
Setelah kami selesai sholat, kami bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
"Sayang, kunci mobil dimana?" tanya Naufal.
"Punya kamu?" tanyaku balik.
"Iya, kok gak ada," jawabnya.
"Kemaren udah aku taruh meja kamu biasanya itu kok," kataku sambil berjalan menuju meja berbentuk bundar di pojok kamar.
Ku cari-cari kunci mobil Naufal tetapi tidak ada.
"Kok gak ada ya," kataku sambil tetap mencari-cari.
"Kamu lupa kali," ujar Naufal.
"Enggak kok kemaren bener-bener aku taruh sini langsung," kataku.
"Kalo nggak ada ya udah nggak usah di cari, keburu siang Sayang, kita sarapan kebawa dulu, ya?" tutur Naufal.
"Nanti pake mobilku aja ya, mungkin aku lupa naruhnya, maaf ya Mas," rengek ku sambil memegang lengannya.
Naufal tersenyum padaku.
"Gia Gia kamu polos banget sih," ucap dalam hati Naufal.
"Gak papa Sayang, orang cuman kunci kok yang ilang, bukan kamu atau aku kan," goda Naufal sambil menjinjing jas dokternya.
Ku pukul Naufal untuk kesekian kalinya sambil ku malu-malu.
"Love you too Sayang, Weeekk, pukul aja terus," kata Naufal.
"Udah ah aku ke bawah duluan," ucapku yang sebenarnya salah tingkah.
"Eeiitss," kata Naufal sambil menarik tanganku.
Aku sengaja tidak berbalik menghadapnya karena aku tak kuat melihatnya dan tidak bisa mengontrol degupan jantungku ini yang semakin kencang jika berada di dekatnya.
"Kok kamu ninggal," ucap Naufal.
"Kamu salting ya.....hayo lo? Ya kan Sayang?" tebak Naufal.
"Aduh kenapa Naufal ngeselin banget pagi ini," gumamku dalam hati.
Aku memberanikan diri untuk berbalik menghadapnya.
"Kata siapa? Enggak, aku biasa aja," bantahku.
"Aaaa masak sih? Tuh udah merah pipi kamu," kata Naufal.
"Apaan ini tuh blush on," kataku sambil mengusap pipiku.
"Blush on apaan, orang kamu gak pernah pake blush on kan, kamu kan kalo kerja cuman pake apa itu yang di olesin di bulu mata sama di bibir, itu aja kan," kata Naufal yang semakin membuatku merasa terpojok.
"Aduuuuh Gia kamu kalo alasan gak logis banget sih, dasar dasar," gumamku lagi dalam hati.
Aku hanya diam, berdiri kaku hanya bulu dan bola mataku saja yang bergerak memberi isyarat bahwa apa yang sebenarnya dikatakan Naufal itu benar adanya.
Naufal menertawakanku.
"Kamu tuh ya kalo salting udah ketauan tau Sayang, udah gak usah pake di tutup-tutupi," ejek Naufal.
"Tapi jangan gitu, aku malu," kataku sambil menundukkan wajahku.
"Udah ah, ayo turun," ajak Naufal sambil menarik tanganku dan membawaku berjalan menuruni anak tangga.
***(di Ruang Makan)
"Kok sepi Mas?" tanyaku pada Naufal.
"Nggak tau Sayang, pada kemana semua," jawabnya.
"Bentar coba aku cari Bi Sarah di kamarnya," kataku.
Aku berjalan menuju kamar Bi Sarah.
Tok....tok.....tok.
"Bi, Bibi," panggilku.
Namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Kemana Bi Sarah," ucapku sendiri.
Aku berjalan menuju halaman belakang rumah, disana sama sekali tidak ada tanda-tanda dari Bi Sarah maupun Pak Rusdi.
"Kemana ya?" gumamku dalam hati.
Aku berjalan kembali ke ruang makan.
"Mas, Bi Sarah dan Pak Rusdi nggak ada, kemana ya mereka," ucapku bingung.
"Mungkin keluar kali Sayang," kata Naufal.
"Masak iya keluar pagi-pagi sekali, barengan pula," kataku yang tetap kekeh ingin menemukan Bi Sarah.
"Ya udah sekarang kita sarapan dulu Sayang," tutur Naufal.
