
Di dalam mobil Naufal sibuk memainkan ponselnya sambil
menyetir.
“Fal, focus nyetir ah kamu,” perintah Gia.
“Iya iya ini juga sambil nyetir kok,” ucap Naufal sambil
sesekali melihat kea rah depan.
“Tuh kan kalo di bilangin selalu gitu kamu,” kata Gia.
“Iya iya Sayang, Astagfirullah,” ucap Naufal menuruti
perkataan istrinya.
“Emangnya kamu mau ngapain sih? Sibuk banget,” tanya Gia.
“Iiih kepo banget deh kamu,” goda Naufal.
Gia mencubit halus pinggang Naufal.
“Aaww, kamu kok jahat sih sama aku?” ejek Naufal sambil
menertawakan istrinya.
“Iiih apaan, orang aku nyubitnya nggak beneran kok,” bantah
Gia.
“Iya iya, wkwkwk, lagian kamu sih biasanya kalo aku nanya,
kamu jawabnya kepo juga,” ejek Naufal.
“Kan gak boleh balas dendan Fal, hayo loh,” ejek Gia ganti.
“Cepetan apaan aku pengen tau?” tanya Gia dengan memaksa.
“Mau tau aja apapake banget?” goda Naufal sambil mengangkat kedua alisnya.
“Naufal, aku kan berhak tau segala urusanmu, aku kan
istrimu, urusanmu juga urusanku kan katamu,” rayu Gia dengan manja membuat Naufal geli mendengarnya.
“Kok kamu jadi bandel gini sih Sayang, sejak kapan?” tanya
Naufal dengan mengejek.
“Kan kamu imam aku, jadi apapun yang pernah kamu ucapkan
padaku, ya otomatis akan aku copy dong, bukan begitu Bapak Naufal,” ucap Gia.
“Wkwkwk, apa-apaan sih kamu, iya Ibu Gia istriku,” jawab
Naufal.
“Ayo apaan kasih tau aku,” rengek Gia.
“Nggak mau ah nanti kamu pasti tau sendiri,” kata Naufal.
“Tapi beneran ya kamu bakalan kasih tau aku,” ucap Gia
seperti orang yang mengintimidasi.
“Iya pasti dong,” jawab Naufal.
***(di Rumah Sakit)
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.
Naufal dan Gia berjalan beriringan, dan Bastian mengusik
moment mereka.
“Weeeh sumringah banget Lo Fal,” ejek Bastian.
“Mentang-mentang jalan berdua sama istri gitu,” ejek Bastian
lagi.
Gia tersipu malu saat Bastian mengatakan hal itu.
“Husst, makanya cepet nikah sana Bas,” ejek Naufal ganti.
“Nanti Fal, pasti nanti Lo bakal tau sendiri,” ucap Bastian.
Di pertengahan lorong Gia berpisah dengan Naufal.
Tiba di ruangan Gia, Gia menaruh tasnya dan segera memeriksa pasiennya.
Tepat saat itu Gia akan menuju ruangan Meira, Gia keringat
dingin di sepanjang lorong.
“Bismillah,” ucap Gia sambil masuk ke ruang VIP Meira.
“Mbak Meira, selamat pagi,” sapa Gia.
“Pagi Dok,” salam Meira ganti.
“Gimana? Keluhan apa yang dirasakan Mbak,” tanya Gia.
“Udah nggak ada sih Dok,” jawab Meira.
“Insya’allah nanti malam Mbak Meira sudah bisa pulang,”
tutur Gia sambil tersenyum pada Meira.
“Alhamdulillah, soalnya pengen segera cepet pulang Dok,”
keluh Meira.
“Bentar ya Mbak, saya periksa dulu,” ucap Gia.
Setelah Gia memeriksa Meira, dan mereka sedikit
bercengkrama,ternyata Naufal masuk ke ruangan Meira. Meira langsung menyapanya.
“Kevin,” sapa Meira sambil tersenyum sangat bahagia.
Deeeegggg.
Gia bingung apa yang harus Gia lakukan, ataukah Gia harus
menyapa Pak Kevin ataukah acuh.
Gia harus tetap professional dalam kerjanya, Gia membalikkan
badannya.
__ADS_1
“Pagi,” sapa Gia pada Pak Kevin yang tengah berdiri di
belakangnya dan memandang tajam Gia.
Pak Kevin hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Gia
berdiri kaku di antara Meira dan Pak Kevin. Mereka berperilaku seolah-olah tidak pernah mengenal satu sama lain.
