh," kata Naufal sambil beranjak berdiri dan menyuruhku untuk berbaring saja.


"Aku mau lihatin kamu, sebelum kamu tinggalin aku pergi," ucapku dengan manja.


Naufal membantuku duduk di kursi kayu yang ada disana.


"Ehehehm, orang cuman beberapa hari aja kok Sayang," jawab Naufal.


"Jangan bilang kalo aku lebay," kataku sambil menatapnya yang berdiri di depanku.


"Sayangg...Sayang....Ya udah duduk sini aja, sambil lihatin aku packing," kata Naufal sambil mengelus pipiku.


"Ya udah sana gih Mas lanjut," tuturku.


Naufal kembali melanjutkan packingnya. Melipat rapi dan memasukkan nya ke dalam koper.


Aku tersenyum-senyum sendiri melihatnya, karena sangat jarang aku melihatnya packing sendiri.


"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?? Ngetawain aku segala lagi Sayang," tanya Naufal sambil melipat satu pasang kaos kaki nya.


"Nggak papa, kan aku jarang lihat pemandangan kayak gini," ejekku.


"Eehhmm, bisa aja istriku ini," sahut Naufal.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2