"Nggak enak Mas makan tanpa mereka, nanti kasihan mereka belum sarapan gimana?" ucapku yang resah.
"Tadi waktu pagi kamu masak mereka ada nggak?" tanya Naufal.
"Ada, orang Bi Sarah masak sama aku kok," jawabku.
"Nanti pasti pulang Gi, sekarang sarapan dulu ya, keburu siang, kita kan harus kerja," tutur Naufal lagi.
"He'em," jawabku resah dan masih menoleh ke sekeliling ruangan rumah.
"Kamu resah banget Gi," ujar Naufal.
"Ngerasa kurang aja gitu Mas, biasanya sama mereka, ini enggak," rengekku.
"Kan nanti pasti pulang Gi, siapa tau di depan rumah mereka lagi joging kan," kata Naufal mencoba untuk tidak membuatku resah.
"Iya ya, mungkin ya Mas," kataku.
"He'em Sayang, udah makan ini," kata Naufal.
Sebenarnya sarapan tanpa mereka rasanya tidak enak sama sekali, tapi harus gimana lagi.
Setelah selesai sarapan, Naufal langsung mengajakku berangkat bekerja.
.
.
.
Di dalam mobil, tepat keluar dari gerbang, aku melihat tempat pos yang biasa di huni oleh Pak Joko, tetapi disana tak tampak juga Pak Joko.
"Mas, kok Pak Joko juga nggak ada? Kemana semua sih orang-orang hari ini, tumben banget," kataku.
Naufal hanya diam sambil melihat spion.
"Mas, kok kamu nggak jawab aku," kataku kesal dengan cemberut.
"Bentar Sayang, ini loh habis ini aku jawab," kata Naufal sambil membelokkan setir mobilnya.
__ADS_1
"Nggak usah di jawab," ucapku singkat.
"Loh loh loh, kan ngambek kan, iya ini loh aku mau jawab Sayang, aku juga gak tau mereka kemana, soalnya mereka gak ada bilang apa-apa sama aku," jawab Naufal.
Aku hanya diam mengacuhkan Naufal sambil memainkan ponselku.
"Sayang, aku tadi kan masih fokus liat spion ke belakang, maaf ya, nanti kalo kita nabrak gimana? Kan udah aku jawab ini tadi," ujar Naufal.
"Iya tau," kataku tetap singkat.
"Jangan ngambek gitu dong, gak enak nanti di lihatin pasien, udah sakit lihat dokternya cemberut mulu, kan jadi gak asik Sayang," goda Naufal.
Aku menahan tawaku.
"Bisa aja sih Naufal, ada aja cara dia buat aku bisa senyum," gumamku dalam hati.
"Ayolah Gi, senyum lah," rayu Naufal.
Aku tersenyum manis agak terpaksa padanya.
"Yang ikhlas dong," tuturnya.
"Tadi udah ikhlas, ikhlas banget malah, masih nggak terima aja," kataku.
"Wkwkwkw tuh kan masih judes, katanya ikhlas," ejek Naufal.
Aku mencubit pinggangnya.
"Aaawww, iih Gia bahaya nih," ejeknya lagi.
"Tau rasa kan kamu, suka banget ya kalo istrinya ngambek," kataku.
"Abis kamu lucu kalo ngambek, kamu itu gak bisa ngambek lama-lama sama aku," kata Naufal.
"Kamunya gitu kalo ada orang ngambek, gimana mau lama, orang yang di ngambeki nglawak mulu," ucapku.
Setiap canda kita memenuhi ruang dalam mobil.
*** (di Rumah sakit)
Sesampainya di rumah sakit, mobil terparkir rapi di sana.
Naufal turun terlebih dahulu dan langsung membukakan pintu mobil untuk ku.
Aku menatapnya heran.
"Ayo Sayang turun," ucap Naufal sambil menganggukkan kepalanya.
Aku turun sambil tetap menatapnya dengan sinis.
Aku berjalan mengitarinya.
"Kebentur apa kamu?" tanyaku.
"Kebentur apa? Gak ada kebentur apa-apa," jawab Naufal.
"Kok tumben manis banget sama aku," kataku.
"Yaa......ya kan emang seharusnya harus gitu Gi," bantah Naufal.