“Tumben kamu kesni pagi-pagi, kamu nggak kerja?” tanya Meira pada Pak Kevin.
“Aku ambil cuti,” jawab Pak Kevin singkat.
Gia merasa tak enak dengan situasi saat itu.
“Eemm ya udah Mbak Meira saya ke ruangan sebelah dulu,”
pamit Gia.
Gia langsung berjalan keluar ruangan,langkahnya terhenti
karena Pak Kevin memanggilnya.
“Dok,” panggil Pak Kevin.
“Iya?” jawab Gia sambil tetap membelakangi Meira dan Pak
Kevin.
“Terima kasih sudah merawat tunangan saya,” ucap Pak Kevin
tegas.
Meira berbahagia mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut tunangannya.
Gia membalikkan badannya dan tersenyum pada Meira dan Pak Kevin.
“Sudah kewajiwaban saya merawat pasien saya,” ucap Gia
tersenyum ramah.
Gia berjalan keluar kembali memeriksa pasien di ruangan
selanjutnya.
Beberapa jam kemudian, hari sudah semakin sore.
Setelah pekerjaan Gia dan Naufal selesai, Mereka bergegas
langsung pulang ke rumah.
***(di Rumah)
Sesampainya di rumah, Gia dan Naufal seperti biasa langsung
mandi dan sholat.
Selesai sholat, Naufal berjalan menuju ke ruang keluarga,
dan meninggalkan Gia di kamar, karena Gia harus menyelesaikan data pasiennya dari rumah sakit.
Di ruang keluarga Naufal duduk-duduk santai sambil nonton
TV. Tiba-tiba ponsel Naufal bordering. Dan ternyata video call dari keponakannya yang bernama Jihan tetapi Naufal biasanya memanggil Jihan dengan kata “Noni” karena paras wajahnya yang cantik seperti putri bangsawan.
“Hallo Uncle, Assalamu’alaikum,” salam Jihan pada pamannya
(Naufal).
“Hayo Uncle, tebak Noni lagi dimana?” tanya Jihan.
Jihan mengganti kamera ponselnya dengan kamera belakang dan Jihan mengarahkan ponselnya ke samping kanan dan kirinya.
“Loh Noni, itu kan di depan rumah Uncle?” kata Naufal yang
kaget melihat keponakannya sudah berdiri di depan rumahnya.
“Hehehe, Noni sengaja buat kasih kejutan sama Uncle,” ucap
Jihan.
“Aduuuh kamu nih Non, buat Uncle kangen saja,” kata Naufal
sambil berjalan untuk membukakan pintu Jihan.
“Uncle buka in pintunya dong,” rengek Jihan.
“Iya Non,” kata Naufal langsung mematikan ponselnya.
Saat membuka pintu, Jihan langsung memeluk erat Naufal.
Jihan datang bersama Bibi yang merawatnya sejak dia masih
kecil, karena Mamanya sangat sibuk dengan bisnisnya.
Naufal menggendong Jihan dengan senang karena lama mereka tidak berjumpa.
Dan sifat Naufal yang begitu sayang anak jadi Naufal di
cintai oleh keponakannya.
Naufal mempersilahkan masuk mereka.
“Bi Sarah,” panggil Naufal.
Bi Sarah yang mendengar panggilan Naufal langsung keluar
dari kamarnya dan segera menghampiri Naufal di ruang tamu.
“Iya Mas, ada apa?” tanya Bi Sarah.
“Bi, ini kenalin, ini Jihan keponakan Naufal, Noni salim
dulu sama Bi Sarah,” perintah Naufal.
Jihan langsung menyalimi Bi Sarah, sesekali Bi Sarah
mengelus rambut Jihan.
“Dan ini, Bi Lely yang ngerawat Jihan dari kecil,” kata Naufal.
“Nah Bibi bisa nih bercengkrama dengan Bi Lely, Naufal mau
ke atas dulu sama Jihan, tapi Bibi jangan lupa jamuannya ya Bi,” tutur Naufal sambil tersenyum.
“Siap Mas, beres,” ucap Bi Sarah sambil menunjukkan ibu
jarinya dengan memberi kode oke.
Naufal menggandeng tangan Jihan untuk menaiki anak tangga.
__ADS_1
“Nanti kalo sudah di kamar, kita kagetin Aunty Gia ya,” ucap
Naufal lirih pada Jihan.
