
Gia duduk kembali dan tetap melihat Pria itu. Gia sangat kaget.
Mereka saling menatap dan melongo karena tidak mengerti atas apa yang telah terjadi malam ini, Gia tidak menyangka bahwa dunia se-sempit ini.
"Waduh, ini anakmu Wan (Papa Gia)" kata Om Diki sambil melihat ke arah Gia.
"Iya Dik, ini anak ku yang koas di rumah sakit yang dipimpin anakmu," jawab Papa Gia.
Gia semakin bingung dan tidak mengerti atas apa yang mereka katakan, sebenarnya apa yang sudah mereka rencanakan.
"Jadi sebenarnya gini Gia, saya adalah Papanya Naufal, Om sama Papa kamu sudah berencana untuk mempertemukan kalian terlebih dahulu, dan untungnya kamu ditempatkan koas tepat di rumah sakit pimpinan Naufal, dan kamu pasti sudah tau Naufal kan?" tanya Om Diki.
"Iii..iya Om, saya tau Dokter Naufal," jawab Gia.
"Memang ya jodoh gak akan kemana," sahut Tante Feni (Mama Naufal sekaligus istri Om Diki).
Wajah Gia mulai memerah, tetapi tidak dengan Naufal yang hanya memberikan senyumnya yang khas dengan lesung pipi di kedua pipinya.
"Jadi gini Wan, rencanaku tidak usah acara pertunangan jadi langsung menikah saja," ucapOmDiki.
"Iya, ini sudah saya bawakan cincin untuk calon menantuku sebagai pengikat hubungan mereka," sahut Tante Feni dan tersenyum ke arah Gia.
Gia balik tersenyum pada Tante Feni.
"Gimana Ma?" tanya Papa Gia pada istrinya.
"Mama nurut sama Papa aja," jawab Mama Gia yang menyerahkan semua keputusan pada suaminya.
"Tapi gini Dik, nanti pernikahannya setelah anak ku lulus koas saja," ucap Papa Gia.
"Tentu Pak Irwan, dan juga nanti setelah Gia lulus koas, Gia kerja di rumah sakit pimpinan Naufal aja ya," rayu Tante Feni pada Gia.
"Emmm...Gia nurut Papa aja Tante," jawab Gia agak malu-malu.
"Gimana Wan? agar lebih memudahkan mereka untuk lebih dekat lagi," ucapOm Diki.
"Boleh Dik, aku setuju," jawab Papa Gia sambil meneguk secangkir teh.
"Ya udah sekarang Gia pakai cincin dari Naufal ya, Naufal sendiri loh yang milihin buat kamu," kata Tante Feni sambil menhampiri Gia dan memasangkan cincinnya ke jari manis Gia.
Wajah Gia semakin merah dan tersipu malu dihadapan Naufal.
"Nanti masalah tanggal pernikahannya gimana Wan?" tanya Om Diki.
"Dulu anakku pernah bilang padaku Dik, agar nanti tanggal pernikahannya sama seperti tanggal pernikahanku dulu," jawab Papa Gia.
Mereka semua tertawa terbahak-bahak, Naufal menahan tawanya dengan membulatkan kedua pipinya dan sesekali melirik ke arah Gia, Gia malu dengan ide polosnya itu.
"Oke Wan Oke, aku turuti permintaan calon menantuku," jawab Om Diki.
"Ya sudah mari diminum dulu," sahut Mama Gia.
Mereka semua meneguk minuman yang dihidangkan dan Mama Gia membawa keluarga Naufal ke meja makan untuk menikmati hidangan makan malam yang sudah disiapkan, sedangkan Gia pamit naik ke atas untuk sholat isya'.
"Ma, Gia pamit dulu ke atas ya, mau sholat," ucap Gia.
"Iya Nak, Mama sama Papa nanti aja sholatnya, nggak enak kalo tamunya ditinggal," jawab Mama Gia.
***(Kamar Gia)
Gia memandangi dan mengelus-elus cincin yang ada di jari manisnya itu, Gia tersenyum berulang kali, rupanya hatinya sangat bahagia.
Gia segera mengambil air wudhu lalu sholat isya'.
"Ya Allah, Engkau Maha Baik, Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Segalanya Ya Rabb. Terima kasih sudah mendengar do'a Gia, terima kasih sudah melahirkan Gia dari orang tua yang sangat sangat baik bahkan lebih dari baik. Gia sangat bahagia atas takdir yang kau hadirkan malam ini Ya Rabb," ucap do'a Gia di kedua telapak tangannya.