"Eehmm masak sih? Gak bohong?" kataku.
"Udah ah ayo masuk," ajak Naufal yang langsung menarik tanganku.
Di perjalanan menuju lorong, kami berjalan beriringan.
"Ini nanti aku sibuk banget kayaknya Gi, jadi kamu jangan nyari aku ke ruanganku," tutur Naufal.
"Sibuk apa kamu? Ada presentasi lagi ya Mas? Atau ada meeting di luar?" tanyaku.
"Ya pokoknya aku sibuk Gi," jawabnya.
"Kamu semangat ya Sayang kerjanya," kata Naufal sambil mengelus pundak ku.
"He'em, kamu juga," jawabku.
Kami berpisah di tengah lorong.
Aku berjalan ke arah kanan, dan Naufal ke kiri.
Di dalam ruanganku aku masih memikirkan kata Naufal tadi.
"Dia sibuk apa sih? Kok gak bilang sama aku," gumamku dalam hati.
"Aah sudahlah, pasti nanti di rumah dia cerita," simpulku.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu, aku fokus pada pekerjaanku saja.
Seperti biasa aku menjalankan kewajibanku sebagai Dokter disini.
Ku periksa satu per satu pasienku.
.
.
.
.
.
Saat aku baru saja keluar dari tempat periksa, aku kembali memikirkan kata-kata Naufal.
"Kok gak ketemu dia sama sekali, beneran banget ya dia sibuk," gumamku dalam hati.
"Hhhmm sudahlah, mungkin di memang benar-benar sibuk, atau jangan-jangan dia di kamar Vela?," gumamku lagi.
"Aargghh Gia positif thinking dong, ayolah," kataku sendiri dalam hati.
"Tapi kalo dia nemenin Vela gak mungkin juga, kan dia harus kerja gak harus nemenin Vela terus, lagian kalo dia nemenin Vela pasti bilang sama aku, pasti ngajak aku buat nemenin dia, kan kemaren malam dia udah bilang sama aku," gerutuku lagi sambil berjalan.
"Mending sekarang aku sholat dulu aja," kataku dalam hati.
Aku berjalan menuju mushola untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Tepat di depan mushola aku hanya menemui Pak Bastian tapi tidak terlihat Naufal sama sekali.
"Kemana pria itu?" dalam hatiku terus bertanya-tanya.
Aku bergegas mengambil air wudhu lalu sholat.
Setelah beberapa menit aku selesai sholat, aku berjalan kembali menuju ruanganku.
"Dok, ada pasien darurat di ruang VIP," kata Asistenku yang tengah berlari menghampiriku.
"Antarkan saya kesana," kataku langsung berlari menuju ruangan itu.
Sesegera mungkin aku menangani pasien itu.
Sudah biasa aku bergelut dengan darah, luka, jahitan, dan apapun tentang medis.
Cukup lama aku berada di ruang operasi.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa jam kemudian, aku keluar dari ruang operasi.
Hari sudah semakin sore.
"Cukup melelahkan hari ini," gerutuku dalam hati.
Aku berjalan menuju ke ruanganku.
Saat aku berjalan, tiba-tiba ponselku bergetar di saku jasku.
Ku buka pesan dalam ponselku.
"Sayang, kamu ke Kakek sama Nenek yang dulu pernah kamu kenalin sama aku, tadi aku habis kesana, katanya mereka ingin ngobrol sama kamu, kamu segera ya kesanađź–¤," isi pesan dari Naufal padaku.
Dengan segera aku berlari menghampiri Nenek dan Kakek itu.
Tiba di ruangannya, tampak disana Nenek dan kakek sedang baik-baik saja.
Ku hampiri mereka yang sedang menatapku dengan nafasku yang terengah-engah.
"Kakek, Nenek," panggilku dengan tersenyum.
"Kata Dokter Naufal saya di suruh segera kesini, ada apa Nek?" tanyaku pada mereka.
Mereka tidak menjawabnya, melainkan mereka mengambil sekuntum mawar putih dan masing-masing mereka berikan padaku.
"Apa ini Nek? Kek?" tanya ku lagi.
"Dokter pergilah kembali keluar, ada pria yang sedang menunggumu disana," kata Nenek.