“Oke Uncle,” jawab Jihan.
Kebetulan kamar mereka terbuka, Naufal dan Jihan berjalan
sangat pelan agar tidak ada suara langkahnya. Saat masuk ke kamarnya, Naufal dan Jihan mengagetkan Gia yang sedang fokus di depan laptopnya.
“Dooorr,” ucap Naufal dan Jihan bersamaan.
“Astagfirullahalladzim,” ucap Gia terkejut dengan Naufal
yang menggandeng Jihan.
Naufal dan Jihan tertawa terbahak-bahak karena idenya telah berhasil membut kaget Gia.
“Iiiih kamu ngagetin aja, ini siapa?” tanya Gia pada Naufal.
“Ini Jihan Gi, yang dulu waktu kita nikah dia telfon aku,”
kata Naufal.
“Oooh yang waktu itu kamu panggil sayang-sayang kan?” tanya Gia lagi.
“Betul banget, ini nih wujudnya yang buat kamu cemburu waktu itu,” goda Naufal.
“Hussst, heh ada anak kecil tau,” sontak Gia.
Gia berjalan menhampiri Jihan, Naufal dan Gia jongkok di
samping kanan kiri Jihan.
“Aduh, kamu cantik banget Nak,” puji Gia sambil memegang pipi Jihan.
“Ya pasti cantiklah ya Non, keponakan siapa dulu,” kata
Naufal.
“Kamu kelas berapa Jihan?” tanya Gia dengan sangat lembut.
“Kelas 2 SD Aunty,” jawab Jihan.
“Jihan kesini sama siapa?” tanya Gia lagi agar lebih akrab
dengan Jihan.
“Sama Bibi Aunty,” jawab Jihan.
“Jihan udah makan tadi?” lagi-lagi Gia bertanya.
Jihan menggelengkan kepalanya.
“Gimana kalo Aunty buatin spaghetti buat kamu, kamu suka?”
tanya Gia.
“Suka Aunty,” jawab Jihan singkat.
“Kayak bisa aja kamu Gi,” ejek Naufal sambil menahan tawanya.
“Apa sih kamu Fal, nggak dukung aku banget,” ucap Gia.
“Kok Aunty kalo manggil Uncle gitu, kan lebih tua an Uncle
Naufal, jadi Aunty manggilnya harus Mas,” tutur Jihan dengan manjanya.
Gia semakin gemas mendengar ucapan Jihan.
“Iiih pinter banget sih kamu Non,” kata Naufal sambil
mengusap rambut Jihan.
“Uncle, Noni boleh nonton TV disana?” sahut Jihan sambil
menunjuk ke arah sofa Naufal.
“Boleh dong Jihan,” sahut Gia.
Jihan langsung berjalan dan duduk di sofa sambil nonton film
kartun di TV. Gia dan Naufal kembali berdiri.
“Tuh, anak kecil aja tau, masak kamu nggak peka sih Gi,”
ejek Naufal.
“Iya iya Fal, maaf,” kata Gia.
“Loh kan di ulangi lagi, nanti dimarahi Jihan loh kamu,”
ucap Naufal.
Gia mendekatkan mulutnya ke telinga Naufal.
“Iya-iya Mas, Gia minta maaf,” bisik Gia.
Naufal tertawa dengan bisikan Gia itu.
“Eh jangan lupa loh, kamu ada janji sama aku,” tutur Gia.
“Janji apa?” tanya Naufal.
“Tadi waktu di mobil katanya kamu mau kasih tau sesuatu sama aku,” ucap Gia.
“Oh iya, maaf Sayang, suami mu ini hampir saja lupa,” rengek
Naufal.
Gia menepuk lengan Naufal.
“Apaan sih kamu,” kata Gia tersipu malu.
“ya udah kamu buatin spaghetti Jihan dulu, habis itu aku kasih tau ke kamu, pasti kamu bakalan seneng hehehe,” ucap Naufal.
“Beneran ya?” tanya Gia.
“Iya, aduh,” jawab Naufal.
Gia berjalan meninggalkan kamarnya.
Bersambung......
Kira-kira kejutan apa ya?
Terima kasih untuk semua kritik dan saran readers🖤
Jangan lupa like, comment dan vote yang banyak kakak hehehe🙏😁
__ADS_1
Tetep setia menunggu episode" selanjutnya ya.😊
siap-siap dibuat baper dan penasaran.🖤