Sesekali Gia meneteskan air matanya, Gia melepas mukenahnya dan kembali turun ke ruang tamu untuk menemui keluarga Naufal.
***(Ruang Tamu)
Gia kembali duduk di tempatnya tadi, Gia menunggu Papanya sholat sambil bercengkrama dengan keluarga Naufal.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Papa Gia datang dengan masih mengenakan kopyah di kepalanya,dan duduk di sebelah Gia.
"Wan nanti pernikahannya diadakan dimana?" tanya Om Diki.
"Kalo di hotel kita aja gimana Pa?" tanya Tante Feni pada suaminya.
"Iya juga ya Ma," jawab Om Diki.
"Nanti pernikahannya dihadiri kerabat dekat sama teman aja gimana Mbak Gina?" tanya Tante Feni pada Mama Gia.
"Saya serahkan saja pada Gia dan Naufal Mbak, Kalian setuju nggak?" tanya Mama Gia pada anaknya dan Naufal.
"Iya, setuju," jawab mereka berdua bersamaan.
Spontan mereka pun saling memandang. Mereka tersipu malu atas apa yang mereka katakan tadi. Wajah Gia yang tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus.
"Ehemm aduh belum nikah aja udah kompak mereka," sahut tante Feni.
Mama Gia dan Tante Feni saling tersenyum, rupanya mereka senang dengan kejadian itu.
Mereka saling bertukar pendapat untuk menyusun konsep pernikahan anak mereka, sedangkan Gia dan Naufal hanya sebagai pendengar semata.
Tidak terasa 1 jam lebih mereka berbincang-bincang. Keluarga Naufal berpamitan untuk pulang.
Gia masuk ke kamarnya, mengganti gamisnya dengan baju tidur minionnya, Gia masuk ke kamar Mama Papanya.
***(Kamar Mama Papa Gia)
Tok.....tok.....tok.
"Pa," panggil Gia.
"Masuk Nak," jawab Papa Gia yang sudah mengenali suara anaknya itu.
Gia membuka pintu dam masuk ke kamar Papa dan Mamanya, Gia melihat Papanya yang memainkan ponselnya, dan mamanya yang bersandar di pundak Papanya. Gia naik ke ranjang Papa Mamanya, dan merebahkan badannya di tengah-tengah Papa dan Mamanya.
"Tumben Nak kesini," ucap Mama Gia sambil memandang wajah Gia dengan heran.
"Aduh Gia, boleh dong, sini Mama peluk," ucap Mama Gia sambil menarik tangan Gia dan di lingkarkan ke perutnya.
Papa Gia tertawa tak henti-hentinya.
"Papa kenapa ketawa?" tanya Gia yang sedari tadi di tertawakan Papanya.
"Pantesan kamu kesini bawa boneka besar kamu itu, eh ternyata mau tidur sama Mama sama Papa," ejek Papa Gia.
"Aduh Gi Gi, Mama nggak habis pikir sama kamu, udah mau nikah tapi sifatnya masih begini Pa," sahut Mama Gia yang juga menertawakannya.
"Iiiih Mama sama Papa jangan gitu ah Gia malu," rengek Gia dengan memalingkan wajahnya di ketek Mamanya.
"Nanti ya Gi kalo Gia udah menikah Gia harus nurut sama suaminya, Gia nggak boleh ngebantah, Gia juga harus melayani suami Gia lahir dan batin, setiap pagi setelah Gia sholat shubuh Gia harus sudah mandi dan buatin sarapan untuk suami kamu, dan setelah suami mu pulang kerja kamu harus sudah rapi bersih," tutur Mama Gia dengan menepuk-nepuk tangan Gia yang melingkar di perutnya.
"Memang gitu ya Pa yang diminta seorang suami?" tanya Gia ke Papanya.
"Kurang lebihnya begitu Nak," jawab Papa Gia.
"Ya udah sekarang kita tidur katanya besok mau jalan-jalan seharian sama Mama, Papa, Johan dan Bi Sarah," ucap Mama Gia.
Gia memejamkam matanya. Dan mereka semua pun tertidur.
Adzan shubuh berkumandang.
"Gi, bangun Nak, udah shubuh," ucap Mama Gia sambil mengelus-elus lengan Gia.
Gia mengucek-ucek kedua matanya, lalu menarik tubuhnya untuk beranjak dari kasur empuk Mama Papanya.
"Bangunin adikmu Nak," perintah Mama Gia.
Gia keluar dari kamar Mama dan Papanya untuk memanggil Adiknya. Gia mendapati adiknya yang keluar dari kamarnya.