"Pria? Siapa Nek?" tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Berjalanlah keluar Dok, akan ada petunjuk yang membawamu padanya," ujar Si Kakek.
"Bentar Kek, ini maksudnya apa? Saya bener-bener nggak ngerti," tegasku lagi pada mereka.
"Dokter turuti saja apa kata kami," kata Kakek sambil tersenyum padaku.
Aku menuruti kata mereka, aku berjalan keluar kamar mereka dengan penuh keraguan.
Seorang perawat dengan membawa Nenek yang sangat tua di atas kursi roda mulai menghampiriku.
Lagi-lagi memberiku sekuntum mawar putih dan langsung meninggalkan ku.
"Apa-apa an sih ini semua," gumamku dalam hati karena bingung.
Aku berjalan lagi menyusuri lorong.
Seorang anak kecil menghampiriku, dan menarik-narik jasku.
"Dokter, minta tolong antarkan aku," kata gadis kecil itu.
Aku bingung untuk keberkian kalinya.
"Kemana?" tanyaku.
Gadis kecil itu tidak menjawabku, dia tetap menggandeng tanganku dan menarik ku untuk berjalan mengikutinya.
"Kita mau kemana Nak?" tanyaku pada anak gadis kecil itu.
"Kok ini berjalan ke arah ruangan Naufal sih," gerutuku dalam hati.
Sesampainya di lorong yang menuju ruangan Naufal.
Aku sangat merasa di perdulikan oleh banyak orang disini.
Mata ku terbelalak melihat mereka.
Dari mulai perawat dan tenaga medis lainnya baris berjejer membawakan ku setangkai mawar putih yang diberikan padaku.
"Selamat Dok," ucap mereka.
"Selamat," ucap mereka lagi satu per satu.
Aku berjalan sambil tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Ku ambil satu per satu bunga dari mereka sampai menumpuk di rangkulan tangan kiriku.
Aku tidak tau apa yang sebenarnya mereka rencanakan padaku.
Mereka mendorongku untuk masuk ke ruangan Naufal.
"Dok, buka pintunya," ucap salah satu perawat wanita.
Aku menoleh padanya, lalu aku tersenyum manis pada mereka semua.
Ku buka pelan ruangan Naufal.
"Surpriseee," kata Pak Bastian, Naufal dan juga mereka semua.
Aku tersenyum kegirangan, mataku mulai berkaca-kaca melihat Naufal yang membawakanku kue ulang tahun yang bertuliskan "Happy Birthday Gia Sayang".
Pak Bastian yang berdiri di belakang Naufal dengan membawakan buket bunga yang sangat besar dan dipenuhi bunga mawar putih.
Aku kaget melihat kejutan ini.
Mereka tertawa bahagia sambil memberikanku ucapan selamat.
"Aaaaaa, kamu yang buat ini semua?" kataku di hadapan Naufal.
"Ini semua kejutan yang buat mereka Sayang, aku ngikut aja," jawab Naufal.
"Ciye ciyee," teriak semuanya.
Aku meneteskan air mata, aku ingin memeluk Naufal sebenarnya, tapi aku malu, dan aku menahannya.
"Make wish Dok," sahut para tenaga medis yang berdiri bergerombol di belakangku.
"Make wish Gi," tutur Naufal.
Ku pejamkan mataku, aku berdo'a di hari spesial ini.
"Ya Allah, terima kasih, kau selalu hadirkan aku pada orang yang peduli denganku, yang menyayangiku, berikan sehat, panjang umur untuk kami semua disini, jadikan kami orang yang selalu bersyukur padaMu, Aamiin," do'akud dalam hati.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapku lalu meniup lilinnya.
Mereka bertepuk tangan untuk ku.
"Bahagia terus Sayang," kata Naufal yang langsung mencium keningku di depan mereka semua.
Semua orang bersorak padaku, membully ku kali ini.
Aku sangat malu sekali, tapi bagaimana lagi? Aku bahagia dengan sikap Naufal yang satu itu.
Aku hanya bisa tersenyum penuh salah tingkah.
Naufal memelukku, dan aku membalas memeluknya.
"Makasih," bisik ku pada Naufal.
Bersambung....
__ADS_1
Tunggu kejutan selanjutnya hehehe.
jangan lupa bom like dan komen ya.