"Kirain belum bangun, cepat gih wudhu, sholat sama-sama," ucap Gia.
__ADS_1
Mereka berdua pergi mengambil air wudhu, lalu sholat bersama yang di imam i oleh Papanya.
Setelah sholat Gia kembali ke kamarnya sendiri. Gia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas susu yang sudah disiapkan oleh Bi Sarah.
***(Di Dapur)
Gia melihat Bibi yang sudah menenteng tas belanjanya.
"Bibi mau ke pasar ya?" tanya Gia pada Bi Sarah yang bersiap-siap pergi ke pasar.
"Iya Mbaak Gia," jawab Bi Sarah.
"Gia ikut ya Bi," rengek Gia setelah meneguk segelas susu.
"Monggo Mbak Gia, monggo," jawab Bi Sarah dengan senang.
"Bibi tunggu di depan ya, Gia mau ganti baju sama ambil kerudung dulu," ucap Gia.
Gia berjalan meninggalkan dapur, sedangkan Bi Sarah berjalan ke halaman depan rumah.
Bi Sarah menunggu di halaman depan, setelah Gia mengambil kerudungnya, Gia menuju ke garasi dan memanasi mesin mobilnya sebentar, dan mobil berjalan menuju arah Bi Sarah.
Gia membuka kaca jendela mobilnya.
"Ayo Bi, masuk," ucap Gia menyuruh Bi sarah masuk ke mobilnya.
"Iya Mbak Gia," jawab Bi Sarah.
Gia menancap gas mobilnya, dalam mobil mereka berbincang-bincang karena lama tidak bertemu.
"Bibi biasanya naik apa ke pasar?" tanya Gia yang fokus menyetir.
"Biasanya Bibi diantar jemput ojek yang dipesankan Ibuk Mbak," jawab Bi Sarah.
"Tapi kadang-kadang Bibi di antar sama Ibuk Mbak," sahut Bi Sarah lagi.
Gia hanya menganggukkan kepalanya, sebenarnya Bi Sarah ingin menanyakan tentang perjodohan Gia semalam. Tapi Bi Sarah ragu dan takut menyinggung hati Gia.
"Mmm...Mbak Gia, Bibi boleh tanya?" tanya Bi Sarah gugup.
"Boleh lah Bi, kenapa gak boleh? ayo Bibi mau tanya apa sama Gia?" tanya Gia balik.
"Beneran Mbak Gia nanti nggak marah sama Bibi," ucap Bi Sarah.
"Enggak lah Bi, apapun pasti Gia jawab," jawab Gia yang menoleh dan tersenyum ke arah Bi Sarah.
"Eemmm.. gimana Mbak soal perjodohan Mbak Gia semalam?" tanya Bi Sarah.
"Huuufftttt, Allah itu Maha Baik ya Bi, dulu sebelum Gia pulang ke sini, di rumah sakit tempat Gia koas, disana ada seorang Dokter Bi, dia pinter banget. Dan Gia tak henti-hentinya memandangi beliau, Gia rasa, bisa dibilang Gia suka sama beliau, tapi kan gak mungkin bisa ya Bi, soalnya kan pikir Gia, Gia sudah dijodohkan dengan Pria pilihan Papa, jadi Gia hanya bisa memendamnya, Bibi tau kan Om Diki sama Tante Feni temen Papa?" tanya Gia.
"Iya Mbak tau, yang rumahnya di *** itu kan Mbak," ucap Bi Sarah.
"Iya Bi, dan ternyata Gia dijodohkan sama anak mereka Bi, Bibi tau anaknya siapa? anaknya ya Dokter yang Gia suka di tempat koas Gia Bi," jawab Gia dengan sangat bahagia.
"Masya'Allah, memang ya Mbak takdir Allah tidak ada yang tau, Alhamdulillah," ucap Bibi sambil mengelus-elus dadanya.
"Gia bahagia banget Bi, gak nyangka takdir Allah seindah ini Bi," kata Gia.
Setelah beberapa menit mereka berbincang. mereka sampai di depan pasar dan memarkiran mobilnya.
Gia dan Bi Sarah masuk ke dalam pasar dan langsung membeli belanjaan yang sudah di pesan oleh Mama Gia.
Setelah setengah jam di dalam pasar, Gia dan Bi Sarah keluar dari pasar dan menuju ke mobil dan pulang.
Bersambung.....
Tunggu episode selanjutnya ya kakak, pasti ada kejutan seru lainnya🙏😁
jangan lupa like, komen, vote, dan kasih bintang ya kak.
Terima kasih sudah setia menunggu per episodenya.🖤
__ADS_1